
Semua peserta meeting dibuat bengong dengan perdebatan dua cucu presiden direktur perusahaan. Mereka tidak tahu harus memihak pada siapa. Sampai akhirnya, ada salah seorang pemegang saham yang bicara.
"Tuan Muda, kalau bercanda kenapa suka kelewatan? Mana bisa kami percaya Tuan Adrian melakukan hal itu, kalau tidak ada bukti nyata. Lagipula, Tuan mudalah yang sering bermain-main selama ini. Sementara Tuan Adrian giat bekerja mengembangkan perusahaan," tutur salah satu pemegang saham yang bernama Seno.
"Iya benar apa yang Pak Seno katakan. Mana mungkin Tuan Adrian melakukan hal seperti itu pada Tuan Muda. Bukankah selama ini Tuan Adrian yang selalu menjaga Tuan Muda?" timpal Karno, salah satu pemegang saham.
Tak hanya Seno dan Karno yang meragukan cerita Kendra. Tetapi semua peserta meeting akhirnya ikut-ikutan tidak percaya dengan cerita Kendra. Apalagi mereka tahu kalau Kendra selalu berbuat sesuka hatinya. Sehingga mereka pun jadi kurang percaya dengan apa yang Kendra katakan.
"Sudah cukup! Meeting-nya di bubarkan!" Seru Tuan Dirga. Hatinya sangat kesal karena dua cucunya berdebat dan menjadi tontonan para pemegang saham
Peserta meeting-pun langsung membubarkan diri setelah mendengar apa yang Tuan Dirga katakan. Kini di ruangan itu tinggal Tuan Dirga, Kendra, dan Adrian. Tuan Dirga menatap lekat satu persatu cucunya.
"Puas???!!! Apa kalian sudah mempermalukan diri kalian? Bagaimana jika pertikaian kalian tadi sampai diketahui para investor? Tidak menutup kemungkinan mereka akan menarik kembali investasinya," geram Tuan Dirga.
"Maafkan aku, Kek!" sesal Kendra.
"Aku juga minta maaf! Aku hanya mereka tahu dengan apa yang terjadi. Aku salah karena percaya ucapan mereka," ucap Adrian.
"Mereka? Siapa mereka yang kamu maksud?" tanya Tuan Dirga.
"Tentu saja, teman dan pacar lelakinya Kendra." Adrian menjawab seperti tanpa beban.
Kendra yang mendengar apa yang Adrian katakan, kini tubuhnya dikendalikan deng pikiran Kendra yang asli. Sehingga tanpa bicara lagi, Kendra langsung menyerang Adrian. Gerakan Kendra yang gesit dan kekutan penuh, serta menyerang pada titik inti tubuh Adrian, membuat tubuh Adrian ambruk hanya dalam hitungan menit.
"Kendra hentikan!!!" teriak Tuan Dirga. "Kamu bisa membunuhnya," lanjutnya.
Kendra langsung memberi bogeman terakhir di wajah Adrian. Selama ini, Kendra sering menyembunyikan kekuatannya di hadapan orang lain. Karena jika dia terpancing, maka akan sulit untuk menghentikannya.
"Kamu selamat karena Kakek membelamu, tapi tidak lain kali. Sebenarnya, aku sangat ingin membunuh kamu. Tapi aku bukan manusia yang tidak punya hati nurani seperti kamu sehingga dengan tega meracuni sepupunya hanya demi harta warisan." Kendra langsung menghempaskan tubuh Adrian ke lantai lalu dia pun beranjak pergi meninggalkan ruang meeting.
Melihat cucunya akan pergi, Tuan Dirga pun berusaha untuk menghentikannya. "Kendra berhenti!!! Kamu tidak boleh pergi dari sini!!!"
"Aku tidak akan pergi, tapi ijinkan aku untuk memisahkan tangan dan kakinya. Tangan itu yang sudah mencampurkan minuman dengan racun. Tangan itu yang sudah mendorong mobilku hingga jatuh dari tebing." Kendra pun kembali melangkahkan kakinya. Namun saat di ambang pintu, dia kembali bicara pada kakeknya.
"Kakek masih butuh banyak bukti? Baik, aku akan mencari bukti sendiri," tanya Kendra dengan berlalu pergi meninggalkan Tuan Dirga.
Setelah kepergian Kendra, Tuan Dirga pun membantu Adrian berdiri. Dia sangat khawatir jika Kendra melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Meskipun sekarang tubuhnya membantu Adrian, tapi pikirannya pada Kendra.
