
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini Keluarga Axel tengah berada di depan pintu masuk Mansion utama Keluarga Alexander.
Axel, Keyla dan anak-anaknya menatap datar pintu bercat Silver itu. Alvaro yang berada dalam gendongan Devan melihat tatapan mereka juga ikut-ikutan menatap datar pintu besar itu dengan mata bulatnya yang melotot ganas.
"Buka pintunya". Pengawal yang bertugas menjaga pintu langsung bergegas membukakan pintu untuk Axel dan keluarganya.
Ceklek
Pintu telah terbuka dan hal pertama yang mereka lihat adalah Mateo yang sedang tersenyum lebar kearah mereka.
"Ah kalian sudah datang ternyata". Seru Mateo.
Axel, Keyla dan Anak-anaknya menatap datar yang masih mempertahankan.
"Papa". Alvaro berseru riang saat melihat Mateo Sangat berbeda dengan yang lainnya.
"Akh baby kau sangat menggemaskan hari ini". Mateo merebut Alvaro dari gendongan Devan dan memeluknya gemas.
Bagaimana tidak. varo hari ini memakai jumpsuit beruang lucu lengkap dengan ekor Itu adalah dibelikan oleh Mateo dan ada beberapa set pakaian yang sama dengan karakter yang berbeda-beda.
"Ahahahaha sudah Papa ahahaha geli~". Seru Alvaro saat merasakan kumis dan jenggot tipis Mateo mengenai permukaan wajahnya.
Mateo tertawa puas saat mendengar tawa merdu Alvaro memasuki indra pendengarannya. Rasanya ada ribuan kelabang yang berjalan dalam perutnya yang membuat sensasi menggelitik dan itu sangat menyenangkan.
'Kupu-kupu udah biasa("")-Autor
"Kak key?". Suara Jesi menghentikan aktifitas Mateo dari acara 'mari mengecupi pipi bulat Alvaro'.
Keyla yang disebut namanya tentu langsung menoleh kearah Keyla yang menatap kehadirian dirinya bingung.
"Lama tidak bertemu Jesi". Sapanya dengan senyum tipis menatap pada Adik Tirinya itu.
Jesi tersenyum kikuk karena tidak tau apa lagi yang harus dia katakan untuk menyambut kakaknya itu, apalagi saat melihat semua atensi dari suami dan anak-anak dari kakanya itu mengarah padanya dengan pandangan datar.
"Daddy!!". Syasa datang dari arah tangga dan berlari menuju kearah Axel.
"Astagah sayang?! Jangan berlari ditangga". Seru Jesi panik saat Syasa berlari ditangga.
Grep
"Daddy". Asa kangen". Syasa memeluk tubuh tegap Axel dan tersenyum manis.
Axel menghiraukan apa yang dilakukan Syasa. Di pandangnya Syasa dengan wajah datar andalannya dan langsung melepas pelukan Syasa.
"Lepas". Syasa tertegun untuk sesaat sebelum menundukkan kepalanya tidak ingin melihat tatapan datar Axel.
'Menjijikkan'. Syasa samar-samar mendengar suara seseorang yang mengatainya. Dia mengangkat kepalanya. guna mencari sang pelaku yang ternyata adalah Kevin.
"Sayang?. Kamu tidak apa-apa?". Syasa menggelengkan kepalanya tanda baik-baik saja. Tapi, Jesi tau bahwa putrinya ini sedang tidak baik-baik saja saat menerima penolakan Axel.
Sedari awal dia mengadopsi Syasa, Axel dan anak-anaknya lah yang menentang keputusannya itu. Tapi lihatlah sekarang! Axel malah mengangkat anak lain dan menjadikannya permata di keluarganya yang seharusnya itu adalah hak milik putrinya ini.
"K kak Syasa". Syasa dan Jesi menoleh saat mendengar suara lembut seseorang memanggilnya.
Di sana, Alvaro berdiri tidak jauh dari mereka berdua dengan Keyla yang setia berada di sampingnya dengan menggenggam tangan mungilnya.
"Kenapa?". Tanya Syasa dengan senyum yang dibuat setulus mungkin.
"Ta tangan kakak bagimana? A apa sudah sembuh?". Tanya Alvaro dengan gugup.
"Iya. Tangan Asa udah sembuh". Jawab Syasa dengan senyum manisnya.
"Ck. Bukankah kau yang sudah membuat tangan putriku melepuh". Decih Jesi pelan namun masih di dengar oleh Axel, Keyla, Mateo dan juga anak-anak Axel.
"Apa maksudmu?". Tanya Keyla karena tidak mengerti arah pembicaraan Jesi.
"Anak itu sudah membuat tangan Syasa melepuh!". Tunjuk Jesi pada Alvaro yang sudah bersembunyi dibelakang keyla saat melihat wajah Jesi yang tidak bersahabat.
