Again My Life

Again My Life
Bab 25 Ulah Adrian



Mengenai Kendra yang akan memegang tender dari pemerintah, begitu cepat berita itu sampai ke telinga Adrian. Membuat dia menjadi meradang karena bukan dia yang dipilih kakeknya tetapi malah Kendra yang menurutnya tidak punya pengalaman apa-apa tentang proyek besar itu.


Dia pun langsung mencari cara agar bisa menggagalkan penunjukkan Kendra dalam pengerjaan proyek itu. Meskipun dia selalu bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya siapa orang yang sudah diam-diam memberi tahu setiap rencana Tuan Dirga.


"Meskipun aku gak tahu siapa yang diam-diam membantuku, tapi aku berterima padanya karena selalu membocorkan rencana kakek," gumam Adrian.


Saat dia sedang memikirkan cara agar bisa merayu kakeknya untuk membatalkan penunjukkan Kendra, terdengar pintunya ada yang mengetuk. Adrian pun segera menyuruhnya untuk masuk. Nampak pintu dibuka dari luar oleh Aurel. Sekretaris Adrian yang selalu terlihat seksi itu, berjalan lenggak-lenggok menghampiri Adrian di kursi kebesarannya.


"Sayang, kenapa tegang begitu? Apa perlu aku menidurkannya?" Aurel langsung duduk di pangkuan Adrian.


"Aurel, kamu pintar sekali menggodaku. Kenapa semakin hari, squisy kamu semakin menantang aku?" Adrian berusaha menahan godaan Aurel yang mengelus benda pusaka-nya.


"Karena aku yang paling mengerti Mas Adrian bukan Monika."


Adrian yang sudah tidak bisa menahan hasratnya, dia langsung menyambar bibir merah Aurel yang semerah buah delima. Mereka berdua berpagutan dengan penuh gairah hingga satu persatu kancing kemeja Adrian terbuka dan memperlihatkan bulu-bulu halus di dadanya.


Saat keduanya sedang mabuk dalam gairah yang menggebu, tanpa mereka sadari pintu ruangan Adrian ada yang membukanya. Dengan tersenyum remeh, Kendra yang maasuk ke dalam ruangan Adrian, langsung bertepuk tangan dengan suara yang cukup keras.


Prok prok prok


"Wow ... Kalian sungguh hebat sekali! Kantor dijadikan tempat untuk bercumbu. Sudah seperti hotel saja," seru Kendra. "Bagus bagus, aku sudah mengirim fotonya pada Monika. Tidak tidak, jangan hanya pada Monika saja, tapi kakek jug harus tahu," lanjutnya.


"Kurang ajar sekali kamu, Kendra! Masuk ke dalam ruangan orang tapi tidak mengetuk pintu dulu. Mau apa kamu ke sini?" hardik Adrian.


"Santai dong, Kak! Aku hanya mau minta tanda tanganmu. Ternyata benar kata orang, tidak mungkin seseorang bisa bersama kalau tidak ada kesamaan. Ternyata itu terjadi pada sepupuku dan mantan tunanganku. Yang satu buaya, yang satu ular. Kalian sama-sama melata." Lagi-lagi Kendra tersenyum miring pada Adrian.


"Hentikan ucapanmu!" Adrian langsung bangun dan berjalan mendekati Kendra. Namun sebeum dia sampai ke depaaan Kendra, sepupunya itu langsung menghentikannya.


"Stop di tempatmu! Lihat barangmu belum terbungkus rapi! Sebaiknya kamu naikkan dulu resletingnya dan ... Ah sudahlah! Aku tidak mau mengatakannya. Aku pergi dulu, lain kali saja aku ke sini lagi." Setelah mengganggu kesenangan sepupunya, Kendra pun langsung pergi begitu saja.


Sebenarnya dia tidak punya tujuan jelas masuk ke dalam ruangan Adrian. Hanya saja, di luar banyak yang menunggu sepupunya itu. Mereka sudah berkali-kali mengetuk pintu, tetapi tidak di suruh masuk juga.


"KENDRAAAA ....!!!"


Adrian begitu kesal merasa di permainkan oleh sepupunya. Dia secepatnya menaikkan resleting celananya yang sudah terbuka karena ulah Aurel. Setelah bajunya rapi, dia pun kebali menghampiri Aurel yang masih berdiri membelakangi sedang merapikan bajunya.


"Aurel, kamu kirim pesan pada semua direktur dan para pemegang saham untuk makan malam bersama di restoran Pasola. Katakan pada mereka kalau aku yang mentraktir," suruh Adrian.


"Baik, Mas!"


"Suruh juga yang berada di luar untuk masuk ke ruanganku,"


Tunggu saja, Kendra! Aku yakin, semua petinggi perusahaan akan mendukungku. Bagi mereka, kamu hanya anak manja yang suka berbuat sesuka hati. Aku pastikan, kalau akulah yang akan mengerjakan proyek itu.


