Again My Life

Again My Life
Bab 31 De javu



Makan siang yang tanpa direncanakan itu, begitu dinikmati oleh Kendra. Rasa rindunya pada mama dan papanya kini dapat terobati. Begitupun dengan Al dan Icha yang merasa sangat senang dengan kedatangan Kendra.


"Ayo Nak Kendra dimakan, jangan sungkan ya! Tante senang kalian makan siang di sini." Icha langsung menyimpan makanan kesukaan Dika ke piring Kendra. Membuat pria tampan itu tersenyum getir.


Dia merasa bahagia sekaligus sedih. Dia bahagia karena masih diberi kesempatan untuk bersama dengan keluarganya lagi. Tetapi dia juga sangat sedih karena harus memanggil tante pada mamanya sendiri.


"Terima kasih, Tan. Saya memang sangat suka dengan ayam krispi," ucap Kendra.


"Wah ternyata man kesukaan kamu sama dengan putra sulung Tante. Tapi sayang dia sudah tiada." Awalnya wajah Icha nampak berbinar tetapi langsung sendu saat mengingat Dika.


Melihat mamanya yang terlihat sedih, Kendra pun langsung bicara, "Kalau Om dan tante tidak keberatan, saya mau jadi putra kalian. Karena orang tuaku juga sudah tiada."


"Terima kasih. Kehadiran kamu memang menjadi pengobat kerinduan kami pada putra kami yang sudah tiada," ucap Al. "Nak Abi juga jangan sungkan pada kami. Jangan karena kita sering bersaing dalam tender lalu hubungan kita menjadi seperti musuh," lanjutnya.


"Iya, Om!" sahut Abimanyu.


Abimanyu hanya terdiam mendengarkan obrolan Kendra dan Tuan Al istrinya. Dia tidak menyangka Kendra bisa dekat dengan lawan bisnisnya. Padahal sebelumnya mereka hanya saling menyapa tiap kali bertemu dalam acara tertentu.


Setelah acara makan siang itu selesai, Kendra dan Abimanyu pamit untuk pulang. Namun, Kendra tidak kembali ke perusahaannya. Dia langsung menuju ke rumah sakit untuk menemui Allana, sedangkan Abimanyu kembali ke perusahaan.


Saat sampai di rumah sakit, dia mendapati Allana sedang berbincang dengan Richard di dekat tempat pendaftaran. Entah apa yang mereka bicarakan karena sepertinya mereka terlibat perbincangan yg serius.


"Sayang, sudah makan siang?" tanya Kendra saat dia sudah berada di samping Allana yang membelakanginya.


"Anda siapa?" tanya Richard dengan nada yang tidak suka atas kedatangan Kendra.


"Aku calon suaminya, benar kan sayang? Katanya mau aku pijat kakinya yang pegal. Ayo kita ke ruangan kamu!" Kendra langsung merangkul pinggang Allana dan membawanya pergi menjauh dari Richard.


"Ken, tunggu dulu! Aku masih ada perlu dengan Dokter Richard," tolak Allana mencoba melepaskan rangkulan Kendra.


"Nanti saja, ayo ke ruangan kamu!" Nada Kendra langsung berubah serius membuat Allana langsung mengerutkan keningnya.


Cepat sekali perubahan mood-nya, di depan Richard dia manis sekali. Tapi sekarang serius sekali, batin Allana.


Sampai di ruangan Allana, Kendra langsung mendudukan Allana di sofa. Lalu dia berjongkok di depan gadis yang dicintainya. Perlahan dia membuka sepatu flat yang Allana pakai, lalu dia menyimpan kaki Allana di pahanya dan mulai memijat betis indah itu secara perlahan.


Allana seperti de javu dengan apa yang Kendra lakukan. Dia sering mendapatkan perlakuan yang sama saat bersama dengan Dika dulu. Tanpa terasa, setetes air maa jatuh ke pipinya.


Melihat Allana yang meneteskan air matanya, Kendra malah menjadi bingung. Sehingga dia pun bertanya pada ibu hamil itu. "Apa pijatan terlalu keras sehingga menyakiti kamu?"


"Tidak! Kamu tahu dari mana kalau kakiku sedang pegal?" tanya Allana.


