
HAPPY READING❤
.
.
.
.
.
.
.
"Ada apa ini?". Mateo bertanya dengan heran saat melihat Devan yang sepertinya sedang dalam keadaan marah besar di tambah dengan Syasa yang terduduk di lantai sambil memegang pipinya.
Mateo dapat melihat jika tubuh gadis itu sedang gemetaran juga disertai Isak tangis yang terdengar lirih.
"Syasa?!!, Kamu kenapa sayang?". Jesi menghampiri Syasa yang sedang bersimpuh di lantai dan langsung memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Devan, apa yang kau lakukan pada adikmu?!". Tanyanya dengan sedikit berteriak.
Devan menatap Jesi datar tak peduli jika yang ia tatap sekarang adalah Adik dari ibunya.
"Dia bukan adikku. Sampai kapan Pun dia tidak akan pernah menjadi adikku". Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?". Tanya Alexo karena tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Apa papi tau? Kalau anak ini sudah mengunci Alvaro dalam ruangan yang sangat gelap!". Mateo dan juga Alexo menatap Devan dengan bingung.
"Apa maksutmu Dev?". Tanyanya sekalia lagi.
"Akh". Pekik Syasa tiba-tiba saat Devan menarik rambutnya dengan kasar.
"DEVAN!!!".
Devan menulikan pendengarannya saat mendengar bentakan dari Jesi. Dia malah semakin mengeratkan cengkeramannya pada
rambut Syasa.
"Gadis ini sudah membuat adikku trauma dan harus dilarikan kerumah sakit". Ucapnya.
Jesi yang mendengar itu langsung terdiam berpikir jika putrinya tidak akan melakukan hal itu.
"Devan lepaskan tanganmu sekarang" Ucapnya sambil berusaha melepaskan cengkraman Devan dari rambut Syasa.
"Hiks mami hiks sakit".
"Apa kau punya bukti Devan?". Tanya Mateo sambil menatap wajah keponakannya datar.
"Kalian bisa cek Cctv yang ada dilantai tiga". Ucapnya dan langsung menghempaskan tubuh Syasa.
"Akh"
"DEVAN!!!". Seru Jesi saat melihat Devan menghempaskan tubuh Syasa kembali.
Devan menatap Jesi dengan nyalang hingga membuat wanita itu tergugu ditempatnya namun dia masih melayangkan tatapan tidak sukanya.
"Jangan karena kau putra kakakku, kamu jadi bisa berbuat seenaknya Devan. Sifatmu benar-benar buruk".
Mateo dan juga Alexo terdiam saat mendengar ucapan yang Jesi lontarkan pada Devan.
"Jaga ucapanmu Jesi!".
Jesi menatap Alexo yang baru saja berbicara. Dia sedikit terkejut saat melihat Alexo yang menatap tajam kearahnya.
"Apa? Bukankah apa yang aku katakan benar!" Jawabnya dengan nada yang terdengar merendahkan.
Alexo mengeraskan rahangnya saat mendengar perkataan Jesi. Devan adalah putra pertama dari kakaknya Axel dan Axel adalah orang yang sangat Alexo hormati.
"Tutup mulutmu itu atau aku robek".
Jesi tertegun saat mendengar suaminya membentak dirinya, bahkan Alexo berani mengancam akan merobek mulutnya. Tubuh wanita itu langsung mematung dengan pupil mata yang gemetar selaras dengan tangannya.
Devan tersenyum sinis saat melihat keadaan Jesi yang tak berkutik saat mendengar bentakan dari papinya. Karena ia tau seberapa Alexo menghormati Daddy-nya.
"Kau yang seharusnya sadar diri mami karena kau juga bukan siapa-siapa jika bukan karena ibuku". Ujarnya dengan senyum sinisnya.
"Loh Ade ape nih? Napa pada diluar semua?". Alicia menatap aneh kearah mereka yang sedang berdiri diluar, terlebih kenapa adik pungutnya dan
ibunya bersimpuh di lantai?.
Andrea juga menatap bingung pada pemandangan didepannya saat ini tapi semua itu tertutupi oleh wajah datarnya.
"Bang. Baby mana?". Tanyana pada Devan.
"Eh iya bang, baby mana? Gue ada hadiah nih buat baby". Seru Alicia.
"varo di rumah sakit". Jawab Devan pelan dengan tangan yang kembali mengepal saat dia mengingat kondisi Alvaro terakhir kali.
