ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 17



Saat ini Axel dan Keyla sedang berada di ruangan khusus anggota keluarga Alexander yang sengaja disediakan untuk anggota keluarga mereka yang sedang sakit.


Mereka sekarang sedang menunggu Alvaro untuk sadar dari tidurnya sebab anak itu belum sadar juga setelah dibawa ke rumah sakit.


Jangan kalian tanya bagaimana fasilitas yang ada didalamnya. Di ruangan yang dibuat khusus itu terdapat berbagai macam fasilitas yang tidak ada dalam kamar-kamar VVIP lainnya.


Keyla sibuk mengelusi rambut halus Alvaro dan sesekali mengecupi tangan mungil yang terbebas dari infus.


Di sana hanya ada mereka berdua sebab Kevin, Andrea dan juga Alicia beserta teman-temannya di suruh pulang untuk mengganti pakaian mereka walaupun harus dengan ancaman terlebih dahulu.


"Cepat bangun baby".


Ceklek


Keyla dan juga Axel mengalihkan pandangan mereja ke pintu yang terbuka dan melihat Lily dan juga John disana.


"Bagaimana keadaan cucuku Axel". Lily menggeser posisi Keyla sehingga dia yang berada tepat di samping Alvaro.


"Buruk". Kening Lily dan John berkedut saat mendengar jawaban singkat Axel.


"Apa maksudmu? Berbicaralah dengan jelas".


"Hemofilia". Satu kata dari Axel mampu membuat jantung Lily dan John berhenti berdetak untuk sesaat.


"Astagah". Lily menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh putranya.


[ ° _ ° ]


Eumh, hiks


Mata indah itu mulai terbuka secara perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya.


Hal pertama yang varo lihat adalah langit-langit berwarna putih dan juga aroma obat yang menyengat hidung bengirnya.


"Mommy?". varo mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang ibu.


"Mommy di sini sayang". Keyla mendekat kearah Alvaro yang sedang mencarinya. Dibelainya rambut halus itu dan diberi kecupan sayang saat melihat wajah bulat itu mulai memerah menahan tangis.


"Mommy hiks pu punggung valo sakit hiks lasanya pelih". Ah benar lukai punggungnya pasti perih karena bergesekan dengan baju dan juga kasur.


Axel maju dan mengangkat badan mungil yang masih lemas itu kedalam gendongan koalanya agar punggung sempit itu tidak lagi bergesekan dengan ranjang.


"Ssstt jangan menangis okey". Axel dengan telaten menghapus air mata yang mengalir di pipi gembil itu, setelahnya. mengecup kedua mata indah putranya.


"Sayang kenapa Syasa bisa mendorongmu?". varo memandang Lily yang baru saja bertanya kepadanya.


"Ekhem saatnya belakting".


"valo ndak tau oma. valo cuman mau nolongin kak Asa kalena kak Asa jatuh telus tangannya kena kuah bakso panas. Telus, valo juga ngebantuin kakak buat belsihin selagamnya yang kotol, telus telus tiba-tiba kak Asa nya meluk valo elat banget sampai valo ndak bisa napas telus valo juga di cubit sakiitt".


varo mulai mengadukan apa yang sudah Syasa lakukan padanya ditambah dengan sedikit bumbu rica-rica supaya pedas dan juga sedikit micin agar rasanya lebih nikmat, Eh-


Axel yang mendengar cerita Alvaro dengan cepat membuka pakaian yang varo pakai sehingga terpampang dengan jelas punggung putih dan mulus Alvaro yang sayangnya sekarang terdapat perban di beberapa bagian.


Di sana, punggung bagian bawahnya terdapat memar yang terlihat jelas berwarna ungu kemerahan.


Axel menggertakkan giginya marah saat melihat itu, sama halnya dengan Keyla dan juga John.


Sementara itu, Lily terlihat termenung. Dia merasa percaya dengan apa sudah dilakukan Syasa, anak gadis yang terlihat polos dan lugu itu ternyata dapat melakukan hal seperti ini.


"Sayang, apa ini sakit?".


'Ya sakitlah anjil'. Batinnya


varo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Lily. Dia bisa merasakan jari yang suda mulai keriput itu mengelus punggungnya lembut.


"Daddy valo mau pulang, ndak mau di sini". varo memandang Axel dengan mata bulat besarnya yang terlihat berkaca-kaca.


"Tunggu yah, sampai cairan infusnya habis". Badan Alvaro tiba-tiba saja menjadi kaku, dan dengan patah-patah dia menoleh kearah tangan kirinya yang sekarang mulai terasa sakit entah karena apa padahal tadi dia tidak merasakan apa-apa selain pada punggungnya.


varo sekarang melihat dengan jelas sebuah infus yang melekat di punggung tangannya. Napasnya kini mulai tidak beraturan, dengan cepat dia menolehkan kepalanya lagi kearah Axel.


"Hiks Huwaaaaaa lepas hiks lepas ndak suka lepas huwaaa". varo menangis keras dengan tangan yang terbebas dari infus memukul-mukul dada Axel keras.


Keyla, Lily dan juga John kalang kabut saat mendengar betapa kerasnya suara Alvaro yang sedang menangis. Sial mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan untuk membuat varo berhenti menangis.


"Sa tenang oke". Keyla membantu Axel yang terlihat kesusahan menahan pergerakan Alvaro sementara John dia berusaha menahan tiang infus yang hampir roboh karena pergerakan brutal Alvaro.


Sementara itu, lily dia tengah sibuk membuat susu untu Alvaro berharap dengan itu varo bisa tenang.


"Uhuk uhuk hiks lepas daddy lepas ini hiks ndak suka hiks valo ndak suka uhuk hiks". varo terus menagis dengan sesekali terbatuk karena tangisannya.


"Iya nanti di lepas yah". varo menggelengkan kepalanya brutal, dia inginnya benda laknat itu lepas dari punggung tangannya sekarang bukannya nanti gimana sih.


"Sekalang hiks".


"Nanti yah, mending baby bobok dulu biar nanti pas bangun infusnya langsung di buka". Axel mengambil botol susu yang telah di siapkan Lily dan langsung mengarahkannya pada mulut Alvaro.


"Ayo sayang". varo memandang Axel dan botol susu itu bergantian, dengan pelan dia mulai menyedot isi dalam botol itu dan tak lama kemudian dia mulai merasakan kantuk yang tiba-tiba datang.


'Udah gue dugong. Pasti obat tidul'. Batinnya dan kemudian tertidur pulas membuat keempat orang dewasa itu bernapas lega karena bayi koala mereka telah tertidur.


(-w-)zzz


Sementara itu di Mansion utama keluarga Alexander, Liam yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya di Belanda datang dengan langkah tergesa-gesa.


Dia masuk kedalam Mansion itu dengan wajah yang terlihat menyeramkan sehingga para penjaga dan pelayan yang berpas-pasan dengannya menunduk badan yang gemetar ketakutan.


"A apa yang terjadi dengan tuan muda? Dia sepertinya sangat marah'.


'Kau benar. Auranya benar-benar menakutkan'.


"Hei berhenti bergosip. Apa kalian ingin kepala kalian putus hah?! Kembali bekerja'.


Liam tidak perduli dengan bisik-bisik yang dilakukan oleh pelayan, biarlah dia menghukum kedua orang itu nanti.


Liam masuk dan melihat disana ada Syasa yang sedang di kompres wajahnya dibantu oleh Mungkin karena tamparan yang diterimanya dari Rezav.


Dengan tergesa Liam berjalan kearah mereka berdua. Dengan tiba-tiba, Liam menarik kasar tangan Syasa membuatnya berdiri dari duduknya.


Syasa yang di tarik tentu kaget begitupun dengan Jesi yang sedang mengompres wajah memar putrinya.


Belum sempat Jesi bertanya apa yang dilakukan Liam, sebuah tamparan keras yang berbunyi nyaring membuat la. mematung, begitupun dengan Andrea dan juga Alicia yang baru saja muncul dari Lift.


PLAK!!


Syasa, gadis itu menerima tamparan (lagi) tapi lebih keras dari sebelumnya dari Liam. Bahkan Syasa terhuyung dan jatuh kelantai marmer yang dingin dengan bibir yang kembali sobek mengeluarkan setetes darah segar.


"APA YANG KAU LAKUKAN LIAM??!!". Jesi mendorong putra pertamanya itu untuk menjauh dan kemudian membantu Syasa untuk berdiri.


