ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 30



...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🐻❤❤...


"Astaga? Ada apa ini? Kenapa baby menangis?". Tanya Keyla bertubi tubi saat melihat para putra putrinya pulang lebih awal dengan Alvaro yang menangis tersedu di pundak Kevin.


"Eugh hiks um hiks uhuk, Valo malah! Valo kesel hiks ihh sebel~". Ujarnya dengan tangisan yang semakin terdengar kencang.


Keyla mengambil alih tubuh kecil itu saat melihat putranya kesulitan menahan tubuh itu karena Varo yang bergerak acak.


"Ada apa? Kenapa baby bisa menangis seperti ini?". Tanya Keyla lagi.


"Hiks t tadi hiks Valo di ejek-ejek di sekolah hiks Valo kesel hiks Valo juga di bilang ******! Hiks v Valo bukan ****** hiks huwaa". Raungnya kesal.


'Anj*ing, bab*i, eek'. Umpatnya dalam hati.


's sabar tuan rumah'.


"Hiks Valo dengel Dali mbak-mbak hiks kalo ****** itu yang suka goda-goda Olang hiks Valo ndak pelnah goda-goda Olang tuh hiks". Jelasnya lagi dengan sesenggukan.


Keyla dan yang lainnya mengeraskan rahangnya saat mendengar perkataan Alvaro. Berani sekali orang itu berbicara hal buruk tentang bayi mereka.


Ah benar Keyla juga harus memberi pelajaran pada mbak-mbak yang sudah berbicara hal buruk didepan bayinya.


"Ssst tidak apa sayang, nanti orangnya kita hukum okey".


Alvaro menganggukkan kepalanya tanda setuju walaupun tangis itu masih terdengar namun tak sekeras tadi.


"Udah dong dek nangisnya, liat tuh mukanya udah merah karena nangis terus". Alicia mendekat kearah Keyla dan mulai mengelus-elus punggung Alvaro yang masih sesenggukan.


"Hiks ail matanya ndak mau belhenti hiks". Ujarnya sambil berusaha menghapus lelehan air matanya.


"Pffft, ekhem bilang saja kalau baby cengeng". Ejek Kevin.


"Ndak!!! valo hiks ndak cengeng hiks huwaaa".


"Kevin". Peringat Keyla pada Kevin yang malah tertawa melihat Alvaro menangis keras.


"Pffft hahahaha lucu sekali".


"Loh ada apa?"


"Huaaa papi! Hiks mau Papi, mau papi".


Keyla memberikan tubuh Alvaro pada Alexo yang diterima dengan senang hati oleh pria itu.


'jadi begini rasanya menggendong buntalan ini'. Batinnya.


Ekhem maklum saja soalnya Alexo belum pernah sekali pun menggendong Alvaro karena kakaknya Axel selalu menghalau dirinya untuk menggendong anak itu, la bahkan belum menyebut Mateo. Benar-benar menyebalkan.


"Hiks papi~ Valo kesel. Kesel banget loh!" Ujarnya lagi sambil menyembunyikan wajahnya di dada Alexo masih dengan tangisannya.


Alexo tidak menjawab, ia hanya menepuk nepuk punggung kecil itu lembut dan menimangnya hingga terdengar dengkuran halus tanda Varo telah tertidur.


"Kevin kamu harus mencari tau tentang ini". Kevin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tanpa disuruh pun dia akan langsung mencari dalang dibalik kejadian tadi.


"Akan kubunuh mereka yang berani menjelekkan anggota keluarga Alexander". Ujar Alicia dengan senyum manisnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Mereka sudah mulai bergerak".


"Hmm biarkan saja, toh mereka hanyalah Hama kecil yang pasti akan mati".


"Hahaha kau benar! Dia bahkan dengan PD nya memasukkan anaknya dalam keluarga kita berharap rencannya tidak akan ketahuan.


Pffft sangat bodoh".


"Yah, kita lihat sejauh mana dia akan bergerak. Tapi, jika dia berani mengincar baby ku maka aku akan langsung membunuh bajingan itu bersama putrinya".


"Ah kau benar-benar kejam Axel".


"Kkhh bukankah kau juga begitu Mateo".


"Ah kau benar~".