"Apa?!. Kok bisa sih bang?". Tanyanya dengan wajah yang menyiratkan kekhawatiran.
"Ini semua gara-gara gadis tidak tau diri itu!". Ujarnya sambil menatap datar ke arah Syasa yang sedari tadi masih terisak tanpa suara.
"Hiks a aku nggak tau kalau a ada adik di dalam ruangan itu, hiks a aku kan hanya menutup pintu itu karena terbuka". Ujarnya di sela-sela isakannya.
"Jangan berbohong sialan!!. Kau sengaja menguncinya karena tau Alvaro ada didalam. Aku melihatnya, kau bahkan tertawa dengan kerasnya saat mendengar adikku berteriak di dalam ruangan itu!!". Tubuh Syasa menjadi kaku saat mendengar penuturan Devan.
Dia tidak menyangka jika kelakuannya. ternyata terekam oleh kamera Cctv yang ada di sana.
'sialan, aku tidak tau kalau di situ ada Cctv'. Batinnya.
"Hiks hiks Syasa minta maaf, hiks s Syasa tidak akan mengulanginya lagi".
Alicia menatap datar Syasa yang baru saja mengatakan hal yang mustahil akan ia lakukan. Dia sudah hafal dengan kelakua gadis itu.
"Ayo kita ke rumah sakit bang.. Gue mau jenguk baby". Ujarnya dan langsung pergi dari sana di ikuti Andrea dan Devan.
Setelah mereka pergi, Mateo dan juga Alexo ikut menyusul mereka meninggalkan Jesi dan juga Syasa yang menjadi bahan tontonan para penjaga dan juga pelayan yang ada di mansion besar itu.
"Hiks hiks mami maaf hiks karena Syasa m mami dibentak sama papi". Syasa memegang tangan Jesi yang masih mematung.
Mungkin dia lagi syok-
"A ah yah sayang tidak apa-apa, mami tau bagaimana perasaanmu". Ucapnya dan langsung memeluk tubuh kecil Syasa.
'huft syukurlah dia masih ada di pihakku'. Batinnya lega sambil membalas pelukan Jesi.
.
{^_^}♡♡♡♡♡♡♡♡♡
.
"Mom Dad?!"seruan Alicia langsung saja menyadarkan Axel dari keterdiamannya. Dia menatap kearah Kedua keponakan dan juga putra pertamanya yang baru saja sampai.
"Bagaimana keadaaan baby?, Kenapa kalian berada di luar? Apa baby baik-baik saja?". Axel diam saja saat mendengar pertanyaan bertuntun yang dilayangkan Andrea begitupun dengan Keyla dan juga Kevin.
"A ada apa? Jangan membuatku takut". Alicia menatap Kevin yang sedari tadi diam dengan tangan yang entah kenapa sedikit gemetaran.
Kevin yang dipandang langsung menghela nafas dalam dan membalas tatapan adik perempuannya itu.
"Baby, sedang di periksa sekarang t tadi dia tiba-tiba saja muntah d dan t tubuhnya kejang-kejang hebat". Tuturnya dengan suara yang sedikit gemetaran dan pandangan nanarnya.
Deg!
Mereka bertiga mematung saat mendengar ucapan Kevin. Mereka juga ikut mematung saat itu juga.
Selang beberapa menit akhirnya pintu ruang rawat Alvaro terbuka menampilkan Bagas dan juga seorang suster yang sering mendampingi dokter Bagas.
"Bagaimana keadaan Alvaro? Dia baik-baik saja kan?". Bagas tersenyum maklum akan kekhawatiran Keyla, dia menatap wajah-wajah iblis yang ada dihadapannya ini dengan senyum menyebalkan membuat mereka langsung mendengus kesal.
"Tenang saja key, varo muntah dan kejang itu hal biasa karena demamnya yang sangat tinggi, dan aku juga sudah menyuntikkan obat penurun panas di infusnya". Mereka yang ada disana langsung menghembuskan nafasnya lega saat
mendengar penuturan Bagas.
"Syukurlah". Ucap Keyla dan Alicia secara bersamaan sedangkan para pria menghembuskan nafasnya lega dengan senyum tipis mereka.
"Ah aku suka wajah panik kalian tadi. Seperti sebuah lelucon". Ucap bagas tiba-tiba.
Mereka yang ada di sana langsung mendatarkan wajahnya saat mendengar ucapan bagas.
