Again My Life

Again My Life
Bab 43 Trik Mama



Tiga hari sudah Allana berada di rumah sakit. Selama itu pula Kendra setiap hari menemaninya, sepulang dia bekerja. Karena saat para lelaki bekerja, maka mama dan mama mertuanya yang menjaga Allana di rumah sakit. Seperti hari ini, Mitha dan Icha begitu kompak menjaga Allana dan cucu pertama mereka.


"Lana, Keano sepertinya sangat anteng ya kalau sama Kendra. Mama selalu merasa sedang di dekat Dika kalau bertemu dengan dia," tutur Icha.


"Mah, jangan ikut-ikutan dengan Mama Mitha! Setiap hari, mama dan papa terus saja memuji Kendra di depan aku," keluh Allana.


"Mama gak ikut-ikutan, sayang. Mama hanya mengatakan apa yang mama dan Papa Al rasakan saat kami berada di dekat Kendra," elak Icha.


"Benar, Jeng. Aku juga merasakan hal yang sama. Apa karena itu, Keano merasa seperti sedang berada di dekat papanya? Lana, sebaiknya kamu pertimbangkan lagi. Jangan sampai menyesal karena sudah menggantung laki-laki sebaik dan setampan Kendra," ucap Mitha.


"Sudah Mah, Lana pusing mau tidur." Allana langsung mengalihkan pembicaraan saat kedua mamanya itu bersekongkol untuk menjodohkan dia dengan Kendra.


Meskipun tidak bisa dipungkiri, kalau apa yang dikatakan oleh mamanya ada benarnya juga, tetapi Allana merasa belum waktunya untuk dia dekat lebih jauh dengan lelaki lain karena kepergian Dika belum ada satu tahun.


Tak lama berselang, Kendra datang dengan baju santainya. Selama Allana dirawat, Kendra selalu mandi dan berganti baju di kantor. Dia tidak pulang ke rumah dulu untuk mempercepat waktu agar bisa bertemu dengan Allana dan putranya.


"Sore, Tante!" sapa Kendra saat dia baru masuk ke dalam ruang perawatan Allana.


"Sore, Ken. Sudah pulang?" Mitha pun balik bertanya pada Kendra.


"Iya, Tan. Bagaimana Ano? Apa dia rewel seharian ini?" tanya Kendra dengan melihat ke dalam box bayi.


"Hari ini anteng. Tadi saja saat dia ingin mimi susu, nangis kencang," tutur Mitha.


"Syukurlah! Jadi anak hebat ya sayang," ucap Kendra dengan mengelus lembut kepala putranya.


Semua yang dilakukan Kendra tidak lepas dari pengamatan Icha dan Mitha. Mereka semakin yakin untuk menyatukan Allana dan Kendra, agar baby Keano memiliki keluarga yang lengkap.


"Jeng, tidak apa kan kalau Lana menikah dalam waktu dekat," bisik Mitha.


"Kalau calonnya Kendra, aku setuju sekali. Dia begitu perhatian pada Lana dan Ano," bisik Icha balik.


"Aku sudah buat rencana, malam ini biarkan Kendra saja yang menjaga Lana dan Ano. Biar mereka semakin kompak untuk menjaga bayi," bisik Mitha lagi.


"Sip, Mbak aku setuju!" Lagi-lagi Icha ikut berbisik pada mantan besannya.


Meskipun putranya sudah tiada, tetapi hubungan Keluarga Putra dan Wiratama semakin kompak. Apalagi para istri selalu nyambung kalau sedang mengobrol.


"Ken, apa Tante boleh minta tolong?" tanya Mitha.


"Boleh, Tan. Minta tolong apa?" tanya Kendra langsung menghadap ke arah dua wanita cantik yang sudah tidak muda lagi.


"Hari ini, Tante kurang enak badan. Sepertinya mau istirahat di rumah aja. Apa bisa kamu menjaga Lana malam ini?" tanya Mitha.


"Tante juga malam ini ada acara dengan keluarga Tante Mira. Bisa kan, kalau Kendra saja yang menjaga Lana dan Ano?" timpal Icha.


