Again My Life

Again My Life
Bab 12 Bertemu Mama Papa



"Apa yang kamu lakukan???!!!" pekik Allana kaget.


Seketika Allana langsung mendorong tubuh Kendra, sehingga pria tampan yang sedang terlelap tidur itu langsung terjungkal dan jatuh menimpa lantai marmer.


"Aww ... Kenapa kamu mendorongku??!!" sentak Kendra kaget. Dia pikir Abimanyu yang sudah mendorongnya. Namun ternyata Allana lah pelakunya.


"Kamu membentak aku?" tanya Allana dengan mata berkaca-kaca.


Entah kenapa dia merasa sangat sedih saat mendengar suara Kendra bicara dengan nada tinggi. Meskipun Allana pernah mengikuti pelatihan militer, tetapi hatinya tidak terima saat Kendra membentaknya.


"Lana, aku minta maaf! Aku tadi tidak sengaja. Aku pikir Abimanyu yang sudah mendorong aku," jelas Kendra.


Dia langsung bangun dan duduk di dekat Allana. Sampai terdengar kembali suara pintu yang diketuk dari luar. Allana pun segera membukakan pintu kamarnya. Terlihat di depan pintu Bi Ijah sedang berdiri dengan tangan yang menggantung di udara, siap untuk mengetuk pintu kembali.


"Malam, Non! Maaf Non mengganggu, anu Non, itu makan malamnya sudah siap. Barangkali Non Allana mau makan sekarang!" tawar Bi Ijah.


"Makasih, Bi. Nanti Lana turun setelah selesai mandi," ucap Allana.


"Baik, Non! Bibi permisi," pamit Ijah.


Setelah kepergian Bi Ijah, Allana pun langsung masuk kembali dan menghampiri Kendra yang sedang duduk memperhatikannya. " Keluar dari kamarku!! Cepat Kendra!!"


Allana langsung menarik tangan Kendra yang diam saja di atas tempat tidur. Tak ingin membuat Allana semakin marah, Kendra pun langsung mengikuti langkah Allana yang membawanya menuju ke pintu.


"Jangan pernah masuk lagi ke kamarku! Aku tidak suka," sentak Allana sebelum akhirnya dia membanting pintu dengan keras.


Kenapa hatiku merasa sakit saat berbuat kasar padanya. Maafkan Mommy, karena sudah marah-marah. Detun( Dede utun) yang sehat ya dalam perut Mommy, batin Allana.


Sementara Kendra hanya diam mematung di depan pintu. Meskipun dia tahu Allana bersikap seperti itu karena melihat fisik Kendra yang menurutnya orang asing, Tetap saja jiwa Aldrich merasakan sakit dengan apa yang istrinya lakukan.


Kendra pun akhirnya berjalan dengan gontai menuju ke kamar Elvano yang bersebelahan dengan kamar Allana. Dia langsung masuk ke sana karena memang tidak dikunci. Kendra pun langsung menuju kamar mandi dan langsung menyalakan air shower.


Dia butuh menenangkan pikirannya dan menyusun kembali rencananya. Lama Kendra berada di bawah guyuran air shower dengan dinding sebagai tumpuan tangannnya dan kepala yang tertunduk.


Apa yang harus aku lakukan? Agar Allana tahu kalau aku suaminya. Rasanya akan sulit untuk meyakinkan dia, batin Kendra.


Setelah merasa puas berada di bawah air shower, Kendra pun langsung menyudahi acara mandinya. Dia langsung mencari baju Elvano yang pas untuknya. Kendra tersenyum getir saat melihat kaos couple yang sama dengan miliknya dan Allana.


"Aku pakai baju ini saja, siapa tahu Allana menyadari kalau aku adalah Dika suaminya," gumam Kendra.


Setelah berpakaian rapi, Kendra pun segera turun ke bawah menuju meja makan. Nampak di sana Allana sedang menikmati hidangannya. Kendra pun segera menarik kursi yang berseberangan dengan istrinya.


"Lana, aku minta maaf dan kejadian tadi. Aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Kendra sebelum dia makan.