...***...


Sepertinya, Adrian begitu pandai menghasut semua petinggi perusahaan dengan baik. Buktinya, keesokan harinya mereka semua protes pada Tuan Dirga tentang penunjukkan Kendra sebagai pemegang proyek itu. Tentu saja hal itu membuat Tuan Dirga menjadi kaget. Sehingga dia menyuruh semuanya untuk berkumpul di ruang meeting.


"Abi, cepat panggilkan Kendra! Kakek ke ruang meeting duluan," suruh Tuan Dirga.


"Baik, Tuan!" sahut Handoko


Abimanyu pun bergegas ke ruangan Kendra, sedangkan Tuan Dirga ke ruang meeting. Saat sampai di ruangan Kendra, nampak pemuda itu sedang serius membuat rancangan rumah sakit. Sesaat Abimanyu begitu takjub melihat gerakan tangan Kendra yang sangat terlatih. Dia tidak pernah menyangka, Kendra begitu mahir membuat perancangan bangunan yang terkonsep dengan baik.


"Ken, dipanggil Kakek! Kamu ditunggu di ruang meeting" ujar Abimanyu dengan mata yang tidak lepas dari hasil gambar Kendra.


"Sebentar, aku menyimpan ini dulu." Kendra pun segera menyimpan hasil kerjanya yang belum selesai ke dalam laci, kemudian dia pun menguncinya.


"Ayo, Ken! Kakek sudah menelpon aku, pasti menyuruh kita untuk datang secepatnya," ajak Abi.


"Ayo!" Kendra pun langsung berdiri dan mengikuti Abimanyu yang sudah berjalan lebih dulu.


Saat sampai di ruang meeting, terdengar suara orang berbisik-bisik membicarakan Kendra.


"Orang yang selalu semuanya disuruh memegang proyek penting. Bagaimana kita bisa menang tender kalau dia yang mengerjakannya."


"Anda benar, Tuan. Dia tidak cocok menjadi pewaris Argantara Group. Kerjanya hanya mengekor bokong kekasihnya."


"Kenapa tidak Tuan Adrian saja yang sudah jelas kompeten dan terbukti loyal pada perusahaan."


"Sepertinya Tuan Dirga pilih kasih pada cucunya."


Saat mereka sedang asyik saling berbisik di depan Tuan Dirga dan Kendra, Tuan Dirga pun langsung mengetuk meja cukup keras dengan tangannya. Telinganya terasa panas samar-samar mendengar apa yang mereka katakan.


"Terima kasih kalian sudah datang ke sini. Saya hanya ingin mengklarifikasi tentang pengerjaan tender itu. Daripada kalian terus desas-desus membicarakan hal yang tidak baik tentang cucuku, lebih baik kita lakukan polling untuk menentukan siapa yang berhak mengerjakan proyek itu." Tuan Dirga menghirup napas dalam-dalam sebelum melanjutkan bicaranya.


"Di perusahaan ini, Kendra memiliki lima puluh persen saham dan aku tiga puluh persen saham. Sekarang gabungkan saham kalian agar bisa menyaingi saham Kendra. Karena pemilik saham terbesar yang akan dianggap sebagai pemenang polling."


"Bagaimana bisa kami menyaingi Anda, Tuan?" celetuk salah satu pemegang saham.


"Kalau memang kalian tidak bisa, sebaiknya tidak usah banyak protes. Kalau pun perusahaan ini merugi tentu yang mengalami kerugian paling besar itu Kendra dan Aku. Lagipula aku yakin, meskipun Kendra belum lulus sarjana, tapi dia pasti bisa mengerjakan proyek ini dengan baik." tegas Tuan Dirga.


"Kalau kalian keberatan dan takut rugi karena Kendra yang memegang proyek ini, silakan jual saham kalian! Aku akan membelinya," ujar Tuan Dirga.


Hatinya merasa sangat kesal dengan apa yang terjadi hari ini, dia yakin pasti ada dalang yang mencoba menghasut para pemegang saham sehingga berani menentang keputusannya. Tuan Dirga pun langsung menatap tajam pada Adrian, karena dia yakin, pasti Adrian dalang dibalik semua ini.


"Tidak Tuan, kami tidak akan menjualnya."


"Kalau kalian tidak berniat menjual saham kalian, silakan pulang ke rumah masing-masing. Tapi, jika kalian ingin menjualnya, segera hubungi Abimanyu untuk mengurusnya," suruh Tuan Dirga.


Kakek benar-benar pilih kasih. Dia terus saja membela Kendra. Aku merasa seperti bukan cucunya, karena selama ini Kendra yang dia utamakan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...