Again My Life

Again My Life
Bab 30 Dikira Plagiat



Hari-hari pun terus berlalu, kini Kendra sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya. Penampilannya sungguh memukau, pakaian sangat pas di tubuhnya yang tegap dan terlihat stylish. Kendra dan Abimanyu berangkat berdua untuk presentasi proposal tender ke kantor kementerian.


Para pegawai perempuan banyak yang terpesona dengan ketampanan dan penampilan Kendra. Apalagi semua yang melekat di tubuhnya adalah barang-barang branded yang bernilai fantastis. Namun, Kendra yang cuek tidak begitu memperdulikan tatapan memuja ataupun bisik-bisik para pegawai itu yang sampai di telinganya.


"Ken, kenapa aku merasa menyesal menemani kamu ke sini," bisik Abimanyu.


"Kenapa?" tanya Kendra.


"Lihat! Para wanita di sini begitu terpesona padamu, membuat aku yang ada di samping kamu menjadi tak terlihat," ucap Abimanyu pelan.


"Terima nasib saja, Abi. Sudahlah, jangan terlalu dipedulikan! Aku sedang menyusun kata-kata pembuka untuk presentasi nanti," tukas Kendra.


Keduanya pun langsung memasuki ruang yang sudah disiapkan untuk presentasi para peserta tender. Kendra pun menyalami peserta tender lain yang dilewatinya sebelum dia duduk. Namun, saat baru saja Kendra mendudukkan bokongnya, tanpa sengaja matanya melihat arah Al yang sedang menatapnya dengan lekat. Kendra pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan pada Al.


"Ken, kenapa CEO Putra Group terus saja melihat ke arah kamu. Apa dia menganggap kita saingan terberatnya?" bisik Abimanyu.


"Mungkin dia sedang merindukan putranya yang sudah tiada dan menganggap aku mirip dengan putranya," jawab Kendra asal.


"Bisa jadi Ken. Aku dengar penyebab utama kematian putranya itu karena dia telah diracun." Lagi-lagi Abimanyu berbisik pada Kendra.


Degh!


Dada Kendra seperti terhantam batu besar mendengar apa yang Abimanyu katakan. Dia tidak menyangka ternyata sudah menjadi rahasia umum kalau kematiannya karena racun dari Keluarga Austin. Kendra pun hanya tersenyum getir saat mengingat hal itu. Ternyata dia dan Kendra memiliki nasib yang sama, sama-sama diracuni oleh orang yang mereka percayai.


Tidak berapa lama kemudian, acara presentasi pun di mulai. Satu per satu peserta tender memperlihatkan rancangan yang dibuatnya di depan tim penilai. Sampai akhirnya giliran Kendra yang masuk ke ruangan khusus untuk presentasi di depan tim penilai.


Kendra pun mengucapkan kata-kata pembuka dengan sangat apik dan lugas. Lalu dia menjelaskan proposal dan memperlihatkan rancangan rumah sakit yang dibuatnya. Namun, saat dia sedang mempresentasikan rancangannya, salah satu tim penilai memotong ucapan Kendra.


"Maaf Tuan Kendra, apa Anda yakin kalau rancangan yang anda buat ini adalah hasil kerja Anda? Soalnya rancangan Anda ini sudah dipresentasikan oleh perusahaan Angin Ribut," tanya tim penilai.


"Saya yakin, Tuan. Saya sendiri yang membuat rancangannya," jawab Kendra dengan penuh keyakinan.


"Coba Anda lihat sendiri! Bukankah rancangan ini sangat mirip dengan yang Anda presentasikan. Ini milik PT. ANGIN RIBUT yang mendapatkan giliran presentasi kemarin," tunjuk salah satu tim penilai.


Kendra pun melihat dengan seksama rancangan milik PT. ANGIN RIBUT, yang memang benar-benar mirip dengan apa yang dibuatnya. Namun, akhirnya dia menemukan celah untuk membuktikan keaslian gambar yang dia buat.


"Tuan, bisa Anda tanyakan pada peserta yang mempresentasikan rancangan itu, apa makna dari tulisan AL1 dan seterusnya yang ada pada kedua gambar itu. Tolong tanyakan, letaknya di mana? Kalau memang itu asli mereka yang merancang dan saya yang plagiat, pasti mereka akan menjawab dengan tepat." Kendra bicara dengan percaya diri.


