
Seperti terhantam batu besar, dada Tuan Dirga merasa sangat sakit saat dia melihat laporan penyelidikan detektif yang dia sewa. Apalagi saat dia melihat rekaman CCTV di klub malam yang terakhir Kendra kunjungi bersama dengan Adrian dan Monika. Dia semakin yakin kalau ucapan Kendra benar adanya.
"Bagas, apa bukti ini bisa dilaporkan ke polisi?" tanya Tuan Dirga.
"Masih belum cukup kuat, Tuan. Tinggal sedikit lagi, karena tidak ada saksi saat mobil Tuan Kendra jatuh dari tebing," jawab Bagas.
"Aku tidak mengerti, kenapa anak itu punya pemikiran kejam seperti itu. Selama ini, dia terlihat sangat baik pada siapa pun," keluh Tuan Dirga.
"Cover memang kadang menipu, Tuan. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya saja," ucap Bagas.
"Bagas, bagaimana caranya agar bisa mengungkap semuanya?" tanya Tuan Dirga.
"Kita bisa melihat dari rekaman satelit Tuan," jawab Bagas.
"Kamu usahakan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan rekaman satelit saat kejadian itu," suruh Tuan Dirga.
"Mungkin akan sulit, Tuan. Saat tanggal terakhir Tuan Kendra bersama dengan Tuan Adrian, di pulau itu sedang terjadi hujan petir," jelas Bagas. "Kalau menurut saya, apa yang dikatakan oleh Tuan Kendra memang benar kalau Tuan Adrian mencoba menghabisi nyawanya," lanjutnya.
"Kenapa kamu bisa begitu yakin?"
"Maaf Tuan kalau saya lancang, setelah Tuan Kendra menghilang di pulau itu, Tuan Adrian dan tunangan Tuan Kendra semakin dekat. Bahkan, mereka sering menghabiskan malam bersama di hotel," ungkap Bagas menghela napas sejenak
"Dari sini saja kita bisa melihat motifnya, kenapa Tuan Adrian tega menyingkirkan Tuan Kendra. Ditambah tidak lama lagi, Tuan akan mengumumkan pewaris yang sah Argantara Group." Bagas begitu yakin dengan pemikirannya.
"Alasan yang kamu katakan itu masuk akal juga." Dirga mengangguk-anggukan kepalanya.
"Maaf, Tuan! Kenapa Anda tidak mewariskan perusahaan ini pada cucu pertama Anda, tetapi pada Tuan Kendra yang sepertinya tidak tertarik dengan bisnis?" tanya Bagas yang merasa penasaran pada yang Tuan Dirga.
"Karena hanya Kendra cucu kandungku, Adrian memang cucuku tapi dia bukan cucu kandungku." Tuan Dirga menjadi sendu saat dia mengatakan hal itu. Dia seperti membuka kembali luka lama yang sudah tertutup rapat.
"Maaf Tuan kalau saya lancang," ucap Bagas. "Kalau begitu saya permisi, masih ada hal yang harus saya selesaikan," pamitnya.
"Terima kasih, Bagas. Aku menunggu kabar selanjutnya," ucap Tuan Dirga.
Setelah kepergian Bagas, Tuan Dirga pun menuju ke ruang istirahat yang ada di ruangannya. Kepalanya terasa berdenyut setelah mendengar penjelasan yang diungkapkan oleh detektif Bagas. Dia tidak pernah menyangka kalau selama ini telah menyayangi orang yang sangat berbahaya. Orang yang tega menghabisi nyawa seseorang demi memuluskan keinginannya.
Merasa kepalanya yang semakin sakit, Tuan Dirga pun segera memanggil asistennya untuk segera menemuinya. Tidak butuh waktu lama, Handoko sudah datang dengan segelas air putih dan obat di tangannya. Dia pun segera memberikannya pada Tuan Dirga.
"Terima kasih, Han. Tolong kamu undur meeting hari ini. Aku sepertinya butuh istirahat," pinta Tuan Dirga.
"Baik, Tuan. Ada lagi yang Tuan butuhkan?" tanya Handoko.
"Cukup, aku hanya butuh istirahat." Tuan Dirga pun mulai memejamkan matanya. Sepertinya obat yang diminumnya mulai bereaksi. Dia langsung merasakan ngantuk yang sudah tidak bisa ditahan.
Setelah memastikan Tuannya tertidur pulas, Handoko pun keluar dari ruang pribadi Tuan Dirga. Tapi dia tidak langsung keluar dari ruangan Tuan Dirga. Handoko menuju ke meja Tuan Dirga dan mulai mencari sesuatu.
Setelah tiga puluh menit mencari barang yang dia inginkan, Handoko tidak menemukan juga barang tersebut. Sampai akhirnya terdengar suara yang menegurnya dari belakang.
"Eh kamu, kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Handoko.
"Tadi aku sudah mengetuknya. Hanya saja tidak ada jawaban. Makanya aku langsung masuk ke dalam," jawab Kendra.
"Oh, Tuan juga sedang istirahat, sebaiknya Tuan Muda kembali nanti," suruh Handoko.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin main di kantor kakek. Memang apa yang sedang Paman cari," tanya Kendra.
"Paman hanya mencari berkas yang akan ditandatangani. Tapi sepertinya sudah dikembalikan, kalau begitu aku permisi dulu."
Handoko pun keluar dengan tangan kosong dari ruangan Tuan Dirga. Dia juga tidak bisa menemukan apa yang sedang dicarinya. Tentu saja hal itu membuat Handoko menjadi sangat kesal.
Sial! Kenapa bocah itu harus datang? Padahal aku belum menemukannya, batin Handoko.
Kendra hanya tersenyum tipis melihat kepergian Handoko. Entah kenapa hatinya merasa senang Handoko tidak menemukan apa yang dicarinya. Kendra merasa ada sesuatu hal yang Handoko sembunyikan dari kakeknya.
Ada apa dengan Paman Han. Kenapa dia menjadi gugup saat bertemu denganku. Bukankah sudah biasa aku ke sini tanpa mengetuk pintu dulu, batin Kendra.
...~Bersambung~...
Cerita orang tua Allana bisa cek di OBSESI CINTA PERTAMA ya kak.
cuplikan
Kak Dena langsung menutup pintu lagi setelah melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Namun suaranya yang lumayan kencang membuat Mitha dan Andrea menghentikan kegiatan panasnya.
"Kak Dena!" teriak Mitha setelah membereskan bajunya yang sudah berantakan karena ulah Andrea.
"Eh iya Tha nanti kakak kesini lagi" ucap Kak Dena yang buru-buru pergi.
"Sayang ayo kita lanjut di kamar, kamu harus tanggung jawab udah bangunin pimen" rengek Andrea pada Mitha
Sementara Kak Dena yang grasak grusuk pun tak lepas dari pandangan Pak Karjo dari pos satpam
"Kenapa Na? buru-buru gitu?" tanya Pak Karjo.
"Anu pak, lihat Mas Yanto gak?" tanya Kak Dena.
"Oh tadi lihat sih ke rumah belakang" jawab Pak Karjo.
Kak Dena pun langsung buru-buru ke rumah belakang yang merupakan rumah kakeknya Mitha.
Syukurlah Mas Yanto ada, jadi bisa ikutan kaya Mitha, batin Kak Dena.