ಡ ಡ


'Ayah aku sudah mendapatkan dokumenny**a'


Sent


Syasa buru-buru memfoto semua dokumen yang ada dalam ruangan kerja Axel dan mengirimnya pada nomor ayahnya.


Dia tidak mengambil langsung dokumen itu karena bisa bahanya jika saat ada yang mengetahui kalau dokumennya dicuri jadi lebih baik dia memfoto semua isi yang ada dalam dokumen itu agar lebih mudah.


Setelah selesai, ia buru-buru langsung keluar tak lupa membereskan semua kekacauan yang ia perbuat.


Drrt


Kerja bagus, kau memang putriku


Read


Syasa menghela nafas lega saat ia telah kembali masuk kedalam kamarnya dan membaca pesan yang baru saja mendapat balasan dari ayahnya.


'dasar gadis bodoh'. Batin seseorang.


"Huft, tugasku sudah selesai berarti pria tua itu tidak akan menggangguku lagi kan? Hah aku benci semua ini". Monolognya.


Ceklek


"Syasa?".


"Hah? Apa?! Ah. iya mami ada apa?".


"Kenap kaget begitu sayang? Apa ada hal yang mengganggumu? Ayo katakan pada mami". Jesi mendekati Syasa sembari memegang nampan berisi buah-buahan yang ia potong sebelumnya.


"Tidak mami, aku hanya sedang memikirkan tentang tugas sekolahku saja". Jesi tersenyum sembari mengelus rambut lembut Syasa.


"Mami membawa potongan buah untukmu, dimakan yah sayang". Syasa mengangguk sembari menerima potongan buah apel yang Jesi siapkan untuknya.


"Tentu sayang. Ayo mana tugas sekolahmu, biar mami bantu ngerjain".


"Mami yang terbaik!". Ujarnya semangat.


Jesi terkekeh melihat keantusiasan Syasa, ini mengingatkannya pada Alicia yang sama antusiasnya saat ia membantu anak itu mengerjakan tugas sekolahnya.


Kalau tidak salah itu 6 tahun yang lalu saat Alicia berumur 10 tahun. Putrinya yang satu itu sudah banyak berubah, ia tidak pernah lagi melihat senyuman manis Alicia karena keegoisannya dan itu membuatnya semakin merasa bersalah


"Mami ini". Jesi tersentak saat mendengar suara Syasa. ia langsung merubah mimik wajahnya kembali seperti semula.


"Ya".


(0,0)✩


"Hmmm hmmm hmm".


"CK kalian berisik sekali".


Street


"Akh!!"


Andrea melepas kasar lakban yang sedari tadi menutupi mulut ketiga gadis yang duduk disebuah kursi dengan posisi tangan dan kaki yang terikat.


"Hiks a apa salah kami? Kami tidak pernah berbuat salah hisk dengan k kalian". Ujar salah satunya.


"Heh? Tidak berbuat salah katamu? Jangan bercanda Bi*ch. Kalian sudah menyebarkan rumor buruk tentang adikku!!". Ketiga gadis itu terdiam kaku saat mendengar suara rendah Kevin


"K kami tidak pernah berbicara buruk t tentang Alvaro". Bantah Luna.


"B benar!".


"Hmm begitukah?". Luna, Siska dan Mila menelan ludah gugup saat melihat Andrea membuka sebuah koper yang berisi banyak sekali pisau-pisau kecil yang pastinya sangatlah tajam.


"Wajah kalian sangat cantik, tapi pasti akan lebih cantik lagi jika aku melukis diwajah kalian".


Andrea menjilat bibir bawahnya saat melihat ketiga gadis itu gemetar ketakutan, bahkan Siska sampai mengompol saking takutnya.


"Aisss dasar menjijikkan".


Andrea mengambil sebuah tongkat bisbol yang tidak jauh dari tempatnya dan langsung menghantam kepala Siska hingga gadis itu terjatuh menghantam lantai.


BUGH!


"Kyaa!!! Hiks mami hiks mami tolong hiks".


"D dasar iblis hiks kalian! Hiks ugh".


"Ahahahaahhah". Andrea tertawa dengan kerasnya saat melihat pemandangan didepannya dimana Siska yang tergeletak dilantai masih dengan tubuh yang terikat di yang sekarang telah tergenang oleh darah.