'Buju buset!. Bakalan susah nih buat nenek sihil itu jadi babu gue. ASU!'. Batin Alvaro.
"Jangan berbicara omong kosong Jesi". Axel menekan hingga membuat Jesi ditempatnya.
"Ck. Mami sudah terlalu buta untuk melihat kebenaran". Ucap sinis Devan.
"Ayo baby". Axel menggendong badan mungil Alvaro dalam gendongan koalanya menuju ke lantai empat dimana semua ruangan yang ada disana milik keluarga Axel.
Sudah aku bilangkan kalau mansion utama Alexander itu sangat besar dan juga Luas. Masih-masing lantai dikuasi oleh masing-masing kepala keluarga, dan Axel memilih lantai empat mansion.
"Mommy, apa maminya Kak Cia ndak suka valo?". Tanya Alvaro setelah mereka sampai ke kamar mereka dilantai empat.
Axel dan Keyla yang mendengar itu tentu tertegun sesaat. Sial mereka jadi merasa bersalah pada Alvaro.
"Tidak sayang, mami hanya masih terkejut saja dengan keberadaanmu yang tiba-tiba". Jelas Keyla dengan lembut.
"Bukankah itu sama saja?". Cicitnya. Axel dan Keyla saling memandang satu sama Lain, entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.
"Eung?". Alvaro menoleh kearah Axel yang baru saja mengecup pipi bulatnya.
"Tidak peduli dia menerimamu atau tidak, selama kami selalu bersamamu maka dia tidak ada apa-apanya. Ingat baby, kamu adalah permata Daddy, Mommy, Papa, Papi, Kakak dan abang-abangmu. Jadi, tetaplah bersama kami disini dan jangan pernah meningalkan kami karena baby adalah sumber kehidupan kami".
Mata Alvaro mulai berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Axel yang menancap telak pada hatinya.
Dia merasa sangat beruntung sekarang, dikehidupannya yang kedua ini dia mendapatkan sebuah keluarga yang memperlakukannya bagai permata, yang memberikan dia kehangatan dan juga kasih sayang yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
Sebuah keluarga yang hangat walaupun memiliki latar belakang yang menakutkan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Syasa Side.
Setelah kepergian Axel dan juga Keyla beserta dengan anak-anaknya tadi, Syasa hanya dapat menatap punggung kokoh mereka dengan pandangan datar.
"Sayang tidak apa-apa okey, dia tidak akan bisa menggeser posisimu". Jesi menatap Syasa dengan pandangan teduhnya.
"Mami~, Asa benar-benar muak dengan semua ini hiks". Syasa mulai terisak pelan sehingga Jesi langsung menenangkannya dengan pelukan hangat.
"Tenang sayang. Bukankah mami sudah bilang jika mami akan pastikan anak itu tidak betah menjadi bagian dari keluarga kita?". Jesi tersenyum manis saat mengatakan itu hingga membuat senyuman manis Syasa mulai terlihat.
"Mami janji?".
"hmm tentu saja". Syasa dan Jesi tertawa pelan setelah menautkan kelingking mereka berjanji.
'Ahahahah dasar bodoh'. Batin Syasa dengan senyuman manisnya.
Keesokan paginya, Suasana meja makan terlihat ramai dengan banyaknya orang walaupun tidak ada percakapan yang terjadi. Hampir semua orang ada di sana kecuali Alexo yang sedang melakukan perjalanan bisnis dan juga Keyla yang sedang membangunkan buntalan UwU kita Alvaro.
"Mami kapan mulai sarapannya? Asa udah laper banget tau~". Ucap Syasa dengan bibir yang dipoutkan sambil menatap pada Jesi dengan mata caramelnya.
"Kheheh, putri Mami sudah lapar yah? Tunggu sebentar lagi yah". Ujar Jesi sambil tersenyum gemas dengan menarik pipi Syasa lembut.
Alicia yang melihat interaksi antara Jesi dan juga Syasa hanya dapat terdiam ditempatnya. Terakhir kali Jesi memperlakukannya seperti itu adalah saat usianya menginjak 13 tahun karena setelah itu Jesi lebih fokus mengurus butiknya.
"Kak Cia". Lamunan Alicia buyar saat mendengar suara Alvaro yang memanggilnya.
"OMG!! Adek ucul gue kenapa bisa gemes gini sih!". Seru Alicia tiba-tiba saat melihat penampilan Alvaro.
Bagaimana tidak? Alvaro saat ini tengah menggunakan jumpsuit karakter Sapi serta senyuman manis yang dilayangkan Alvaro pada Alicia membuat gadis itu tidak tahan untuk tidak mengunyel-unyel pipi bulat bersemu Alvaro.
Sret
Tubuh Alvaro berpindah kedalam pangkuan Javier membuat Alicia mendengus kasar.
"Abang avi!. Abang kemana saja?". Seru Alvaro riang dan langsung memeluk tubuh tegap Javier.