Sementara suster Ria yang ada di belakangnya langsung berdigit ngeri saat melihat tatapan datar orang-orang yang ada di depannya.
'ternyata kelinci manis yang ada di dalam mempunyai pawang serigala. Batinnya.
"Ekhem, menurutku pamanlah yang lebih terlihat seperti lelucon. Setiap melihatmu aku selalu teringat pada pertunjukkan topeng monyet". Senyum menyebalkan bagas langsung luntur saat mendengar ucapan pedas Alicia.
Mereka yang ada di sana langsung mengatupkan bibirnya rapat menahan tawa yang akan keluar saat itu juga.
Sementara itu Bagas, dia menatap mereka semua dengan memperlihatkan wajah cenginya terlebih saat melihat Axel yang menutup disertai batuk kecil yang terdengar aneh.
'Seperti sedang menahan tawa' batinnya.
Mereka yang ada disana langsung masuk keruang rawat Alvaro meninggalkan Bagas yang masih memproses kata-kata yang di ucapkan Alicia.
"Hmm dipikir-pikir, apa yang dikatakan nona cia ada benarnya". Ucap suster Ria sambil berlalu dari sana diselingi kekehan kecil dari bibirnya.
"Apa maksud anda suster? Suster! Woy!! Anjing malah di tinggal guanya".
.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
.
.
Liam saat ini sedang berada dikantornya mengurus dokumen-dokumen yang tak pernah habis tapi sekarang dia tidak sendirian.
Liam ditemani oleh Javier dan juga Alaric yang kebetulan nya mereka sedang mengejar pelaku penggelapan dana di perusahaan mereka yang ternyata pelaku utamanya adalah orang yang sama dengan yang menggelapkan dana di perusahaan Liam.
"Jadi? Apa yang akan kita lakukan pada bajingan itu?". Alaric bertanya setelah melihat-lihat berapa banyak uang yang telah digelapkan oleh penghianat tersebut.
"Berapa kerugian yang kita alami?". Javier bertanya pada Alaric sedangkan matanya tak bisa lepas dari wallpaper handphone nya yang menampilkan foto Alvaro yang sedang tidur dengan mulut yang tersumpal oleh pacifier.
"10 miliar, ditambah dengan perusahan Liam total semuanya adalah 28 miliar, lumayan banyak yang di ambil bajingan itu". Ujarnya dengan nada santai.
"Hmm banyak juga". Komentar Liam.
Drrrt drrrt
Handphone Liam tiba-tiba saja berbunyi dan menampilkan nama asisten pribadinya Aldo.
"Hmm". Dehem Liam saat mengangkat telpon dari asisten pribadinya itu.
"Lapor tuan, tuan muda Alvaro saat ini berada di rumah sakit utama keluarga Alexander". Liam, Javier dan juga Alaric langsung menghentikan aktifitas mereka dan langsung fokus pada apa yang akan di sampaikan oleh Aldo.
"Bagaimana bisa?".
"Nona muda Syasa mengunci tuan muda dalam ruangan gelap tempat penyimpanan barang-barang kuno yang ada dilantai tiga. Setelah saya telusuri lagi ternyata tuan muda mempunyai trauma terhadap ruangan gelap. Z akan mengirimkan rekaman Cctv saat nona Syasa mengunci tuan muda Alvaro". Jelas Aldo dan langsung mengirimkan sebuah video yang langsung masuk kedalam handphone Liam.
Liam langsung mengakhiri panggilan telepon itu dan dengan segera menonton yang baru saja dikirim oleh asistennya tadi.
'buka hiks Buka, Abang? Hiks buka valo takut gelap hiks mommy!!m Daddy!!"
'ahahahah rasakan itu'.
'baby bisa minggir kesamping? Mommy dan Daddy akan berusaha mendobrak pintu ini okey!
'astagah baby?!!
'mommyh valo ngantuk
babyku hiks Babyku.
Prang!!
Liam langsung menghempaskan handphone nya Kedinding hingga handphone tersebut hancur tak berbentuk.
Wajah ketiga pria tampan itu mengeras dengan urat-urat leher yang menonjol menggambarkan betapa marahnya.
Mereka bertiga langsung saja bergegas ke rumah sakit meninggalkan berkas-berkas yang belum mereka kerjakan. Biarlah itu di urus oleh asisten mereka nanti yang terpenting sekarang adalah Alvaro
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤❤