ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 14



hy👋👋.


.


.


.


.


.


Tiga hari telah berlalu begitu saja. Hari ini adalah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh makhluk mungil nan menggemaskan kita. Yah ini adalah hari pertama Alvaro sekolah.


Ucapkan selamat pada bocil kita satu ini -Autor


Apa kalian tau? varo saking semangatnya dia malah bangun pukul jam 5 pagi dan membangunkan semua penghuni mansion.


"Mommy ayo cepat valo udah nggak sabal mau pelgi sekolah sekalang". Alvaro yang sudah siap dengan seragamnya itu menarik-narik Keyla yang masih terlihat sangat mengantuk.


"Astagah baby ini masih jam 5 pagi sayang. Tidak ada yang pergi kesekolah dijam segini". Keyla dengan gemas mengangkat badan Alvaro dan menciumnya gemas.


"Masih jam 5? Tidak bisa pelgi sekolah sekalang?". varo memiringkan kepalanya memandang Keyla. Yah saking semangatnya dia lupa kalau sekarang masih jam 5 pagi.


"Khehehe. Iya sayang~". Muach Keyla mengecup bibir Alvaro yang masih terbengong karena mengira sekarang sudah jam 7 pagi.


"Hahah iya sayang. Sekarang ayo ganti bajunya dulu". varo membiarkan Keyla mengganti pakaian sekolahnya dengan sebuah piama bermotif beruang. Dia masih ngeleg kawan.


"Cha sekarang kita tidur lagi yah". Keyla berjalan menuju kearah kasur dengan Axel yang masih tertidur nyenyak tak terganggu dengan semua kebisingan yang baru saja terjadi.


"Daddy masih tidul? Belum bangun?". Varo memandang Axel dengan mata bulat besarnya.


"Hm tentu saja, inikan masih subuh sayang". Alvaro tersenyum lebar sehingga menampilkan dimple nya yang lucu.


"Cha sekarang baby tidur okey". Keyla membaringkan Alvaro disampingnya dan menepuk-nepuk dada varo agar varo cepat tertidur.


Tidak berselang lama varo langsung tertidur nyenyak membuat Keyla tersenyum. Dia mengelus pucuk kepala varo sayang dan mencium keningnya.


"Sleeep well baby". Keyla memeluk tubuh bulat Alvaro dan tak berselang lama lapun ikut tertidur lelap menyusul Alvaro dan Axel dalam mimpi.


Jam sekarang sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan Keyla sudah terbangun dari tadi. untuk membuat sarapan.


Sementara itu, dua orang pria dan remaja masih terlihat tertidur nyenyak walau sinar matahari sudah menyinari mereka lewat celah-celah jendela.


Yaps mereka adalah Axel dan Alvaro yang masih tertidur dengan Axel yang memeluk tubuh mungil Alvaro.


Axel membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang menyinari matanya. Dia bangun dengan Alvaro yang masih berada dalam pelukannya.


Uh ugh


varo menggeliat merasa terganggu dengan pergerakan yang dilakukan Axel. Sementara itu Axel terkekeh pelan melihat bagaimana varo menggeliat pelan. dan lanjut tertidur setelahnya.


Pipi berisi bak Mocci itu terhimpit dengan dada Axel membuat pipinya tertekan dan bibir yang mempout lucu.


"Bangun baby, bukankah ini hari pertamamu bersekolah". Axel menoel-noel pipi berisi itu yang membuat varo merengek masih mengantuk.


"Ughh mau kesekolah~". Axel kembali terkekeh saat melihat varo yang berusaha untuk membuka matanya dengan susah


Axel mengangkat badan Alvaro dan berjalan menuju kamar mandi, hari ini dia yang akan mengantar varo ke sekolah.


Setelah 20 menit lamanya mereka dikamar mandi, kini mereka sudah siap dengan pakaian mereka masing-masing. Axel yang memakai kemeja siap untuk bekerja dan varo yang telah kembali memakai seragam sekolahnya.


'Ugh gemas sekali". Axel menggigit pipi bagian dalamnya saat melihat penampilan Alvaro yang sangat menggemaskan.


Baju yang dia kenakan terlihat kebesaran ditubuhnya ditambah dengan Wajah Alvaro yang tampan tapi juga cantik dan ditambah dengan tinggi badan yang tidak seberapa itu membuat dia terlihat seperti murid SD yang memakai pakaian anak SMA.


"Daddy ayo valo udak nggak sabal mau belangkat sekolah". Alvaro nerusaha mendorong tubuh Axel agar mereka segera keluar.


"Sarapan dulu baby". Badan varo diangkat Axel kedalam gendongan koalnya dan keluar dari kamar menuju keruang makan.


Saat mereka sampai, di sana sudah terdapat semua anggota keluarga Axel dengan Opa, Oma, Javier, dan Alaric sebagai tambahan.


Jika kalian bertanya dimana Andrea, Liam, Alicia dan Syasa berada maka jawabannya mereka sudah kembali. (diusir) ke mansion utama Alexander.


"Selamat pagi". Alvaro menyapa mereka semua dengan Senyum lebarnya yang membuat matanya menyipit membentuk bulan sabit dan jangan lupakan dimple serta pipinya yang membulat itu.


"Pagi baby". Jawab mereka serempak


"Eh semangat sekali cucu oma yang satu ini". Lily menatap lucu pada penampilan Alvaro yang sangat menggemaskan.


"Hehehhe iya dong valo kan hali ini sekolah ". varo kembali tersenyum lebar dan lebih lebar lagi saat menerima suapa Keyla padanya dengan sayur kesukaannya tumis kangkung.


"Heh baby masuk SMA? Aku kira baby akan masuk Sekolah Dasar". Kevin menatap Varo dengan mata jahilnya. Dia suka saat melihat wajah cemberut Alvaro.


varo yang mendengar ejekan dari Kevin mengerucutkan bibirnya hei dia itu sudah besar. Sudah 14 tahun jadi dia bukan anak SD.


Uhh.. halusnya gue minta zelo buat nambah tinggi badan waktu itu ugh'. Batinnya.


"valo kan sudah 14 tahun jadi valo udah besal dong bukan anak SD lagi". varo menatap sengit pada Kevin. Bukannya takut, Kevin malah tertawa melihat wajah yang dibuat seram oleh Alvaro.


"Ahahhahaha Gemas sekali". Mata varo berkaca-kaca saat mendengar Kevin menertawakan dirinya. Bibirnya sedikit bergetar dan hidung bengirnya mulai memerah begitupun dengan pipi bulatnya.


Hiks


Satu isakan lolos membuat Kevin menghentikan tawanya. Kevin menatap varo yang menatapnya dengan mata berkaca-kacanya.


"Kevin". Lily menatap tajam Kevin yang sudah membuat cucu kesayangannya menangis.


"Hahah maaf Oma. Wajah cemberutnya sangat menggemaskan aku tidak tahan untuk tidak menggodanya". Dalam hati mereka menyetujui apa yang dimatakan Kevin, wajah cemberut varo itu sangat menggemaskan.


"Sudahlah lanjutkan makan kalian. Baby juga yah".


Setelahnya suasana meja makan kembali tenang saat suara tegas John terdengar.




Mobil mewah bermerek Koenigsegg CCXR Terevita yang berharga sekitar $4,8 juta atau 68 miliar memasuki area Sekolah Elit dengan gagahnya.



Axel keluar dengan varo di gendongannya sementara Kevin berada di belakang kemudi keluar dengan wajah datar dan dua pasang tas yang ada dipunggungnya.



Kepala Sekolah menyambut mereka dengan senyuman canggung dan menuntun mereka untuk masuk kedalam.



Sedangkan Alvaro dia melihat sekeliling dengan pandangan yang berbinar-binar senang melihat betapa besar dan megahnya sekolah yang akan dia tempati saat ini.



"Uwaahhhh besal banget~". Kevin terkekeh saat melihat wajah antusias varo begitupun dengan Axel.



Kepala sekolah yang melihat itu tentu saja terkejut. Dia baru pertama kali melihat Axel tersenyum apalagi sampai terkekeh seperti sekarang dan itu semua disebabkan oleh makhluk mungil nan lucu yang ada digendongan Axel.



"Apa yang kau liat". Axel bertanya dengan nada dingin penuh intimidasi pada kepala sekolah yang membuat sang empu langsung menundukkan kepalanya takut.



"M maafkan saya Tuan Besar". Ucapnya terbata.



"Hm kau pergilah. Kau tidak perlu menemaniku". Kepala sekolah itu langsung saja menunduk dan buru-buru pergi dari sana.



"Daddy! Daddy Sekolahnya besal banget varo suka". Ucap varo seraya menepuk-nepukkan tangannya di bahu lebar Axel.



"Hmm baby suka sekali yah". varo menganggukkan kepalanya semangat. Dia tidak pernah melihat sekolah sebesar dan semegah ini sebelumnya.



Setelah beberapa menit berjalan akhirnya.mereka telah sampai di kelas Alvaro 'Kelas 10A' terpampang jelas di atas pintu berwarna Cream itu. "Ini kelas valo?". Axel mengangguk dengan tangan mengetuk pintu dengan elegan.



"Daddy tulunkan valo". Alvaro memberintak pelan dalam gendongan Axel minta diturunkan. Dia malu saat orang lain melihat dirinya digendong.



