ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 36



...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🐻❤❤...


Lima bulan telah berlalu setelah kejadian dimana Alvaro yang terkena tembakan dan kini anak itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan


terbangun dari tidur panjangnya.


Axel dan anggota keluarganya yang lain dengan senantiasa menunggu mata indah itu terbuka dan memperlihatkan bola mata biru miliknya.


Setiap harinya mereka akan bergantian berjaga diruang rawat Alvaro sesibuk apapun mereka.


Bukan hanya keluarga Alexander saja yang menjaga Alvaro tapi ada juga keluarga Frank yang turut andil dalam menjaga anak itu dan membuat Axel kesal.


Kalian tau kan siapa itu keluarga Frank?. Iya keluarga dari Rezav sekaligus sahabat Axel selain si dokter somplak Bagas.


"Pulanglah dasar hama". Kalimat sarkas yang dilontarkan Axel tak mampu membuat Stefan marah sekalipun, justru ia malah tersenyum mendengarnya.


"Oh ayolah kawan, aku hanya mengunjungi calon menantuku". Ujarnya dengan senyum lebar.


Axel menatap tajam Stefan yang dibalas senyuman sinis olehnya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan memberikan permataku pada putramu itu!". Ucapnya tak kalah tajam.


Kedua pria itu terus berdebat menghiraukan pandangan tajam dari istri mereka.


"Teruslah bertengkar maka tidak akan ada jatah untuk kalian". Kedua pria itu langsung menutup mulut mereka saat mendengar ancaman dari


istri mereka.


"Berhentilah bersikap kekanakan Axel dan kau Stefan! Carilah wanita lain untuk dijadikan menantu karena putraku hanya milik kami".


"Ah bagaimana dengan putriku Elia? Bukankah mereka akan sangat cocok?". Evelyn istri dari Stefan sekigus ibu dari Rezav itu menyuarakan pendapatnya.


"Jangan mengada-ngada Eve, putrimu baru berusia 5 tahun". Balas Keyla jengah.


"Cih".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Adek kapan bangunnya?". Alicia berkata dengan lirih sambil menatap papan tulis didepannya dengan tak minat.


Biasanya Alicia akan dengan sangat patuh mengamati guru pembelajaran terlebih itu Fisika dan kimia, mata pelajaran favoritnya.


Tapi sekarang, gadis itu terlihat bosan dan lebih memilih mencoret coret buku catatannya.


"Cih sungguh membosankan", decaknya.


Lain dengan Alucia maka lain juga dengan Andrea dan juga Kevin. Kedua remaja tanggung itu kini berada diruang penyiksaan tempat para tawanan mereka yang sedang di siksa.


HAHAHHAHHHAHAHHA


Oh lihatlah kedua remaja itu sekarang, mereka sedang menertawakan Bima yang saat ini tangan dan kakinya sedang digergaji menggunakan gergaji mesin otomatis.


AAAKKKHHHH


Jeritan yang sarat akan kesakitan itu terdengar sangat memilukan membuat kedua remaja itu semakin mengencangkan tawanya.


Bagi mereka, jeritan kesakitan yang dihasilkan bagaikan melodi indah yang membuat mereka kecanduan.


"To lo ng, Bu nuh s saja a ku". Suara yang amat lirih itu mampu membuat tawa kedua remaja itu berhenti.


Mereka berdua menoleh kearah sumber suara lirih itu dan mendapati Reo yang terlihat sangat menyedihkan.


Disiksa dan digilir setiap harinya selama Lima bulan ini sudah sangat cukup menghancurkan mental dan fisiknya.


Lihatlah betapa kejamnya ganjaran yang didapatkan olehnya membuat tubuhnya kurus kering seperti itu.


Tidak hanya disiksa dan digilir, Reo juga tidak pernah diberi makan dan minum sedikitpun. Selama ini dia hanya memakan sper** dari orang-orang yang menggilirnya.


Srak


Andrea menarik rambut Reo dengan kencang membuat pria itu meringis sakit akibat tarikan dirambutnya.


"Kau belum diizinkan mati jika adikku belum bangun dari tidurnya". Ucapnya dengan penuh penekanan dan langsung menghempaskan tubuh kurus itu kelantai dengan kasar.


"Cuih, itulah yang kau dapatkan jika berurusan dengan keluarga Alexander".


Andrea menendang punggung Reo dan berlalu dari sana menuju seorang gadis yang sudah kehilangan kaki kiri dan tangan kanannya diikuti Kevin dibelakangnya.


"Lihatlah ini?", Ucapnya saat sampai disamping Syasa.


Syasa yang mendengar suara yang ia kenali langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Andrea dan juga Kevin yang menatap dirinya.


"Apa yang kalian mau?", Ucapnya lirih.


"Hmm tidak ada, hanya ingin melihat kondisimu yang sangat memprihatinkan ini". Jawab Kevin sembari mengitari kursi yang diduduki oleh Syasa.


Gadis itu tidak dapat berdiri maupun bergerak sedikitpun karena Alaric memaku kedua pahanya dikursi yang ia tempati.


Jika kalian penasaran bagaimana dengan kondisi dari ayah Syasa yaitu Jordan. Maka jawabannya adalah ia sudah mati.


Yah mati, karena kehabisan darah dan juga karena jantung pria itu sudah Javier hancurkan dengan sekali cengkraman.


