ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 15



"Jangan menangis". varo menyembunyikan wajahnya didada bidang orang yang menggendongnya, dia sekarang tengah malu karena menangis dihadapan banyak orang.


Pemuda itu mendudukkan dirinya di tempat duduk miliknya yang berada di pojok belakang dekat jendela. Dia mendudukkan Alvaro dipangkuannya.


Hiks hiks ughh


"Ughh hu hu hu malu banget anj*ng". Batinnya.


varo merasakan pemuda yang memangkunya mengelus kepalanya dengan lembut membuat varo langsung mengangkat kepalanya untuk menatap wajah orang yang mengelusnya.


"jangan menangis". Remaja itu mengusap air mata yang mengalir di pipi bulat berisi itu dengan lembut.


"Uh. varo mau duduk sendili". Alvaro berusaha untuk pidah kebangku sebelah yang kosong namun pemuda yang memangkunya malah menahan badan Alvaro dengan cara memeluknya erat agar tidak pinda tempat.


"Tidak". Ucapnya penuh penekanan. Alvaro merenggut, dia mengerucutkan bibirnya dan menatap orang yang menggendongnya garang.


"Abang siapa sih? valo nggak kenal". Ujarnya dengan menatap kesal pada orang yang memangkunya.


"juan". Jawab orang itu dengan santainya yang membuat Alvaro langsung menampilkan wajah cengonya.


"Baiklah anak-anak buka buku paket kalian dihalaman 140 dan kerjakan soal no. 1 sampai 10 dan untuk Alvaro kamu bisa lihat buku Juan okey". Miss. jihan mulai memberikan intruksi pada seluruh murid dan diangguki oleh semua murid termaksud Alvaro


Juan membalik badan Alvaro menghadap ke depan masih dengan posisi awal.


Pelajaran pun di mulai dengan sangat damai walau kadang terdengar rengekan dari Alvaro yang meminta untuk duduk sendiri.


Krriiiiiiiinnngggg.....


Bel waktu Istirahat telah berbunyi dan seluruh siswa langsung berbondong-bondong pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah berdemo minta di isi.


Lain halnya dengan kelas Alvaro. Kini meja Juan sedang dikerubuni teman-teman sekelasnya hanya untuk berkenalan dengan Alvaro.


"Uh~ ha halo". varo menyapa mereka semua yang menatap berbinar pada dirinya.


"Kyaaaa gemes banget sihh. Jadi adek gue aja yah". Celetuk salah satu siswi yang yang dihadiahi geplakan sayang dari sahabatnya Vio.


"Heh lo mau di penggal sama pawangnya?". Jawab Vio garang pada sahabat somplaknya.


"Hhehehe ya maap".


"Gemas banget. Akhirnya ada degem di kelas ini"


"Degem umurnya berapa? Kok udah masuk SMA ajah?". Tanya salah satu dari mereka yang ada di sana, sebut saja Rara.


"valo udah empat belas tahun tau~ jadi udah besal~. Udah boleh masuk SMA~". Jawabnya dengan nada kesal.


"Tadi gue kira lu nyasar cil sumpah! Soalnya lu pendek banget. Tinggi lo berapa sih?". Tanya Heri siswa yang duduk di depan meja varo dan Juan. Heri adalah salah satu teman dekat Juan dari masih di kandungan ibu mereka.


"valo itu udah besal yah bukan anak kecil. humph!.". Mereka semua yang ada disana memekik gemas saat melihat pemandangan dimana Alvaro menggembungkan pipinya dengan bibir cery nya yang mengerucut.


"Kyaaaaaaa!!! Gemas banget woy".


"Heh lo mimisan bajing".


"Addududuh tahan gue bestai gue mau pingsan".


"Lu berat Ginajing!"


varo menatap cengo mereka semua sedangkan Juan dia menatap datar teman-teman nya. Juan menggendong Alvaro keluar kelas dengan Heri yang cekikikan di belakang mereka saat melihat wajah gemas Alvaro yang terlihat


linglung.


Mereka yang ditinggalkan memekik tidak terima dengan apa yang dilakukan Juan dan dengan kompak mereka juga mulai mengikuti Juan.


"Ekhem Cil kita belum kenalan kan. Kenalin gue Heri Aditama teman si kulkas 12 pintu Juan". varo menatap Heri dengan alis yang hampir menyatu.


"Bang Heli aneh". Heri mendelik pada Alvaro yang berada dalam gendongan koala sahabatnya itu dan tanpa aba-aba dia langsung menarik dua buntalan yang ada diwajah Alvaro membuat varo


memekik sakit.


