Again My Life

Again My Life
Bab 24 Mengandalkanmu



Setelah dua hari berada di rumah sakit, akhirnya Kendra sudah diperbolehkan pulang. Setiap hari Allana mau tidak mau melihat keadaan lelaki yang pernah ditolongnya itu. Meskipun mulut dan pikirannya selalu menolak keberadaan Kendra, tetapi langkah kakinya selalu membawa ibu hamil itu untuk menuju ke ruangan Kendra.


Tentu saja hal itu membuat lelaki tampan itu sangat senang. Seandainya boleh meminta, Kendra masih ingin berlama-lama tinggal di rumah sakit. Tapi dia tidak bisa egois karena ada pasien lain yang pasti membutuhkan ruang perawatan untuk di tempati.


"Lana, hari ini aku akan pulang. Tapi kamu jangan khawatir, aku pasti akan datang untuk menemui kamu saat jam makan siang. Kamu tinggal minta saja makanan yang ingin aku bawakan," ucap Kendra sebelum dia dijemput oleh Abimanyu.


"Tidak usah! Kamu baik-baik saja bekerja," sahut Allana.


"Lana, boleh aku bicara dengan bayimu? Dia pasti merindukan aku kalau kalau kita lama tidak bertemu," tanya Kendra


Entah kenapa, Allana pun dengan spontan mendekati Kendra yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Dia membiarkan Kendra menempelkan telinga ke perutnya yang mulai membuncit, karena sudah memasuki bulan ke lima kehamilannya.


"Sayang, baik-baik sama mama ya! Tunggu Papa, Papa pasti akan bersama-sama dengan mama dan kamu lagi," lirih Kendra pelan lalu mencium perut Allana.


Ya Tuhan, perasaan seperti apa ini? Kenapa aku merasa begitu dekat dengan Dika? Aku tidak bisa membohongi hatiku, kalau sikapnya ini membuatku benar-benar merasa tersanjung. Apa aku begitu menyedihkan sehingga saat mendapatkan perlakuan seperti ini langsung berbunga-bunga, batin Allana.


Saat keduanya sedang larut dalam pikiran masing-masing dengan posisi yang begitu dekat. Nampak Abimanyu menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Dia sengaja datang untuk menjemput Kendra saat tahu kalau dokter sudah memperbolehkannya pulang.


"Maaf, aku mengganggu!" Abimanyu langsung menginterupsi pasangan yang sedang terbawa oleh suasana.


"Eh Abi, kapan datang?" tanya Kendra kikuk.


Sedangkan Allana, jangan ditanya lagi, mukanya sudah merah padam menahan malu. Ibu hamil itu berniat akan pergi dari ruang rawat Kendra. Namun, lelaki yang mengacaukan hatinya itu mencekal tangannya.


"Jangan pergi, Lana! Kita keluar bersama-sama. Tidak usah malu pada Abi, dia sahabat terbaik aku." Kendra pun tersenyum manis pada Allana yang sedari tadi diam.


"Iya, Dok! Tidak usah sungkan pada calon Kakak ipar. Aku menganggap Kendra sudah seperti adikku sendiri," jelas Abimanyu.


"Maaf, tapi aku harus pergi. Ada meeting dengan para dokter," pamit Allana. "Jaga kesehatan, aku pergi dulu."


"Makasih Lana!"


Allana pun langsung ke luar dari ruangan Kendra. Dia berjalan dengan tergesa menuju ruangannya. Saat berpapasan dengan perawat pun, Allana hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat untuk menyapanya.


Memalukan sekali, kenapa aku sampai terhanyut dalam suasana. Sampai-sampai tidak menyadari ada orang yang datang. Bagaimana jika yang datang itu dokter atau perawat? Bisa-bisa mereka mengira kalau aku janda gatal, batin Allana.


...***...


Keesokan harinya, Kendra pun sudah mulai bekerja kembali. Setelah kejadian Kendra terjebak di dalam lift, Abimanyu pun langsung menyelidikinya dan di duga ada orang yang sengaja mencabut suplai daya listrik ke lift sehingga lift menjadi berhenti mendadak. Abimanyu pun sudah memecat dan menyerahkan ke kantor polisi orang yang melakukan kesengajaan sabotase lift.


Namun, mereka belum mengetahui siapa dalang dari semua itu karena Kardi, seorang office boy yang melakukan sabotase lift tidak mau mengatakan siapa yang sudah menyuruhnya. Dia terus bungkam dan memilih dicambuk daripada harus mengakui siapa orang yang sudah menyuruh nya.


