
Happy Reading!!
.
.
.
"Apa yang sedang kalian lakukan didapur". Suara seseorang memasuki indra pendengaran mereka sehingga mereka langsung menengok kearah suara itu.
Alvaro melihat di sanah ada dua orang yang memiliki tinggi yang hampir sama. Hmm salah satu dari mereka terlihat tidak asing, kalau tidak salah varo pernah melihatnya tapi dimana yah.
'Ah benal! Foto yang ada dikamal Devan!'. Serunya dalam hati
"Loh Javier ? Alaric Kenapa kalian kemari?". Keyla bertanya dengan sedikit menaikkan suaranya. Dia segera memberikan badan gempal varo ke suaminya untuk di sembunyikan setelahnya berjalan dengan tergesa-gesa menuju kearah kedua keponakannya.
Axel yang mengerti maksud sang istri segera memeluk Alvaro dengan sedikit erat tapi tidak membuat varo sesak. Dia menekan sedikit kepala varo ke dada bidangnya agar Javier dan Alaric tidak dapat melihat wajah indah putranya.
'Javier? Alaric? Meleka siapa zelo'. Alvaro bertanya dengan penasaran pada dua orang berwajah datar itu.
'Mereka adalah anak-anak Mateo kakak Axel'.
'Lah anjil meleka semua ada belapa olang sih sebenalnya'. Batin varo
nanti tuan rumah akan tau sendiri'. Zelo langsung menghilang dari pikiran Alvaro. 'Zelo kamu menyebalkan'. Batin varo kesal
"Javier, Alaric kenapa kemari?" Keyla bertanya dengan terburu.
Javier dan Alaric langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Keyla. Sebenarnya mereka sangat penasaran siapa yang ada di gendongan Axel.
"Apa kami tidak boleh berkunjung". Alaric menjawab dengan nada datar khasnya. Dia tau Keyla seperti menyembunyikan sesuatu, terlebih dia melihat ada seorang anak kecil di gendongan Daddy mereka itu.
"Ah ha haha be begitu ternyata. Kalau begitu ayo kita keruang tamu sekarang. Mommy sungguh merindukan kalian berdua, sudah lama kita tidak bertemu kan". Keyla menarik tangan Javier dan Alaric menuju keruang tamu meninggalkan Axel dan anak-anaknya.
"Daddy meleka siapa?". varo menatap penasaran ke arah Axel.
"Hah baby jangan terlalu dekat dengan mereka oke".
"Eh kenapa?". Alvaro mengerutkan alisnya bingung karena Axel menyuruh dirinya untuk menjauhi Javier dan Alaric.
"Pokoknya jangan. Daddy tidak ingin mereka memonopoli dirimu". Axel, varo melongo saat mendengar jawaban Axel.
'Jadi dia menyuluhku untuk menjauhi meleka bukan kalena meleka jahat. Tapi kalena tidak ingin aku dimonopoli oleh Javier dan Alaric? Astagah! Aku tidak habis pikil'. Batinnya.
"Benar. Baby harus menjauhi mereka ok". varo hanya dapat mengangguk ragu. Dia tidak habis pikir dengan pikiran mereka semua.
Hoam
Ah varo jadi mengantuk sekarang. Axel dan ketiga anaknya yang melihat Alvaro menguap kecil itu terkekeh.
Ouh astagah lihat mata varo sekarang telah memerah karena mengantuk. Bahkan mata itu terlihat berkaca-kaca sekarang.
"Baby mengantuk?" varo menganggukkan kepalanya pelan menjawab pertananyaan Kevin. Kepalamya terkantuk-kantuk karena sudah sangat mengantuk.
Lo tidur mulu perasaan-autor
Bialin wleee -varo
Ck
Ok abaikan yang ini:)
"Daddy mau susu". Gumam varo sebelum benar-benar tertidur dalam pelukan Axel membuat mereka yanga ada di sana terkekeh pelan. Sunggu menggemaskan.
"Davian buatkan susu untuk adikmu. Daddy akan menaruh varo dikamar". Davian mengangguk mendengar perintah Axel.
Axel berjalan kearah lift untuk menuju kekamarnya yang berada dilantai tiga.
Kondisi ruang tamu saat ini benar-benar terlihat menyeramkan. Para pelayan dan penjaga disanah wajahnya benar-benar pucat dengan keringat dingin yang berlomba-lomba turun dari pelipis
mereka.