"Auch. Sakiiitt abaaang", varo kedua pipinya yang baru saja menjadi sasaran empuk tangan jahil Heri. Matanya kini telah berkaca-kaca siap untuk menangis karena merasakan pipinya yang terasa panas dan nyut-nyutan.


'Hu hu hu pipi gemoy gua sakit banget. Batinnya.


varo langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Juan agar Heri tidak dapat mencubit pipinya lagi.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kantin sekolah. Alvaro menatap berbinar pada kantin yang terlihat sangat mewah itu, 'wow. Kantinnya sepelti hotel bintang lima'. Batinnya kagum.


Juan terkekeh pelan saat melihat wajah antusias Alvaro dan dengan gemas dia langsung mengecupi seluruh wajah bulat menggemaskan itu.


Cup cup cup cup


"Ihhh abang juan udah~". Rengek Alvaro sambil menjauhkan wajah Juan dari wajahnya.


"Gemesin banget sih lo Cil". Heri kembali mencubit pipi bulat itu dan kali ini agak keras dari sebelumnya.


Auch hiks


"Sakiit". Juan menatap tajam Heri hingga sang empu ciut seketika karena melihat tatapan mematikan sahabat dari oroknya itu.


"So sorry". Juan hanya mendengus dan kemudian dia berjalan kearah salah satu meja kosong yang ada dipojok kantin. Meja yang menjadi tempat 'mereka' di sini, bisa dibilang hak paten 'mereka'.


Tidak ada yang boleh duduk di situ kecuali orang yang sudah 'mereka' izinkan. dengan Alvaro yang dia letakkan di pangkuannya. Wajah varo kini tengah memerah karena habis menangis


dan itu membut juan tersenyum tipis.


"Sakit yah?".


'Sakitlah njing'.


Juan mengelus pipi bulat kemerahan itu pelan. Dia suka sensasi saat melakukannya, rasanya sangat lembut dan juga kenyal seperti mocci.


'Weh gue lupa sama si keke bajing'. Ah benar bagaimana bisa dia melupakan Kevin di saat seperti ini. Pasti titan satu itu sedang mencarinya saat ini.


Tak lama setelah Ian sadar tiba-tiba saja terjadi kericuhan dari arah masuk kantin. Alvaro mengintip sedikit dan dia melihat disana ada Kevin, Andrea, Alicia dan beberapa orang yang tidak Alvaro kenali.


Kevin, Andrea dan Alicia terlihat ngos-ngosan habis berlari karena dikejar setan.


Pandangan varo terpaku pada sesuatu yang kevin pegang. Sepertinya itu adalah bekal makan siangnya.


Alicia yang sedang ngos-ngosan itu meliarkan pandangannya pada seluruh kantin dan pandangannya langsung terpaku pada bangku yang di duduki Juan. Ia menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas sesuatu yang nemplok


di pangkuan Juan.


"Itu baby". Pekik Alicia keras sehingga semua pandangan mereka yang ada dikantin langsung memandang pada tempat Juan dan Alvaro.


Kevin dengan gercep langsung berjalan cepat kearah Juan dan langsung merebut Alvaro dari pangkuan Juan.


Dia memeluk erat tubuh Alvaro. Dia sangat takut varo menghilang. Tadi saat dia berjalan ke kelas Alvaro, dia tidak menemukan varo disana. Karena itu, dia langsung bertanya dengan tergesa-gesa


pada setiap orang yang ada disana apa mereka melihat Adiknya atau tidak.


"Kenapa tidak menunggu abang hm? Apa baby tau aku sangat khawatir saat tidak melihatmu di kelas tadi".


varo meringis pelan dalam hati saat melihat wajah mengenaskan Kevin. Akh sial dia jadi merasa bersalah sekarang padahalkan bukan dia yang salah. Salahkan Juan yang langsung membawanya ke kantin.


"Dimaafkan". Kevin kembali memeluk erat Alvaro, menghiraukan tatapam cengo dari seluruh penghuni kantin karena sifatnya yang berbeda jauh jika dedepan buntalan unyu itu.


'I itu beneran Kevin?".


'Kayaknya bukan deh'.


'Dari pada itu. Yang dia gendong siapa woy! gemes banget. pengen gigit'.


'Iya gemes banget~. Liat-liat pipinya kayak mau tumpah gitu'.


'Halah imutan juga gue'.


'Hueeeekkk NAJIS'


Bisik-bisik mulai terdengar tapi dihiraukan oleh Kevin karena dia masih sibuk memeluk erat adik kesayangannya.


"Abang valo udah lapal pengen mam sekalang". Ah benar kevin baru ingat dia terlambat ke kelas Alvaro tadi karena dia harus mengambil bekal makan yang dikirim oleh Keyla melalui asisten


Tessy.