"Maaf baby, abang sangat sibuk sekali mengurus perusahaan karena ada hama yang sudah mengotorinya". Jawab Javier enteng yang sama sekali tidak varo mengerti, jadi varo hanya dapat mengangguk-anggukan kepalanya.
Semua orang yang ada disana tersenyum gemas melihat interaksi antara Alvaro dan juga Javier kecuali dua orang yang menatap pemandangan itu dengan ekspresi tidak suka.
Acara sarapan berlangsung dengan damai. Tapi, satu yang Alvaro tau kalau Syasa dan juga Jesi selalu menatap dirinya dengan pandangan jijik.
.
{○○○○○○○○○○○}
.
.
Hari ini adalah hari minggu, jadi Alvaro tidak ke sekolah. Padahal varo sudah kangen ingin ke sekolah karena dia sudah tiga hari tidak masuk.
varo sejarang sedang selonjoran di depan Tv besar yang menayangkan serial doraemon yang sudah tayang selama tiga kali.
"Bosen banget. Ini olang-olang pada kemana sih? Helan benel dali tadi nggak keliatan batang idungnya". Alvaro menggerakkan anggota badannya brutal karena kesal.
varo menghela napas pelan dan kemudian berdiri. Dia akan melihat-lihat apa saja yang ada di mansion ini.
"Tuan muda? Anda ingin kemana?". Tanya salah satu pengawal yang ada di sudut ruangan pada Alvaro.
"Eum, valo mau jalan-jalan sebental. Umhh tidak apa-apakan paman?". Alvaro menatap pengawal itu dengan mata bulat besarnya berharap akan diperbolehkan untuk ia berkeliling.
"Ba baiklah, tapi jangan jauh-jauh tuan muda". Jawab pengawal itu sedikit gagap dengan wajah uang memerah.
"Yey!!".
Alvaro mulai menjelajahi Mansion besar ini mulai dari lantai satu, naik ke lantai dua dan berhenti saat lantai ke tiga.
varo mulai menelusuri area sekitaran lantai tiga itu dengan bersenandung dan melompat-lompat kecil tidak sadar akan kehadiran orang lain yang mengikutinya.
Langkah Alvaro berhenti pada salah satu pintu ruangan yang terlihat sedikit usam dibadingkan pintu yang lainnya.
Ceklek
"Eh? Tidak dikunci?". Alvaro berpumam pelan sambil memperhatikan ruangan itu dengan lekat.
'Masuk nggak yah? Tapi gue takut gelap anjil. Eh tapi penasalan juga-", Batinnya dilema.
"Masuk aja deh yang penting pintunya jangan ditutup umh".
Alvaro akhirnya masuk ke dalam ruangan yang agak gelap itu dikarenakan pintu yang dibiarkan terbuka hingga ada sedikit cahaya yang masuk.
Uwaaaahh~
Alvaro menatap takjub pada barang-barang yang ada di dalam ruangan itu. Di ruangan itu terdapat berbagai macam barang antik yang mungkin
harganya mencapai ratusan juta seperti guci, replika kendaraan, sebuah pemutar piring hitam, perabotan antik dan lain sebagainya. Alvaro berjalan menuju sebuah guci kecil itu karena dia sangat suka dengan corak dari guci itu.
Cklek
Klik
"Eh?". Pintu tiba-tiba saja tertutup rapat sesaat sebelum varo menyentuh guci itu hingga ruangan itu gelap seketika.
Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Alvaro. Ia berjalan dengan hati-hati menuju ke arah pintu.
Duk
Bruk
"Ashh hiks". Alvaro terjatuh karena tak sengaja menyenggol sesuatu. Dia kembali berdiri dengan sedikit tertatih menuju kearah pintu.
Klek klek
"Tidak bisa telbuka hiks, Mommy? Apa ada olang di lual?". Tidak ada sautan dari seberang yang menandakan memang tidak ada orang di luar.
"Abang?, Buka! Hiks valo takut. Buka!!".
Buk buk buk Alvaro memukul-mukul pintu itu dengan keras berharap ada orang yang mendengarnya menghiraukan tangan kecilnya yang lecet.
"BUKA!!, ABANG, KAKAK! HIKS BUKA!! VALO TAKUT! HIKS MOMMY, DADDY?!!!".
Buk Buk Buk
Keringat dingin semakin deras mengucur deras di pelipis Alvaro, bibirnya mulai memucat karena takut. Trauma dari kehidupan sebelumnya kembali muncul.
Tes tes tes
Darah segar menetes dari hidung bengirnya namun sama sekali tidak disadari oleh sang empu.
Sementara itu di luar ruangan seorang gadis tersenyum senang saat mendengar jeritan seseorang yang ada di dalam ruangan yang di tempati Alvaro.
"khehehhehe rasakan itu".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU