
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
Pagi ini bayi kita dan para pawangnya sedang berada di sekolah menuntut ilmu sebagai mana para pelajar lainnya, begitupun Syasa yang juga sudah masuk. kembali ke sekolah setelah beberapa hari tidak muncul.
Ketidakhadiran Syasa sebelumnya membuat tanda tanya besar untuk para murid karena tidak biasanya anak itu tidak masuk ke sekolah.
Tapi semua itu tidak bertahan lama karena adanya Alvaro yang mampu mengalihkan perhatian mereka dengan tingkah menggemaskannya.
Rasanya tuh kayak pengen di hap ajah tapi, pawangnya pada seram-seram jadi mereka nggak berani. Bisa-bisa nyawa mereka langsung melayang tinggi ke angkasa.
"Halo dedek emezh".
"Halo juga kak Gina". Gina yang dijawab sapaannya langsung tersenyum gemas dengan tangan yang memegangi pipinya sendiri.
"Gemez banget woy!". Teriaknya mengagetkan teman-temannya yang lain.
"Berisik ginanjing". Ujar mereka serempak.
Juan yang berada dibelakang Alvaro langsung mengangkat tubuh kecil itu menjauh dari gina yang sedang kesetanan karena gemas menuju ke tempat duduknya.
"Sudah mengerjakan Pr?". Tanya Juan.
"Udah dong. valo kan pintel". Jawabnya dengan bangga.
"Ah yang bener cil? Bukan abang-abang Lo yang ngerjain?". Tanya Heri jahil sambil mencolek-colek pipi varo yang tumpah ruah itu.
Wajah Alvaro memerah malu karena ketahuan bukan ia yang mengerjakan PR nya melainkan Devan.
Salahkan gurunya yang memberikan soal fisika terlalu rumit hingga membuat kepala kecilnya berasap.
"E enggak kok valo yang ngeljain bukan Abang Devan". Serunya lagi.
"Gue kan nggak bilang kalau Abang Devan yang udah ngerjain PR lu cil?". Nah kan ketahuan kan goblok sih.
Wajah Alvaro kian memerah saat tau ia sudah keceplosan mengungkapkan siapa yang sudah mengerjakan tugasnya.
"Thh Abang Heli nyebelin banget tau nggak!. Abang Juan Abang Heli nakal~". Serunya sambil mengadukan kelakuan Heri yang menjahilinya pada Juan.
"Hmm nanti kita buang dia dikandang Delon". Ujarnya gampang sambil mengelus rambut halus Varo tanpa mempedulikan raut wajah Heri yang sudah pucat pasi.
Delon adalah nama singa jantan yang diperlihara oleh Davian. Singa itu Davian ambil saat ia sedang berada di Afrika memantau wilayah kekuasaan mereka disana.
Saat itu, singa jantan yang memiliki ukuran besar itu tiba-tiba saja menyerang para pekerja Davian yang sedang membangun sebuah ruang rahasia di tengah hutan membuat beberapa dari orang-orang Davian terluka parah.
Davian yang saat itu juga berada disana langsung turun tangan berhadapan langsung dengan singa berukuran lebih besar dari singa biasanya itu. Ia melawan singa itu dengan hanya menggunakan sebuah pisau lipat yang berada di saku jasnya.
Pertarungan mereka berlangsung selama sejam dan akhirnya dimenangkan oleh Davian dengan Delon yang terluka di bagian bahunya sementara Davian tidak mendapatkan luka sedikitpun.
Apa kalian tau? Delon hanya akan jinak jika sedang bersama Davian saja dan jika ada orang lain yang mendekatinya makal ia akan langsung menerkam orang tersebut kecuali satu orang.
Siapa orang itu? Siapa lagi jika bukan Alvaro? mengharapkan siapa? Syasa?. Singa jantan itu hanya akan menjadi manja pada Alvaro yang saat itu diajak Davian untuk memberi makan Delon.
Maka dari itu saat Heri mendengar nama Delon dia akan menjadi pucat kaku karena ia pernah hampir diterkam singa itu.
Iya Heri pernah hampir di terkam Delon saan ia menemani ayahnya menemui Axel di mansion Axel dulu. Dan dia dengan bodohnya malah keluar dari mansion besar itu berniat berjalan-jalan hingga tersesat dikandang Delon. Entah apa yang dia saat itu.
"Eum Delon gemesin tau kemalin valo belmain kejal-kejalan sama Delon". Heri tersadar dari masa kelamnya dulu saat mendengar suara antusias Alvaro dalam menceritakan kegiatannya dengan Delon kemarin.
Ia Delon dipindahkan dari mansion Axel ke mansion utama Alexander.
"Gila Lo cil, mainnya sama singa". Ujar Heri bergidik negri sambil membayangkan varo yang sedang dikejar oleh Delon.
"Huh~ Abang Heli aja yang gila! Masa takut sih sama Delon". Serunya tak terima.
"Iya deh iya, orang dewasa mah ngalah ajah sama bayi".
"Wleeeek".
('♤♤♤')
Beralih ketempat lain dimana seorang gadis kini dikerumuni oleh teman-teman gadisnya yang lain menanti jawaban yang dikeluarkan oleh gadis tersebut.
"Ayo jawab Syasa, kenapa kamu. nggak masuk sekolah beberapa hari belakangan?". Tanya Siska salah satu teman Syasa.
Syasa yang ditanya seperti itu langsung menunjukkan raut wajah mendungnya.
"Syasa sakit". Jawabnya lirih.
"Kenapa bisa sakit?". Aluna kembali bertanya mendahului sisika yang ingin bertanya.
