
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
Sore itu Alexo berjalan dengan tergesa-gesa keluar mansion menghiraukan para penghuni lain di mansion itu.
"Papi mau kemana? Buru-buru banget perasaan". Alicia menyeletuk penasaran begitu melihat sang ayah yang terlihat sangat buru-buru.
Andrea mengangkat bahunya acuh, dia memilih pergi menuju kekamar adiknya untuk bermain berdua.
Sementara itu Alicia, pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. menuju entah kemana.
Lama ia mengemudi hingga kini Alexo berhenti disebuah bangunan yang terlihat indah nan elegan.
Alexo masuk kedalam bangunan itu dan disambut dengan baik oleh penjaga yang berjaga dipintu masuk.
"Kau datang Alexo". Sambut seseorang.
Alexo menoleh dan mendapati seorang pria tua yang sedang duduk disofa sembari menikmati teh dengan ditemani Koran paginya.
"Ya ayah".
Alexo berjalan menuju kearah ayah mertuanya dan langsung duduk disamping ayahnya mertuanya itu.
"Bagaimana kabar cucu-cucuku Alexo?". Luwis meletakkan gelas tehnya, memandang serius pada menantu keduanya itu.
"Mereka semua baik".
"Hm, lain kali bawalah cucu bungsuku kesini, aku juga ingin melihat wajah manisnya". Ucapnya dengan semburat merah samar dikedua pipinya.
"Aku tidak yakin ayah, bang Axel sunggu tak membiarkan Alvaro keluar sendiri".
"Ck, anak itu. Sepertinya aku memang harus menculik cucuku yang satu itu". Decaknya kesal
Pasalnya, ia sama sekali belum bertemu dengan Alvaro. Ia tau Alvaro ada pun karena Alicia yang memberitahukan padanya, Alicia bahkan mengirimkan ia foto Alvaro hingga ia ingin sekali bertemu dengan cucu bungsunya itu.
"MAS??!!". Jessi yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada dilantai dua berseru kaget melihat suaminya berada di rumahnya. Dia berlarian menuruni anak tangga agar segera bisa bertemu dengan suaminya itu.
"Jangan berteriak didalam rumah Jessi, berperilaku lah sebagaimana keluarga kita berperilaku". Jessi tersenyum kikuk pada ayahnya dan langsung memelankan. jalannya.
"Maaf". Lirihnya.
Jessi menundukkan kepalanya merasa tak berguna karena hal sepele seperti itu saja dia tidak mengetahuinya.
"Mas kapan datang?, Apa mas datang untuk menemui ku?". Tanyanya pada Alexo.
"Yah, ada yang ingin ku sampaikan".
Luwis yang mendengar itu segera pergi dari sana karena dia tidak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga antara Alexo dan juga Jessi.
Luwis lebih memilih pergi dari sana, ah benar dia akan menelfon Keyla untuk menanyakan keadaan cucu bungsunya.
Alexo berdehem sesaat setelah luwis pergi dari sana, Alexo menatap sebentar wajah istrinya yang sebentar lagi akan ia ceraikan.
Iya, kalian tidak salah membaca. Alexo akan menceraikan Jessi, itupun atas persetujuan anak-anaknya.
"Mas ada apa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?". Tanyanya saat Alexo menatapnya dengan intens hingga menimbulkan semburat merah samar dipipinya.
"Duduklah dulu".
Jessi duduk disamping Alexo dan menatap pada dokumen yang ia baru sadari ada disamping pria itu.
"Itu apa mas?" Tanyanya penasaran terlebih saat Alexo mulai mengeluarkan isi dari dokumen itu.
Jessi terpaku ditempatnya, ia menatap tak percaya pada apa yang ada dihadapannya, terlebih setelah ia mendengar apa yang dikatakan oleh Alexo.
"Anak-anak juga setuju dengan ini jadi kau tak perlu khawatir tentang mereka, Key juga pasti memperhatikan mereka". Lanjutnya.
Mata indah wanita itu seketika begitu mendengar
penuturan suaminya.
"I ini bercanda kan mas? K kamu pasti sedang b bercanda kan?". Jesi membaca Setiap rentetan kalimat yang ada di kertas itu dengan teliti.
Tangan wanita itu terlihat gemetaran selaras dengan bulir-bulir air mata yang berlomba-lomba mengalir di pipinya.
Jesi habis pikir dengan keputusan Alexo, tidak cukupkah ia yang dipulangkan kerumahnya selama lima bulan ini? Dan kini Alexo juga meminta agar mereka bercerai?.
