Again My Life

Again My Life
Bab 22 Tragedi Hari Pertama Kerja



Hari yang cerah dengan semangat yang baru. Nampak Kendra sudah bersiap dengan kemeja putih dan celana slim fit warna hitam. Tidak ketinggalan jas mahal yang melekat di tubuhnya serta sepatu pantofel yang mengkilap menghiasi kaki panjangnya.


Abimanyu tersenyum melihat penampilan Kendra yang memukau. Dulu, sahabatnya itu selalu malas saat di suruh memakai jas. Justru sekarang, tanpa dipaksa pun dia memilih sendiri baju apa yang akan dipakainya ke kantor.


"Abi, jangan tersenyum seperti itu padaku! Aku laki-laki normal yang tidak akan tertarik dengan senyum manis kamu itu," tegur Kendra.


"Kalau tiba-tiba aku tertarik padamu, bagaimana? Apa kamu akan menerima cintaku?" goda Abimanyu.


"Aku akan memecat kamu sebagai asisten ataupun sebagai sahabatku. Aku geli berhubungan dengan lelaki jadi-jadian." Kendra langsung berdigik sendiri seraya pergi meniggalkan Abimanyu.


"Ken, tunggu! Kenapa malah meninggalkan aku?" Abimanyu langsung mengejar sahabatnya yang sudah berlalu pergi keluar dari unit apartemennya.


"Cepat! Berlari-lah!" suruh Kendra dengan tersenyum tipis.


Abimanyu pun langsung merangkul pundak sahabatnya saat dia sudah bisa mengejar Kendra. Perbedaan status sosial di antara keduanya, tidak membuat Kendra maupun Abimanyu merasa canggung dalam bersikap.


"Oh, iya Ken. Kemarin, aku melihat Monika dengan seorang lelaki lain, selain Adrian. Sepertinya, bukan hanya kamu yang dia khianati, tetapi Adrian juga sama. Kalian hanya dijadikan ATM berjalan oleh Monika."


"Hanya aku yang benar-benar dijadikan ATM berjalan oleh Monika, karena Adrian sudah mendapatkan tubuh Monika seutuhnya," ucap Kendra.


Terasa sakit hati Kendra saat mengatakan hal itu, tetapi itu hanya sesaat. Karena Aldrich yang berada dalam tubuh Kendra segera menepisnya dan terus meyakinkan hati Kendra untuk melupakan Monika.


"Sudahlah! Aku minta maaf, karena sudah menyinggung soal Monika. Lain kali, aku tidak akan mengatakan apapun yang berhubungan dengannya."


"Tenang saja! Bagiku, Monika sudah tidak ada artinya lagi. Karena sekarang, hanya Allana wanita yang aku cintai."


Sesampainya di kantor, Kendra dan Abimanyu langsung menuju ke kantor kakeknya. Kendra langsung mencium punggung tangan kakeknya, sama saat dulu dia masih jadi seorang Aldrich Marchdika. Tentu saja hal itu membuat sang kakek menjadi senang dengan perubahan cucunya yang ke arah lebih baik lagi.


"Ken, Kakek senang akhirnya kamu memutuskan untuk bekerja di perusahaan," ucap Tuan Dirga.


"Aku juga senang, jika Kakek senang. Bukankah aku tidak punya pilihan selain meneruskan apa yang papa dan akan Kakek tinggalkan untukku," ucap Kendra.


"Kamu sudah dewasa sekarang. Mungkin kamu juga sudah mengerti, kenapa Kakek tidak menyetujui kamu masuk militer?"


"Iya, aku mengerti. Karena penyakit turunan yang aku punya kan? Sudahlah Kek, jangan mengingatkan hal itu lagi." Kendra pun mendudukkan bokongnya di sofa mengikuti Abimanyu yang sudah duduk duluan.


"Apa ruangan aku sudah siap?" tanyanya kemudian.


"Sedang dipersiapkan. Kemarin Kakek sudah menyuruh orang general affair untuk menyiapkan ruangan untuk kamu, agar kamu semangat dan betah kerjanya." Tuan Dirga terus saja memandangi penampilan Kendra yang stylish. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk bulan sabit. Ada rasa bangga menyeruak di hatinya, cucu kesayangannya kini sudah memperhatikan hidupnya kembali.


"Aku kerja bagian apa?" tanya Kendra yang tidak tahu mau ditempatkan di mana oleh kakeknya.


"Kamu jadi project manager, nanti Abi yang akan membantumu," jelas Tuan Dirga.


"Baiklah, kalau Kakek percaya padaku. Aku akan berusaha untuk tidak mengcewakan Kakek," ucap Kendra.


"Kakek percaya padamu, Ken!"


Tak berselang lama kemudian, datanglah orang general affair yang memberitahukan kalau ruangan untuk Kendra sudah siap untuk ditempati. Kendra dan Abimanyu pun langsung pamit pada Tuan Dirga untuk menuju ke ruangannya.


"Pergilah! Kakek tidak bisa mengantarmu. Ada berkas yang harus Kakek periksa," ucap Tuan Dirga.


"Tidak apa, Kek. Aku dan Abi berangkat sekarang," pamit Kendra.


