
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kembalikan putraku". Axel menatap kakaknya yang saat ini tengah duduk angkuh di sebuah sofa yang berada dalam apartemen.
Mateo menatap remeh ke arah adik pertamanya itu. Dia tidak akan memberikan Alvaro dengan mudah pada Axel.
"Aku tidak akan memberikannya". Jawabnya enteng.
Rahang Axel mengeras dengan gigi yang bergelatuk karena amarah, bahkan kedua tangannya terkepat erat hingga membuat memutih.
Axel yang baru mengetahui keberadaan Mateo tiga hari setelah Alvaro menghilang dan ternyata Mateo sedang bersembunyi di salah satu apartemen mewah yang berada di xxxxx Axel tentu saja langsung berangkat kesana.
Dia bahkan tidak memberitahu hal itu pada Keyla dan Anak-anaknya. kalian tau? Selama Alvaro dibawa Mateo tiga hari belakangan, suasana Di Mansion Axel terlihat sangat suram.
Mereka semua yang ada disana tidak dapat tidur nyenyak karena baby mereka tidak ada di sana.
Penampilan mereka bahkan terlihat seperti ekhem tidak terawat sama sekali. Bagaimana tidak, rambut mereka yang nampak acak-acakan dan lingkaran mata yang sangat terlihat jelas.
Mereka tidak bisa tidur karena tidak adanya Alvaro.
Ok kembali ke awal.
Axel menatap marah pada kakanya itu yang seenaknya membawa permatanya dari pandangannya. Dia tau keberadaan Mateo juga dari adiknya Alexo, itupun harus diancam terlebih dahulu agar anak itu mau membuka mulutnya.
Mateo masih terlihat anteng duduk di sofa dengan menyeruput kopi hitamnya tidak memperdulikan keberadaan Axel yang ada di depannya.
"Papa-?" Suara Alvaro mengalun lembut mencari keberadaan Papanya. Suara Alvaro hanya dapat di dengar oleh Mateo karena Alvaro yang berada dalam kamar kedap suara yang dirancang sedemikian rupa hingga suara yang ada di dalam kamar itu hanya dapat terdengar oleh Mateo saja melalui sebuah Earphone mini.
"Hm Babyku sudah bangun rupanya". Mateo berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kearah kamar yang ditempati Alvaro menghiraukan Axel yang menatapnya dengan pandangan membunuh.
Axel yang ditinggalkan tentu tidak tinggal diam. Dia juga ikut berdiri mengikuti Mateo belakang.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka dan menampilkan Alvaro yang sedang di kasur kingsize berwarna putih dengan varo yang juga memakai Kaos putih kebesaran milik Mateo.
varo terlihat sangat menggemaskan saat ini. Dia hanya menggunakan kaos putih kebesaran hingga ia tenggelam sempurna dalam kaos itu. Bahkan celana yang ia kenakan pun tidak terlihat karena tertutup oleh kaos.
"Baby!!".
Axel yang berada tepat di belakang Mateo langsung berujar dengan keras memanggil Alvaro yang terlihat masih mengumpulkan nyawanya karena baru saja terbangun.
Alvaro yang tadinya masih mengumpulkan nyawanya langsung tersadar begitu mendengar suara sang Daddy.
"Daddy!!~". varo turun dari kasur itu dengan terburu hingga hampir terjungkal. Dia berlari menuju kearah Axel yang sudah berjongkok dengan membuka tangannya lebar siap menerima pelukan darinya.
"Dad- eh?!". Belum juga sampai pada Mateo, badan Alvaro tiba-tiba saja terangkat.
"Papa!~ lepas! Lepas! Mau Daddy! Mau Daddy". Alvaro memberontak berusaha lepas dalam gendongan Mateo yang menjadi pelaku penarikan Alvaro.
"Bang!! Lepaskan Putraku". Mateo menatap datar Axel yang berusaha menarik Alvaro dalam gendongannуа.
"Tidak. Dia akan bersamaku". Mateo dengan keras kepala menolak memberikan Alvaro pada Adiknya menghiraukan wajah Alvaro yang sudah memerah menahan tangis.