Jesi mengakui bahwa tindakannya selama ini salah dan ia rasa hukuman yang ia dapatkan sudah lebih dari cukup untuk menebus kesalahannya dan tidak perlu sampai bercerai seperti ini.
"T tapi, b bukankah ini b berlebihan?, A anak-anak p pasti akan merasa sedih".
Alexo menatap datar Jesi yang sudah mulai mengeluarkan Isakannya.
"Mereka tidak akan merasa sedih. Apa kau lupa bahwa kau sudah terlalu lama tidak memperdulikan mereka bahkan sebelum kau mengadopsi Syasa?, Apa kau ingat saat Liam yang baru berumur 5 tahun mengalami kekerasan dirumah karena ulah pengasuhnya? Dan saat itu ia memberitahukan hal itu padamu tapi kau sama sekali tidak perduli padanya dan malah sibuk dengan butikmu. Liam bahkan harus dirawat dirumah sakit selama seminggu untuk memulihkan luka dan psikisnya!.
Apa kau ingat saat ulang tahun Andrea yang ke-10 tahun yang tak kau hadiri?, padahal ia sudah menantikan kehadiranmu hingga larut malam dan berakhir tertidur.
Apa kau ingat saat Alicia yang mengalami pembullyan disekolahnya dan pulang dengan keadaan luka tapi kau malah menuduh ia berkelahi?!.
kau tidak pernah merasa kasihan pada putri kandungmu yang melihat kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan justru kau bagi untuk anak angkatmu itu?".
Jesi menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Alexo yang menancap telak pada hatinya.
Ia ingat, sangat ingat saat Liam yang harus dirawat ruang sakit karena mengalami kekerasan fisik dari pengasuh barunya, ia ingat saat itu dia harus menghadiri meeting dengan kliennya yang
berasal dari paris.
Ia ingat saat ia tidak pulang pada saat ulang tahun Andrea yang kesepuluh hanya untuk menyelesaikan design gaun terbarunya.
Ia ingat, saat melihat Akicia yang saat itu berumur 9 tahun pulang dengan keadaan luka dan baju yang lusuh ia malah memarahinya dan menuduhnya berkelahi.
Ia ingat, ingat semuanya. hanya saja ia sangat-sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk istirahat dan berakhir melampiaskan kekesalannya pada Alicia yang baru saja pulang.
Ia juga ingat waktu ia melihat Alicia yang menatap iri pada perhatiannya untuk Syasa, tapi saat itu ia malah menutup mata dan lebih meluangkan waktunya untuk Syasa.
Ia akui jika ia bukanlah ibu yang baik untuk ketiga anaknya tapi dia juga tak ingin bercerai dengan Alexo, dia sangat mencintai Alexo dan tak ingin berpisah.
"Aku mohon mas, jangan ceraikan aku! Hiks tolong beri aku kesempatan satu kali lagi!, A aku aku akan mulai memperhatikan mereka, aku janji!". Mohonnya.
Alexo menggeleng tanda bahwa ia tidak akan memberikan kesempatan lagi untuk Jesi.
Dia akui dia dulu juga sangat sibuk dengan urusan kantornya, tapi ia masih bisa memberikan perhatian untuk anak-anaknya.
Saat ia mendengar Liam masuk rumah sakit, ia langsung meninggalkan semua pekerjaannya, bahakan sampai tidak menghadiri rapat penting hanya untuk menemani putranya.
Saat ulang tahun putra putrinya pun ia akan menyisihkan waktunya selama sehari penuh untuk menemani mereka.
Alexo bahkan langsung menghancurkan sekolah yang jadi tempat putrinya menerima pembullyan dan membuat orang tua dari anak-anak yang membully putrinya memohon ampun dikaki putrinya.
Alexo juga bersyukur karena memiliki kakak ipar seperti Keyla yang juga mau menemani putra-putrinya saat ia harus berangkat kekantor. Keyla sudah seperti ibu bagi anak-anaknya.
"Maaf Jesi, tapi keputusanku sudah bulat".
alexo menyentak tangan Jesi yang memegang lengannya dan langsung berdiri hendak pergi dari sana.
"Aku pergi". Ucapnya dan langsung keluar dari rumah itu meninggalkan Jesi yang menangis memanggil-manggil dirinya.
"TIDAK MAS!! AKU MOHON MAS! BERI AKU KESEMPATAN SATU KALI LAGI! MAS HIKS MAS!!". Teriaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤❤❤