Again My Life

Again My Life
Bab 17 Hampir Saja



Hari ini, rencananya Kendra akan pergi ke kampus untuk mengurus skripsinya. Dia sudah siap dengan jaket hoodie-nya. Abimanyu yang melihat penampilan sahabatnya hanya tersenyum tipis. Dia senang karena akhirnya Kendra mau memikirkan hidupnya. Bukan mengikuti terus apa yang Monika inginkan.


"Ken, kamu tuh ganteng, tajir, kalau orang lain, mereka sudah pasti menggunakan wajah dan kekayaannya untuk menggaet banyak wanita cantik. Tapi kamu, malah dipermainkan oleh satu wanita," sindir Abimanyu.


"Iya kamu benar. Aku juga gak ngerti kenapa Kendra bisa sebodoh itu," celetuk jiwa Aldrich.


"Kamu salah makan, Ken?" tanya Abimanyu bengong. Dia heran, Kendra yang biasanya narsis bisa menghina dirinya sendiri.


Ya ampun aku lupa. Kendra tidak pernah merendahkan dirinya selain di depan Monika, batin Kendra.


"Sudahlah jangan dibahas! Aku berangkat ke kampus dulu," ucap Kendra segera mengalihkan pembicaraan.


Dia pun langsung bergegas ke luar dengan menyambar helm full face-nya. Dia melupakan sesuatu sehingga meninggalkannya begitu saja. Hingga saat dia berada di lampu merah, tanpa sengaja motornya bersebelahan dengan mobil Monika.


Kendra yang sedang mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling, tanpa sengaja dia bertemu pandang dengan Monika yang sedang memperhatikan motor miliknya. Yang memang hanya beberapa orang yang memilikinya di ibu kota.


"Kendra ...," lirih Monika.


Degh!


Jantung Kendra langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak menyangka Monika seperti mengenalinya. Untung saja lampu hijau menyala sehingga dia langsung menancap gas menuju ke kampusnya.


Sial! Gara-gara lupa pakai masker, hampir saja ketahuan sama Monika. Untung saja aku pakai helm. Tapi, dia seperti mengenali motorku. Sudah pasti dia hapal karena dulu Kendra sering mengajaknya jalan-jalan meskipun Monika sering menolaknya, batin Kendra.


Sesampainya di kampus, dia langsung menuju ke ruang dosen untuk menemui dosen pembimbingnya. Namun sayang, dosen yang Kendra cari sedang ada kelas. Sehingga dia pun memutuskan untuk menunggu di kantin.


Saat dia menuju ke kantin, tanpa sengaja Kendra berpapasan dengan temannya yang menjadi dosen, yang dulu pernah belajar satu kelas dengannya. Hanya saja, temannya itu lulus tepat waktu, sedangkan Kendra harus menerima nasib jadi mahasiswa abadi karena dia mengabaikan skripsinya.


"Kendra, kan? Apa kabar, Bro? Masih jalan dengan Monika?" tanya Denis temannya Kendra.


Sejenak Kendra termenung, dia memutar kembali memorinya. Saat sudah tahu siapa orang di depannya, Kendra pun langsung tersenyum ramah padanya.


"Iya, Bro! Keren, Den ini kamu ngajar di sini. Kamu tahu Pak Siswanto di ruang berapa? Tadi aku ke ruang dosen katanya sedang ada kelas," tanya Kendra.


"Oh, Pak Sis. Masa kamu lupa, Ken. Pak Sis kan lebih sering di gedung B. Lagipula sebentar lagi istirahat, kita tunggu saja di kantin. Kebetulan aku sedang tidak ada kelas," ucap Denis.


"Boleh, kalau kamu mau nemenin." Kendra pun tersenyum ramah pada Denis membuat temannya itu merasa aneh dengan sikap Kendra.


Tumben dia senyum semanis gulali. Biasanya dia hanya tersenyum manis pada Monika sedangkan pada orang lain, paling juga dia senyum tipis. Tapi syukurlah, dia tidak se-cuek dulu lagi, batin Denis.


Kendra dan Denis larut dalam obrolan seraya menikmati semangkuk bakso langganan Kendra semasa kuliah dulu. Sampai akhirnya, Denis bertanya hal yang sedikit sensitif padanya.


"Ken, memangnya kamu sudah putus dengan Monika? Aku dengar-dengar dari infotainment dia berpacaran dengan Adrian. Bahkan foto-foto syur mereka bocor ke medsos," tanya Denis.


Sedikit pun tidak terlihat kesedihan saat Denis menceritakan tentang Monika yang pacaran dengan Adrian sepupunya. Tentu saja hal itu membuat temannya semakin pada Kendra.


"Kamu benar-benar sudah berubah, Ken. Tapi aku salut dengan perubahan kamu sekarang. Sebenarnya, dari dulu aku tidak suka melihat kamu berhubungan dengan Monika, karena aku tahu dia hanya ingin memanfaatkan kamu saja," ungkap Denis.


"Sudahlah! Jangan ungkit terus Monika. Aku sudah move on dari dia. Karena pacarku yang sekarang memiliki segalanya yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Ayo ke ruang dosen! Bel istirahat sudah berbunyi," ajak Kendra.


"Ayo!" Denis pun bangun dari duduknya.


Dia berjalan beriringan dengan Kendra. Denis sangat senang melihat Kendra yang mau menyelesaikan kuliahnya. Karena baginya, Kendra dewa penolong. Meskipun Kendra orangnya cuek, tapi dia tidak segan untuk membantu temannya. Termasuk Denis yang sering dibantu oleh Kendra.


Sesampainya di ruang dosen, ternyata Pak Siswanto sudah ada di mejanya. Kendra pun langsung menghampiri dosen pembimbingnya.


"Siang, Pak!" sapa Kendra.


"Siang, Ken. Duduk!" ucap Pak Siswanto. "Bagaimana, sudah siap maju ke sidang?" tanyanya kemudian.


"Iya, Pak!" sahut Kendra.


"Sini Bapak lihat skripsi-nya!" pinta Pak Siswanto.


Kendra pun langsung memberikan skripsi miliknya pada Pak Siswanto. Dosen pembimbingnya langsung memeriksa apa yang Kendra kerjakan. Sampai akhirnya dosen itu benar-benar merasa terkejut saat melihat hasil kerja mahasiswa abadinya itu.


"Kendra, apa benar ini kamu buat sendiri?" tanya Pak Siswanto.


"Iya, Pak! Memangnya kenapa? Apa masih ada yang salah?" tanya Kendra heran.


"Tidak, hasil kerjamu sempurna. Bapak merasa tidak percaya kalau ini hasil kerja kamu. Apa kamu menyuruh orang untuk membuatnya?" tanya Pak Siswanto menyelidik.


"Tidak, Pak! Aku mengerjakannya sendiri. Sebenarnya ini file lama, aku hanya revisi," jelas Kendra.


"Begitu ya! Seharusnya kamu sudah lulus lima tahun yang lalu kalau skripsi kamu ini, kamu ajukan dulu. Tapi sayang, kamu mengabaikannya," ungkap Pak Siswanto.


"Iya, Pak! Itu memang kesalahan aku," sesal Kendra.


Syukurlah kamu sudah berubah. Sangat disayangkan kepandaiannya disia-siakan begitu saja hanya karena seorang wanita.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...