Again My Life

Again My Life
Bab 6 Pengkhianat Kepergok



Hari-hari pun terus berlalu, seminggu sudah Kendra menjadi office boy di perusahaan kakeknya. Seorang pun tidak ada yang menyadarinya kalau lelaki tampan yang memiliki janggut dan kumis itu adalah cucu pemilik perusahaan. Apalagi, Kendra memang sengaja memakai kacamata tebal untuk menyempurnakan penyamarannya.


Namun, Adrian seperti tidak menyukai pada office boy baru itu. Semenjak kejadian di ruangannya saat Kendra pertama kali kerja, Adrian jadi menandainya dan sering mengerjai Kendra yang dia kenal sebagai Arga.


"Arga, kenapa lantai ini belum bersih? Lihat masih ada bekas kakinya! Kamu ingin membuat aku malu saat ada tamu dari perusahaan lain?"


Adrian menumpahkan tinta printer dan menggosok-gosokan dengan sepatunya, sehingga lantai yang tadinya bersih kini menjadi sangat kotor. Arga yang melihat lantai itu kembali kotor, dia pun langsung membersihkannya kembali tanpa bicara sepatah kata pun.


Tidak puas karena Kendra hanya diam dan tidak protes, Adrian pun kembali membuat mejanya berantakan. Padahal Kendra baru saja selesai membereskannya. Lagi dan lagi, Kendra membereskannya tanpa bicara. Dia enggan jika harus bicara dengan orang picik seperti Adrian.


"Arga, kamu bikinkan aku kopi hitam dengan gula satu sendok teh saja," suruh Adrian saat Kendra sedang membereskan meja sepupunya itu.


"Baik, Pak!" sahut Kendra dengan menganggukkan kepalanya.


Kendra pun berlalu pergi menuju ke pantry untuk membuat kopi pesanan Adrian. Namun, saat dia baru saja keluar dari ruangan sepupunya itu, tanpa sengaja kendra berpapasan dengan Monika yang akan ke ruangan Adrian. Monika hanya melirik sekilas pada Kendra yang menurutnya sangat kampungan. Berbeda dengan Kendra yang merasa hatinya sakit saat melihat tatapan remeh dari Monika.


Sabar Kendra, lupakan gadis itu! Sekarang kamu dalam kendaliku, jadi jangan pernah berharap lagi pada orang yang jelas-jelas sudah membuatmu kehilangan nyawa. Aku Aldrich Marchdika tidak akan membiarkan Adrian atau Monika menyakiti kamu lagi.


Aldrich yang ada dalam tubuh Kendra terus bicara dalam hati untuk menetralkan perasaan Kendra yang masih menyimpan rasa cintanya pada Monika. Dia sudah bertekad untuk membuat Kendra menjadi orang yang tidak mudah diperdaya oleh orang lain, terutama Adrian dan Monika.


"Arga, kamu mau ke mana?" tanya Abimanyu yang tanpa sengaja bertemu dengan sahabatnya.


"Aku akan membuat kopi untuk Andrian. Apa kamu juga mau?" tanya Kendra.


"Tidak usah, aku bisa membuatnya sendiri. Apa Adrian masih menyulitkan pekerjaan kamu?" tanya Abimanyu kemudian.


"Ya seperti itu. Aku merasa kalau dia tahu penyamaranku," jawab Kendra.


"Tidak, Ken. Dia orangnya pendendam. Mungkin kamu pernah menyinggungnya, sehingga dia sengaja mengerjai kamu untuk membalasnya," tebak Abimanyu.


"Mungkin juga, aku pernah bicara yang membuat dia menjadi kesal. Sudahlah, aku pergi dulu!" Kendra langsung pergi meninggalkan Abimanyu menuju ke pantry.


Sementara Abimanyu hanya menatap punggung kokoh itu berlalu meninggalkan. Dia ingin memastikan keadaan Kendra agar tidak diganggu lagi oleh Adrian. Abimanyu pun segera menyimpan berkas ke ruangannya dan berencana untuk kembali menemui Kendra.


Setelah Kendra membuat kopi pesanan Adrian, dia pun kembali ke ruangan sepupunya itu. Dia sempat tertegun di depan pintu ruangan sepupunya, saat tanpa sengaja mendengar suara-suara laknat dari dalam ruangan Adrian.


