ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 13



Keyla sedang berada di dapur saat ini. Dia sedang membuat beberapa cemilan untuk putra bungsunya dan sebotol susu coklat hangat.


Setelah selesai dengan semua tugasnya dia segera berjalan menuju kearah ruang tamu diamana bungsunya tengah tertidur.


"OMG!!!! CUTE BANGET ADEK GUE KYAAAAA!!!!". Sebuah teriakan alay terdengar dari ruang tamu mengagetkan Keyla, dengan terburu-buru dia berjalan cepat menuju ke ruang tamu takut terjadi apa-apa pada bungsunya.


"Ululululu Imut banget kyaa>_< cocok banget jadi uke". Sesampainya dia diruang tamu, Keyla melihat ada keponakan perempuan nya Alicia sedang mengunyel-unyel pipi bulat Alvaro dimana sang empu masih terlihat linglung seperti baru bangun tidur.


"Astagah!. Alicia kapan kau datang!!. Lepaskan pipi varo". Keyla meletakkan nampan yang berisi makanan ringan yang ia buat diatas meja. Dia segera merebut badan mungil Alvaro dan membawanya kedalam pelukannya menjauhkannya dari jangkauan Alicia


"Ihh mommy cia kan baru meluk Adek sebentar". Alicia ingin kembali meraih Alvaro untuk di unyel-unyel pipi bulatnya tapi Keyla tidak membiarkannya.


Syasa yang berdiri tidak jauh dari sana menatap penuh kebencian pada varo. Dia menggigit bibirnya untuk melampiaskan amarahnya


"Minggir sialan kau menghalangi jalanku". Davian yang baru saja pulang dari kampus berdiri tepat dibelakang Syasa dan berbisik penuh ancaman.


Syasa tersentak kaget saat mendengar bisikan dengan nada penuh akan ancaman. Dia berbalik dan melihat Davian yang menatapnya dengan pandangan datar khasnya.


Syasa menundukkan kepalanya dengan badan yang sedikit gemetar ketakutan. Syasa juga melihat Alaric berada dibelakang Davian yang juga menatap datar kearahnya.


"Menyingkir". Syasa menggeser badannya dengan masih menunduk. Saat Davian dan Alaric sudah melewati dirinya, dia memberanikan diri melihat kedepan.


Disana, Davian berjalan kearah Keyla yang masih memeluk Alvaro dengan varo yang masih terkantuk-kantuk dan Alicia yang mencolek pipi bulatnya.


Davian menaruh sebuah kantong plastik berisi berbagai macam rasa ice cream untuk Alvaro. Dia mendekat dan langsung mengambil tubuh varo dari sang ibu meski mendapatkan dengusan kasar dari Keyla


Davian dengan gemas mengecupi seluruh wajah varo membuat sang empu merengek protes.


"Ayo bangun baby. Abang membawa banyak ice cream kesukaanmu".


"Mana?!". Seketika itu mata varo yang tadinya terkantuk-kantuk kini telah terbuka lebar dan terlihat sangat segar seakan tidak pernah mengantuk. Davian, Keyla, Alaric, Kevin, Andrea dan Alicia terkekeh gemas saat melihat Alvaro langsung bersemangat jika sudah menyangkut makanan kesukaannya itu.


"Ihh abang. Ice cleamnya mana?~". Davian terkekeh pelan dan mengambil kantong plastik yang tadi dibawanya dan diberikan pada varo.


varo menatap berbinar isi kantong plastik yang berisi ice cream berbagai rasa. Dia menatap Davian dengan mata bulatnya yang berbinar cerah.


"Makasih abang". Muach~


Dengan riang varo mengecup pipi Davian membuat empu yang dikecup mematung dengan dada yang bergemuruh kencang dan Davian sangat suka sensasi ini.


"Abang nggak dicium juga?". varo menatap Alaric yang berada dibelakang Davian yang sedang menampilkan wajah cemberutnya yang terkesan datar.


varo turun dari gendongan Davian dan berjalan menuju Alaric. Alaric menunduk saat Varo mengisyarakan dirinya untuk lebih mendekat kearahnya setelah itu dia merasakan sebuah kecupan dari benda kenyal milik varo yang mendarat di pipinya.


Alaric yang gemas langsung memeluk tubuh Alvaro dan mengecupi wajah bulat itu dengan brutal.


"Kyaaa gue nggak bisa di giniin. Ini terlalu uwu buat gue yang overdosis keuwuan". Suara Alicia kini kembali menggelegar saat melihat momen manis yang ada didepannya.