"Syasa kena hukuman sama Daddy". Kening siska Dan Aluna mengkerut saat mendengar jawaban Syasa.
"Kenapa di hukum?". Tanyanya sekali lagi.
"Syasa juga nggak tau kenapa Syasa bisa di hukum, kata Daddy Syasa udah ngelukain Alvaro padahal Syasa nggak ngapa-ngapain". Ujarnya sedih membuat beberapa orang yang mendengarkannya merasa iba.
"Iya, aneh banget. Apa si Alvaro itu udah ngehasut Daddy mu?".
"Iya dari awal gue juga udah nggak suka sama anak itu". Jelas Siska.
"Gue juga nggak suka sama dia. Apa kita beri pelajaran ajah?".
"Ide Lu bagus Lun, dia harus diberi pelajaran emang. Gara-gara dia juga gue jadi nggak bisa dekat sama Kenzo". Jawab Mila dengan kesal.
"Eh? Kelian nggak boleh gitu". Larang Syasa membuat ketiga gadis yang mengelilinginya merasa jika Syasa terlalu baik.
"Nggak Sya, tuh anak emang harus diberi pelajaran. Gara-gara dia juga kan kamu jadi dihukum sampai sakit selama beberapa hari ini". Ujar Siska sambil memegang bahu Syasa.
"Iya benar Sya, dia emang harus diberi pelajaran". Tambah Mila.
"Sya plis kamu jangan terlalu baik. Egois dikit nggak papa kok".
"Thh tetap aja nggak bole tau". Bantah Syasa walaupun dalam hatinya kini ia tak melarang mereka melakukannya. Justru ia mereka melakukan itu.
Hah
Ketiga gadis itu menghela nafas dalam dan melirik satu sama lain setelahnya mengangguk mantap.
"Oke, tapi kita nggak janji".
Umh. Angguknya pelan
.₩₩₩₩₩₩₩.
Bel istirahat telah berbunyi dan para siswa dan siswi mulai kuar dari kelas mereka satu persatu menuju ke kantin sekolah untuk mengisi perut mereka yang telah kosong begitupun dengan Alvaro, Juan dan juga Heri.
"Abang kita ke kelas bang Keke dulukan? Bekal valo Abang keke yang pegang soalnya". Ujarnya mendongak menatap Juan yang menjulang tinggi.
"Iya". Jawab Juan seadanya.
Jika kalian bertanya dimana Heri? Maka ia sudah duluan ke kantin katanya sih anak-anak di perutnya sudah berdemo minta di isi. varo kan jadi bingung. memangnya abang Heri lagi hamil yah?.
Tok tok tok
"Abang keke valo datang". Ujarnya setelah mengetuk pintu.
varo mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Abang kekenya yang ternyata sedang berbincang-bincang dengan para sahabat abangnya itu. Ada Rezav dan Kenzo juga disana padahal mereka berdua berada di kelas yang berbeda.
"Oh my baby boy! Ada apa sampai masuk kedalam kelasnya Abang Riki yang ganteng ini?". Seru Riki heboh saat melihat Alvaro yang menyembulkan kepalanya.
"Minggir Lo! Degem pasti mau nemuin gue". Gilang menendang bokong Riki hingga remaja itu tersungkur kedepan.
"Anjing Lo Lang". Umpatnya.
"Tidak boleh mengumpat didepan Alvaro". Desis Rezav marah
"Eh iya lupa! Mangap bos". Ujar Riki dengan menggaruk belakang kepalanya canggung.
"Eum Abang keke, bekal valo mana?". Ujar Alvaro melewati gilang yang duduk dengan membuka tangannya lebar menunggu pelukan dari Alvaro.
"Lah dilewatin guenya". Bisiknya malu.
"Sini baby". varo berjalan pelan menuju Kevin yang merentangkan tangannya meminta sebuah pelukan.
Varo memeluk tubuh tegap Kevin yang dibalas takalah erat olehnya. Alvaro menduselkan wajahnya di dada bidang Kevin membuat Kevin tersenyum.
"Abang keke Valo lapal"
"Hmm baiklah ayo kita keruangan biasa, karena bayi Abang ini sudah kelaparan".
Mereka semua berjalan kearah keluar kelas Kevin dan saat keluar mereka berpas-pasan dengan Alicia.
'CK hei lihat anak itu dasar tidak tau malu'
'benar, dia sudah membuat Syasa sakit dan dia malah enak-enakan bermanja-manja dengan Kevin'
Kevin dan yang lainnya menggerutkan keningnya saat mendengar bisik-bisik tidak mengenakan yang ada disekitar mereka.
'hanya anak pungut kok belagu banget'
'dasar ******!'.
Alicia menendang seorang gadis yang baru saja menyebut adik nya sebagai seorang ****** hingga gadis itu terpental hingga pingsan.
"Kyaaaaaaaa!!". Pekik para siswi yang ada di sana sedangkan para siswa bergidik ngeri melihat pemandangan mengenaskan dihadapan mereka.
"Berani sekali kalian berbicara buruk tentang adikku". Tekan Alicia dengan menatap mereka yang sudah berbisik-bisik buruk pada adiknya.
"Jika aku mendengar kalian membicarakan hal buruk tentang adikku Maka aku akan mencongkel organ kalian satu persatu! Ingat itu!". Peringat Alicia membuat para siswa dan siswi gemetar ketakutan belum lagi aura gelap yang dikeluarkan Andrea dan yang lainnya.
"Abang valo mau pulang hiks".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤❤❤