Again My Life

Again My Life
Bab 15 Mengambil Hati Kakek



Mendengar Tuan Dirga terkena serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit, Adrian pun bergegas menuju ke rumah sakit untuk memastikan keadaan kakeknya. Saat sampai di sana, ternyata Tuan Dirga sudah dipindah ke ruang ICU. Adrian pun meminta ijin pada Paman Han untuk bergantian masuk ke dalam.


Setelah Adrian mengganti baju dengan baju khusus, dia pun segera menghampiri kakeknya yang sedang tertidur. "Kakek, bagaimana keadaan kakek?"


Mendengar suara Adrian, Tuan Dirga pun bangun dari tidurnya. "Adrian, tahu dari siapa Kakek masuk rumah sakit?" tanya Tuan Dirga pelan.


"Tadi aku ke ruangan Kakek, tapi ternyata tidak ada di sana, makanya aku menelpon Paman Han unuk menanyakan keberadaan Kakek. Ternyata Kakek masuk rumah sakit," jelas Adrian.


"Kakek tidak apa-apa, kamu jangan khawatir!"


Aku rasanya tidak ingin percaya, Adrian yang selalu terlihat jadi anak baik, tega berusaha melenyapkan sepupunya sendiri. Tapi aku yakin kalau Kendra dan Abimanyu tidak sedang membohongi aku. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu jika nanti sudah pulang dari rumah sakit, batin Tuan Dirga.


"Kakek, untuk besok meeting dengan klien, biar aku yang menghandle-nya. Kakek tidak usaha khawatir, proyek itu pasti gol di tanganku," ucap Adrian.


"Kakek menunggu kabar baiknya, Kakek harap kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan," pesan Tuan Dirga.


"Baik, Kek! Aku akan mendengarkan apa yang Kakek katakan," ucap Adrian. "Kalau begitu, aku kembali ke kantor dulu. Ada meeting jam empat sore."


"Iya, hati-hati di jalan."


Adrin pun langsung ke luar dari ruang perawatan kakeknya. Saat dia berpapasan dengan asisten kakeknya, Adrian pun membisikkan sesuatu.


"Jaga Kakek dan langsung laporkan padaku jika ada hal yang mencurigakan," bisik Adrian.


"Baik, Tuan Muda!" sahut Paman Han.


Tanpa mereka sadari, Kendra melihat semua itu dari balik tembok. Dia sengaja tidak menghampiri Paman Han, karena entah mengapa, Kendra merasa tidak percaya pada pria paruh baya.


Saat Kendra melihat Adrian berjalan ke arahnya, dia pun segera membalikkan badan menghadap ke tembok. Untung saja dia selalu memakai masker dan topi hitam, sehingga Adrian tidak mudah mengenalinya. Meskipun, sekarang dia sudah mencukur habis kumis dan jenggotnya.


Aku harus lebih hati-hati, tidak boleh terlalu percaya pada orang terdekat sekalipun. Bisa saja mereka punya niat tersembunyi yang tidak aku ketahui, batin Kendra.


...***...


Malam harinya, Kendra menyelinap masuk ke dalam kamar perawatan Tuan Dirga. Dia sengaja memilih malam hari saat ingin menjenguk kakeknya. Kendra pun menuliskan sebuah surat yang dia simpan di telapak tangan kakeknya dengan mengikatkan karet gelang ke jari Tuan Dirga dan kertas.


"Kakek, maafkan aku belum bisa berterus terang tentang keberadaanku yang masih hidup. Aku hanya ingin Adrian berpikir kalau aku sudah tiada. Biarkan dia merassa senang untuk sesaat sebelum aku mendapatkan bukti yang kuat untuk menjeratnya."


Kendra pun segera keluar dari ruang rawat Tuan Dirga. Dia kembali memakai topi hitam dengan masker dan hoodie yang menutup topinya. Kendra pun bergegas menuju ke parkiran dan segera menaiki motor sport yang tadi siang dia bawa dari rumah kakeknya.


