
Hari pun terus berlalu, hari ini Kendra terlihat gagah dan lebih percaya diri dari biasanya. Dia sudah siap untuk mengikuti rapat penjelasan tender di kantor kementrian kesehatan, yang memang sebagai penyelenggara tender. Kendra yang datang paling awal bisa melihat siapa saja yang datang untuk mengikuti rapat penjelasan tender.
Namun, dia sangat kaget saat melihat Papanya Aldrich Marchdika Putra memasuki ruangan bersama dengan Kevin, sang assisten. Ada perasaan ragu dihatinya, haruskah dia melanjutkan tender ini ataukah menyerahkan kepada orang lain karena dia sangat tidak ingin bersaing dengan papanya sendiri.
Saat dia sedang dilanda kegalauan hatinya, Kendra teringat dengan Tuan Dirga yang menaruh harapan besar pada cucunya. Rasanya dia tidak tega jika harus mengecewakan Kakek tua itu. Apalagi saat dia mengingat Tuan Dirga begitu membela cucunya di hadapan semua petinggi perusahaan, akhirnya Kendra pun meyakinkan diri untuk tetap melanjutkan proyek itu.
Maafkan Dika, Pah! Kali ini, terpaksa kita harus bersaing untuk memenangkan tender.
Setelah rapat penjelasan tender selesai, Kendra pun menghampiri Aldrich papanya lalu berkata, "Senang bertemu kembali dengan Anda, Tuan."
Kendra langsung mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Al. Dadanya bergemuruh hebat saat Al menerima uluran tangannya dan membiarkan Kendra mencium punggung tangan Al.
"Saya juga merasa senang bisa bertemu kembali dengan Anda di sini," ucap Al. "Ternyata Tuan Muda Argantara begitu antusias dengan tender ini."
"Iya, Tuan. Ini kesempatan saya untuk membahagiakan Kakek."
Ya Tuhan, kenapa aku merasa melihat Dika dari diri anak ini. Pembawaannya benar-benar membuatku terus teringat dengan putraku yang sudah tiada, batin Al.
"Kamu cucu yang berbakti. Ternyata rumor di luaran tentang pewaris Argantara Group hanya isapan jempol. Saya bangga padamu anak muda," Al menepuk pangkal tangan Kendra seraya tersenyum.
Kendra yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Al, hatinya benar-benar senang. Dia sangat merindukan papanya yang selalu membanggakan dirinya. Dia rindu pada mamanya yang selalu membuatkan makanan kesukaannya.
Setelah cukup berbincang-bincang, Kendra pun pamit karena dia mendapat pesan dari Allana. Dia langsung buru-buru pergi ke rumah sakit karena Allana memintanya untuk membelikan siomay. Kendra begitu senang karena Allana sudah berani meminta sesuatu padanya.
Aku yakin, Lana sudah mulai bisa menerima keberadaan aku.
Setelah berkeliling mencari penjual siomay. Akhirnya Kendra pun menemukan sebuah kedai dengan tulisan 'SIOMAY DAN BATAGOR BANDUNG'. Dia pun langsung menepikan mobilnya dan masuk ke dalam kedai itu.
"Mas di bungkus 3 porsi campur ya, tapi yang satunya jangan pake pare." Kendra pun langsung memesan siomay pada penjual.
"Baik, Mas. Silakan ditunggu sebentar!" ucap penjual siomay.
Saat dia sedang duduk menunggu pesanan, tanpa sengaja netra-nya menangkap sosok adiknya yang memasuki kedai siomay bersama teman-temannya. Sepertinya, mereka baru pulang sekolah dan langsung mencari pengganjal perut.
"Zee, Dave. Abang kangen dengan kalian. Jaga mama dan papa," lirih Kendra.
Tak lama kemudian, pesanan Kendra pun sudah siap. Setelah dia membayarnya, Kendra pun langsung pergi dari kedai itu. Dia hanya melihat sebentar ke arah meja Zee dan teman-temannya, Kemudian pemuda tampan itu langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan
Sesampainya di rumah sakit, Kendra pun langsung menuju ke ruangan Allana. Namun, langkah kakinya terhenti saat sayup-sayup dia mendengar pembicaraan Allana dengan seorang perempuan. Yang dia tahu sebagai sahabatnya Allana.
