Again My Life

Again My Life
Bab 16 Kecurigaan Tuan Dirga



Tiga hari sudah Tuan Dirga dirawat di rumah sakit. Kini keadaannya sudah membaik. Tuan Dirga pun sudah dipindah ke ruang VVIP setelah dua hari berada di ruang ICU. Setiap malam, Kendra tidak pernah absen menyelinap melihat keadaan kakeknya. Begitupun dengan Tuan Dirga yang sudah hapal jam berapa cucunya akan datang


"Kenapa Kendra belum datang? Padahal sudah mau jam sebelas malam. Apa dia lupa untuk menjenguk aku?" gumam Tuan Dirga.


Sudah seperti anak muda yang berpacaran diam-diam di belakang orang tuanya, Tuan Dirga pun tidak mengatakan pada siapa pun tentang kedatangan Kendra setiap malam ke kamarnya. Namun, sepertinya malam ini Kendra tidak datang membuat Tuan Dirga terus menunggu kedatangan cucunya.


Sampai akhirnya, karena lelah menunggu, Tuan Dirga pun terlelap di tidur. Dia tidak menyadari ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Orang yang masuk dengan membawa jarum suntik di tangannya.


Orang asing itu terus celingukan mengawasi keadaan. Sampai saat dia merasa aman, orang asing itu segera mendekat ke arah tempat tidur Tuan Dirga. Dia segera mengarahkan jarum suntik pada botol kecil dan menyedot isi yang ada di dalam botol kecil itu.


Setelah merasa isinya penuh, orang itu segera menancapkan jarum suntik itu ke infusan Tuan Dirga. Namun, saat dia akan memasukan isinya, Kendra datang dengan baju serba hitam dan segera menghampiri orang itu.


Plak


Kendra segera memukul tangan orang yang memakai masker dengan baju seragam dokter. Dia tidak percaya kalau orang itu dokter sungguhan. karena dari caranya memegang alat suntik seperti orang yang belum terbiasa.


"Siapa kamu??!!" sentak Kendra.


Bukannya menjawab, orang itu segera berlari ketakutan. Kendra pun langsung mengejarnya sampai akhirnya kehilangan jejak. Merasa tidak akan menemukan orang itu, dia pun segera kembali ke ruangan kakeknya. Kendra segera mengambil alat suntik itu dengan sebuah sapu tangan. Dia pun segera menekan alat pemanggil tenaga medis sehingga terdengar suara dari intercom.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya orang di seberang sana.


"Cepat bawa cairan infus baru dan ganti infusan milik Tuan Dirga," suruh Kendra. "Nanti langsung buang saja bekasnya karena sudah terkontaminasi."


Meskipun bingung dengan apa yang diperintahkan Kendra, tak urung perawat itu menurutinya. Sementara Tuan Dirga masih saja pura-pura tidur. Karena tadi saat Kendra membentak orang asing itu, Tuan Dirga terbangun dari tidurnya.


"Bangunlah, Kek! Aku tahu sebenarnya Kakek sudah bangun," suruh Kendra.


Tuan Dirga pun akhirnya membuka mata dengan tersenyum tipis karena kebohongannya terbongkar. Setelah perawat yang mengganti infusan kakeknya pergi, Kendra langsung duduk di kursi samping tempat tidur Tuan Dirga.


"Kakek, apa Kakek punya musuh? Kenapa ada orang yang ingin mencelakai Kakek? Aku sudah meminta Abi untuk datang ke sini," tanya Kendra.


"Dalam dunia bisnis kadang kita tidak bisa membedakan mana teman mana lawan karena terkadang orang yang kita anggap teman justru menyerang kita dari belakang," ucap Tuan Dirga.


"Kakek benar. Buktinya Adrian tega mencelakai aku. Aku ingin tahu kandungan apa yang ada dalam alat suntik ini," tunjuk Kendra pada kakeknya.


"Suruh bagian laboratorium memeriksanya, kasih mereka uang yang cukup agar tutup mulut," suruh Tuan Dirga.


"Iya, kek! Aku akan menyuruh Abi untuk memeriksanya," sahut Kendra.


"Jangan menyuruh orang, Ken! Kamu pergi sendiri dan bawa ponsel Kakek untuk membayar berapa nominal yang orang lab inginkan," suruh Tuan Dirga. "Jangan katakan apapun pada orang lain dengan apa yang terjadi hari ini. Biar jadi rahasia kita berdua."


Entah kenapa aku merasa ada kaitannya dengan Adrian, tapi aku tidak bisa menuduhnya sembarangan. Semoga saja itu hanya firasat aku, batin Tuan Dirga.


...***...


Keesokan harinya, Adrian datang bersama dengan Monika menjenguk Tuan Dirga. Namun, Tuan Dirga berpura-pura tidak tahu tentang hubungan mereka. Dia pun bersikap seperti biasanya saat dulu Monika menjadi kekasih Kendra.


"Kakek, bagaimana keadaan Kakek?" tanya Monika.


"Sudah membaik, mungkin besok Kakek pulang." Tuan Dirga tersenyum pada Monika. "Bagaimana syuting kamu, lancar?"


"Lancar, Kek. Lusa perdana tayang film baruku," ucap Monika.


"Kamu memang sangat berbakat akting. Kakek yakin kamu jadi bintang hebat," puji Tuan Dirga.


"Makasih, Kakek!" sahut Monika.


"Adrian, bagaimana keadaan perusahaan? Apa ada masalah?" tanya Tuan Dirga.


"Semua terkendali, Kek. Besok Kakek mau dijemput jam berapa?" tanya Adrian.


"Besok biar Abimanyu saja yang menjemput Kakek. Kamu urus saja klien," suruh Tuan Dirga.


"Baik, Kek!"


"Adrian, boleh Kakek minta sesuatu?" tanya Tuan Dirga.


"Minta apa, Kek?" tanya Adrian heran.


"Kalau Kakek tiada, tolong kamu cari keberadaan Kendra. Kalau dia masih hidup, maka Kakek akan memberikan dua puluh persen saham Kakek untuk kamu. Tapi kalau dia meninggal, maka saham Kendra akan dijual dan uangnya akan disumbangkan ke panti sosial. Kamu hanya mendapatkan saham milik Kakek."


"Baik, Kek!" sahut Adrian lemas.


Sialan Kakek tua! Kenapa dia tidak ingin memberikan sahamnya padaku? Padahal aku sudah melakukan hal di luar batas. Tapi ternyata, aku tidak mendapatkan apa-apa, batin Adrian.


Adrian sepertinya tidak suka dengan keputusan aku, apa mungkin yang Kendra katakan memang benar? Aku akan menyuruh Bimo untuk menyelidiki kebenarannya," batin Tuan Dirga.


Setelah kepergian Adrian dan Monika, Tuan Dirga pun segera menghubungi detektif kepercayaannya. Dia sengaja tidak memberitahu siapa pun termasuk Handoko, orang kepercayaannya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...