"Aku melihat postingan kamu. Aku pikir untuk segera datang ke sini dan memberikan pijatan sehingga pegalnya menjadi berkurang."


"Ken, jangan terlalu baik padaku. Aku tidak mau salah paham padamu."


"Kamu tidak akan salah paham, karena apa yang aku lakukan, datang dari hati. Lana, tolong buka hatimu untuk aku!"


"Aku belum bisa, karena hati aku masih dipenuhi oleh suami aku. Aku hanya akan menganggap kamu sebagai sahabat aku," ucap Allana.


Setelah lumayan lama, Kendra memijat kaki Allana. Akhirnya dia pun menyudahinya dan langsung duduk di samping wanita yang selalu dia rindukan. Kendra menyenderkan kepalanya di bahu Allana kemudian memejamkan matanya.


"Lana, kamu tahu, ada orang yang sudah mencuri rancangan aku dan mereka mengira kalau aku sudah plagiat hasil karya orang lain. Padahal aku tidak pernah melakukannya," adu Kendra.


"Ken, apa tidak terlalu dekat kamu seperti ini sama aku?"


"Tidak!" Kendra langsung membuka matanya dan melihat ke arah wajah Allana. Terlihat di sana bibir tipis Allana yang membuat Kendra mulai kehilangan kontrol dirinya.


Tanpa permisi, Kendra langsung meraup bibir tipis itu. Napas memburu dengan hasrat yang membuncah di dadanya. Entah setan dari mana, Allana menjadi terbuai dengan apa yang Kendra lakukan. Meskipun pikirannya menolak tapi tubuhnya begitu menikmati dan menginginkan lebih dari itu.


Kendra yang sudah tidak bisa mengontrol perasaannya, dia segera melepaskan pagutannya pada Allana. "Lana, maafkan aku! Aku tidak bisa mengendalikan diriku jika bersentuhan dengan kamu."


"Jangan terlalu dekat denganku!" ujar Allana dengan memalingkan wajahnya ke samping. Dia merasa tidak suka mendengar Kendra meminta maaf padanya.


"Lana, jangan marah! Mau ulangi lagi!? Anggap saja aku teman tapi mesra kamu. Kalau tidak teman hidup kamu. Aku akan sangat senang jika itu terjadi," goda Kendra.


"Mau kamu, udah sana pulang! Aku mau kerja," usir Allana langsung berdiri dari duduknya.


Kendra pun langsung mengikuti Allana dan mencekal tangan ibu hamil itu. "Tunggu sebentar! Aku belum pamit dengan bayiku."


Lagi-lagi apa yang Kendra lakukan membuat Allana mematung. Dia merasa kalau Dika lah yang sekarang sedang mencium perutnya yang membuncit. Setiap kali Kendra berinteraksi dengan bayi di perutnya, Allana selalu merasakan kehadiran Dika bersamanya.


"Sayang, baik-baik di perut Mommy ya! Papa kerja dulu. Do'akan Papa agar tendernya menang," ucap Kendra lalu mencium kembali perut Allana.


"Ken, apa kamu ikut tender yang rumah sakit internasional milik pemerintah?" tanya Allana.


"Iya, dari mana kamu tahu?" tanya Kendra.


"Karena pengadaan alat kesehatan dan laboratorium-nya, JS Group yang pegang," jawab Allana.


"Oh iya Lana, Apa papa bisa melihat rekaman satelit yang terjadi beberapa bulan yang lalu?" tanya Kendra.


"Kalau satelit milik AP Technology mungkin bisa, tapi gak tahu kalau milik yang lain. Memangnya kenapa?" tanya Allana heran.


"Aku hanya ingin melihat kejadian di hari aku jatuh ke laut bersama dengan mobilku. Yang waktu kamu menolong aku,"


"Mungkin bisa, tapi entahlah. Coba saja kamu bicara dengan papa. Meskipun terlihat angkuh, sebenarnya papa baik. Dia tidak pernah sungkan untuk menolong orang," suruh Allana.


"Aku tahu. Tidak jauh beda dengan putrinya. Meskipun kadang terlihat judes tapi hatinya baik. Aku tidak meragukannya lagi soal hal itu. Aku pulang ya!"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih!...