Semoga Kendra tidak melakukan hal dapat merugikan dirinya dan orang lain, batin Tuan Dirga.
Sementara Kendra yang dikhawatirkan oleh Tuan Dirga, kini membawa mobilnya menuju ke rumah sakit. Dia butuh seseorang yang bisa meredam semua kemarahannya. Kendra pun langsung masuk ke ruangan Allana tanpa mengetuk pintu dulu.
"Kendra kamu kenapa?" tanya Allana kaget.
Semenjak kejadian dia muntah terus menerus, Allana tidak praktek lagi. Dia hanya fokus pada laporan rumah sakit. Sehingga di ruangannya hanya ada dia yang sedang berkutat dengan berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya.
"Lana, aku boleh minta tolong?" tanya Kendra yang kini sudah berdiri di samping kursi kerja Allana.
"Minta tolong apa? Wajah kamu kenapa seperti benang kusut? Lalu itu ...."
Kendra langsung menarik Allana agar berdiri dari duduknya. Tidak peduli Allana akan protes, Kendra langsung memeluk ibu hamil itu. Allana yang awalnya akan memberontak, entah kenapa dia merasakan pelukan yang sama dengan almarhum suaminya.
"Dika ...," lirih Allana.
"Lana, apa kamu percaya jika seseorang bisa terlahir kembali?" tanya Kendra sendu.
"Aku tidak percaya, itu hanya cerita dalam film-film fantasi. Aku hanya percaya setelah mati orang akan masuk surga atau neraka," tutur Allana.
"Aku ingin masuk surga bersama kamu, aku ingin berada di dunia ini pun bersama kamu." Kendra mencium pucuk kepalanya Allana.
Allana yang begitu merindukan suaminya, akhirnya terbuai dengan apa yang Kendra lakukan. Dia hanya diam menikmati pelukan dan kecupan sayang yang Kendra berikan padanya. Sampai akhirnya, ketukan di pintu menyadarkan mereka untuk saling melepaskan diri.
"Terima kasih, Lana. Kamu membuatku jauh lebih tenang," ucap Kendra kemudian berlalu menuju ruang pribadi Allana.
Allana yang mendengar suara ketukan pintu kembali akhirnya hanya pasrah membiarkan Kendra bersembunyi di kamarnya dan menyuruh masuk tamu yang datang.
"Masuk!"
Nampak seorang perawat membuka pintu dengan tumpukan berkas di tangannya. Perawat itu pun langsung menuju ke meja Allana untuk memberikan berkas yang dibawanya.
"Permisi, Bu Dokter! Ini data yang Bu Dokter minta dan ini bunga titipan dari Dokter Richard," Perawat itu pun menyimpan berkas dan memberikan setangkai mawar merah pada Allana.
"Mila, nanti kalau Dokter Richard menyuruh kamu untuk memberikan bunga lagi padaku, kamu simpan saja di ruangan kamu atau berikan pada orang lain. Kamu buang di tong sampah juga tidak masalah," ucap Allana.
"Baik, Dok! Kalau begitu saya permisi," pamit Mila.
"Tunggu sebentar, ini bunganya buat kamu saja." Allana pun memberikan kembali bunga yang Mila bawa.
Mila yang memang menyukai dokter ganteng itu tersenyum lebar menerima bunga dari Allana. Lalu dia pun berkata, "Terima kasih, Dok. Sudah memberikan kesempatan pada saya untuk mendapatkan Dokter Richard."
"Sama-sama, kejarlah!" suruh Allana.
Setelah kepergian perawat itu, Kendra keluar dalam kamar dan langsung memeluk Allana dari belakang. Allana yang sedang duduk di kursi kerjanya seraya memeriksa berkas, menjadi terkejut mendapat pelukan dari Kendra.
"Terima kasih, Lana. Kamu tidak memberi kesempatan pada lelaki lain," bisik Kendra.
"Bukan hanya lelaki lain, tapi kamu juga termasuk di dalamnya."
"Aku tidak akan menyerah untuk mengejar kamu, sampai kamu kembali mengatakan 'Iya' untuk menjadi istriku."
Kenapa kata-kata Kendra terasa ambigu di telinga aku. Seolah-olah dia pernah menjadi bagian dalam hidupku. Apa mungkin aku dan dia terikat hubungan di kehidupan yang lalu.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...