
"Punya gue".
PRANG!!
"AKH. Maksud lo apa sialan?!". Alvaro dan yang lainnya langsung menoleh saat mendengar suara benda jatuh disusul dengan bentakan seseorang, Melupakan sejenak sikap tidak biasa dari Kenzo dan Rezav.
Mereka melihat disana Syasa yang sedang terduduk dilantai dengan pecahan mangkok disekitarnya. Ada juga 2 orang gadis yang sedang menatap marah pada Syasa.
"M maaf hiks asa nggak se sengaja". Syasa terisak sambil menggenggam tangannya yang terkena sedikit kuah bakso panas yang dia bawa.
"nangis sialan!! Disini lo yang salah udah nabrak Enzi sampai punggungnya kena kuah bakso yang lo bawa!!". Bia sahabat monica membentak Syasa yang menangis padahal dia hanya terkena sedikit kuah bakso berbeda dengan Monic.
Kalian pasti taukan siapa Monica?. Yaps dia adalah antagonis dalam novel yang dimasuki Alvaro. Monica Anderson sang antagonis.
"asa kan udah minta maaf hiks".
Alvaro menatap jengah pada sikap Syasa yang terlalu mendramalisir kejadian ini. Padahalkan sudah terlihat jelas di sini bahwa Syasa sepertinya dengan sengaja menabrakkan dirinya.
'Ah gue punya lencana bagus mwehehehe". Batin varo
"Mau tulun, mau tulun". Rezav, remaja itu menurunkan Alvaro dengan tidak rela. Setelah diturunkan, Alvaro langsung berlari kecil kearah kericuan yang disebabkan oleh Syasa.
"Adek mau kemana?". Alicia berteriak memanggil Alvaro tapi tidak dihiraukan olehnya. varo tetap berjalan menuju ke arah Syasa.
"Kak asa ndak papa?". varo menjulurkan tangannya ingin membatu syasa yang masih terduduk dilantai dengan sedikit terisak.
Syasa mengangkat kepalanya untuk melihat Alvaro yang bertanya dengan nada khawatir kepadanya.
"Kenapa malah anak ini yang datang? Seharusnya yang datang adalah Rezav'. Syasa mengalihkan pandangannya kearah Rezav dan yang lainnya berada. Dia melihat disana Rezav hanya menatap datar kearahnya begitupun dengan yang lainnya.
Syasa meremas tangannya yang tadi terkena kuah bakso panas dengan erat melupakan rasa sakit yang dia dapatkan dari tindakannya.
Dia menatap tangan Alvaro yang masih terulur untuk membantu dirinya. Ia mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan yang lebih kecil darinya itu.
varo tersenyum senang saat syasa menerima uluran tangannya. Dia membantu gadis itu berdiri dengen menggengan erat lengan Syasa.
Setelah Syasa berdiri, varo membantu menepuk-nepuk sisi pakaian syasa yang terlihat kotor. Perlakuan baik Alvaro itu membuat semua siswa yang ada dikantin tersenyum.
'Ahhh bukan hanya manis dia juga sangat baik. Seperti malaikat'.
'Ahh sangat manis~
'Jika dilihat dengan baik dan teliti bukankah Anak baru itu lebih cantik dari Syasa. Padahalkan dia anak laki-laki'.
'Kau benar. Lihatlah bahkan anak baru itu lebih kecil dari Syasa.
Ugh sangat menggemaskan'.
'Dia baik sekali'
Bisik-bisik mulai terdengar memenuhi kantin yang tadinya sepi. Kebanyakan dari mereka membisikkan betapa baiknya Alvaro dan itu membuat varo tersenyum penuh arti.
"Akh. Baby ku sangat baik dan manis". Alicia memegang dadanya dramatis melihat pemandangan manis didepannya.
Sedangkan yang lainnya memandang Alvaro dengan senyun tipis yang tidak akan terlihat jika tidak memakai microscope *canda.
Syasa yang mendengar bisik-bisikan itu hatinya mulai memanas, seharusnya bisik-bisik itu untuknya bukan malah anak sialan ini.
Syasa tersenyum terpaksa, dia melihat kearah Alvaro yang masih sibuk membersikan roknya yang kotor dibagian samping.
Dengan tiba-tiba, Syasa langsung memeluk tubuh mungil Alvaro membuat varo tersentak.
"Jangan bersikap sok suci di depanku sialan". Syasa dengan penuh penekanan. Gadis itu dengan sengaja mencubit punggung Alvaro dengan keras.