"Bisa,Tan. Jangan khawatir! Lana dan Ano pasti baik-baik saja bersama dengan Kendra."


"Tante juga mau ikut pulang sekarang saja, Ken. Baik-baik ya Ano dengan Papa Kendra." Icha langsung mengikuti Mitha untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


Sementara Allana menatap malas pada seluruh ruangan yang dia tempati. Bisa-bisanya mamanya menyuruh Kendra untuk menjaganya semalaman. Melihat raut wajah Allana yang sepertinya kesal, Kendra pun langsung duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Allana.


"Lana, kenapa tidak suka aku temani?" tanya Kendra dengan menatap Allana.


"Ken, kita tidak sedekat itu hingga kamu harus menjaga aku semalaman," lirih Allana.


"Bukankah kemarin ini, aku yang menjaga kamu semalaman saat melahirkan?"


"Iya aku salah. Saat itu, yang aku lihat bukan kamu tapi Dika suamiku. Makanya aku tidak keberatan kamu menjagaku," ucap Allana.


"Kalau aku bilang, aku adalah Dika suami kamu, apa kamu akan percaya?" Dika menatap lekat Allana. Begitupun dengan Allana yang ingin mengukur kejujuran Kendra dengan menatap balik pemuda di depannya.


Namun, saat mata mereka saling bertatapan, perasaan yang sama saat bersama dengan Dika kembali hadir di hatinya. Allana melihat Dika dalam diri Kendra.


"Dika ...," lirih Allana.


"Lana, Aku Dika yang sekarang berada dalam tubuh Kendra," ucap Kendra dengan tidak memutus pandangannya.


"Ta-ta-tapi bagaimana kamu bisa? Bukankah kamu sudah ...."


"Tuhan bermurah hati, sehingga memberi aku kesempatan untuk bersama kamu lagi. Meskipun sekarang, aku bukan Dika seperti yang kamu kenal dulu."


Keduanya tidak saling memutuskan pandangan, sampai akhirnya Kendra memajukan wajahnya untuk lebih dekat lagi dengan Allana. Sementara dokter cantik itu langsung memejamkan matanya saat hembusan napas Kendra menerpa wajahnya.


Kini bibir mereka saling menempel, dengan perasaan yang menggebu di dada. Perlahan Kendra menyesap bibir yang selalu dirindukannya. Allana pun langsung menyambut dengan menyesap balik bibir Kendra. Sampai akhirnya, yang awalnya hanya ciuman kerinduan, kini menjadi sebuah ciuman yang penuh hasrat.


Keduanya larut dalam hasrat yang menggebu, hingga tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan sebuket bunga di tangannya. Richard yang berniat untuk menjenguk pujaan hatinya, sepulang dari seminar di luar kota, harus menyaksikan hal yang sangat tidak ingin dia lihat.


Hatinya sangat sakit harus mengakui kegagalannya dalam merebut hati Allana. Dua kali dia bersaing dengan lelaki yang sama-sama mencintai Allana. Dua kali pula dia tidak bisa mendapatkan cinta dokter cantik itu. Richard pun mengurungkan niatnya untuk menemui Allana.


Dia langsung berbalik badan, meninggalkan sepasang anak manusia yang sedang terbakar gairah asmara. Dengan gontai, Richard menuju ke taman rumah sakit yang tidak jauh dari ruang perawatan Allana. Richard pun memilih duduk di bangku taman dan menyimpan bunga yang dia bawa di sampingnya.


Lana, mungkinkah tidak ada kesempatan untuk aku memiliki kamu. Aku sudah menyukai kamu dari kita sama-sama duduk di bangku kuliah. Berbagai cara aku lakukan untuk mendapatkan kamu. Bahkan cara kotor pun aku tempuh. Tetapi sedikit pun kamu tidak pernah menanggapi perasaanku. Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menghapus namamu di hatiku, batin Richard


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik, like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Yuk kepoin juga karya keren yang satu ini