Jika mereka bisa, mereka mungkin akan lari terbirit-birit untuk keluar dari sana dari pada merasakan aura menyeramkan yang sedang dikeluarkan para majikan mereka.
Tapi mereka bisa apa? Jika mereka keluar dari sini sebelum jam kerja mereka selesai maka salah satu anggota badan mereka akan terputus.
"Apa tujuan kalian kemari?". Axel bertanya dengan nada dingin dan aura membunuhnya yang sangat kental membuat para pekerja disana gemetar ketakutan berbeda dengan dua orang yang hanya menampilkan wajah datar mereka.
"Tentu saja menemui anggota baru keluarga kita". Jawaban Javier membuat keluarga Axel langsung menatap tajam ralat sangat tajam pada mereka berdua.
"Dari mana kalian tau?". Kali ini Keyla yang bertanya. Dia melipat kedua tangannya dan menaikkan salah satu kakinya menindih kaki yang satunya lagi.
"Mom tidak lupa kan kami memiliki banyak mata". Jawaban sarkas Alaric membuat Keyla berdecih sinis.
"Cih seharusnya kalian tidak datang dasar pengganggu". Gumam Kevin pelan tapi dapat didengar oleh Javier dan Alaric.
"Kau sungguh tak sopan pada yang lebih tua Kevin". Javier menatap datar adik sepupunya itu. Javier tidak suka saat seseorang berbicara tidak sopan padanya.
Kevin mengalihkan wajahnya tidak ingin melihat wajah datar kakak sepupunya itu.
"Pulanglah". Suara Axel terdengar samgat dingin sekarang. Dia menatap jengah kedua keponakannya yang terlihat enggan untuk pergi walau jelas-jelas kehadiran mereka tidak diharapkan.
"Tidak akan". Javier menekan jawabannya pertanda tidak akan pergi dari sanah membuat aura permusuhan terasa sangat kental sekarang.
Para pekerja di sana menelan luda kasar, kaki mereka terasa seperti jeli sekarang.
'Benar-benar keluarga gila. Semoga tuan muda tidak mengikuti jejak mereka'. Batin mereka semua.
Hiks
"Mommy". Mereka yang ada disana serempak melihat kearah lift saat mendengar dengan jelas suara seseorang yang sedang menangis.
Pintu lift terbuka dan menampilkan Alvaro yang sedang menangis dalam gendongan Roi Asisten Axel.
Keyla yang melihat Bayi nya sedang menangis dalam gendongan Roi langsung berdiri berniat mengambil tubuh varo Tapi belum sempat Keyla menyentuh badan Alvaro, Javier sudah merebut
"Kau!!". Axel, Davian, Devan dan juga Kevin langsung berdiri dari duduknya.
Mereka menatap marah kearah Javier yang mengendong Alvarom0. Saat Axel akan maju dan merebut tubuh varo, Javier langsung memundurkan badannya dan Alaric dengan sigap berdiri di depan Javier sambil menyodongkan sebuah Revolver ke kepala Axel.
Axel terdiam sambil menatap tajam Alaric yang menyodorkan pistol pada dahinya. Keyla dan anak-anaknya pun juga ikut mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkan tepat pada Alaric dan Javier
"Eugh hiks". Ah suara varo yang menangis menyadarkan mereka. Mereka langsung menyimpan senjatanya masing-masing takut varo melihatnya.
'Eh? Anjil gue balu sadal kalau gue udah nggak digendong sama Loi". Batin varo sambil menatap Javier dengan mata bulatnya yang masih berkaca-kaca.
'Mimpi buluk sial*an'. Yah benar varo terbangun sambil menangis karena mendapatkan mimpi buruk yang sama persis dengan bayang-bayangan kehidupan pertamanya.
"Abang siapa?". Javier tersenyum saat melihat wajah bingung Alvaro. Dia mengecup pelan pipi bulat kemerahan itu membuat Axel, Keyla dan anak-anaknya menggeram marah.
"Javier Ladarian Alexander abang sepupumu". Javier menekan-nekan pipi bulat varo yang sangat menggoda untuk di gigit itu. Seperti bakpao bulat dan berisi.
Varo mengangguk-anggukka kepalanya pelan tanda mengerti.