'Akh. Sakit banget Woy'. Alvaro meringis pelan saat menerima cubitan Syasa pada punggungnya. Dia yakin pasti itu akan meninggalkan bekas memar. Dan varo suka itu, dia akan menjadikan itu sebagai alat untuk rencananya nanti.
"Khe khe khe. Kau bilang sok suci? Mengacalah sialan. Dan ingat jika kau ingin membuat dlama kampungan itu, lakukanlah dengan baik. Aktingmu sangat buluk kau tau". Balasnya.
Syasa menggeram marah. Dia dengan kasar menghempas badan kecil Alvaro hingga varo terjatuh tepat dimana pecahan mangkok berada membuat semua orang yang ada disana terbelalak kaget akan tindakan Syasa.
"Akh. Sakit, sakit hiks". Punggung dan tangan Alvaro tertusuk pecahan mangkok yang ada disana, darah mulai mengucur pelan dari punggung dan tangan varo yang terkena pecahan itu.
"ALVARO/BABY!!". Kevin dengan cepat berlari kearah Alvaro yang terduduk dengan darah yang mulai mengucur membasahi pakaian yang dia pakai. Sepertinya lukanya besar.
"Baby, astagah darah?!". Alicia terpekik kaget saat melihat seragam varo mulai memerah dibagian punggungnya.
"Sialan". Kevin dengan cepat berlari keluar sekolah untuk membawa Alvaro yang masih menangis karena merasakan perih yang teramat pada punggung dan tangannya.
"Hiks.. abang sakit hiks uhuk". Alvaro menangis tersedu dengan sedikit terbatuk pelan dan itu membuat Kevin bertambah khawatir.
Sementara itu, keadaan kantin sekarang tengah riyuh karena Rezav yang menampar Syasa keras.
Rezav dan yang lainnya menatap nyalang Syasa yang menangis dengan memegang pipinya yang baru saja terkena tamparan Rezav. Pipi itu terlihat memar dengan ujung bibir yang sedikit sobek.
Setelah menampar Syasa, Rezav pergi dari sana dengan tanpa sepatah kata apapun di ikuti Kenzo dan yang lainnya kecuali Andrea dan Alicia yang sudah menyusul Kevin.
Syasa yang ditinggalkan hanya dapat mengangis merasakan pipinya yang berdenyut sakit.
'Kasian sekali dia'.
"Tapi itu juga salahnya karena mendorong anak baru itu sampai punggungnya berdarah'
'Kau benar padahalkan varo hanya ingin menolongnya'
'Jahat sekali, aku kira dia adalah gadis yang baik.
'Ternyata dia tidak selugu keliatannya'.
'Benar, dan jika dilihat-lihat selama ini bukakah Syasa yang selalu mencari perkara dengan Monica?.
'Kau benar selama ini syasa yang selalu memulainya'.
'Dasar ppb'.
'Apa tuh?"
Syasa menundukkan kepalanya dalam saat mendengar hinaan yang dilontarkan padanya. 'Sialan, ini semua salah anak tidak tau diri itu'. Batinnya.
.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
.
Kevin, Andrea dan Alicia telah sampai dirumah sakit sekarang, mereka membawa Alvaro kerumah sakit keluarga Alexander.
Dengan tergesa-gesa mereka mamanggil dokter Bara agar dia segera memeriksa keadaan Alvaro.
varo, dia menunpukkan seluruh badannya dalam gendongan Kevin. Tenaganya seakan terkuras habis karena terus-terusan menangis selama diperjalanan. Darah masih bercucuran dipunggung kecil itu padahal Adrea sudah berusaha menghentikannya.
Alicia, gadis itu sudah menangis sesenggukkan saat melihat wajah pucat Adik barunya. Dia merasa bersalah karena tidak dapat menjaga adiknya itu.
Pikiran negatif mulai menggerayangi otak mereka dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada permata baru keluarga mereka.
"DOKTER BAGAS SIALAN. DIMANA KAU? JIKA KAU BELUM MUNCUL DALAM BEBERAPA DETIK, KUBUNUH KAU!!". Kevin berteriak penuh amarah bercampur kekhawatiran saat melihat mata indah adiknya mulai menutup.
"Baby jangan tidur dulu hm". varo hanya mengangguk-anggukkan kepalamya pelan berusaha agar kesadarannya tetap terjaga walau kantuk mulai melanda.
Bagas, dokter pribadi keluarga Alexander itu berlari menghampiri mereka dengan beberapa suster yang mendorong brankar pasien.
"Cepat letakkan dia di sini". Kevin dengan patuh meletakkan Alvaro yang terlihat tidak sadarkan diri dengan pelan.
