
Hari-hari pun terus berganti, waktu pun terus berlalu. Setelah perjuangan panjang menjerat Adrian dan Handoko ke ranah hukum, akhirnya pengadilan memutuskan Adrian dan Handoko harus mendekam di balik jeruji besi selama sepuluh tahun. Sedangkan Monika karena ikut terlibat dia harus ditahan selama lima tahun.
Para pemegang saham pun kini sudah tidak meragukan lagi kinerja Kendra. Apalagi, semenjak Kendra memenangkan tender rumah sakit internasional milik pemerintah, namanya semakin dikenal di kalangan arsitektur muda yang berbakat.
Setiap hari, Kendra tidak pernah absen untuk menemui Allana. Apalagi, ibu hamil itu kini memasuki usia kandungan sembilan bulan. Namun, meskipun Allana sudah hamil tua, dia masih saja pergi bekerja.
Seperti hari ini, Kendra dengan bersemangat menemui Allana. Karena tadi ibu hamil itu memintanya agar dibawakan tahu Sumedang, lengkap dengan cabe rawit dan lontongnya.
Tok tok tok
Kendra mengetuk pintu saat tiba di depan ruang kerja Allana. Setelah disuruh masuk, barulah dia masuk ke dalam ruangan dokter cantik itu. Nampak Allana yang sedang memeriksa berkas dengan kacamata yang mempercantik penampilannya.
"Siang, Mommy! Nih aku bawain tahu pesanan kamu," ucap Kendra dengan mengacungkan kantong plastik yang dibawanya.
"Banyak banget belinya, Ken." Allana begitu terkejut saat melihat Kendra membawa dua keranjang tahu dan satu kantong plastik lontong.
"Aku khawatir kamu tidak kenyang kalau hanya satu keranjang."
"Temani ya makannya! Aku heran Ken, setiap kali sama kamu, bayiku terus saja menendang perutku. Dia aktif sekali jika di dekat kamu," ucap Allana.
"Karena dia tahu, kalau aku papinya. Lana, setelah bayi kita lahir, ayo kita menikah! Aku sangat menyayangi kamu dan bayi kita. Aku pasti bisa menjaga kalian," ucap Kendra dengan menatap lekat pada wanita yang selalu membuatnya tergila-gila.
"Ken, aku belum bisa memberikan jawaban sekarang. Aku tidak ingin, saat bersama kamu, pikiranku masih terpaku pada almarhum suami aku," ungkap Allana.
"Baiklah, aku akan tetap menunggu kamu. Ayo kita makan tahu sama lontongnya!" Kendra langsung mengambil lontong dan membuka bungkusnya.
Dia menyuapi Allana dengan sesekali makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Keduanya begitu menikmati makan tahu yang rasanya gurih itu. Sampai tanpa terasa dua keranjang mereka habiskan berdua.
"Ken, masih ada lagi gak?" tanya Allana dengan tangannya merogoh ke dalam keranjang tahu.
"Keranjang yang ini sudah habis," Kendra melihat dengan jarak dekat untuk memastikan penglihatannya.
"Padahal gak berasa makannya, ternyata sudah habis."
"Mungkin bayiku takut tidak diakui oleh keluarga papanya, sehingga dia menginginkan makanan khas dari kota neneknya," ucap Allana sendu.
Meskipun sikap orang tua Dika menerima kehamilannya yang mereka tahu setelah Dika tiada, tetap saja Allana merasa was-was takut dikira anak yang dikandungnya bukan anak almarhum suaminya.
"Jangan berpikiran negatif! Saat sedang hamil begini, kamu harus lebih sering membangun aura positif. Agar anak kita menjadi anak yang baik dan disayangi oleh semua orang," ucap Kendra menenangkan Allana.
"Terima kasih, Ken. Kamu mau menjadi temanku. Tapi sepertinya, aku ingin jus strawberry yang ada di kafe depan kantor kamu."
"Ada yang lain, yang mau dibeli dari kafe itu, biar sekalian."
"Sudah jus aja. Tapi boleh ditambah deh sama rujak serut," ucap Allana.
"Siap Mommy! Papi akan telpon Abimanyu agar membawakan semua pesanan Mommy," ucap Kendra.
Untung saja Allana tidak pernah marah saat Kendra selalu menyebut dirinya papi. Entah kenapa, semakin hari Allana semakin merasa nyaman berada di dekat Kendra.
Sementara, di sebuah perusahaan raksasa Argantara Group, nampak seorang lelaki yang sedang uring-uringan. Bagaimana tidak, Kendra memberinya waktu lima belas menit, agar Abimanyu segera mencari pesanan Allana dan cepat sampai ke rumah sakit tempat Allana bekerja.
Siapa yang menghamili, siapa yang repot memenuhi acara ngidamnya. Kendra benar-benar. Masa aku harus ke sana ke mari mencari pesanan Allana, gerutu Abimanyu dalam hati.
Abimanyu langsung bergegas mencari pesanan Kendra. Dia tidak peduli dengan pekerjaannya yang menumpuk seperti baju yang belum dicuci satu minggu. Yang terpenting baginya sekarang, Dia harus mendapatkan apa yang diinginkan oleh sahabatnya.
Setelah Abimanyu mendapatkan pesanan Kendra, dia segera melesat menuju ke rumah sakit. Dia tidak ingin terlambat sampai di rumah sakit, hingga membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Saat sampai di ruangan Allana, Abimanyu membelalakkan mata dengan pemandangan yang dilihatnya. Bagaimana tidak, dia melihat Kendra sedang tiduran di atas paha Allana, dengan wajahnya yang menghadap ke perut wanita hamil itu.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....