"Hiks i iblis! Kalian semua iblis!". Teriak Mila dengan lantang membuat Andrea langsung menghentikan tawanya.


"Yah, kami memang iblis". Jawabnya enteng sambil membersihkan tongkat besbol yang tadi ia gunakan untuk memukul kepala Siska.


"Hmm karena kalian sudah memuji kami maka aku akan memberikan kalian hadiah". Ujar Kevin tuba-tiba.


"Kalian masuklah". Tak lama dari itu masuklah beberapa pria berbadan tegap yang masuk kedalam ruangan sempit itu hingga hampir memenuhi ruangan.


"Kalian setubuhilah mereka hingga kalian puas, ah dan lagi jangan biarkan mereka mati karena adikku juga ingin bermain main dengan mereka". Titahnya.


"Baik tuan muda!".


"Hahah nikmatilah hadiah kalian". Kevin dan Andrea langsung keluar dari sana menghiraukan teriakan dan juga jeritan yang dikelurkan oleh Luna dan Mila.


"Sialan!! Lepaskan kami! Tidak kyaa!! Lepas hng"


"Ah? Hngkh? Hiks sakit!! Akh!".


Jeritan dan ******* mulai mengudara dalam ruangan penyiksaan itu menandakan bahwa kedua yang tersisa kini tengah menikmati Hadiah yang diberikan oleh Kevin dan Andrea.


Ngokey


Kita beralih ke pemeran utama kita yang saat ini tengah bermesraan dengan sang papi menghiraukan wajah gelap dari Daddy nya dan juga para Abang-abangnya yang lain.


"Di sini ada Daddy loh? Masa baby tidak kangen sama Daddy?". Alvaro tidak merespon ucapan Alvaro, ia malah semakin memeluk tubuh tegap Alexo.


Alexo tersenyum senang dan semakin mendekap tubuh mungil Alvaro membuat Axel menggeram rendah.


"Baby lihat Abang membawa hadiah!!". Alvaro menyembulkan sedikit kepalanya untuk melihat apa yang dibawa oleh Devan dan tenyata itu adalah sebuah boneka Teddy berukuran sedang


berwarna coklat dengan pita dilehernya.


"Mau~". Ujarnya dengan tangan yang berusaha menggapai boneka yang dipegang oleh Devan tanpa melepaskan pelukannya dari Alexo.


"Ayo sini sama Abang". Alvaro terlihat berpikir sebentar sebelum berdiri dan mendekati Devan.


Ia berjalan menuju kearah Devan dan merentangkan tangannya ingin mengambil boneka Teddy yang ada ditangan Devan.


"Ini, kiss nya mana?". varo tersenyum saat menerima boneka itu dan memberikan kecupan kilat pada bibir Devan.


'bukankah tuan rumah tidak suka saat orang lain mencium bibirmu, tapi kenapa sekarang malah tuan rumah yang memulainya?". Tanya Zero.


'sstt sistem diam ajah'.


"Makasih Abang".


Setelah mengucapkan terima kasih Alvaro kembali lagi berjalan menuju Alexo melewati Axel yang sedari tadi sudah berwajah gelap dan malah kembali memeluk Alexo sembari tangan kecilnya memegang kaki boneka Teddynya.


"Ugh ini menyakitkan melihat putraku memeluk pria lain dihadapanmu". Lirihnya pelan namun sayang masih didengar oleh Alicia yang ada dibelakangnya.


"Hey dad. Begini saja Daddy udah cemburu, bagaimana nantinya jika baby menikah dan mempunyai keluarga sendiri? Dan lagi kulihat Rezav dan juga Kenzo mengincar baby". Bisiknya dengan senyum mengejek.


Wajah Axel semakin menggelap saat mendengar bisikkan Alicia. Apa lagi ia tau, sangat tau bahwa Rezav dan juga Kenzo dari keluarga Frank mengincar putranya!. Tidak! Dia tidak akan memberikan Alvaro kepada siapapun. Tidak akan!!.


Lihat saja! Ia akan membuat kedua anak yang mengincar putranya itu sengsara! Dia tidak akan pernah memberikan putranya! TIDAK AKAN PERNAH!!!.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


THANK YOU❤❤❤