
Setelah keluar dari ruangan Adrian, Kendra pun bergegas menuju ke kafe tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia khawatir, Adrian dan Monika menyadari kalau Kendra masih hidup, sedangkan dia belum bisa memberikan kejutan pada pasangan pengkhianat itu.
Sesampainya di kafe, Kendra pun langsung memesan kopi pesanan Abimanyu.
"Mbak, minta capuccino latte 2 dibungkus ya," pesan Kendra.
"Baik, Mas! Silakan ditunggu dulu," ucap seorang pelayan cafe.
Kendra hanya menganggukkan kepalanya tanpa ada niat untuk membalas ucapan pelayan tadi. Saat pelayan kafe sudah berlalu pergi untuk membuatkan pesanan Kendra, matanya mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling kafe. Hingga pada sebuah meja yang berada di dekat jendela, manik pekat Kendra menangkap sosok wanita yang selalu dia rindukan sedang duduk seorang diri.
Ya, Kendra melihat Allana sedang duduk sendiri seraya tangannnya terus mengaduk jus strawberry yang ada di depannya, sedangkan tangan yang satunya dia gunakan untuk menumpu dagunya. Allana nampak sedang melamun dengan mata yang terus melihat ke arah luar jendela.
"Allana," gumam Kendra
Dadanya bergemuruh hebat, saat dia memandang lekat wanita yang dicintainya seperti sedang bersedih. Ingin rasanya dia menghampiri Allana dan memeluknya untuk menenangkan wanita itu seraya mengatakan kalau Dika-nya sudah kembali. Namun, dia terus menahannya karena sudah pasti Allana tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Permisi, Mas! Pesanannya sudah siap," ucap pelayan kafe membuyarkan lamunan Kendra.
Kendra pun langsung menoleh ke arah suara lalu berkata, "Mbak, tambah es krim cokelat vanilla ya dalam cup jumbo."
"Baik, Mas." pelayan itu pun langsung pergi untuk membuatkan pesanan Kendra..
Seraya menunggu pelayan kafe menyiapkan pesanannya, Kendra kembali memandang Allana. Namun kali ini, dia sedikit menyunggingkan senyumannya. Dia teringat saat dulu bersama Allana, meskipun Allana awalnya menolak untuk mencicipi es krim kesuakaannya. Namun pada akhirnya, mereka menghabiskannya berdua.
Tak berapa lama kemudian, pelayan itu pun kembali dengan satu cup jumbo es krim cokelat vanilla. Setelah membayar semua pesanannya, Kendra pun segera menghampiri Allana.
"Kalau jus tidak enak, kamu ganti saja dengan es krim." Tanpa meminta persetujuan dari Allana, Kendra langsung duduk di depan wanita itu. Dia pun memberikan es krim yang dibawanya.
"Kamu ...."
"Panggil aku Kendra, bukankah sebelumnya kita sudah saling mengenal?" Kendra menatap lekat manik cokelat wanita yang ada di depannya.
"Aku tidak peduli!" sahut Allana.
"Lana, bisakah kasih aku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih padamu? Anggap saja es krim ini sebagai salah satu ungkapan rasa terima kasihku." Kendra terus menatap lekat Allana meskipun wanita itu selalu memalingkan muka.
"Aku bilang tidak perlu. Aku ingin sendiri, bisakah tidak mengganggu aku?"
"Aku tidak berniat mengganggu kamu, aku hanya ingin menemani wanita cantik yang sedang merindukan kekasih hatinya," tebak Kendra.
"Kamu ...."
"Sudahlah Lana! Aku tidak ada niat jahat padamu. Aku akan pergi setelah kamu menghabiskan es krim ini." Lagi-lagi Kendra memotong ucapan Allana, membuat wanita cantik langsung menghentikan ucapannya.
"Apa kamu memberinya racun?" selidik Allana.
"Tidak!"
"Kamu harus pergi dari hadapanku setelah aku menghabiskannya," tunjuk Allana.
Tanpa bicara lagi, Allana pain langsung menghabiskan es krim itu. Dia berharap lelaki yang ada di depannya segera pergi meninggalkan dia sendiri yang sedang ingin mengenang almarhum suaminya. Namun, ternyata perkiraannya salah. Kendra bangun dari duduknya bukan untuk pergi tetapi untuk menghapus sisa es krim yang ada di bibir Allana dengan tangannya.
