ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 33



...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🐻❤❤...


Splashh


Tuk


Sebuah kepala terlepas begitu saja dari tubuh salah seorang yang menjadi bawahan dari musuh yang menyerang keluarga Alexander.


Davian yang menjadi pelaku penebasan hanya menatap datar pemandangan itu, dia dengan santai kembali mengayunkan pedangnya memotong musuh yang menyerangnya.


"Sampah". Ucapnya.


"Haiss kapan ini akan berakhir! Aku ingin tidur sialan!". Kevin yang berada disebelah Davian mengacak rambutnya frustasi dengan banyaknya orang yang menyerang mereka.


Plak


"Berisik!". Devan datang dari arah belakang memukul kepala adiknya itu dengan keras membuat Kevin mengaduh kesakitan.


"Aduh! anjir bang, Sakit tau!". Devan tidak memperdulikan rintihan Kevin, dia hanya fokus menembaki kepala orang-orang tak berotak itu.


"Baby mana?". Tanya Axel saat sampai di samping putranya.


"Bersama bang Liam Dad".


Axel menganggukkan kepalanya mengerti sambil menoleh kearah Keyla yang sedang meluncurkan sebuah anak panah kearah musuh.


"Oh my! Gue baru ajah selesai ngurus dua ****** dan sekarang gue harus ngebasmi tikus-tikus ini juga?!. Astaga betapa senangnya aku". Alicia tersenyum senang saat melihat banyaknya tikus yang berjalan kearah mereka.


la dengan sigap mengeluarkan sebuah jarum yang sudah terbaluri racun mematikan. Alicia dengan riang melempar jarum-jarum itu hingga


mengenai mereka yang sedang menyerangnya.


Saat jarum itu mengenai musuh, mereka langsung saja terjatuh dengan tubuh yang membiru dan mulai membusuk, bahkan kedua bola mata mereka langsung terlepas begitu saja dari kelopak matanya. Benar-benar racun yang mengerikan.


"**** busuk banget bangsat". Umpat Andrea.


"Busuk apaan? Orang harum gini kok". Bantahnya.


"bonjour Axel, ça fait longtemps que je ne vois pas !" (Hai Axel, lama tak berjumpa!).


Axel mengalihkan perhatiannya saat melihat siapa yang baru saja berbicara padanya.


"Hmm, apa ini? Kau datang kemari hanya untuk menjemput kematianmu? Aku sangat terharu saat kau dengan suka rela nya menyerahkan dirimu pada keluargaku. BIMA".


Bima sebagai ketua dari mafia gagak atau nama kerennya MARVENON merasa terhina saat mendengar ejekan yang dilayangkan Axel untuknya.


Ia mengangkat pistolnya dan menembak tepat pada bahu Axel sebagai peringatan.


"UPS, sengaja hahhaahahh".


"Hmm tidak buruk". Ucap Axel sembari mencabut peluru yang mengenai bahunya dengan santai tanpa menunjukkan rasa sakit sedikitpun diwajahnya.


Cih


"Aku dengar kalian mengadopsi seorang anak, iya kan". Ucapnya dengan nada sombongnya.


Axel dan Keyla yang mendengar itu langsung mendatarkan wajahnya yang lain.


"Kalau tidak salah namanya Alvaro". Ucapnya lagi. Bima menatap wajah mereka dan tersenyum saat mendapati wajah gelap musuhnya.


"Apa kalian tau? Putraku Reo kini sedang bersenang-senang dengannya".


Bima memperlihatkan sebuah video yang menampilkan seorang pria yang sedang menggerayangi tubuh seorang remaja berperawakan kecil yang sedang tak sadarkan diri, dan mereka tau siapa remaja itu.


"Tubuh putra kalian sangat bagus hahaha aku jadi tidak sabar untuk mencicipinya". Ucapnya sebelum video dimatikan.


Alicia menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya barusan, terlebih saat Bima juga memperlihatkan kondisi Liam yang berlumuran darah.


'kenapa jadi seperti ini?". Batinnya.


Bima melihat kearah Axel yang kini memandangnya dengan wajah yang terlihat sangat gelap dan mata yang memancarkan aura permusuhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Itu membuatnya sedikit takut?.


"Berani putramu menyentuh permataku! maka, aku pastikan kau dan putramu akan kuhabisi! Bahkan mungkin kematian tak akan kuberikan dengan mudah". Tekannya.


Stab!


"Akh! Si alan k kau Axel!".


Bima tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri saat sebuah suntik menancap tepat pada lehernya dan dibelakang mereka terlihat Mateo yang berwajah gelap sedang menyeret Jordan dan Alaric yang menyeret Syasa diikuti Javier dibelakangnya. Jesi juga ada disana, tetapi ada lebam kebiruan di pipi wanita itu seperti bekas tamparan?.


"Alexo!! Urus istri tidak bergunamu itu!". Teriaknya pada Alexo yang sedang mematung ditempatnya.


"Ada apa bang?".


"Apa kau tau! Istri tidak berguna mu itu berencana untuk membebaskan Syasa! Bahkan ia juga sudah berencana kabur bersamanya!". Jawabnya.


Mendengar itu, Alexo segera mendekat pada Jesi yang masih mematung dan memberikan tamparan pada pipi wanita itu.


Plak!


"Tidak berguna! Kukira setelah kak Key memberikan padamu semua bukti-bukti itu kau akan percaya! Tapi apa ini? Sialan! Kau memang wanita yang bodoh! CK aku juga yang bodoh sebenarnya karena sudah membuka hati pada wanita sepertimu!". Jesi menangis saat mendengar segala ucapan yang dilontarkan Alexo padanya.


la dia tau dia salah disini, tapi dia juga sudah menyesal karena tidak mendengarkan perkataan kakaknya. Dia hanya sudah terlanjur sayang pada Syasa hingga ia menutup mata pada segalanya.


la benar-benar menyesal.


"Sudah! Kita harus membereskan mereka dulu! Dan mencari keberadaan Liam dan Alvaro! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anak-anak ku".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hiks kotol! Hiks kotol! Kotol". Alvaro sedari tadi tak berhenti menggaruk setiap inci tubuhnya berharap sentuhan-sentuhan yang diterimanya tadi menghilang dari tubuhnya.


Dia masih teringat semua perlakuan tak senonoh yang dilakukan oleh orang yang menyekapnya, bahkan hal tersebut selalu terputar bak kasset rusak didalam otak kecilnya.


'tuan rumah hentikan! Anda akan melukai diri anda sendiri!'.


Alvaro tak mendengarkan ucapan Zero, ia terus menerus menggosok tubuh dan wajahnya kasar hingga kulit halusnya terkelupas sedikit-demi sedikit.


'tuan rumah SAYA MOHON BERHENTI!!'. Teriaknya membuat Alvaro berjengit kaget.


"Z Zelo?".


'yah ini saya tuan rumah'.


"Hiks Zelo aku takut, hiks p plia itu hiks plia itu d dia hiks dia m melaba tubuhku! Hiks tidak suka! Hiks dia b bahkan hampil membuatku m hiks meminum hiks s pelmanya hiks". Tangisnya.


'maafkan saya, tapi kita harus segera keluar dari sini tuan rumah! Saya sudah meretas semua cctv yang ada di sini, jadi kita bisa segera keluar'. Jawabnya mencoba mengalihkan pembicaraan agar Alvaro dapat fokus untuk melarikan diri.


Alvaro yang mendengar itupun mencoba berdiri walaupun Ia merasakan sakit pada kaki kirinya yang terkilir akibat kecelakaan yang dia alami sebelumnya.


"Aku mau keluar hiks Daddy Dan Mommy pasti khawatil". Ucapnya.


'benar tuan rumah! Anda harus keluar dari sini'.


Alvaro mulai berjalan dengan menyeret kaki kirinya sembari mendengar instruksi dari Zero jalan mana saja yang harus ia lewati.


‘aku tidak tau jika kau tidak ada saat ini Zelo, mungkin jika kau tidak ada aku sudah mati. Aku lebih memilih mati dari pada harus menerima perlakuan menjijikkan itu'. Batinnya.


Zero bersyukur pria bejat itu tidak menaruh banyak penjaga dimansion ini melainkan hanya beberapa itupun hanya berjaga diluar.


Setelah berhasil keluar, Zero meminta Alvaro untuk bersembunyi didalam sebuah guci berukuran besar menunggu hingga keadaan benar-benar aman untuk ia bisa kabur dari sini karena setiap dua menit sekali para penjaga itu akan berkeliling menjaga keadaan sekitar.


'hanya ada dua menit waktu yang bisa digunakan untuk tuan rumah kabur dari sini, tapi itu sangat tidak cukup terlebih kondisi kaki tuan rumah yang terkilir akan membutuhkan waktu yang lama. Ais sial si Reo itu juga sudah mengetahui Alvaro tidak ada ditempanya'. Batinnya.


'Tuan rumah teruslah bersembunyi karena keparat itu sedang memerintahkan para anak buahnya untuk mencari anda'. Ucapnya.


Alvaro mengangguk patuh dan menutup guci yang ia tempati dengan menyisahkan sedikit ruang agar ia dapat bernafas.


" aku beban banget yah".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"LIAM!!!"


"Mom?". Keyla dibantu dengan yang lainnya membantu mengeluarkan Liam yang masih terjebak didalam mobil itu dengan terlebih banyaknya luka yang didapatkan Liam membuat mereka meringis.


"Oh putraku!". memeluk Liam erat saat Liam berhasil keluar dari mobil itu.


Liam yang dipeluk langsung membalas pelukan Keyla dengan erat dan mulai menangis mengingat ia telah gagal melindungi adik bungsunya.


"Hiks m mom Liam gagal mom hiks". Tangisnya lirih.


Alicia dan yang lainnya mengalihkan perhatian mereka saat melihat Liam yang notabennya adalah pria yang dingin itu kini menangis sesenggukan, bahkan tubuh tegap itu sedikit gemetaran.


Jesi yang melihat Liam menangis dipelukan kakaknya pun hendak melangkah mendekat tapi ditahan oleh Alicia yang berada disampingnya.


"Diam ditempat mu. Abang Liam nggak butuh mami saat ini, dia lebih membutuhkan Mommy". Bisiknya.


" T tapi dia putraku". Balasnya.


"Dia memang putramu, tapi Mommy lah yang mengambil peran lebih banyak untuk membesarkan Abang Liam dibandingkan dirimu yang notabennya adalah ibu kandungnya. sama sepertiku". Ucapnya lagi dan melirih diakhir.


Rasa bersalah Jesi semakin besar apalagi saat melihat tatapan kosong Alicia saat menatapnya. 'Sebesar itukah kesalahan yang aku lakukan'?, Batinnya.


"Sstt tenang okey, kita akan menjemput Varo sekarang hmm, ada seseorang yang mengirimkan kami lokasi dimana Alvaro berada sekarang. Bahkan dia juga mengirim lokasimu sehingga kami bisa datang di sini".


"Hiks Mom".


"Stt putra mommy yang tampan ini sangat jelek saat menangis". Kekehnya.


"Ayo bangun boy, kita harus menjemput permataku. Apa kau masih kuat?". Tanya Axel pada liam yang sudah berhenti menangis.


"Tentu dad".


.


.


.


.


.


THANK YOU❤❤❤❤