Again My Life

Again My Life
Bab 27 Tebing Kenangan



Setelah penjelasan tender waktu itu, kini hari-hari Kendra disibukkan dengan membuat gambar bangunan rumah sakit agar terlihat megah tapi tidak menghilangkan unsur budaya lokal negeri ini.


Selain itu juga, Kendra bersama dengan timnya sibuk membuat perencanaan proyek, yang memuat berbagai aspek yang berkaitan dengan proyek, seperti pengendalian dan penjadwalan proyek, metode konstruksi, rencana keselamatan dan sebagainya.


Tentu saja hal itu sangat menguras tenaga dan pikirannya, sehingga dia sudah beberapa hari tidak menemui Allana di rumah sakit. Setiap kali dia menggambar rancangan rumah sakit, Kendra selalu saja teringat dengan papanya. Karena dulu, papanya yang pertama kali mengajari dia membuat sebuah rancangan bangunan.


"Ken, sudah malam. Memang kamu tidak mau pulang ke rumah? Sudah seminggu ini kamu lembur terus. Ingat jaga kesehatan!" tegur Abimanyu saat dia mau mengajak Kendra pulang bareng.


Setelah kejadian Kendra terjebak di lift, Abimanyu tidak membiarkan sahabatnya itu pulang sendiri. Dia pasti akan menunggu Kendra atau secepatnya kembali ke perusahaan saat harus meeting di luar bersama dengan Tuan Dirga.


"Sedikit lagi, nanggung kalau aku tinggalkan."


"Proyek ini memang penting, tapi kesehatan kamu lebih penting. Ayo kita makan dulu! Aku sudah pesan makanan untuk makan malam kita," ajak Abimanyu.


"Abi, bisa makanannya di bawa saja ke sini? Aku juga lapar, tapi tidak bisa ninggalin pekerjaanku," tanya Kendra.


"Baiklah Tuan Muda! Apa perlu aku suapi juga," seloroh Abimanyu.


"Kalau kamu tidak keberatan, aku akan merasa senang."


Akhirnya Abimanyu pun mengalah, dia menyuruh office boy membawakan makanan ke ruang Kendra dan segera membatalkan meja yang sudah di booking-nya. Setelah pesanan makanan itu datang, lagi-lagi Abimanyu menurut saat Kendra memintanya agar menyuapi dia yang masih sibuk bekerja.


"Abi kamu tahu tidak, mamaku pasti menyuapi aku saat aku sibuk belajar karena ada ujian. Dia selalu mengerti saat aku tidak turun untuk makan malam, maka dia akan datang ke kamarku dan membawakan makanan." Kendra mengenang saat dia masih menjadi Dika dan tinggal bersama dengan kedua orang tuanya.


"Sedangkan Papa, dia yang selalu pertama kali mengajari aku hal-hal yang baru. Bahkan, aku bisa membuat rancangan bangunan yang selalu diburu orang, itu berkat papa yang mengajari aku." Kendra menghentikan sesaat gerakan tangannya. Dia baru teringat kalau Abimanyu pasti tidak akan paham dengan maksud ucapannya.


"Ken, bukankah papamu selalu sibuk dengan pekerjaannya? Mama kamu juga selalu sibuk dengan teman sosialitanya. Bahkan mereka meninggal karena kecelakan setelah keduanya bertengkar hebat," tanya Abimanyu dengan hati-hati.


Aku lupa kalau orang tua Kendra memang kurang harmonis. Mereka terlalu memikirkan dirinya sendiri dan kurang memperhatikan anak semata wayangnya, batin Kendra.


"Maksud aku, itu dulu saat sebelum mereka berubah," jawab Kendra dengan sedikit gugup.


"Oh ... Ayo habiskan makannya!" suruh Abimanyu.


"Biar aku lanjut makan sendiri saja. Aku sudah selesai tinggal menyimpannya saja," ucap Kendra.


"Baiklah, aku juga sudah sangat lapar."


Kini keduanya begitu lahap memakan makan malamnya. Sampai saat keduanya sudah mghabiskan makanan yang mereka pesan. Barulah Kendra dan Abimanyu memutuskan untuk pulang.