"Makanlah, jangan berisik!"


Kendra pun akhirnya mengalah. Dia hanya menuruti apa yang Allana katakan. Setelah keduanya menghabiskan makanan, Allana pun segera beranjak pergi dari meja makan. Dia tidak ingin berlama-lama dengan Kendra.


Sementara Kendra hanya bisa menghela napas panjang. Lagi-lagi dia harus memaklumi sikap Allana. Sampai akhirnya istri penjaga villa mengajaknya berbicara.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Bi Ijah. Harus sabar dalam menghadapi sikap Allana, batin Kendra.


...***...


Keesokan harinya, nampak Kendra sudah siap dengan jaket hoodie-nya dan celana training. Dia berencana untuk lari pagi ke villa milik keluarganya. Setelah Kendra mengikatkan tali sepatunya, dia pun langsung beranjak pergi.


Sementara Allana hanya melihatnya di atas balkon kamarnya. Dia terus menatap punggung kokoh Kendra yang terlihat semakin menjauh dari pandangan matanya. Allana pun langsung kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


Berbeda dengan Kendra yang kini sudah sampai di depan villa milik keluarganya. kedua alisnya bertautan melihat ke arah dalam villa yang sepertinya sedang ada yang datang. Kendra pun langsung mengintip di balik pagar besi, untuk melihat salah satu keluarganya y datang ke villa.


Namun, dia sangat terkejut saat mendengar suara dari arah belakang badannya. Jantungnya langsung berdegup kencang mendengar suara yang selalu mampu membuatnya merasa tenang. Suara wanita yang sangat berati dalam hidupnya.


"Mencari siapa, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Mama ...," lirih Kendra. Dia pun langsung membalikkan badannya ingin melihat wajah cantik mamanya.


"Bukankah kamu putranya Arga?" tanya lelaki paruh baya yang merupakan ayah kandung Aldrich.


"Iya, Om benar. Aku ke sini hanya sedang berlari pagi. Aku hanya penasaran dengan gaya arsitektur villa ini. Aku sangat menyukainya," ucap Kendra dengan suara yang sedikit bergetar.


"Ayo kita sarapan bersama di dalam sambil mengobrol. Oh iya, namamu siapa, Nak?" tanya Icha, mamanya Aldrich.


"Aku-aku Kendra, Tan." Tenggorokan Kendra rasanya sangat kering saat dia harus memanggil mamanya tante.


"Oh, nama yang bagus. Ayo masuk ke dalam!" ajak Icha.


"Terima kasih, Tante. Mungkin lain kali saja. Maaf aku harus pergi karena istriku menunggu di villa," pamit Kendra dengan terus berusaha menahan air matanya yang memaksa ingin keluar.


Kendra pun langsung berlari pergi meninggalkan pasangan suami istri yang merasa sangat familiar dengan Kendra, sedangkan Kendra hanya bisa menengadahkan kepalanya ke atas untuk menahan air matanya yang hampir jatuh.


Maafkan aku Mah, Pah! Aku terpaksa harus memanggil seperti tadi. Padahal aku sangat ingin memeluk kalian dan bilang pada kalian kalau aku sudah kembali, tapi aku yakin kalian tidak akan percaya padaku, jerit hati Kendra.


Sesampainya di villa, Kendra hanya diam tidak bersuara. Saat sarapan bersama dengan Allana pun dia tidak mengajak bicara sedikitpun pada Allana. Sampai akhirnya Allana yang memulai pembicaraan.


"Kendra, aku mau pulang jam sepuluh. Apa kamu mau ikut? Atau kamu masih ingin tinggal di sini? tanya Allana.


"Aku ikut," jawab Kendra datar.


"Kamu kenapa? Sepertinya sedih?" tanya Allana kemudian.


Mendapat pertanyaan dari Allana seperti itu, Kendra pun langsung melihat ke dalam mata Allana lalu berkata, "Aku sedih karena tidak bisa memeluk milikku sendiri. Aku sedih karena seperti orang asing di depan orang-orang yang aku cintai."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...