Kendra dan Abimanyu pun segera mengikuti orang general affair menuju ke ruangannya. Saat sampai di sana, nampak staf projects yang sedang serius bekerja di depan layar monitor. Kendra hanya sedikit menganggukkan kepalanya pada staf yang berpapasan dengannya dan membungkukkan badan untuk memberi hormat.


Setelah Kendra di beri tahu di mana ruangannya, dia an Abimanyu pun langsung masuk dan melihat interior ruangan yang akan Kendra tempati. Abimanyu terus saja berdecak kagum melihat interior ruangan Kendra.


"Keren banget, Ken! Ruangan Presdir aja kalah dengan ruangan ini. Meskipun tidak sebesar ruangan Kakek, tapi ini jauh lebih keren dengan semua ruangan yang ada di gedung ini. Kakek benar-benar berharap kamu akan betah bekerja di sini," puji Abimanyu.


Segitu berharapnya Kakek pada cucunya. Tapi sayang, Kendra yang asli tidak tahu akan hal itu. Kamu tenang saja di alam sana. Aku yang akan memenuhi semua harapan Kakek padamu. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan Kakek, batin Kendra.


"Kamu ingin kerja di ruangan ini?" tanya Kendra.


"Memang bisa tukeran ruangannya?" tanya Abimanyu merasa heran.


"Bisa, kalau kamu mau jadi sekretaris aku." Kendra pun tersenyum senang menggoda sahabatnya.


"Aku turun jabatan, Ken. Dari sekretaris presiden direktur jadi sekretaris manajer proyek," keluh Abimanyu.


"Itu pilihannya, Abi. Terserah kamu mau pilih yang mana," ucap Kendra dengan menghendikan bahunya seraya berjalan menuju ke kursi kebesarannya.


"Aku akan tetap menjadi sekretaris presiden direktur dan akan setia menunggu kamu menggantikan posisi Kakek. Karena Kakek tidak lama lagi akan pensiun. Makanya Adrian begitu gencar ingin merebut posisi yang seharusnya kamu duduki," terang Abimanyu.


"Dia tidak akan pernah berhasil selama masih ada aku. Sudahlah Abi! Aku mau mulai kerja. Apa yang harus aku kerjakan sekarang?" tanya Kendra.


"Ayo, aku kenalkan dengan semua staf projects di sini!"


Abimanyu pun langsung mengajak Kendra ke luar ruangan kembali dan menginterupsi semua karyawan yang sedang fokus bekerja agar berkumpul sebentar di depan ruangan Kendra.


"Perhatian semuanya, mulai hari ini Pak Kendra akan bergabung dengan tim projects. Beliau memegang posisi manager menggantikan Bu Celina yang sedang cuti melahirkan," ucap Abimanyu. "Silakan Pak Kendra memperkenalkan diri!"


"Selamat pagi semuanya, mungkin kalian sudah tahu siapa saya jadi tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Saya hanya ingin menekankan agar kita bisa bekerja sama dengan baik dan tidak saling menjatuhkan sesama team projects. Apa kalian siap?"


"Siap, Pak!" kompak semua karyawan.


"Bagus, silakan bekerja kembali."


Semua staf hanya bisa berbisik-bisik tanpa berani berbicara langsung. Mereka pun kembali ke kubik masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sementara Kendra kembali masuk ke dalam ruangannya untuk mempelajari semua hal tentang perusahaan Argantara grup dan sisa pekerjaan yang ditinggalkan oleh manajer lama. Sedangkan, Abimanyu kembali ke ruangannya.


Kendra begitu serius dalam bekerja sampai tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. Namun dia masih enggan untuk beranjak dari duduknya. Sampai saat hari sudah gelap dan semua staf projects sudah pulang, barulah dia beranjak dari duduknya.


"Ternyata sudah malam. Aku keasyikan mempelajari perusahaan ini yang memiliki kesamaan dengan Putra Group tapi sistemnya jauh berbeda. Sebaiknya aku pulang sebelum lampu di gedung ini dimatikan semua," gumam Kendra seraya berjalan keluar dari ruangan.


Kendra menghubungi Abimanyu yang ternyata sedang meeting dengan klien di luar. Dia memintanya agar menjemputnya kembali ke perusahaan. Setelah menghubungi Abimanyu, Kendra pun segera masuk ke dalam lift. Namun, saat di tengah perjalanan menuju ke lobby, lift-nya berhenti begitu.


"Apa yang terjadi? Kenapa lift-nya berguncang? Lampunya juga mati." Kendra pun panik. Apalagi tubuhnya merespon berlebihan. Dadanya terasa sesak, Kendra pun segera menyalakan senter di ponselnya lalu menekan tombol darurat untuk meminta pertolongan.


"Tolong! Siapa pun di luar sana, tolong aku! Tolong panggilkan mekanik. Aku terjebak di dalam lift," ucap Kendra di depan intercom.


"Pak Kendra, apa Anda sendirian di sana?" tanya seseorang yang merespon panggilan Kendra lewat intercom.


"Iya, sendiri. Cepat tolong keluarkan aku. Dadaku sakit sekali."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...