Ceklek




"Maaf Tuan. Apa yang membawa anda kemari?". Wanita itu bertanya dengan sopan pada orang yang ada didepannya saat ini.



"Anakku akan masuk ke kelas ini". Guru itu terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Axel. Pasalnya Kevin sedah kelas 2 masa mau dimasukkan ke kelas 1 kembali.



"Emm maaf tuan, tapi siapa yang anda maksud? Bukankah tuan muda Kevin sudah kelas dua sekarang". Jawab Guru itu pelan.



"Ck. Bukan Kevin yang aku maksud". Guru itu terlihat semakin bingung dengan situasi saat ini hingga suara lembut memecahkan suasana.



"H halo". Suara halus Alvaro membuat guru itu langsung menunduk dan mendapati Alvaro sedang menatapnya dengan pandangan malu-malu.



'Oh astagah!. Sejak kapan ada makhluk menggemaskan disini?'. Batin guru itu gemas.



Pasalnya, Alvaro saat ini sedang menempel pada Axel dengan kedua lengan kecilnya memeluk pinggang sang Daddy. Belum lagi tatapan malu-malu yang dia layangkan, oh astagah tolong selamatkan guru itu segera, Sepertinya dia sekarang terkena diabetes.



"Halo" astagah apa kamu yang akan menjadi murid baru itu?". Guru itu tersenyum lembut pada varo.



"I iya". Jawab varo malu-malu dan langsung menyembunyikan wajahnya.



Kevin menekuk lutunya untuk mensejajarkan tingginya dengan Alvaro, kemudian dia memasangkan tas varo dan mencium kening itu lembut.



"Belajar yang rajin, dan jangan nakal ingat. Nanti abang akan menjemputmu lagi saat jam istirahat okey".



varo menganggukkan kepalanyan dia kemudian menatap Axel dengan mata bulat besarnya. Axel yang mengerti segera membungkukkan badannya dan mendapatkan kecupan dari Alvaro


membuat ia tersenyum lembut dan membalas kecupan itu.



"Belajar yang rajin. Nanti daddy akan menjemputmu saat jam sekolah telah selesai".



varo kembali menganggukkan kepalanya dan kemudia dia memegang tangan sang guru yang dari tadi melihat interaksi mereka dengan senyum geli nya.



"Jaga putraku dengan baik". Guru itu menganggukkkan kepalanya tanda mengerti dan mulai masuk kedalam kelas.



Saat pintu itu tertutup, tatapan Axel dan Kevin berubah menjadi datar. Axel menekan airphone yang ada ditelinganya yang langsung terhubung dengan semua pengawal yang berjaga di sekolah itu.



"Jaga baik-baik putraku. Jika terkena lecet sedikit saja maka nyawa kalian taruhannya". Ucap Axel penuh penekanan.



"Baik Tuan!".



"Kevin ingat jaga varo dengan baik". Kevin mengangguk, tanpa disuruhpun dia pasti akan menjaga Alvaro.



Oke kita kembali ke Alvaro yang saat ini tengah berhadapan dengan semua murid yang ada dikelasnya.



Alvaro menunduk malu karena semua murid yang ada disana menatapnya seolah-olah dia adalah seekor buruan lezat yang tidak boleh terlewatkan.



"Ayo perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu". Guru wanita itu mendorong pelan badan Alvaro agar lebih maju untuk memperkenalkan diri.



"Uh uhh. Ha halo namaku Alvalo Emilliano Alexander pake 'LIIII' bukan 'II". Hening. Suasana dikelas itu sangat hening menurut Alvaro sehingga ia dapat mendengar suara detak jantungnya yang menggila karena gugup yang tak tertahan.



"Ah ba baiklah Alvaro perkenalkan namaku Stefanni aku adalah guru matematika. Kamu bisa memanggilku miss. Ann". varo hanya menganggukkkan kepalanya masih dengan kepala yang ditundukkan.



Mata Alvaro kini sudah berkaca-kaca siap untuk menumpahkan likuid beningnya dengan bibir yang menerucut lucu.



Hiks



Ah lolos sudah isakan Alvaro karena suda merasa sangat tidak nyaman dengan suasana hening yang ada didalam kelas barunya itu.



Salah satu siswa berwajah datar namun tampan berdiri dari duduknya dan berjalan menuju Alvaro yang sudah terisak kecil dengan menggenggam erat celananya.



Saat sudah berada didepan Alvaro dia lagsung mengangkat wajah varo yang sedari tadi menunduk untuk melihatnya.



"Jangan menangis". Ucapnya dan langsung menggendong tubuh mungil Alvaro dan berjalan menuju tempat duduknya menghiraukan tatapan cemburu dari teman-teman sekelasnya.



'Lah anjil ini siapa Woy'.



.



.



.



.



.



.



.



.



by👋