"Manis, semanis cokelat vanilla. Kamu masih sama seperti dulu Lana, meskipun awalnya menolak tapi selalu menghabiskannya," ucap Kendra setelah memasukkan sisa es krim Allana ke mulutnya.
Allana tertegun sesaat mendengar apa yang Kendra katakan, dia teringat dengan suaminya Dika yang selalu bisa membujuknya dan mengatakan kata-kata yang sama dengan apa yang Kendra katakan tadi.
Awalnya saja nolak tapi kamu menghabiskannya.
Allana langsung tersadar dari lamunannya saat tiba-tiba datang seorang lelaki seusianya yang mencari Kendra.
"Ken, kamu masih di sini? Aku menunggu tapi kamu tidak kunjung datang, makanya aku menyusul ke sini." Abimanyu langsung duduk di kursi samping Kendra dan melihat ke arah Allana. "Bukankah Anda putri Tuan Andrea?"
"Kamu benar Abi, Allana ini malaikat penolong aku dan Lana, ini sahabat aku namanya Abimanyu." Kendra memperkenalkan Allana pada Abimanyu.
Namun saat Abimanyu mengajak Allana untuk bersalaman, Allana hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat untuk menyambut uluran tangan dari Abimanyu. Sehingga pemuda tampan itu menjadi kikuk dan menarik kembali tangannya.
"Lana tidak biasa bersalaman dengan orang yang baru dikenalnya." Kendra langsung merangkul sahabatnya. "Oh iya bagaimana Adrian? Apa dia mengenali aku?"
"Sepertinya tidak. Ken, kita harus membeli kacamata baru lagi," ucap Abimanyu.
"Kamu tolong carikan saja," pinta Kendra. "Oh iya Lana, bisa 'kan kalau kamu bantu aku untuk bersaksi dengan apa yang telah terjadi padaku?"
"Aku tidak ingin terlibat dengan urusan kamu, permisi!" pamit Allana lalu bangun dari duduknya dan hendak pergi ke rumah sakit.
Tadi saat dia akan pergi ke rumah sakit, entah kenapa dia ingin sekali mampir ke kafe ini dan melihat gedung Argantara Group yang menjulang tinggi, ternyata dia akan bertemu dengan Kendra yang menurutnya orang yang sangat menyebalkan.
"Lana, biar aku antar." Kendra berusaha mengejar Allana dan menarik tangannya sehingga Allana menubruk dadanya karena tarikan Kendra yang cukup kencang. "Maaf, Lana. Aku tidak sengaja."
Tanpa bicara, Allana segera melepaskan diri dari Kendra. Dia setengah berlari meninggalkan lelaki menyebalkan itu. Saat sampai mobilnya, Allana langsung menangis teringat dengan suaminya yang meninggal. Pelukan Kendra yang sesaat tadi, mengingatkan dia pada Dika, Aldrich Marchdika suaminya yang meninggal.
Dika, aku merindukanmu. Kenapa kamu harus secepatnya itu pergi? Aku-aku-aku ingin bertemu denganmu lagi.
Kendra yang mengikuti Allana hanya terdiam mematung di dekat mobil wanita itu. Dia tidak berani untuk mendekat. Dia bisa merasakan rasa sakit yang Allana rasakan. Namun, Kendra pun tidak bisa berbuat apa-apa selain perlahan mendekati Allana dan merebut hatinya agar bisa menerima dia kembali yang sekarang berada dalam tubuh Kendra.
Lana, bukalah hatimu sedikit saja untuk aku yang berada dalam tubuh Kendra. Agar kita bisa bersama lagi seperti dulu saat kecelakaan itu belum terjadi. Meskipun Om Andrea bertindak cepat mengusut kecelakaan itu, tetapi tetap saja aku tidak bisa seperti dulu lagi.
"Ken, jangan terlalu memaksa dia untuk secepatnya menerima kamu. Aku dengar Nona Allana baru saja kehilangan suaminya. Pasti dia butuh waktu untuk bisa menerima lelaki lain di hidupnya." Abimanyu menepuk pundak Kendra pelan dan menyadarkannya dari lamunan.
"Kamu benar Abi. Aku tidak akan menyerah untuk bisa bersamanya lagi."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...