'Meleka anak siapa sih?". varo bertanya pada zero.
'Bukankah saya sudah memberi tahu tuan muda tadi kalau mereka anak-anak Mateo kakak Axel?'.
'Oh benal. Aku lupa'.
varo tersadar saat seseorang mengecup pipi bulatnya. Dia melihat siapa pelaku pencuri ciuman pada pipinya dan melihat disana Alaric menatapnya sambil tersenyum kecli.
varo memiringkan kepalanya menatap kearah Alaric. Alaric yang mengerti langsung mengenalkan dirinya pada Alvaro.
"Alaric Zalma Alexander kakak sepupumu".
"Banyak banget. Hehehe valo senang punya banyak abang". varo tersenyum manis pada mereka membuat pipinya yang sudah bulat itu bertambah bulat saat tersenyum, matanya menyipit membentuk bulan sabit dan jangan lupakan dimple di pipi kanannya.
Ah sunggu menggemaskan Javier langsung mengecupi seluruh permukaan wajah Alvaro membuat sang empu terkekeh lucu karena wajahnya yang dikecupi.
Sebenarnya dia benci ini tapi bukankah dia harus membuat Javier dan Alaric ada di sisinya nanti. Hehehe babu balu batinnya.
Axel yang sudah tidak tahan melihat Javier
memonopoli putanya langsung merebut Badan kecil Alvaro dan memeluknya posesif.
Javier langsung menatap datar Axel saat varo direbut dari gendongannya begitupun Alaric Sedangkan Keyla dan anak-anakya tersenyum mengejek.
"Baby bukankah daddy sudah bilang jangan dekat2 dengan mereka berdua". varo hanya menatap polos pada Axel dan mengedip-ngedipkan matanya pelan menambah kesan menggemaskan pada dirinya.
"Tuan anda benar-benar luar biasa dalam berakting'. Alvaro tersenyum bangga dalam hati saat mendengar pujian yang diberikan oleh zero.
"Tapi kenapa? Melekakan juga kelualga daddy". Axel dan Keyla beserta Devan, Davian dan Kevin menghela napas kasar saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir tipis itu.
Sementara Javier dan Alaric yang mendengar kata-kata Alvaro langsung tersenyum tulus. Sebelumnya mereka tidak pernah tersenyum tapi lihatlah sekarang. Mereka tersenyum dengan tulusnya.
Ck ck ck. Pelet lu manjur banget yah.-Autor
Oh ucapkan terima kasih pada wajah ini-Alvaro
Ok lupakan.
ತಎತ
"Kami akan tinggal disini utuk sementara. Iya atau tanpa persetujuanmu dad". Perkataan Alaric membuat mereka langsung mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Pulanglah. Kami sedang tidak menerima tamu sekarang". Axel menatap tajam pada dua orang
keponakannya itu.
Berani sekali dia memutuskan tinggal disini tanpa
persetujuannya. Axel dan Keyla mengeluarkan aura membunuh mereka.
Hal itu tentu saja membuat Alvaro tersentak. Dia menelan salivanya gugup saat merasakan aura membunuh yang mereka keluarkan.
"D daddy kenapa". varo menyentuh wajah Axel menyadarkan mereka semua yang ada disana karena sudah menakuti malaikat mereka.
"Maafkan daddy". Axel mengecup sudut bibir Alvaro membuat Javier dan Alaric mendengus karena cemburu. varo hanya menganggukkan kepalanya memaafkan Axel.
"Kami akan tetap tinggal di sini".
"Tid-"
"Atau Kami akan memberiahukan hal ini pada opa dan oma".
DEG
Jantung mereka seakan berhenti berdetak untuk sesaat saat mendengar ancaman Javier. Tidak mereka bukannya takut ibu Axel tidak akan menerima Alvaro tapi sebaliknya.
Jika Lily (nama Ibu Axel) tau kalau ada Alvaro maka dia akan langsung merebut varo dari mereka dan mengunci varo hanya untuk dirinya sendiri. Itu tidak bisa dibiarkan batin mereka bersamaan.
Sedangkan alvaro dia menatap heran pada daddy dan mommy beserta para abangnya yang berwajah pucat.
Apakah neneknya itu sangat menakutkan?. Batinnya.
.
.
.
.
.
.
byby👋 thanks udah mau baca