"Baik, sekarang saya yang akan mengetes Anda Tuan Kendra. Coba Anda sebutkan maknanya apa dan letaknya di mana saja," tanya salah satu tim penilai yang penasaran siapa sebenarnya yang sudah plagiat.


"Sebenarnya saat saya membuat rancangan rumah sakit ini, saya selalu teringat paa kekasih saya yang bernama Allana sehingga saya menyingkat namanya dengan tulisan AL. Untuk letaknya ada di lantai atas yang merupakan ruang direktur, di lantai bawah yang merupakan poli anak dan di taman rumah sakit."


Meskipun sebenarnya malu, menceritakan hal pribadi di forum resmi. Akan tetapi mau tidak mau dia menceritakannya juga. Karena Kendra tidak mau dianggap sebagai plagiat.


"Baiklah, untuk hasilnya akan kamu beritahukan nanti," ucap tim penilai.


Setelah Kendra mengakhiri persentasinya, dia pun segera menemui Abimanyu yang setia menunggu. Saat Kendra sudah berada duduk di samping Abimanyu. Barulah di mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kenapa Ken? Mereka puas dengan hasil presentasi kamu?" tanya Abimanyu.


"Ada yang plagiat hasil kerja aku. Padahal setiap pulang kerja aku selalu mengunci ruangan. Kenapa masih bisa kebobolan juga?" tanya Kendra dengan menghela napasnya berat.


"Besok kita ganti kunci ruangan kamu aja. Bagaimana kalau yang pakai sidik jari atau pemindai mata," tanya Abimanyu.


"Tidak usah! Aku ingin tahu, siapa yang berani masuk tanpa ijin ke ruangan aku dan mengambil barang penting. Sudahlah, ayo kita pulang. Tapi aku mau ke rumah sakit dulu," ajak Kendra.


"Ngapaink ke rumah sakit? Apa karena ada yang plagiat, kamu jadi sakit?" tanya Abimanyu cemas.


"Bukan karena itu aku sakit dan butuh ke rumah sakit," sangkal Kendra.


"Lalu karena apa?" tanya Abimanyu semakin cemas.


"Aku sakit malarindu dan obatnya ada di rumah sakit internasional Mahardika," jawab Kendra tanpa beban. "Aku kangen dengan anak dan istriku."


Kendra langsung berlalu pergi menuju ke parkiran. Dia ingin sekali bertemu dengan Allana. Karena setelah dari taman buah itu, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Allana akibat kesibukannya mempersiapkan presentasi proposal tender.


"Ya Tuhan, sahabatku ternyata sudah bucin sebucin-bucinnya pada dokter cantik itu," ejek Abimanyu seraya mensejajarkan langkahnya dengan Kendra.


"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya merindukan orang yang kita cintai karena kamu belum pernah jatuh cinta," ledek Kendra.


Dua sahabat itu berjalan dengan langkah panjangnya karena ingin secepatnya sampai di parkiran. Sampai saat mereka akan berbelok menuju ke parkiran, Kendra berpapasan dengan Al yang juga sama akan menuju ke mobilny.


"Tuan Kendra boleh bicara sebentar?" tanya Al.


"Boleh, Pah eh Tuan. Maaf, saya sellau merasa bertemu dengan papa saya setiap kali bertemu dengan Anda," ucap Kendra.


Kenapa perasaannya sama denganku? Aku pun selalu merasa dekat dengan Dika jika berada di dekat dia. Apalagi, tadi rancangannya mengingatkan aku pada Dika yang selalu memberi tanda di titik tertentu dengan menuliskan inisial nama istrinya, batin Al.


"Bagaimana, kalau kita makan siang bersama?Istriku pasti sudah memasak makanan yang enak untuk makan siang," tawar Al.


"Kalau sekiranya tidak merepotkan, saya setuju Tuan." Kendra langsung menyetujui ajakan Al karena dia pun memang sangat merindukan masakan mamanya.


"Jangan sungkan ya! Jangan panggil Tuan, kalian boleh memanggilku Om,"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...