
"Ada apa ini?!"
DEG
"M MOM?/ OMA?!". Axel dan semua orang
yang ada disana kaget melihat Ibu/oma
mereka dengan tiba-tiba saja datang.
"Ada apa? Kenapa kalian kaget begitu?". Lily menatap bingung pada anak dan cucu-cucunya itu.
"M mom kapan datangnya?". Keyla maju dan memeluk ibu mertuanya itu erat.
"Kamu kenapa sih Key. Memangnya mom nggak boleh ngunjungin kalian?". Lily semakin bingung dengan situasi saat ini. Dia juga melihat semua orang yang ada di sini terlihat gugup.
"A ah nggak kok mom. Dad ada dimana? apa dia juga ikut?". Keyla tersenyum canggung dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"John tentu saja ikut denganku. Ada apa ini sebenarnya?". Lily menetap semua orang yang ada disana, saat dia melihat kearah Devan tatapannya langsung terpaku pada buntelan yang ada didada Devan cucunya pertamanya dari Axel.
Devan yang melihat itu langsung mendudukkan badannya masih dengan Alvaro yang nemplok.
"Selamat datang oma". Lily hanya mengangguk saja tapi pandangan matanya masih terpaku pada Alvaro yang tertidur, dia penasaran siapa anak kecil yang ada digendongan Devan, wajahnya tidak terlalu jelas karena tersembunyi di dada
bidang Devan.
"Siapa itu Devan".
Deg
Semua orang yang ada disana bertambah gugup saat mendengar pertanyaan Lily.
"A aha di dia". Devan tidak tau harus menjawab apa untuk menjawab pertanyaan Omanya itu.
"Ada apa? Kenapa gugup begitu". Lily menatap penuh selidik pada mereka semua, mereka berperilaku seperti dia akan mengabil barang berharga mereka.
"Kenapa kalian semua berdiri?". John Ayah Axel menatap mereka semua datar.
'Sial'. Batin mereka semua yang ada disana.
Tuk
Mereka semua langsung mengalihkan pandangan mereka kearah benda jatuh yang ternyata adalah botol susu yang sudah kosong isisnya.
Glup
Mereka menelan ludah kasar sedangkan Lily dan John menatap bingung botol susu yang telah habis isinya.
Eungh
John dan Lily langsung melihat anak kecil yang berada dalam gendongan Devan yang sedang menggeliat bagaikan ulat
*canda.
"Sstt baby tidurlah lagi". Devan menepuk nepuk punggung dan bokong Alvaro pelan agar varo bisa tertidur kembali.
"ASTGAH DEVAN? APA ITU ANAKMU?!!!".
HIKS HUWAAAAA
Alvaro terkaget saat mendengar suara menggelegar Lily dan menangis keras.
Bukan hanya varo yang kaget, tapi mereka semua yang ada disana juga kaget saat mendengar Lily berteriak dan menuduh Devan.
"Astagah maafkan aku". Lily tersadar saat mendengar suara tangisan Alvaro.
Dia bahkan dengan gercep merebut badan Alvaro dan langsung menggendongnya.
"Hiks mommy". varo mengangkat kepalanya melihat orang yang menggndongnya. Dia mengira Lily adalah Keyla.
Deg
"Astagah". Lily tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Anak yang digendongnya ternyata sangat indah dan menggemaskan.
Matanya berkaca-kaca, hidung mancung tapi bengirnya memerah, pipi bulat seperti Bakpao dan selembut mocci itu juga ikut memerah, dan bibir ranumnya melengkung kebawah.
Oh astagah sungguh menggemaskan. Batinnya.
"Devan kau pintar membuat anak".
Astagah rupanya Lily salah paham di sini.
"Mom dia putraku". Axel menatap jengah pada ibunya.
"Dia putramu? Kapan kau membuatnya?!".
"Honey jangan berteriak". John mendekati Lily, dia juga penasaran seperti apa wajah anak yang digendong istrinya itu.
"Oh my, John lihatlah. Dia sangat cantik dan menggemaskan". Lily membalik wajah Alvaro yang masih mengumpulkan nyawanya itu kehadapan John. John terdiam ditempatnya, dia menatap wajah varo yang terlihat linglung. Wajah
pria tua itu dengan perlahan-lahan memerah.
Dengan tangan yang sedikit gemetaran dia mengambil varo dari gendongan istrinya, menghiraukan lily yang terlihat misu-misu.
"A apa benar dia anakmu Axel?". John
menatap Axel sebentar dan kembali mengalihkan pandangannya pada Alvaro yang saat ini mengedipkan matanya perlahan.
"Iya. Dia putra bungsuku". Axel tersenyum tipis melihat ayahnya yang terpesona akan keindahan wajah Alvaro.
'Lah lah lah?! Ini siapa lagi anjil?".
Oh akhirnya kamu sadar juga varo.
'Zelo dia sapa anjil maen gendong-gendong gue segala lagi'.
'Dia adalah Tuan besar Alexander. John Alexander ayah dari Axel Alexander. Zelo menjawab dengan tenang tanpa peduli dengan raut wajah Alvaro yang tercengang.
'Weh...kok mukanya masih awet aja seh? Apa lahasianya anjil?'. varo menatap tepat pada manik Coklat tajam John.
'Ok. Peltama-tama ayo kita belakting tellebih dulu dan menaliknya untuk belada disisiku alias menjadi babu ku mwehehehehe'. Batin Alvaro.
"Eh eh... da daddy daddy!". varo dengan sengaja berperilaku takut pada orang yang sedang menggendongnya.
Kepalanya bergerak mencari keberadaan Axel, setelah melihat daddy nya dia langsung mengarahkan tangannya berusaha menggapai Axel.
"Daddy! Daddy?!~?". Matanya kini sudah berkaca-kaca siap untuk menangis karena melihat Axel yang tak kunjung mengambil dirinya dari orang yang menggendongnya. Lily yang dari tadi tetap fokus menatap
Alvaro menahan gemas dengan menggigit bibirnya.
'Oh astagah cucuku sangat menggemaskar. Batinnya gemas
"hey hey baby tidak usah takut hmm". John meneluk erat badan Alvaro yang masih berusaha untuk menggapai putra keduanya itu.
"Hiks mau daddy". varo akhirnya menyerah, dia meletakkan kepalanya pada dada yang masih terlihat kekar John.
"Tenang sayang jangan khawatir, aku adalah kakekmu, panggil aku Opa oke".
John tersenyum, dia mengangkat wajah varo yang masih menempel di dadanya itu untuk menatap dirinya.
Dia menatap lamat-lamat wajah menggemaskan Alvaro, wajah yang kini tengah memerah karena menangis dan bibir yang dipoutkan.
'Apa bedanya kakek sama opa?, pelasaan sama aja'. Btin varo
"Kakek? Opa?". John mengangguk kecil dan langaung mengecupi seluruh wajah menggemaskan varo dengan brutal.
"Dad berhenti mencium wajah permataku". Axel menatap tidak suka pada ayahnya yang sedang mengecupi wajah berharga putranya.
Bukan hanya Axel yang menatap tidak suka pada John, tapi juga Keyla dan anak-anaknya, ditambah Javier dan Alaric serta Liam dan Andrea.
Mereka bahkan dengan kompak menatap John datar dengan dikelilingi aura menyeramkan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?". John menatap remeh pada anak dan cucunya itu.
Ck.
Mereka semua berdecak sebal pada Ayah/ Opa mereka.
"Sudah-sudah berhenti. Apa kalian tidak kasian pada cucuku yang sedang menatap bingung sikap kalian".
Lily berucap kepada mereka agar menghentikan pertikaian yang jika dilanjutkan tidak akan pernah berakhir. Dia berjalan menuju suaminya yang masih menggendong Alvaro yang sekarang sudah nemplok kayak cicak.
"Hay sayang". Lily memegang wajah bulat Alvaro yang terasa lembut ditangannya, seperti kulit bayi.
varo menatap lily dengan mata bulat besarnya yang terlihat sayu. Dia masih mengantuk ternyata.
"Baby, apa daddy mu sudah memberitahukan tentang kami?". Alvaro menatap polos Lily masih dengan wajah mengantuknya dan setelahnya menggeleng pelan.
Lily yang melihat varo menggeleng langsung mentap tajam putra keduanya itu. Berani sekali dia tidak memberitahukan tentangnya kepada
bungsu baru keluarga Alexander.
Diantara semua anggota Alexander, Lily adalah orang yang paling ditakuti oleh semuanya. Memang dalam kesehariannya, Lily sangatlah lembut dan juga tegas tapi! Kalau dia sudah marah maka tamatlah riwayat mereka. Kenapa? Oh karena ereka akan dijadikan sasaran empuk pistol kesayangannya.
Pernah sekali Mateo tidak sengaja membuat Ibunya marah dan dia benar-benar di jadikan sasaran empuk pistol S&W 500M yang menjadi senjata kesayangannya. Saat itu, peluru dari pistol itu langsung bersarang pada dada kanan Mateo sehingga dia langsung dilarikan kerumah sakit keluarga mereka.
Dari kejadian itulah mereka selalu berusaha untuk tidak membuat Lily marah besar bahkan John pun sama.
Ekhem
Axel berdehem pelan untuk menghilangkan kegugupannya, dia bahkan dengan sengaja mengalihkan tatapannya agar tidak melihat wajah menyeramkan ibunya.
Cih
Lily mengalihkan pandangannya kembali pada Alvaro yang masih menatap polos padanya.
