
Mansion utama Alexander Syasa side.
Saat ini Syasa telah berada di dalam kamarnya. Kamar yang bercat soft pink itu, dia duduk di atas kasur king size nya dengan alis yang mengkerut bingung. Saat ini dia tengah memikirkan mengapa sikap Liam dan Andrea dalam beberapa
hari ini sangat berbeda dari biasanya.
"Sial! Kenapa sifat mereka jadi berubah seperti ini?! Apa yang harus kulakukan?".
Dia mengigit kuku-kuku jarinya, itu adalah kebiasaan dirinya jika pikirannya sedang kacau. Syasa mulai berlikir, sikap Liam dan Andrea mulai berubah saat Andrea pulang dari Mall begitupun dengan Liam.
Sikap Liam juga berbeda di hari yang sama dengan Andrea, seperti ada yang sesuatu yang sedang terjadi.
'Apa mungkin mereka menemukan seseorang yang lebih cantik dariku. Bagaimanapun mereka dulu mengadopsiku karena keindahan wajahku. Pikirnya
"Tidak, tidak, tidak!". Syasa menggelengkan kepalanya brutal dengan pemikirannya. Tidak akan ada orang yang memiliki wajah seindah wajahnya. Dia adalah yang tercantik.
"Benar. Tidak akan ada yang menandingi keindahan wajahku. Sebaiknya aku memulai pendekatan ulang dengan mereka, ah siapa yang pertama. Liam Yah Liam, aku akan memulai darinya". Syasa segera mengambil Handphonnya yang berada di nakas dan langsung mencari
kontak Liam.
Drrt drrrt drrt
Lama Syasa menunggu hingga telfonnya diangkat, dia segera memulai aksinya dengan antusias.
"Halo abang Liam". Setengah menit Syasa menunggu namun tidak ada jawaban dari seberang.
"Thh abang kok nggak jawab sih~ Syasa kangen tau sama abang~". Dia mengerucutkan bibirnya sambil berkata dengan manja kepada orang diseberang berharap mampu menarik perhatian
Liam.
Tapi setelah menunggu beberapa saat belum juga terdengar balasan dari Liam, namun ada suara orang lain yang menjawab.
"Halo Ini siapa? Abang Li nya lagi di dapul buatin valo susu". Mendengar suara asing dari telfon itu, Syasa langsung menjauhkan handphone nya dari telinganya. Dia sekali lagi memeriksa nama orang yang ditelfonnya, itu memang benar nomor Liam tapi kenapa ada orang lain yang mengangkatnya?.
'Siapa ini? Berani sekali dia mengangkat hp bang Liam, aku saja tidak diperbolehkan memegang handphone nya. Batinnya kesal
"Siapa kau?". Syasa bertanya dengan nada marahnya. Dia berpikir bahwa orang ini telah mencuri handphone abangnya.
"Em namaku valo. Al-"
"Baby sedang apa?". Itu suara Liam! Syasa jelas-jelas tau suara itu, itu benar-benar suara Liam. Dan lagi apa? Baby? Sejak kapan abangnya itu mau memanggil seseorang dengan panggilan Baby!!. Pikir Syasa
'Sial apa karena anak ini sikap mereka jadi berubah sama gue? Sial bagaimana ini?!'. Batinnya resah
Syasa menggigit bibirnya melampiaskan kekesalannya, dapat dia dengar Liam berbicara dengan orang itu dengan nada yang lembut berbeda dengan saat Liam berbicara dengannya.
Syasa meremas erat handphonenya karena marah. Bahkan matanya kini telah memerah menahan tangis yang bisa pecah kapan saja.
"A abang Liam?". Syasa memanggil Liam dengan suara bergetar menahan tangis.
"Jangan menggangguku sialan". Tangisan Syasa pecah saat itu juga. Dia menangis dengan keras dan membanting handphone nya kelantai hingga pecah berkeping-keping,
"Sial! Sial! Sialan!!!!. Aku akan menyingkirkanmu. Aku akan membunuhmu siapapun kau aku akan benar benar menyingkirkanmu karena telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!!" Syasa berteriak kesetanan, dia bahkan membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya hingga kamar itu hancur berantakkan.
Brak!
"Astagah sayang?! Ada apa ini?!". Jesi datang dan melihat kamar Syasa yang sudah hancur berantakkan dengan Syasa yang masih menangis histeris di tengah kekacauan yang ada.
"Sttt Syasa ada apa ini? Kenapa kamarmu bisa seperti ini". Jesi memeluk erat Syasa yang masih menangis.
"Aku membencinya mamy~ hiks dia sudah merebut mereka dariku hiks.. aku benar-benar membencinya mi~".
Jesi tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh putrinya ini. Siapa yang dimaksud oleh Syasa. Batinnya
"Sayang siapa yang kamu maksud?". Bukannya menjawab, syasa malah senakin menangis dengan hieteris membuat Jesi bingung sendiri.