"Hari yang melelahkan, untung saja sekarang weekend. Jangan lupa kunci pintunya Ken! Biar proyek kamu aman," pesan Abimanyu saat keduanya baru keluar dari ruangan Kendra.


"Baik Kakak!" sahut Kendra dengan tersenyum.


"Jangan tersenyum seperti itu padaku, Ken! Nanti ada orang yang menggosipkan kita."


"Biarkan saja, aku tinggal memperkenalkan calon istriku yang sekarang sedang hamil untuk membuktikan kalau aku normal. Entah kalau kamu, karena masih belum terlihat menggandeng seorang wanita."


Hari libur pun telah tiba, meskipun hanya sehari tapi itu cukup untuk mengistirahatakan badan dan pikiran yang selama enam hari disibukkan dengan segala rutinitas. Nampak Kendra yang sudah sip dengan sweater hoodie dan topi hitamnya serta sepatu kets yang menumpu kedua kakinya.


Entah kenapa, dari semalam dia terus kepikiran ingin pergi ke tebing tempat dia dan Allana dulu pernah saling mengikat janji. Dia sengaja berangkat saat hari masih gelap agar bisa menikmati matahari terbit di ujung tebing.


Butuh waktu satu jam perjalanan dari apartemen tepat dia tinggal menuju ke tebing itu. Saat sampai di sana, matahari sudah beranjak naik ke permukaan. Kendra pun terus berjalan menuju ke tempat yang paling tinggi agar bisa menikmati keindahan matahari terbit yang mampu membakar semangat untuk menjalani hari dengan penuh harapan.


Namun, saat Kendra sudah sampai di ujung tebing, matanya menangkap sosok wanita cantik yang sedang duduk sendiri di bebatuan yang menjorok ke laut. Kendra pun langsung menghampirinya, karena dia yakin kalau perempuan itu adalah seseorang yang sangat dia rindukan.


"Lana, kenapa menangis?" tanya Kendra saat mendengar suara tangis yang tertahan.


"Ken ...."


"Kenapa sendiri di sini? Apa kamu merindukan aku?" tanya Kendra.


"Aku sedang merindukan almarhum suamiku."


Kendra hanya diam seraya ikut duduk di samping Allana. " Lana, bisakah kamu mengikhlaskan kepergian suami kamu? Biarkan dia tenang di sana, karena ada aku yang akan menjaga kamu dan anak kita."


"Ken, ini bukan anakmu!" elak Allana.


"Aku tahu, mungkin secara hukum bayi itu bukan anakku. Tapi aku akan mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri."


Karena bayi itu memang anakku. Meski secara biologis mungkin tidak terbukti aku ayahnya tapi aku dan bayi kita memiliki ikatan batin yang kuat. Aku yakin, anak kita yang akan menyatukan kita kembali, batin Kendra


"Sudahlah! Aku sedang tidak ingin mendengar bualan kamu."


"Terserah kamu mau menganggapnya apa. Tapi satu hal yang harus kamu. Aku mencintai kamu sama seperti Dika mencintai kamu. Jika hari ini kamu masih ragu dengan apa yang aku katakan, aku tidak akan pernah menyerah untuk terus meyakinkan kamu."


Allana terdiam tidak menyangkal ataupun membantah apa yang Kendra katakan. Dia tidak bisa membohongi hatinya kalau keberadaan Kendra membuatnya sedikit melupakan kesedihannya karena kepergian Dika. Tapi Allana juga belum bisa jika harus berhubungan serius dengan seorang lelaki.


"Mataharinya sudah naik, aku pulang." Allana langsung berdiri dari duduknya.


Namun Kendra segera menahan tangan itu saat Allana akan berlalu pergi meninggalkannya. Allana yang akan melangkah pergi akhirnya mengurungkan niatnya dan menunggu Kendra yang masih mencekal tangannya.


"Kita pulang bersama. Aku akan mengantar kamu pulang, tapi setelah kita sarapan bersama. Apa anak Papa ingin makan siomay atau bubur ayam?" tanya Kendra seraya mengelus lembut perut Allana.


"Aku ingin makan soto ayam," ucap Allana spontan.


"Ayo, kita makan soto dulu! Biar pengawal kamu bawa mobil sendiri."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...