Again My Life

Again My Life
Bab 9 Hasutan Adrian



Hari terus berlalu dan waktu pun terus berputar. Satu bulan sudah Kendra Bekerja di perusahaan kakeknya. Setiap hari dia selalu berusaha mencari celah untuk membuktikan kejahatan Adrian. Namun sepertinya, sepupu liciknya itu sangat pintar menyembunyikan kedoknya.


Apalagi, hal itu berkaitan dengan Kakek Dirga. Adrian pasti berusaha tampil memukau dan menjadi anak penurut di depan kakeknya. Seperti Saat ini, terjadi kesalahan data dalam pembelian bahan baku bangunan, Adrian langsung mencari kambing hitam untuk menyembunyikan kesalahannya.


"Adrian, kenapa ini bisa terjadi? Bukankah kamu yang memegang proyek ini?" tanya Kakek Dirga saat dia memanggil Adrian untuk menanyakan masalah yang terjadi.


"Memang benar, Kek. Aku yang membuat anggarannya sesuai apa yang kakek perintahkan. Kakek bisa melihat data yang ada padaku," ucap Adrian.


Dia pun langsung memberikan flashdisk yang berisi anggaran awal pengadaan barang bangunan untuk proyek yang dia pegang. Memang data yang diberikan pada Tuan Dirga adalah data yang dia buat sebelum dia merubahnya dan memberikan pada staf purchasing. Sehingga barang yang dibeli oleh staf purchasing berkualitas rendah tidak sesuai dengan apa yang direncanakan.


"Dari data ini, memang ini anggaran awal saat kamu memberitahu kakek. Apa mereka bermain di belakangku?" tanya Tuan Dirga.


"Bisa saja, Kek. Kakek lihat sendiri nominalnya sangat menggiurkan jika direkayasa oleh mereka. Sudah jelas mereka ingin mendapatkan uang lebih dari gaji yang mereka terima selama ini," tutur Adrian.


"Kamu benar, mungkin karena merek butuh uang banyak sehingga menghalalkan segala cara. Cepat kamu panggil orang purchasing dan finance yang memegang proyek ini," suruh Tuan Dirga.


Adrian pun segera menyuruh anak buahnya untuk memanggil dua departemen yang berhubungan dengan pengadaan barang, sehingga saat di interogasi oleh Tuan Dirga, staf purchasing yang dianggap sudah melakukan kecurangan dengan memanipulasi data. Adrian hanya tersenyum miring karena posisinya aman.


Setelah interogasi itu selesai, Staf finance langsung menemui Adrian. "Tuan, mana bonus aku? Aku sudah melakukan tugasku dengan baik."


"Kamu tenang saja, uangnya segera aku transfer. Tapi awas, jangan sampai ada orang yang tahu dengan apa yang kita lakukan," pesan Adrian.


"Baik, Tuan! Anda bisa mengandalkan aku, kalau ada proyek lain lagi, Tuan bisa menghubungi aku lagi," ucap Marno lalu beranjak pergi meninggalkan Adrian di kantornya.


Setelah kepergian Marno, dia pun segera mengirim sejumlah uang yang sudah dijanjikan pada Marno. Adrian tersenyum miring melihat nominal yang dia kirimkan seraya bergumam, "Kamu memang bisa diandalkan Marno, tapi nanti jika sampai bocor ke Kakek Dirga, maka nyawamu yang jadi taruhannya."


...***...


Malam hari menjelang, di sebuah rumah megah yang luas dengan kamar berderet di lantai atas, nampak seorang lelaki yang sudah berumur lebih dari enam puluh tahun sedang menikmati makan malamnya sendiri. Biasanya, dia selalu menghabiskan makan malam berdua dengan Kendra.


Namun, semenjak Kendra menghilang entah ke mana, dia hanya bisa menikmati kesendiriannya di rumah yang bak istana itu. Saat dia sedang asyik merenungi keberadaan cucunya, seraya menikmati makanan yang terhidang di meja makan. Adrian datang berkunjung ke rumah kakeknya.


"Kek, boleh aku ikut makan di sini?" tanya Adrian.


"Duduklah! Kakek senang kamu mau makan di sini," ucap Tuan Dirga.


"Adrian, Kakek senang jika kamu ingin menanami Kakek. Tinggallah di sini bersama Kakek!"


"Baik, Kek! Nanti aku bicara dulu dengan mama dan papa," sahut Adrian.


Adrian pun mulai memakan makanannya dengan tenang. Saat keduanya sudah menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing, Adrian pun mulai mengajak kakeknya mengobrol.


"Kek, apa Kakek jadi akan mengumumkan penerus Kakek saat ulang tahun perusahaan nanti. Apa Kakek sudah menemukan Kendra?" tanya Adrian.


"Kakek belum menemukan keberadaan anak itu. Entah ke mana Kendra pergi. Bukankah terakhir kali kalian berlibur bersama?"


"Kami memang berangkat bersama, tapi setelah sampai di sana, Kendra pergi begitu saja tanpa memberi tahu akan ke mana." Bohong Adrian.


"Kapan Kendra bisa berubah? Dia selalu semaunya, Kakek sudah mengingatkan agar jangan terus mengikuti keinginan Monika dan mulai serius dengan hidupnya, tetapi dia tidak mau mendengar. Baginya, Monika segalanya bahkan lebih berarti dari hidupnya sendiri." Tuan Dirga menerawang jauh mengingat saat dia menasehati Kendra.


Namun cucunya yang sudah dibutakan oleh cinta, selalu saja tidak mau mendengarkan apa yang dia katakan. Entah kenapa, Tuan Dirga selalu merasa kalau Monika hanya memanfaatkan cucunya dan tidak tulus menerima cinta Kendra.


"Kakek, kenapa Kakek harus bingung? Masih ada aku yang bisa meneruskan usaha Kakek. Bukankah Kakek sudah tahu bagaimana kemampuan aku? Aku bisa memimpin perusahaan dan membawa perusahaan menjadi perusahaan property nomor satu di tanah air." Adrian nampak begitu percaya diri mempromosikan kemampuannya pada Tuan Dirga.


"Aku tahu kamu mampu, Adrian. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, lima puluh persen saham perusahaan adalah milik Kendra. Kakek hanya memiliki tiga puluh persen, sisanya saham orang tua kamu dan yang lainnya," ucap Tuan Dirga.


"Bukankah kalau aku bisa menggabungkan saham Kakek dan yang lainnya, bisa seimbang dengan saham milik Kendra? Aku minta kakek mempertimbangkan kembali dengan rencana Kakek yang akan mengangkat Kendra sebagai penerus, karena aku lebih kompeten dari Kendra."


Memang benar kamu lebih bisa diandalkan untuk saat ini, tapi aku khawatir perusahaan akan hancur karena kamu terlalu terobsesi, batin Tuan Dirga.


"Kita lihat saja nanti, sampai Kendra ditemukan."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...