Tok tok tok
Kendra pun mengetuk pintu setelah dia lumayan lama berdiri di depan ruangan Allana. Setelah dia dipersilakan masuk, pemuda tampan itu tersenyum begitu manis saat memasuki ruangan kekasih hatinya. Kendra pun langsung menyapa perempuan yang sedang bersama dengan Allana.
"Apa kabar, Ara. Lama kita tidak bertemu," sapa Kendra.
"Iya, dia memesan siomay padaku karena anak kami menginginkan siomay dari papinya, iya kan Mommy?" tanya Kendra dengan tersenyum manis pada Allana.
Melihat Allana yang kikuk dengan godaan Kendra, Arabella pun menjadi bertanya-tanya dalam hatinya. Sehingga dia pun langsung bertanya pada dua orang yang sedang beradu pandang.
"Tunggu tunggu, apa maksud Tuan Kendra tunangannya Allana? Bukankah Anda bertunangan dengan artis yang sedang naik daun itu, Monika."
"Sudah, Ara. Jangan terlalu formal dengan dia. Dia sudah putus dengan tunangannya. Sini mana siomay aku," pinta Allana.
"Ini Mommy, kita makan bersama. Apa Ara juga mau? Kebetulan aku beli tiga bungkus," tawar Kendra.
"Boleh deh kalau ada. Tapi aku masih bingung, jadi kalian pacaran?" tanya Arabella.
"Tidak!"
"Iya!"
Allana dan Kendra memberikan jawaban yang berbeda sehingga Kendra pun segera meralat jawabannya. "Maksudnya, kami tidak pacaran tapi akan menikah kembali setelah bayi kami lahir."
"Kendra, jangan asal bicara!" sentak Allana.
"Aku tidak asal bicara, aku akan tetap menunggu kamu sampai kamu siap bilang 'iya' padaku," ucap Kendra dengan penuh keyakinan.
"Aku akan mendukungmu kalau kamu memang serius mencintai sahabatku," timpal Arabella.
"Terima kasih Ara. Ayo kita makan!" ajak Kendra yang sudah membuka bungkusan siomaynya.
Kini ketiganya sedang menikmati siomay yang dibawa oleh Kendra. Namun, ibu hamil itu seperti orang kelaparan, yang tidak makan lebih dari satu Minggu. Sehingga tidak butuh waktu lama siomay miliknya sudah habis. Matanya terus melirik ke arah siomay milik Kendra. Entah kenapa, rasanya begitu menggiurkan untuk dia lahap.
Menyadari Allana yang terus melirik ke arah siomay miliknya, Kendra hanya tersenyum tipis. Lalu dia pun menyuapi Allana yang matanya tidak lepas dari siomay Kendra. Tanpa penolakan, Allana langsung menerima suapan dari Kendra. Meskipun terasa aneh, Arabella memilih bungkam dan melanjutkan makannya.
"Enak ya Lana makannya. Apalagi disuapi, terasa dunia ini milik berdua," sindir Arabella.
Rep, muka Allana langsung merah padam saat menyadari kekonyolannya. Dia benar-benar merasa malu karena tadi begitu menikmati suapan demi suapan yang diberikan oleh Kendra. Ingin rasanya dia sembunyikan masuk ke dalam lubang cacing tapi sepertinya itu tidak mungkin sehingga ibu hamil itu hanya cengengesan di depan sahabatnya dan Kendra.
"Sudah Ara! Jangan bikin malu, Lana! Lihat pipinya sudah seperti kepiting rebus," seru Kendra dengan menahan senyumnya.
Allana langsung melotot tidak suka pada Kendra membuat pemuda tampan itu langsung mendekatkan wajahnya pada Allana. "Jangan menggodaku seperti itu! Rasanya aku ingin menerkam kamu saat melihat kedua bola mata indah itu hampir copot keluar," bisik Kendra.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...