Ah varo baru sadar sekarang, ternyata ada orang lain yang berada disini. Dia baru pertama kali melihat wanita lain selain mommy dan oma nya.


'Zel... Ugh. varo lupa jika Zero sudah tidak bersamanya lagi.


"Uh. Abang meleka beldua siapa?". varo berbisik pelan pada Alaric yang menatap datar prilaku ajaib dari Alicia.


"Mereka hanya orang asing".


"Hey. Tega banget lo bang sama gue yang cantik badai gini". Alicia memandang kesal kearah Alaric yang menatap jengah kearahnya.


Cih


"Ekhem. Dedek emezh namaku Alicia Zalma Alexander kakak perempuanmu". Alicia tersenyum lebar pada Alvaro membuat varo bergidik ngeri melihat betapa lebarnya senyuman itu. Perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak enak, entah kenapa dia merasa kalau Alicia itu terlihat seperti pedofil.


Varo mengalihkan pandangannya dari Alicia dan tanpa sengaja matanya bersitatap dengan mata Syasa yang memandang penuh kebencian kepada dirinya.


Alvaro memiringkan kepalanya tidak mengerti kenapa gadis itu menatap benci kepada dirinya.


'Pelasaan gue nggak ngapa-ngapain dia tuh. Kenal aja ngga'. Batin Alvaro


"Ngapain lo ngliatin adek gua kayak gitu". Alicia menatap sinis Syasa yang terlihat tidak suka dengan keberadaan Alvaro.


"Eh. Asa nggak ngapa-ngapain kok. Asa cuma penasaran ajah, kok ada orang asing dirumah daddy". Asa menatap polos kepada nereka semua membuat Alicia mendengus.


'Asa?. Jadi dia Syasa heh, let's play the game'. Batin varo.


Syasa mendekat kearah Alvaro dan berdiri tepat didepan Alvaro. Dia sedikit menunduk untuk menatap wajah varo yang mendongak menatapnya. Dengan senyuman manisnya dia menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan varo.


"Hai namaku Syasa, kamu bisa panggil asa itu nama panggilanku". varo mengerjapkan matanya pelan dan setelahnya menerima uluran tangan Syasa.


"Nama valo itu Alvalo pake 'L' bukan '1"". varo tersenyum tak kala manis. Tapi, jika dilihat dengan teliti maka kau akan melihat ada sedikit senyum merendahkan yang tersemat.


Syasa yang kebetulan mengerti maksud senyuman itu menggigit bibir bagian bawahnya keras. Dengan marah Syasa mengeratkan jabatan tangannya.


"Auch sakit hiks".


"Apa yang kau laukakan sialan!!". Alaric mendorong tubuh Syasa sehingga jabatan tangan mereka terlepas dengan Syasa yang terjatuh ke lantai.


"Apa ini sakit baby". varo mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca ingin menangis karena telapak tangannya terasa nyut-nyutan.


"Sayang coba mommy liat yah". varo dengan patuh menunjukkan telapak tangannya yang memerah pada Keyla


Keyla mengusap telapak tangan Alvaro yang memerah. Rasanya dia ingin sekali membuat Syasa menderita karena sudah membuat telapak tangan permata keluarganya memerah. Tapi dia harus menahan diri, bagaimanapun Syasa merupakan anak kesayangan Jessi adiknya.


"Lo emang nggak tau diri banget yah. Dasar menjijikkan". Syasa menggenggam erat tangannya saat mendengar ucapan pedas Alicia.


Dia mengangkat kepalanya dan melihat kearah Andrea dengan wajah piasnya berharap mendapatkan simpati darinya.


Tapi, ekspektasinya tak sesuai dengan realita. Andrea bukannya membantunya, tapi dia malah memandang jijik kearahnya seakan-anak dia adalah sebuah kesalahan.


Melihat itu syasa menangis dengan suara yang makin mengeras memanggil-manggil Jessi.


"Hiks.. mami". Mereka semua yang ada disana menatap jengah pada Syasa. Mereka dengan kompaknya meninggalkan syasa sendirian menangis disana.


Syasa mengangkat kepalanya melihat kearah mereka yang mulai menjauh. Dia melihat Alvaro yang juga sedang melihatnya.


Dia menatap penuh kebencian pada Alvaro, matanya berkilat marah. Alvaro yang melihat itu tersenyum senang dalam hati. Ah dia suka dengan semua drama ini.


Alvaro tersenyum remeh kearah Syasa membuat gadis itu terkesiap saat melihat senyuman remeh yang ditujukan kepadanya, dia menggigit kuat bibir bawahnya hingga bibir itu mengeluarkan darah segar.


"SIALAAAAAANNN".


Syasa saat ini berada di kamar tamu yang ada dimansion Axel Alexander. Dia sekarang sedang memikirkan rencana agar Alvaro menderita di mansion ini. Dia benar-benar tidak terima akan semua ini.


Anak itu. Anak sialan itu telah merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia mendapatkan cinta dari keluarga Alexander dengan mudahnya.


"Sialan. Aku harus menyusun ulang rencana awalku untuk mengambil seluruh harta keluarga Alexander". Syasa menggigit kuku jarinya untuk meluapkan kekesalannya.


"Anak itu. Bagaimana bisa anak itu mendapatkan perhatian keluarga Axel dengan mudahnya. Aku saja butuh beberapa waktu itupun hanyal mendapatkan perhatian Keyla. Anak itu. adalah ancaman terbesarku sekarang.


Aku harus berhati-hati". Syasa mendudukkan dirinya di pinggir kasur. 'Aku harus menjauhkan papi dari anak itu. Sekarang dia satu-satunya yang ada disisiku sekarang selain si bodoh Jessi itu'.


Di sisi lain, Alvaro kini sedang bermain dihalaman depan mansion ditemani dengan Alicia dan Andrea.


Sekarang dihalaman mansion itu terdapat taman kecil yang dibuat khusus oleh Axel untuk Alvaro agar varo tidak perlu keluar mansion lagi untuk ketaman.


varo sekarang tengah main trampolin dengan botol dot berisi susu hangat kesukaannya yap rasa coklat.


'Aduhh adek gue gemas banget. Hehehehe kayaknya dia cocok deh sama Elgar? Alden? Hmm ah benar bagimana dengan Rezav? Heheh sepertinya cocok banget deh secarakan Si Rezav itu cowok dingin dan disatuin sama varo yang gemesin gini ugh... kombinasi yang sangat waw mwehehehe''. Alicia tersenyum senang. Di dalam otaknya kini telah tersusun berbagai skenario didalam otaknya.


Andrea yang dari tadi berada disamping Alicia bergidik ngeri melihat senyuman aneh adik perempuannya itu. 'Apa dia sudah gila?'. Batin Andrea ngeri.


"Ngapain lo senyum-senyum mesum kek gitu".


Alicia menoleh kearah Andrea masih dengan senyum anehnya.


"Bang menurut lo gimana kalau varo dipasangin sama Rezav?".


"Nggak boleh!!". Andrea menaikkan suaranya dan sedikit berteriak tanda tidak setuju dengan perkataan Alicia.


"Lah kok ngamok". Alicia menatap Andrea dengan pandangan aneh.


"Ngga-


"varo dengan siapa?". Andrea dan Alicia terkaget saat mendengar suara Axel yang sekarang telah berada didepannya dengan Alvaro di dekapannya.


"Eh nggak kok dad he he he". Alicia tersenyum getir saat mendapatkan tatapan datar dari kakak dari papinya itu.


"Daddy valo mau ngomong sesuatu". Perhatian Axel teralihkan pada Alvaro yang tengah nenatap dirinya polos.


"Baby mau ngomong apa hmm?". varo terlihat ragu-ragu dalam mengatakan keinginannya.


"Daddy valo pengen sekolah juga kayak abang vin". Axel tersenyum tipis. Keyla sudah menceritakan hal ini padanya.


"Boleh". Valo mendongak dan menatap Axel dengan matanya yang berbinar senang.


"Benelan?". Axel menganggukkan kepalanya dan itu sukses membuat Alvaro kegirangan.


"Kapan valo bisa sekolah?". Alvaro bertanya dengan semangat pada Axel membuat pria itu tertawa renyah melihat semangat permatanya.


"Tiga hari lagi".


"Kyaa sayang Daddy banyak-banyak". Alvaro tanpa sadar mengecup bibir Axel karena terlalu bersemangat.


"Daddy lebih menyayangimu permataku".


'Heh~. Permainan dimulai Syasa'. Alvaro tersenyum smirk saat melihat antensi Syasa yang mengintip mereka di pintu masuk mension.


hy semuanya maaf ya baru up sekarang.