Again My Life

Again My Life
Promo Novel Maaf, Jika Aku Harus Pergi



Suasana sakral menyelimuti sebuah rumah yang nampak asri. Terdengar seorang pria tampan yang bernama Ringgo Dewangga sedang mengucapkan ijab kabul. Sementara di belakangnya ada seorang wanita yang cantik yang bernama Aretha Fortuna sedang menunduk sedih.


Hatinya terasa diremas, diiris dan dihantam batu besar. Sungguh, Aretha merasa dunianya runtuh, harapannya sirna dan angannya dihempaskan sampai ke dasar jurang. Namun, sekuat hati dia membalut luka hatinya sendiri.


Bagaimana tidak, dia harus menyaksikan pernikahan kedua suaminya dengan seorang gadis yang merupakan sahabat baik suaminya. Meskipun sebenarnya dia sakit hati melihat pernikahan itu. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan kesedihannya.


Teringat jelas di benaknya, bagaimana mertua Aretha terus mendesak suaminya agar menikah lagi. Dengan alasan karena Aretha tak kunjung hamil di usia pernikahannya yang ke tujuh. Bahkan, Bu Lela Komalasari mertuanya Aretha, men-cap dia sebagai wanita yang mandul.


Flashback on


Sore itu Bu Lela datang ke rumah Aretha yang merupakan pemberian dari mertuanya. Wanita paruh baya itu sepertinya sangat tergesa. Dia tidak sabaran ingin menemui putranya karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan.


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Lela seraya menerobos masuk ke dalam rumah putranya.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa Bu, sepertinya buru-buru sekali?" tanya Aretha seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Di mana Ringgo?" Bukannya menjawab, Bu Lela justru balik bertanya


"Mas Ringgo sedang di belakang memberi makan ayam."


"Cepat suruh ke sini! Bilang Ibu ingin mengatakan hal penting sama dia." Bu Lela mendudukkan bokongnya di sofa.


"Baik, Bu." Aretha segera berlalu pergi mencari suaminya.


Tidak berapa lama kemudian, wanita cantik yang kini usianya sudah menginjak 29 tahun itu datang bersama dengan suaminya. Ringgo menatap heran ibunya yang menampilkan wajah tegang. Dia mencium punggung tangan ibunya sebelum berbicara.


"Ibu, ada hal penting apa?" tanya Ringgo to the point.


"Duduklah dulu! Aretha tidak usah membuat minum untuk Ibu. Kamu juga duduk bersama kami karena ini menyangkut kalian berdua," suruh Bu Lela.


"Ibu mau tanya, kalian menikah sudah berapa tahun?" tanya Bu Lela dengan menatap tajam pada Ringgo dan Aretha bergantian.


"Sudah tujuh tahun, Bu. Memangnya kenapa Ibu bertanya seperti itu? Apa Ibu berniat untuk memberikan aku mobil sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami?"


"Kamu mau mobil? Boleh saja, tapi kamu harus secepatnya memberikan Ibu seorang cucu. Masa paman kamu yang nikahnya belakang sudah punya anak dua tapi kamu yang sudah tujuh tahun belum juga punya anak. Aretha apa mungkin kamu itu mandul? Makanya tidak hamil-hamil," tuduh Bu Lela.


"Ibu jangan bicara sembarangan! Kami hanya belum dipercaya sama Allah," sanggah Ringgo. Dia merasa khawatir Aretha bersedih dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Aku tidak tahu Bu. Padahal aku sudah sering minum ramuan penyubur kandungan tapi Allah belum juga mempercayai aku untuk memiliki anak." Aretha menautkan jari jemarinya dengan kepala yang menunduk.


"Jelas-jelas kamu tuh mandul Aretha. Sudah Ringgo, lebih baik kamu mencari istri lagi agar memiliki keturunan. Biar nanti Ibu yang akan mencarikan kamu gadis dari keluarga baik-baik yang jelas asal-usulnya. Bukan perempuan asal yang tidak bisa memiliki anak," ketus seraya mendelik ke arah menantunya.


"Aku tidak mau, Bu! Aku dan Retha sudah memutuskan akan menjadi orang tua asuh Ridho. Lagipula, Mbak juga tidak keberatan kalau aku dan Retha akan menjadi orang tua asuh anaknya. Hitung-hitung sebagai pemancing," tolak Ringgo cepat.


"Tidak bisa! Kamu harus memiliki anak sendiri. Kamu anak lelaki ibu satu-satunya, masa kamu tidak memiliki anak? Lagipula, Mbak kamu itu bukan Mbak kandung. Dia hanya anak bawaan bapak. Kalau kamu tidak punya anak, Ibu tidak punya penerus. Ibu tidak mau semua harta warisan dari bapak jatuh ke anak-anak Mbak kamu. Semua yang sekarang kita miliki hasil kerja keras Ibu dan bapak, jadi semuanya akan menjadi milik kamu."


"Tapi Bu, aku tidak bisa mengkhianati Retha. Aku sangat mencintanya."


"Kamu tidak mengkhianatinya. Kamu hanya menikah lagi dengan gadis yang bisa memberikan kamu keturunan dengan persetujuan Aretha. Kamu juga Aretha, kamu harus memberikan ijin pada suami kamu untuk menikah lagi karena kamu tidak bisa memberikan dia keturunan."


"Aku ... aku ... aku akan memberikan ijin, kalau memang Mas Ringgo ingin menikah lagi. Aku tidak akan menghalangi Mas Ringgo untuk berbakti pada Ibu. Aku juga tidak akan menjadi penyebab Mas Ringgo durhaka pada Ibu." Meskipun dadanya terasa sangat sesak, Aretha berusaha bicara dengan nada sedikit terbata.


"Bagus! Kamu memang harus tahu diri dan bisa menempatkan posisimu dalam keluargaku. Ibu tidak akan menyuruh Ringgo untuk menceraikan kamu, meskipun kamu mandul. Ibu hanya meminta kamu menyetujui Ringgo menikah lagi dengan gadis lain."


Flashback Off