
Sementara itu setelah Tuan Dirga menyuruh Han, asistennya membawa Adrian ke rumah sakit, dia memanggil Abimanyu ke ruangannya. Abimanyu yang memang menunggu di luar ruangan, dia pun langsung menemui Tuan besarnya.
"Permisi, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Abimanyu setelah dia disuruh masuk.
"Duduklah dulu!" suruh Tuan Dirga.
Abimanyu pun mengikuti apa yang tuannya katakan. Dia langsung mendudukan bokongnya di kursi depan meja kerja Tuan Dirga. Setelah Abimanyu terlihat duduk, Tuan Dirga pun langsung bicara.
"Abi, kamu lihat apa yang terjadi tadi?" tanya Tuan Dirga dengan menatap lekat Abimanyu.
"Iya, Tuan!"
"Kamu tahu, aku tidak suka saat melihat mereka meremehkan Kendra. Tapi aku juga tidak bisa membelanya. Karena apa? Karena mereka belum melihat hasil kerja Kendra yang nyata," Tuan Dirga menghela napas sejenak.
"Meskipun Kakek tahu, sebenarnya Kendra sering membantu di belakang jika terjadi masalah dengan perusahaan. Akan tetapi, mereka butuh bukti yang terlihat oleh mata mereka. Kakek minta, bujuk dia agar mau bekerja di perusahaan dengan posisi penting. Bukan hanya sekedar office boy," lanjutnya.
"Kakek tahu, Kendra pernah jadi office boy?" tanya Abimanyu kaget.
"Kamu pikir, kenapa Kakek mendadak terkena serangan jantung? Kalau bukan karena kaget. Sudahlah! Kakek tidak mau mendengar dia menolak lagi. Bagaimanapun caranya, kamu harus bisa membujuknya agar bisa bekerja di perusahaan."
"Baik, Kek. Akan aku usahakan. Tapi sepertinya tidak akan sulit membujuk dia. Semenjak dia kembali setelah menghilang, Kendra sudah banyak berubah, Kek." terang Abimanyu.
"Syukurlah! Kamu sudah boleh bekerja kembali," suruh Tuan Dirga.
"Baik, Kek. Permisi!" Abimanyu pun langsung ke luar dari ruangan Tuan Dirga.
Dia mencoba menghubungi Kendra. Namun, panggilan teleponnya tidak diangkat. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk pulang lebih awal ke apartemennya. Berharap Kendra sudah berada di sana.
Namun, saat dia berada di lampu merah, tanpa sengaja mobilnya bersebelahan dengan mobil Monika. Abimanyu yang iseng mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja melihat Monika yang sedang bermesraan dengan seorang lelaki.
"Cih! Dasar Medusa! Bukan hanya Kendra yang dia permainkan, ternyata Adrian juga. Hanya Monika jadikan ATM berjalan," sungut Abimanyu.
Tak ingin ketahuan kalau sedari tadi dia memperhatikan apa yang Monika lakukan, Abimanyu pun langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau kalau sampai Monika tahu sedang dia intip.
Tidak berapa lama kemudian, lampu hijau pun menyala. Abimanyu pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak butuh waktu lama, mobilnya sudah memasuki basemen apartemen.
"Semoga saja, Kendra sudah pulang. Aku harus bicara secepatnya sama dia," gumam Abimanyu.
Namun, ternyata harapan tinggal harapan. Saat dia memasuki apartemen, ternyata masih nampak kosong seperti tak berpenghuni. Abimanyu pun langsung menjatuhkan badannya ke sofa yang empuk.
"Pergi ke mana tuh anak? Kenapa belum pulang juga. Padahal tadi dia sudah pulang duluan." Lagi-lagi Abimanyu hanya bisa bicara karena sahabatnya belum pulang.
Abimanyu terus menggerutu sendiri sampai dia lelah dan tertidur di sofa. Saat dia bangun, nampak Kendra sedang makan sayur sup dengan lahap.
"Ken, dapat dari mana? Kenapa aku gak dikasih?" tanya Abimanyu.
"Aku dibeliin Bu Dokter. Tadi Pas pulang, aku rasanya pengen banget makan sup." Kendra melanjutkan makannya sendiri. Dia tidak peduli dengan Abimanyu yang terus memperhatikannya.
"Ken bagi aku dong!" rayu Abimanyu.
"Gak bisa Abi! Ini pemberian dari Allana. Dia pesan, agar aku menghabiskan makanannya," elak Kendra.
Kendra tetap tidak peduli dengan apa yang Abimanyu katakan. Sampai saat sup yang di mangkuk habis tak bersisa, barulah Kendra bicara.
"Adrian gimana keadaannya? Apa dia masih hidup?" tanya Kendra.
"Masih. Oh iya, Ken. Kakek memintamu untuk bekerja di perusahaan sebagai Kendra bukan Arga," ucap Abimanyu seraya tangannnya terus mengetik di ponselnya.
"Maksud kamu?" Kendra menautkan kedua alisnya, tidak mengerti apa yang Abimanyu katakan.
"Maksudnya, kamu kerja jadi staf bukan office boy. Aku sih berharap, kamu jadi bawahan aku. Biar aku bisa nyuruh-nyuruh kamu," ucap Abimanyu.
"Memang kalau nyuruhnya sekarang, gak bisa ya!"
"Nggak! Aku takut kena bogem mentah seperti Adrian," sahut Abimanyu. "Ken, sudah saatnya kamu memperlihatkan pada dunia siapa Kendra Argantara sebenarnya. Kenapa selama ini kamu selalu ingin menyembunyikannya."
Mendapat pertanyaan dari Abimanyu, Kendra pun memutar kembali ingatan si pemilik tubuh. Sampai akhirnya dia tahu kenapa Kendra selalu mengalah dan berpura-pura menjadi orang biasa.
Flashback on
Sore itu, Kendra kecil sedang bermain bersama Adrian. Keduanya sedang asyik bermain play station. Namun, lama kelamaan Adrian menjadi marah karena dia tidak bisa mengalahkan Kendra.
"Kendra, Aku tidak suka bermain denganmu. Kamu selalu mengalahkan aku. Gak di sekolah, gak di rumah. Kamu selalu saja menang. Besok jangan main bersamaku! Cari saja teman yang baru, yang mau kamu kalahkan," ketus Adrian.
"Tapi kau maunya main sama Kakak," ucap Kendra pada sepupunya.
"Kalau mau main denganku, kamu tidak boleh mengalahkan aku. Kamu harus berpura-pura tidak bisa di depan orang lain," ucap Adrian
"Baiklah, tapi Kakak janji harus main denganku." Kendra mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya! Tapi kamu juga harus janji tidak boleh mengalahkan aku." Adrian pun menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Adrian.
"Iya, aku janji!"
Flashback off
"Jadi semuanya karena Adrian? Dia yang sudah meminta agar kamu menyembunyikan kemampuan yang kamu miliki?" tanya Abimanyu.
"Iya, makanya waktu itu kakek mencarikan aku teman baru, agar aku bisa jadi diri aku sendiri. Tapi aku sudah terlanjur janji pada Adrian dan juga mamanya," jelas Kendra
"Jadi, bagaimana? Apa kamu terima tawaran kakek atau tidak? Kalau kamu menerimanya, besok kamu mulai kerja. Nanti berangkatnya bareng sama aku."
"Baiklah! Mulai besok aku bekerja di kantor."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...terima kasih!...