Sungguh keluarga yang sangat mengerikan.


"Tidak bisakah kalian langsung membunuhku?". Ucapnya setelah lama terdiam.


Syasa menatap Kevin sejenak sebelum kembali menundukkan kepalanya enggan untuk menjawab pertanyaan Kevin.


Kevin yang diabaikan tentu kesal. Ia dengan kasar langsung menarik rambut gadis itu yang telah tercukur setengahnya.


"Jawab aku sialan! Kau ingin mati dengan cara apa? Apa cara yang sama seperti apa yang dilakukan bang Javier pada ayahmu? Atau kau juga ingin digilir seperti si Reo itu?".


Syasa menggeleng lemah dengan derai air mata yang berlomba-lomba turun melewati pipi tirusnya.


"Maka kematian seperti apa yang kau inginkan SIALAN!!", Kevin menendang tubuh Syasa hingga gadis itu terjatuh menghantam lantai.


Kevin begitu murka saat Syasa tidak menanggapi ucapnnya. Ia dengan kalap langsung menendang tubuh gadis itu bertubi-tubi tanpa ampun walaupun Syasa sudah terkapar tak bernyawa.


Bugh


Bugh


Bugh


Tendangan demi tendangan Kevin lepaskan pada tubuh Syasa, bahkan kursi yang melekat pada syasa pun ikut hancur akibat kerasnya tendangan yang diberikan Kevin.


"Hei sudahlah! Gadis itu sudah mati". Ucap Andrea sembari menyesap putung rokoknya yang entah ia dapat dari mana.


"Hah~".


Kevin menghembuskan nafasnya sembari menghalau asap rokok yang di sesap oleh sepupunya itu.


"Berhenti merokok dihadanku sialan!". Ucapnya marah.


Huff


Andrea dengan sengaja menghembuskan asap rokoknya didepan wajah Kevin. membuat remaja itu langsung menonjok perutnya.


Bugh


"Keparat".


Hahahahahahaha


Kevin menatap aneh Andrea yang baru saja tertawa saat menerima pukulannya. Sial sepertinya dia memiliki sepupu yang sudah gila.


Drrrt drrt drrt


Bunyi handphone dari saku Kevin membuat tawa Andrea terhenti seketika. Kevin langsung mengangkat telfon itu saat nama ayahnya yang tertera disana.


"Hello Dad? What happened?, Tanyanya.


...................


"Really?, Daddy tidak berbohongkan?". Tanyanya memastikan.


...................


"A aku, aku akan segera kesana!", Ucapnya dan langsung berlari keluar meninggalkan Andrea yang kebingungan.


"Woy bangsat! Jangan ninggalin gue anjing!", Teriaknya setelah sadar dari acara bingungnya.


...****************...


"Uhhhh~ tangannya disuntik-suntik Valo ndak suka ini". Rengekan yang selama ini mereka rindukan kini kembali mereka dengar.


Rengekan yang selama Lima bulan tak mereka dengar kini telah kembali, apalagi saat melihat mata indah yang selama ini tertutup telah kembali terbuka membuat perasaan bahagia mereka semakin membuncah.


Axel sangat senang saat ia mendapatkan kabar dari Keyla bahwa permatanya telah bangun dari tidurnya. la bahkan langsung melesat ke rumah sakit meninggalkan rapat penting perusahaan yang seharusnya dilakukan setahun sekali itu, hingga membuat sang sekretaris hampir dikena serangan jantung.


Saat Axel Sampai kerumah sakit, ia langsung disambut dengan tawa riang yang berasal dari permatanya.


'Daddy! Daddy kyaaa- Valo kangen sekali- hahaha!.


Saat itu Axel hampir saja pingsan saking bahagianya saat mendengar sambutan yang dilakuakan oleh putranya itu, tapi setelah dipikir kembali...akan sangat tidak etis jika seorang ketua mafia pingsan iya kan?.


Jadi, dengan semangat enam sembilan Axel langsung membawa tubuh kecil itu dalam pelukan hangatnya. dan membubuhi wajah yang sedikit kehilangan muatan nya itu dengan kecupan bertubi-tubi.


"Daddy buka ini boleh? Satu saja~ yah?", Axel menatap wajah bulat itu lembut dan menggeleng.


"Uhh~ kenapa ndak boleh?". Tanyanya dengan nada sedih, bahkan bibir mungil itu sudah mencebik.


"No, baby masih membutuhkan ini", jawabnya.


"Eihhh anak mommy tidak boleh bersedih". Keyla datang dengan membawa nampan berisi bubur dan sebotol air hangat beserta botol susu Alvaro.


Dia duduk disebelah suaminya dan mengecup singkat kening sempit Alvaro.


"Kesayangan mommy dan Daddy harus makan sekarang agar cepat sehat dan infusnya bisa dilepas", ucapnya sembari tersenyum.


"Eumh tapi nanti dilepas kan?", Tanyanya lagi memastikan dan dibalas anggukan oleh Mommy dan Daddy nya.


Setelah itu, Varo memakan buburnya dengan nikmat. Rasa bubur yang dibawa oleh Keyla tidak terlalu buruk Varo menyukainya.


BRAK!!!


"Astaga!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


THANK YOU❤❤❤