"Oh ayolah Bang. Lo bisa ngelihat Baby kapan saja". Axel memutar bola matanya malas mendengar penolakan Mateo.
"Hmm. Baiklah, tapi dengan satu syarat". Axel menaikkan alisnya bingun. Entah syarat yang akan dikatakan oleh kakak setannya ini.
"Apa?". Mateo memyeringai samar saat mendengar pertanyaan adiknya.
"Kalian harus pindah ke Mansion utama". Jawabnya enteng Pandangan Axel menajam saat mendengar syarat yang dilontarkan oleh Mateo.
"Tidak". Tolak Axel tegas.
"Hm kalau begitu jangan berharap kau bisa bertemu dengan Alvaro lagi". Axel langsung mendekap Alvaro lebih erat dari sebelumnya saat mendengar ucapan kakaknya yang terlihat tidak main-main.
Dia menghela napas dalam untuk menjernihkan pikirannya dan ditatapnya Alvaro yang berada dalam dekapannya. varo menatap Axel dengan mata bulat besarnya yang jernih membuat hati Axel sedikit tenang.
"Daddy". Axel mengecup kening Alvaro lama setelah itu kembali mendekap varo erat.
Berpisah selama tiga hari saja dia sudah hampir gila! Tidak terbayangkan olehnya. jika harus tidak bertemu Alvaro selama bertahun-tahun. Hiii membayangkannya saja Axel sudah tidak sanggup.
Jadi, dengan menghela napas dalam akhirnya Axel menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan syarat yang diberikan oleh Mateo.
Mateo tersenyum lebar saat mendapat anggukkan dari Axel, dia bahkan langsung memeluk badan tegap Axel dengan Alvaro yang masih di dekapan Axel.
"Menjijikan. Setelah mengatakan kalimat itu, Axel langsung saja keluar dari apartemen mewah itu meninggalkan Mateo.
"Hei tunggu aku Adik!!". Mateo berlari mengejar Axel yang sudah pergi dengan senyum lebarnya.
.
.
.
"Mommy!". Alvaro berlari kearah Keyla yang terlihat terkejut akan keberadaannya.
Keyla yang melihat Alvaro tentu saja kaget. Jadi dengan semangat dia juga ikut berlari dan langsung memeluk tubuh mungil Alvaro dengan erat.
"Baby kemana saja? Mommy sangat khawatir sayang". Keyla membolak balikkan badan Alvaro mencari apakah anaknya ini ada lecet atau tidak.
"Mommy valo kangen~". Keyla mengecupi wajah bulat Alvaro yang tidak dilihatnya selama tiga hari karena 'diculik' oleh kakak iparnya yang gila.
"Mommy lebih kangen lagi baby". Keyla kembali memeluk tubuh mungil itu setelah puas mengecupi wajahnya.
Drap drap drap
Derap langkah kaki yang saling bersautan menggema di dalam mansion mewah itu menampilkan Davian, Devan dan juga Kevin yang berjalan tergesa-gesa ke arah Keyla dan Alvaro berada.
"Baby!!". Seru mereka dengan kompak. Alvaro tersenyum lebar saat melihat ketiga abangnya yang berjalan tergesa-gesa kearah dirinya.
"Abaaang". Seru Alvaro riang sambil mengangkat kedua lengan pendeknya ingin di gendong.
'Para babuku gue kangen banget. Batin Alvaro.
"Bab-" Bruk!
"Sialan lo bang". Umpat Kevin kesal saat badannya didorong oleh kakak Pertamanya Devan.
"Jangan mengumpat didepan baby". Balas Devan datar.
"Abang van. valo kangen banget tau~". Devan tersenyum tipis mendengar suara Alvaro yang sudah tidak didengarnya selama beberapa hari ini.
"Abang juga kangen". Cup Devan mengecup bibir mungil itu kilat dan langsung memeluk badan mungil itu erat. Kangen sekali dia dengan Baby nya ini.
"Baby tidak kangen dengan kami?". varo mendongak untuk menatap wajah Davian dan juga Kevin yang menatap dirinya dengan wajah murungnya.
"Kangen juga~". varo melepaskan pelukan Devan dan langsung memeluk Davian dan Kevin bersamaan dengan kedua lengan pendeknya.
"Heheheh valo kangen banget tau~". Davian dan Kevin langsung menerjang Alvaro dalam peluka erat mereka. Dikecupnya kedua pipi bulat kemerahan itu brutal.
"Kita akan pindah ke Mansion utama". Mereka yang sedang menikmati acara haru biru itu langsung terhenti saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Axel.
"Apa maksudmu mas?". Keyla menatap bingung pada Axel yang menampilkan wajah datarnya tidak biasa.
Hah
Axel menghela nafas panjang, setelahnya langsung menatap wajah sang istri dan juga anak-anaknya.
"Kita akan pindah". Axel kembali mengulang ucapannya agar lebih jelas di dengar.
"Tapi kenapa Dad?". Kali ini Kevin yang bertanya pada Axel dengan wajah yang menampilkan ketidak sukaannya.
"Syat dari Papa kalian". Kening Kevin semakin mengekerut kesal karena ketidak sukaannya.
"Harus?". Kali ini Devan yang bertanya dengan kata yang sangat singkat.
"Hm. Mateo mengancam akan mengambil varo dari kita". Jelas Axel membuat Keyla dan Anak-anaknya menghela nafas berat.
"Sialan". Maki mereka secara bersamaan minus Alvaro tentu saja.
"Sialan!!". Alvaro mengikuti ucapan mereka hingga membuat mereka tersadar sudah mengucapkan kalimat kasar di depan Baby mereka.
'Udah lama gue nggak ngumpat secala gamblang kek gini. Huft lasanya senang banget. Batin Alvaro senang..
"Baby tidak boleh mengucapkan itu". Seru mereka kompak mengagetkan Alvaro.
"Kenapa?". varo memiringkan kepalanya bertanya.
"Tidak boleh. Itu kata kasar sayang". Keyla memberikan pengertian pada Alvaro yang masih terlihat bingung. Bingung karena tidak diperbolehkan mengumpat.
"Tapi tadi Mommy, Daddy dan abang-abang ucapin itu. Masa varo ndak boleh". varo menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Pokoknya tidak boleh!.". Seru mereka varo mengerucutkan bibirnya karena pipi bulatnya itu imut dikembungkan dengan tangan bersedekap dada. Ngambek cerintanya.
"Baby mau susu?". varo melirik keyla melalui unjung matanya sedikit baca 'sangat' tertarik dengan tawaran Mommynya.
"Nggak gue masih ngambek'. Batinnya Keyla tersenyum geli saat melihat Alvaro yamg masih tetap bersikap acuh padanya walaupun dia sesekali mengintip melalui ujung mata bulat itu.
Keyla pergi kedapur untuk membuat susu coklat kesukaan Alvaro karena mata anak itu sudah mulai memerah menahan kantuk.
Setelah selesai, dia kembali menuju ke arah Alvaro yang masih bersedekap dada walaupun sudah dibujuk oleh Axel dan ketiga Abangnya.
"Baby yakin nggak mau minum susu?". Tawar Keyla lagi dan tersenyun saat Alvaro mulai memusatkan atensinya secaap penuh padanya.
Mata anak itu sudah memerah karena menahan kantuk. Bahkan varo sesekali akan menggosok matanya walau selalu di halau oleh Davian.
"Ugh, mau susu~". Alvaro akhirnya menyerah dari acara ngambeknya. Dia langsung berjalan menuju Keyla dan langsung mengambil botol susu kesukaannya itu.
Keyla tersenyum dan langsung tubuh mungil itu dalam gendongannya dan menepuk-nepuk bokong varo pelan agar tertidur. Keyla sesekali akan mengecup kening Alvaro yang ditutupi rambut hitam lembut itu.
Beberapa saat kemudia dengkuran halus mulai terdengar dari mulut mungil Alvaro menandakan jika sang empu telah menyelami alam mimpi.
"Hah. Bersiaplah, kita akan segera bersiap untu pindah ke Mansion utama".
.
.
.
.
.
.