"Kita harus cepat, sepertinya pasien pengidap hemofilia". Bagas dengan cepat mendorong brankar varo menuju ke ruang UGD meninggalkan Kevin, Andrea dan juga Alicia yang mematung.
"H hemofilia?". Rasanya tubuh Alicia tiba-tiba saja menjadi lemas saat mendengar itu.
'Jadi karena itulah mengapa darah terus mengalir dari lukanya'. Batin mereka.
Beberapa menit kemudia Rezav dan yang lainnya telah sampai ke rumah sakit dan pemandangan pertama yang lihat adalah pandangan kosong dari ketiga cucu Alexander.
"Ada apa? Apa lukanya parah?". Riki bertanya dengan tergesa kepada Kevin mewakili mereka semua yang baru saja datang.
"Dokter bilang kemungkinan varo pengidap hemofilia". Rezav, Kenzo, Riki, Juan dan juga Heri mematung saat mendengar jawaban dari bibir tebal Andrea begitupun dengan Keyla dan Axel yang baru saja datang.
Mereka baru saja datang dengan kecepatan tidak biasa saat mendengar dari salah satu bawahan mereka bahwa varo terluka dan sedang dibawa oleh Kevin kerumah sakit.
"Apa maksudmu Andrea?!"
DEG!!
Jantung Andrea dan juga mereka yang ada di sana berdetak cepat saat mendengar suara datar Axel.
Mereka melihat Axel dan Keyla berjalan kearah mereka dengan langkah marah.
BUGH!!
BUGH!!
PLAK
Axel meninju wajah Kevin dan juga Andrea serta tamparan untuk Alicia karena sudah gagal menjaga Alvaro sehingga varo harus masuk kerumah sakit.
"Bukankah sudah kubilang untuk menjaga Alvaro dengan baik?!".
Urat-urat kemarahan tercetak jelas di wajahnya menandakan betapa marahnya Axel saat ini. Sedangkan Keyla, wanita itu berdiri di depan pintu ruang UGD yang terdapat varo di dalamnya. Dia menatap nanar pintu itu.
"Katakan siapa pelakunya?". Keyla bertanya dengan penuh penekanan pada mereka.
"Syasa mom". Alicia menjawab dengan nada datar, terlihat jelas dimata gadis itu kalau dia sedang marah mengingat Syasa lah yang sudah membuat adiknya terluka.
"SYASA". Gigi Axel bergelatuk marah saat mendengar nama orang yang sudah melukai permatanya. Dia akan memberikan pelajaran pada gadis itu, tidak peduli jika dia merupakan anak dari Adiknya.
"Ceritakan". Alicia mulai menceritakan semua yang terjadi sebelumnya dengan rinci tanpa ada yang ditambah-tamahkan ataupun dikurangi.
"Sudah ku bilangkan gadis itu tidaklah selugu keliatannya". Keyla mengangguk mendengar perkataan sarkas Axel padanya. Sekarang dia percaya dengan suaminya.
Ceklek
Dokter bagas keluar dari dalam diikuti dengan brankas yang terdapat Alvaro di atasnya. varo akan dipindahkan ke ruangan khusus anggota keluarga Alexander.
Mereka semua yang ada disana menatap nanar varo yang terbaring lemah di brankar dengan selang infus yang menusuk punggung tangannya yang mungil dan juga masker oksigen yang melekat di wajah bulat nya yang terlihat pucat.
"Astagah. Baby ku". Keyla mengikuti brankar Alvaro dengan Alicia dan juga Andrea menemaninya.
"Bagaimana keadaan permataku Bagas". Bagas menghela napas kasar sebelum menjawab pertanyaan Axel.
"Buruk. Alvaro dia merupakan salah satu pengidap penyakit Hemofilia. Kau pasti taukan apa yang terjadi jika pengidap hemofilia mendapatkan mau itu luka dalam ataupun luar sangatlah membahayakan. Dan luka yang dialami cukup dalam terlebih di bagian punggungnya. Tapi syukurlah kami bisa menghentikan pendarahannya, jagahlah dia dengan baik sekarang jangan biarkan dia terluka, sekecil apapun luka itu".
"Hmm, terima kasih". Bagas tercengang saat mendengar kalimat terima kasih dari mulut seorang Axel Alexander. Dia terus melihat Axel yang pergi di ikuti Kevin dan teman-temannya masih dengan pandangan cengonya dengan mulut yang terbuka lebar.
"Tutup mulut anda dokter, nanti ada lalat yang masuk". Bagas langsung mengatupkan mulutnya saat mendengar teguran dari suster yang ikut menemaninya menangani Alvaro.
"Ah terima kasih suster Lea".
.
.
.
.
.
.
by