Kurang ajar sekali kamu Adrian! Aku tidak bisa membiarkannya. Aku akan masuk ke dalam dan merusak kesenangan kamu dengan Monika, batin Kendra.


Kendra langsung membuka pintu ruangan Adrian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sehingga terpampang dengan jelas Monika yang sedang berada di pangkuan Adrian dengan bajunya yang sudah melorot ke bawah sehingga menyisakan kacamata pengaman bukit kembar yang sudah naik ke atas dadanya, dengan Adrian yang sedang asyik menyusu seperti seorang bayi.


"Jangan rusak penyamaran kamu, Ken!" bisik Abimanyu.


Abimanyu pun langsung mengetuk pintu Adrian yang sudah terbuka agar pasangan yang tidak tahu malu itu menghentikan kegiatan panas mereka. Mendengar ada suara pintu yang diketuk, Adrian pun secepatnya melihat ke arah asal suara.


Dia segera merapikan baju Monika dan menyuruhnya untuk ke toilet yang ada dalam ruangannya. Dia sangat kaget saat melihat Abimanyu sudah berdiri di ambang pintu. Dengan sisa kekagetannya, Adrian pun langsung meluapkan kekesalannya.


"Kamu, tahu sopan santun tidak? Kenapa mengetuk pintu setelah membukanya?" sentak Adrian.


"Tadi pintunya tidak tertutup rapat, makanya aku langsung membuka pintu. Ternyata Pak Adrian sedang bercumbu di kantor. Seandainya kakek tahu apa yang cucunya lakukan, pasti dia akan marah." Abimanyu sengaja berdiri di depan Kendra, agar Adrian tidak tahu kalau Kendra yang sudah membuka pintu.


"Jangan kurang ajar kamu, Abi. Aku cucu kandungnya dan kamu, hanya anak pungut dari panti asuhan," bentak Adrian.


"Maaf Pak Adrian, ini kopi pesanan Anda." Kendra yang berada di belakang Abimanyu langsung berjalan melangkah ke arah Adrian.


Namun, Setelah dia menyimpan kopi di meja kerja Adrian, tanpa sengaja kakinya tersandung oleh alat pel bekas tadi dia membersihkan ruangan Adrian, Sehingga dia hampir terjerembab dan membuat kacamata tebalnya jatuh. Kendra yang sudah menguasai dirinya, berniat akan mengambil kacamata itu, tapi ternyata kaki Monika lebih cepat menginjaknya sehingga kacamata itu menjadi pecah. Melihat semua itu, Abimanyu langsung menghampiri Kendra tanpa memperdulikan Adrian dan Monika yang melihat aneh padanya.


"Arga, tolong kamu belikan capuccino latte di cafe depan. Nanti langsung antar saja ke ruangan aku," ucap Abimanyu.


"Baik, Pak!" Kendra yang mengerti maksud sahabatnya, dia pun langsung pergi dari ruangan Adrian.


Sementara Adrian merasa seperti ada yang janggal dengan office boy itu. Dia pun langsung mengatakan kecurigaannya pada Abimanyu.


"Sepertinya Pak Abi begitu melindungi OB itu. Apa dia orang yang berharga?" tanya Adrian dengan memicingkan matanya.


"Berharga atau tidak, aku akan tetap melindungi orang yang lemah. Apalagi Arga orang yang aku bawa untuk bekerja di sini, sudah pasti aku akan melindunginya dari orang-orang yang bertindak sewenang-wenang pada seorang bawahan. Aku harap, kamu tidak lagi mempermainkan Arga kalau tidak ingin aku laporkan semua kelakuan kamu padanya," Abimanyu memberikan ancaman yang membuat Adrian berpikir kembali untuk mengerjai Kendra.


"Cih! Anak pungut sudah bisa mengancam aku. Baiklah, aku tidak akan mengerjai lagi office boy itu. Tapi apa yang kamu lihat hari ini, tidak boleh sampai ke telinga kakek." Akhirnya Adrian pun mau tidak mau mengikuti apa yang Abimanyu katakan, karena dia tahu, kakeknya lebih percaya pada Abimanyu ketimbang padanya ataupun pada Kendra.


"Bagus, Anda memang pintar Tuan muda," sarkas Abimanyu.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...