"Tenang Ken. Lift-nya sudah diperbaiki semua. Sekarang semua tempat sudah dipasang CCTV. Agar lebih mudah menangkap orang yang berniat jahat," jelas Abimanyu.


"Kerjamu cepat sekali tapi kamu masih belum bisa mengungkap dalangnya kan? Berarti masih ada PR untuk kamu," ucap Kendra. "Ayo ke ruangan Kakek! Tadi dia menelpon aku menyuruh ke ruangannya.


Kendra dan Abimanyu punlangsung menuju ke lantai aling atas. Tempat di mana rugan Tuan Dirga berada. Saat dia akan masuk ke ruangan kakeknya, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Adrian baru keluar dari ruangan Tuan Dirga.


"Seperti yang terlihat oleh Kakak. Aku baik-baik saja meski beberapa kali dicelakai orang. Kakak tahu kenapa?" tanya Kendra dengan mencondongkan badannya ke arah samping kiri Adrian.


"Karena Tuhan, selalu melindungi aku. Aku sarankan lebih baik Kakak mengurungkan niat untuk mencelakai aku kembali. Karena Tuhan selalu mejagaku dari orang-orang jahat seperti Kakak sepupuku ini," bisik Kendra.


"Tapi bukan aku yang sudah sabotase lift. Kamu jangan asal menuduhku!" sentak Adrian.


"Belum terbukti, jadi Kakak masih boleh menyangkalnya." Kendra pun langsung berlalu pergi meninggalkan Adrian yang mematung sendiri.


Begitupun dengan Abimanyu yang menepuk pundak Adrian seraya berkata, "Jangan terlalu kejam pada sepupu sendiri. Ada darah yang sama di tubuh kalian."


Kenapa mereka menuduh aku yang melakukannya? Aku bahkan masih di rumah sakit saat Kendra terjebak di dalam lift. Sebenarnya siapa dalang yang sudah sabotase lift? batin Adrian.


Sementara Adrian yang ikut bingung dengan dalang kejadian yang menimpa sepupunya, Kendra dan Abimanyu sudah duduk di sofa ruangan Tuan Dirga. Kedua pemuda tampan itu, duduk berhadapan dengan lelaki yang penuh kharisma.


"Ada apa Kakek meminta aku ke mari?" tanya Kendra.


"Kakek ingin melihat keadaan kamu. Kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Tuan Dirga.


"Aku masih males jika harus bersinggungan dengan Adrian. Aku takut dia meracuniku lagi," jawab Kendra asal.


"Kamu tenang saja, orang rumah semuanya sayang padamu."


"Sekarang aku harus lebih berhati-hati, Kek. Karena terkadang orang terdekatlah yang menjadi pengkhianat."


"Baiklah! Kakek hanya pesan, jaga diri kamu baik-baik." Tuan Dirga menghekan ucapannya sejenak dan menarik napas dalam-dalam sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Kendra, kamu tahu, kenapa Kakek menyuruhmu untuk bekerja di bagian projects. Kakek hanya ingin membuktikan pada semua orang kalau pewaris Argantara Group adalah orang yang bisa diandalkan. Kebetulan perusahaan kita mendapatkan undangan tender dari pemerintah. Mereka ingin membangun rumah sakit yang bertaraf internasional. Kakek minta kamu yang memegang proyek ini."


"Baik, Kek! Kakek bisa mengandalkan aku," ucap Kendra dengan penuh percaya diri


Tumben Kendra begitu yakin dia bisa. Biasanya dia sangat enggan meskipun sebenarnya dia mampu, batin Abimanyu.


"Nilainya lumayan, Ken. Kalau kamu bisa memenangkan tender ini, maka para pemegang saham tidak akan meremehkan kamu lagi. Setelah masalah tender ini selesai, secepatnya Kakek akan menyerahkan posisi presiden direktur padamu. Kakek sudah lelah, ingin istirahat. Kakek sangat mengandalkan kamu."


"Aku akan berusaha untuk memenuhi keinginan Kakek dan membuat Kakek bangga pada cucu Kakek sendiri."


Mungkin ini cara aku untuk berterima kasih pada si pemilik tubuh. Membuat orang-orang yang menyayanginya merasa bangga karena memiliki Kendra Argantara.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...