Hal itu membuatnya tersenyum, selama ini cucu-cucunya tidak ada yang seperti Alvaro yang mungil, tubuh yang berisi tapi tidak gemuk, wajah bulat, mata besar, hidung bengir dan ekhem tubuh yang ekhem pendek.
Karena selama ini Lily hanya melihat wajah-wajah datar cucu-cucunya, walaupun ada Cucu perempuannya yang tidak terlalu datar, tapi tetap saja tidak ada yang seperti Alvaro kecuali Syasa. Tapi, Syasa tidak seindah dan semenggemaskan Alvaro. Putranya benar-benar pintar memilih. Pikirnya.
"Baby, aku adalah nenekmu, tapi panggil aku oma okey". Lily mengelus pipi bulat Alvaro, sedangkan sang empu hanya menganggukkan kepalanya setelahnya dia tertidur.
Cepat sekali tidurnya-sky
Siang kini telah berganti malam, waktu yang digunakan untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah beraktifitas seharian.
Sama halnya dengan keluarga Alexander, setelah selesai makan malam mereka langsung menuju kekamar mereka masing-masing walaupun dengan 'sedikit' keributan yang terjadi karena memperebutkan Alvaro.
Sedangkan orang yang diperebutkan hanya menatap mereka jengah. Oh ayolah aku ingin cepat-cepat tidur. Batinnya.
Jadi, dengan inisiatif sendiri, Alvaro langsung memilih bersama dengan Liam karena hanya pria itu saja yang diam tidak memperebutkan dirinya.
Liam tentu sangat senang karena varo memilihnya walaupun wajahnya masih tetap datar. Dia menatap remeh semua orang, tidak sia-sia dia hanya diam tanpa melakukan apa-apa.
Disinilah varo sekarang di kamar Liam. varo baru tau kalau di mansion ini masing-masing lantai terdapat 3 sampai 4 kamar yang luasnya seperti lapangan Voli.
Drrttt drrtt drrtt
Bunyi handphone Liam berbunyi nyaring, itu adalah ponsel Liam. Liam saat ini sedang ada di dapur membuatkan Alvaro susu.
Alvaro berjalan mendekati handphone Liam yang berada di meja samping kasur king size yang dia tempati.
Saat sampai dia melihat nama 'Asa' yang tertera disana.
'Zelo siapa itu Asa?". varo mengerutkan keningnya dalam 'Asa adalah nama kecil Syasa tuan rumah'.
'Ohh. Hmm apakah aku harus mengangkatnya'. Alvaro tersenyum manis sambil mengambil Handphone Liam.
'Ah benar, bukankah kita harus menyapa dilinya'. varo tersenyum miring dan mulai menggeser icon hijau untuk mengangkat telfon.
"Halo~ abang Liam". Sapa riang suara yang orang yang ada diseberang.
"Abang kok nggak jawab sih asa kangen tau sama abang~". Nada riangnya kini berganti dengan suara rengekan karena tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ditelfonnya.
'Thhh jijay ajil'. Batin ala
"Halo~ ini siapa? Abang lu nya lagi di dapul buatin valo susu". varo tidak mendapat jawaban dari Syasa.
"Siapa kau?". Syasa sang penelfon bertanya dengan nada yang terdengar marah saat mendapatkan suara orang lain yang mengangkat telfon Liam.
"Eh namaku valo. Ab-".
"Baby sedang apa?". dan langsung berbalik saat mendengar suara Liam masih dengan handphone liam yang ada ditangannya.
varo segera meletakkan kembali handphone Liam masih dengan panggilan yang belum di akhiri sengaja agar Syasa mendengar percakapannya dengan Liam.
"Abang susu~". varo mengangkat tangannya tinggi berharap Liam memberika susu yang dia minta tadi.
"Baby sudah sangat haus yah". Mengangguk semangat dan segera meminum (baca menyedot) susu yang ada dibotol kesukaannya.
'Hu hu hu ternyata minum susu dibotol dot itu enak banget'. Batinnya
Liam terkekeh pelan saat melihat Alvaro menyedot isi didalam botol itu dengan brutal, apalagi pipinya yang bulat itu juga ikut bergerak.
Ugh sungguh menggemaskan.
"A abang Liam?!". Suara dari handphone langsung mengalihkan pandangan Liam.
varo yang melihat arah pandangan Liam menyeringai kecil.
"Abang valo lupa, telfon abang tadi bunyi
jadi valo angkat deh". varo menatap Liam polos dengan mata biru bulat besarnya.
"Iya tidak apa-apa baby". Liam tersenyum kemudian mengangkat badan alvaro yang terlihat sudah mengantuk.
Dia mengambil handphonenya dan menatap nama yang tertera disana dengan pandangan datar.
"Jangan menggangguku sialan".
Tut tut tut