"Baiklah". Kevin mulai duduk diikuti Andrea dan juga Alicia.


"Bang juan sama bang heli nggak pesan makan?". Alvaro memiringkan nepalanya saat bertanya pada Juan dan Heri yang saja sedari Kevin datang.


"Hmm. Baru mesan".


"Maksudnya itu kita baru mesan tadi".


Heri menjelaskan maksud ucapan Juan saat melihat wajah Varo yang terlihat tidak mengerti dengan ucapan Juan.


"Lah kita nggak dipesanin juga nih?".


Alvaro yang baru saja memerima suapan dari Kevin langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara asing yang masuk di pendengarannya.


Disana, terdapat 4 orang remaja seumuran Kevin dan Andrea berdiri menjulang.


"Tinggi banget. Batin varo saat melihat betapa tingginya mereka.


Empat remaja itu terpana saat melihat wajah varo yang terlihat sangat manis dan juga terlihat cantik. Mereka baru pertama kali melihat wajah yang indah seperti Alvaro.


Bibir mungil semerah Cerry, pipi bulat merona, mata bulat besar dengan pupil berwarna biru yang dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik dan alis tebal yang rapi.


"Adek lo?". Salah satu dari mereka yang berwajah datar bertanya entah pada siapa.


"Hmm". Kevin menjawab dengan deheman pelan pertanyaan salah satu sahabatnya.


"Nama?". Kali ini yang paling tinggi dan yang paling tampan menurut Alvaro yang bersuara. Suaranya terdengar sangat berat untuk ukuran anak remaja. Dia Rezav.


"Alvaro".


"Kalian ngomongin apan sih? Nggak ngerti gue".


"Biasalah kulkas".


"Abang meleka siapa?". varo bertanya dengan nada pelan seperti berbisik pada Kevin namun sayang masih di dengar oleh keempat remaja itu.


"Mereka teman-teman abang". Jawab kevin sembari masih menyuapi Alvaro yang diterima baik oleh sang empu.


"Duduklah weh sekalian kenalan sama dedek emezh". Seru Alicia heboh.


"Lo pesan gih Rik".


"Lah kok gue?". Serunya tak terima.


"Nih". Kevin memberikan kartu blackcard nya kepada Riki yang diterima dengan senang hati olehnya..


"Gini dong".


Setelah Riki pergi, mereka semua yang ada disana langsung menatap intes pada Alvaro.


varo yang ditatap intens oleh mereka membuat varo mengunyah makanannya dengan canggung, dia bahkan memegang jari telunjuk kevin erat karena gugup.


"Ja jangan natap valo kayak gitu. Takut. Abaang-".


varo membalikkan badannya dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Kevin karena sudah tidak tahan dengan tatapan intens mereka.


Apalagi saat melihat wajah menyebalkan Alicia yang entah kenapa sudah memerah dengan hidung yang tersumbat tisu dia bahkan senyum-senyum nggak jelas dan itu membuat varo takut.


"Baby kenapa?". Kevin mengusap belakang kepala varo dengan lembut saat varo memeluknya dengan erat.


"Malu". Jawabnya sambil merengek kecil.


kenzo, remaja dengan wajah datar namun sangat tampan yang kebetulan berada disamping kevin merebut paksa badan varo yang dihadiahi tatapan tajam dari kevin.


kenzo tak mengiraukan tatapan tajam dari kevin. Dia fokus menatap wajah varo yang kini menatap polos padanya.


"Lo cantik".


Kening varo mengkerut saat mendengar perkataan Kenzo. Bukankah dia adalah laki-laki? Kenapa dia menyebutnya cantik apa orang ini buta?.


"valo laki-laki". kenzo mengangguk singkat, dia tau kalau Alvaro itu laki-laki tapi dia memiliki wajah cantik dan juga manis.


"Menggemaskan".


Cup


varo mematung, begitupun dengan seluruh murid yang ada dikantin. Kenzo, remaja itu baru saja mengecup bibir mungil Alvaro.


'Kapal baru!!!'


'Gilaaaaa di cium dong kyaaa'


'Lu mimisan bego'


Teriakan histeris dari kaum wanita terdengar setelah beberapa saat. Membuat varo dan yang lainnya tersadar.


BRAK!!


Hening


Semuanya kembali hening saat Rezav menggebrak meja dengan kerasnya hingga meja tersebut retak.


Rezav berdiri dan langsung merebut Alvaro dari pangkuan Kenzo. Rezav menatap lenuh permusuhan pada sepupunya itu entah apa yang dia pikirkan.


.


.


.


.


SORRY TELAT UP