Tanpa Kendra sadari, Tuan Dirga mendengar apa yang cucunya katakan. Tanpa terasa air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Dia sedih, hanya demi harta warisan salah satu cucunya tega menghabisi sepupunya sendiri.


Tuan Dirga pun melihat ke arah tangannya dan mengambil kertas yang Kendra sematkan di jari tanganya dengan memakai karet gelang. ia pun langsung membuka isinya dan membacanya.


Kakek,


Maafkan aku! Aku tidak bisa menjagamu. Tapi percayalah padaku, aku selalu melihat keadaan kakek dari jauh.


Oh iya kek, besok aku akan mendaftarkan skripsiku. Semoga tidak banyak revisi dan sidangnya cepat agar kakek senang melihat aku wisuda.


Jaga diri kakek, aku menyayangi kakek. Satu lagi yang ingin aku katakan, tadi aku mengambil motor di rumah. Kalau ada orang yang melapor motornya hilang karena ada yang mencuri, maka akulah pencurinya.


^^^Kendra^^^


Tuan Dirga tersenyum membaca surat dari cucunya. Dia senang karena sekarang cucunya sudah mulai memikirkan masa depannya bukan Monika lagi yang dia prioritaskan. Tuan Dirga pun langsung melipat kertas dari Kendra dan menyimpannya di kantong bajunya.


Keesokan harinya, Adrian kembali datang untuk menemui Tuan Dirga. Kali ini. Dia membawa selembar kertas yang membutuhkan tanda tangan dari kakeknya. Adrian pun dengan penuh keyakinan bicara pada tuan Dirga.


"Kakek, selama Kakek sakit, aku akan menjaga perusahaan. Hanya saja, aku merasa kerepotan jika setiap kali butuh tanda tangan Kakek, harus datang ke sini dan mengganggu istirahat Kakek." Adrian menghela napas sejenak sebelum dia melanjutkan bicaranya.


"Untuk itu, aku sudah membuat surat kuasa agar selama Kakek dirawat, tanggung jawab penuh perusahaan beralih padaku," ucap Adrian.


Tuan Dirga menatap lekat wajah cucunya. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Adrian sangat menginginkan perusahaan milik Kendra. Meskipun dia tahu kemampuan Adrian tidak bisa diragukan lagi dalam mengelola perusahaan, tetapi tidak semudah itu dia merubah keputusannya.


"Adrian, Kakek tidak bisa memberikan surat kuasa pada siapa pun karena perusahaan itu milik Kendra. Biar nanti Kendra yang memutuskan, ingin mengelolanya sendiri atau menyerahkan padamu. Makanya kamu harus bantu Kakek untuk menemukannya," ucap Tuan Dirga.


Bagaimana bisa aku menemukan dia, paling Kendra sudah dimakan ikan hiu atau jadi budak putri duyung kalau misalkan masih hidup. Karena sangat mustahil Kendra bisa bertahan hidup setelah aku beri racun dan jatuh dari tebing, batin Adrian.


"Baiklah, Kek. Kalau Kakek tidak bersedia menandatangani surat kuasa ini. Aku pulang dulu," pamit Adrian.


Adrian pun pulang dengan wajah yang memerah menahan kekesalannya. Kenapa sangat sulit sekali merubah keputusan kakeknya agar memberikan perusahaan itu padanya. Sampai saat dia akan berbelok, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Kendra yang akan melihat keadaan kakeknya.


Kendra yang merasa kaget karena tabrakan dengan sepupunya, dia pun secepat mungkin pergi dari hadapan Adrian. Tentu saja hal itu membuat Adrian merasa kaget dan aneh. Dia hanya melihat punggung kokoh itu menghilang dari belokan menuju ke lorong ruang perawatan kakeknya.


Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa seperti orang yang yang bersama dengan Abimanyu? Apa mungkin dia ... Tidak ... Tidak mungkin Kendra! Karena anak bodoh itu sudah mati tenggelam di dasar laut, batin Adrian.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...