"Aku tidak tau dia siapa mi hiks ta tapi dia sudah merebut apa yang hiks sudah hiks sudah menjadi miliku. Aku benar benar menbenci anak itu". Syasa memeluk erat Jesi yang dibalas tak kalah erat oleh Jesi yang masih belum mengerti dengan situasi saat ini.
Jesi menatap suaminya yang berada di ambang pintu kamar Syasa. Alexo menatap datar pada ruangan Syasa yang yang telah hancur berantakan. Dia pergi dengan tanpa mengatakan apapun bahkan menengok pada istrinya pun tidak.
"Mamy.. aku ingin anak itu mati..aku ingin anak itu hilang dari kehidupanku selamanya". Syasa menatap memelas pada Jesi yang dibalas anggukan mntap oleh Jesi.
"Tenang sayang. Aku akan melakukan apapun untukkmu". Syasa tersenyum manis saat mendengar jawaban Jesi.
Dia cukup senang karena Jesi masih berada di sisinya begitupun dengan papi nya
Keesokan harinya, mansion Axel dilanda kekhawatiran dan kepanikan yang berlebihan karena Alvaro yang terkena demam.
Mereka semua bahkan dengan kompak menelfon rumah sakit keluarga mereka, membuat rumah sakit juga ikut kelimpungan saat menerima telepon dari pemilik rumah sakit. Setelah perdebatan panjang, akhirnya salah satu dokter kepercayaan keluarga Alexander yang bernama Bagas langsung menuju kekediaman Axel yang juga merupakan sahabatnya.
Bagas datang dengan tergesa-gesa karena menerima ancaman yang tidak main-main dari Axel jika dia telat sedetik saja.
Bahkan, saat dia sampai dia langsung diseret oleh Axel menuju kearah kamarnya untuk memeriksa Alvaro.
Yah. Alvaro langsung dipindahkan ke kamar Axel saat tau jika permatanya sedang demam. Keyla bahkan sampai menangis saat mengecek suhu badan Alvaro yang terasa sangat panas.
Alvaro bahkan sering bergumam tidak jelas tentang sesuatu yang mereka tidak mengerti seperti 'jangan, ampun, sakit, maaf dan lain sebagainnya.
Mereka bahkan sempat berpikir jika Alvaro memiliki kehidupan yang sulit sebelum bertemu dengan mereka
"Mommyh pa panas". Alvaro bergumam pelan karena merasa tidak nyaman dengan suhu tubuhnya.
Keyla dengan telaten mengompres dahi Alvaro agar demamnya sedikit berkurang.
Bagas yang awalnya penasaran siapakah yang akan dia periksa kini melongo dengam tidak elit ditempatnya berdiri. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bagaimana bisa keluarga iblis ini memiliki makhluk seindah itu?. Batinnya.
"Apa yang kau lamunkan Sialan. Cepat periksa putraku". Bagas tersadar saat mendengar Axel memaki dirinya, dengan gerakan cepat dia mengeluarkan peralatan rumah sakitnya dari dalam tas yang dia bawa.
Dia mengecek dengan telaten badan Alvaro setelahnya memasang sebuah selang infus di punggung tangan halus varo.
"Ash.. sakit hiks". varo meringis dalam tidurnya saat merasakan ada sesuatu yang menusuk kulit tangannya. Jika dia terbangun dan melihat dirinya di infus seperti ini maka dia akan menangis histeris. Yah dia sangat membenci jarum, semua yang berhubungan dengan rumah sakit.
"Jangan khawatir, dia hanya kelelahan dan juga perubahan cuaca yang tidak menentu membuatnya seperti sekarang ini. Aku juga sudah menginfusnya jadi, kalian tidak perlu khawatir lagi. Kalian bisa melepas infus ini jika cairan didalamnya telah habis".
Mereka semua yang ada disana mengangguk saat mendengar penjelasan Bagas. Lily mendekat kearah kasur dan mengelus pucuk kepala Alvaro yang terasa panas akibat demam.
"Cepat sembuh cucuku". Luly mencium kening Alvaro lama sebelum dia keluar dari kamar putra keduanya.
"Kalian kembalilah sekarang. Biar aku dan Keyla yang menjaga varo"
"Apa kau mengusirku?". John menatap tajam pada putra keduanya itu saat merasa dirinya diusir.
"Yah. Karena itu keluarlah ayah". John hendak protes saat mendengar jawaban sarkas Axel talu dia urungkan mangingat Alvaro yang sedang sakit.
Akhirnya John dan yang lainnya keluar dari kamar Axel dengan perasaan jengkel. Pengennya mereka ingin bermain bersama dengan Alvaro tapi sekarang keadaan tidak memungkinkan karena varo yang sedang demam.
"Cepat sembuh Baby".