Dapat Jesi lihat wajah putri kesayangnnya kini membiru dengan luka sobek di ujung bibirnya.


Plak!


"LIAM! KAU SUDAH KETERLALUAN!. BAGAIMANA BISA KAMU MENAMPAR ADIKMU SEKERAS ITU? DIA PEREMPUAN LIAM!!". Jesi menampar Liam keras namun tak dberi respon oleh Liam sama sekali. Dia malah menatap datar sang ibu yang sekarang tengah membentaknya.


"Salahkan dia karena sudah membuat adikku terluka parah sampai harus dilarikan kerumah sakit". Jawab liam datar.


"Siapa adikmu? Adikmu hanyalah Andrea dan juga Syasa tidak ada yang lain!!". Jawab Jesi pada Liam.


"Jadi maksud mami Alicia bukan adikku". Jesi saat mendengar perkataan Liam dan tanpa sengaja dia menatap Pada Alicia yang juga menatapnya dengan datar tapi, jika dilihat lebih jelas ada kilat kesedihan di sana.


"Y yah dia juga adikmu tapi dia tidak terluka sama sekali. Justru di sini Syasa yang terluka".


"Hiks hiks a aku tidak salah hiks". Jesi kembali memeluk Syasa yang sudah menangis tersedu-sedu sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar.


Syasa memandang Liam dengan mata yang sembab karena menangis, dengan pelan dia mendekati Liam dan memegang tangan yang sudah menamparnya tadi.


"Bang, varo yang salah di sini hiks, dia dia udah ngambil apa yang udah menjadi milik Syasa". Liam menatap jijik pada Syasa yang mengelus tangannya. Dengan kasar dia menghempaskan tangan itu


kasar hingga terlepas dari tangannya. "LIAM!!". Liam pergi dari sana saat mendengsr bentakan Jesi untuk kedua kalinya.


Saat berbalik dia melihat kedua adiknya sedang menatap dirinya. Liam berjalan kearah keduanya dan membelai kepala mereka lembut setelahnya ia memasuki lift.


Alicia dan juga Andrea menyentuh rambut mereka yang baru saja dibelai oleh Liam dan tersenyum tipis. Mereka tau walau Liam jarang pulang dan juga berbicara tapi dia tetap memperhatikan mereka dari jauh. Liam adalah seorang kakak yang sangat baik.


"Kalian ingin kemana?". Senyum mereka luntur saat mendengar suara Jesi yang masih sibuk menenangkan Syasa yang menangis.


"Menemui adik kami". Jawab sarkas Andrea dan langsung menarik tangan Alicia untuk segera pergi dari sana.


Dia ingin segera menemui Alvaro di rumah sakit, entah kenapa dia sudah kangen saja pada adiknya itu.


Jesi menatap mereka berdua dengan padangan nanar, sudah lama dia tidak lagi berinteraksi dengan anak-anaknya terutama Alicia karena dia sibuk mengurus Syasa dan juga butiknya.


Yah Jesi adalah pemilik butik terkenal yang mana karyanya selalu manjadi tranding topik yang mendunia.


"Hiks mami, mereka mulai membenciku hiks". Lamunan Jesi buyar saat mendengar tangisan putri kesayangannya.


"Sstt jangan bilang begitu sayang".


"Hiks ta tapi mami, sejak kedatangan anak itu mereka berubah". Jesi tidak tau siapa yang dimaksud oleh Syasa, karena Syasa tidak menceritakan dengan jelas siapa anak itu.


"Siapa dia sayang?".


"Alvaro. Anak hiks anak itu, karena dialah Syasa di tampar di sekolah hiks dia juga yang hiks sudah membuat tangan Syasa melepuh terkena kuah bakso yang panas mami". Syasa menunjukkan tangannya yang melepuh kepada Jesi.


"Berani sekali anak itu melukai putriku". Serunya marah.


"Hiks mami aku menbencinya". Syasa memeluk Jesi erat dan mulai menangis tersedu kembali.


"Tenag sayang, kita akan pikirkan solusinya nanti". Syasa tersenyum licik dalam dekapan Jesi. Dalam hati dia sudah berdoa semoga anak itu cepat hilang dari muka bumi ini


'Aku harap kau cepat mati anak sial'. Batinnya.