
Pagi ini, mentari indah berseri. Wajah Kendra menjadi nampak bersinar, secerah cahaya mentari. Dia begitu bersemangat menyambut datangnya hari. Bagaimana tidak, nanti malam dia dan Kakeknya akan melamar Allana.
Tuan Dirga yang sedang berlibur di timur tengah, langsung pulang saat tahu cucunya ingin melamar putri pengusaha sukses. Yang dia tahu kalau calon besannya itu selalu terlihat arrogant pada lawannya namun tidak pernah membedakan orang dari kekayaan yang dimilikinya.
"Ken, kamu kenapa sih? Dari tadi bukannya kerja cepat malah hilir mudik tidak karuan. Aku pusing melihatnya," tegur Abimanyu
Bukannya menjawab, Kendra justru melihat ke arah pergelangan tangannya. Terlihat di sana baru menunjukkan angka sepuluh. Yang sudah pasti masih sepuluh jam lagi waktu yang dia perlukan untuk bertemu dengan anak dan istrinya.
"Abi, kenapa lama sekali jamnya berputar? Aku sudah sabar ingin melihat jari manis Allana memakai cincin yang aku berikan," ucap Kendra.
"Ya ampun, Ken. lebih baik kamu tanda tangani dulu semua berkasnya, agar kita bisa cepat pulang," suruh Abimanyu.
"Iya, ya. Kenapa aku gak kepikiran?" Kendra langsung menepuk jidatnya sendiri.
Pemuda tampan itu benar-benar nervous. Meskipun dia pernah menikah dengan Allana, tetapi dulu mereka menikah karena jebakan orang. Tidak seperti sekarang yang pernikahannya diawali dengan lamaran.
...***...
Malam harinya, Kendra sudah rapi dengan kemeja batik yang senada dengan yang dipakai oleh Tuan Dirga. Begitupun dengan Abimanyu yang tidak ingin ketinggalan memakai batik yang seragam.
Mereka datang ke kediaman papanya Allana yang berada di daerah perumahan elit. Kedatangan Kendra dan kakeknya disambut dengan hangat oleh Tuan Andrea dan istrinya.
"Selamat datang di gubuk saya, Tuan Dirga. Maaf jika rumah saya terlihat berantakan," ucap Andrea basa basi. "Silakan masuk!" lanjutnya
"Tuan Andrea selalu saja merendah. Terima kasih sudah menerima kedatangan saya dan cucu saya," ucap Tuan Dirga.
"Tentu saja saya menerima kedatangan Tuan Dirga. Karena saya sangat menyukai cucu Anda," ucap Andrea dengan tersenyum.
Kedua pria dewasa pun terlibat dalam obrolan ringan. Sementara Kendra dan Abimanyu hanya menjadi pendengar setia. Sedikit pun mereka tidak berniat untuk menyela pembicaraan dia pria yang berbeda generasi itu.
Om Andrea memang selalu mudah akrab dengan orang baru. Tak heran usahanya cepat maju karena dia memiliki relasi bisnis yang banyak, batin Kendra.
Saat mereka larut dalam obrolan, datang dua orang wanita cantik yang membelai hijab. Kendra sempat terpaku melihat Allana yang terlihat sangat berbeda. Setelah Allana dan mamanya duduk di sofa, barulah Tuan Dirga berbicara serius.
"Sebelumnya saya minta maaf karena datang di waktu yang mendadak. Sebenarnya kami datang ke sini karena ingin melamar Nak Allana untuk Kendra," ucap Tuan Dirga.
"Terima kasih atas niat baiknya. Namun, kami belum bisa memberikan jawaban tanpa persetujuan dari putri kami," ucap Andrea. "Lana, bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaran Nak Kendra?"
"Syukurlah Tuan Dirga, sebentar lagi kita jadi besan. Lana sudah setuju menerima lamaran dari Nak Kendra," ucap Andrea dengan wajah yang berseri.
"Sebagai pengikatnya, ayo Ken pasangkan cincin di jari manisnya!" suruh Tuan Dirga.
Kendra dan Allana pun berdiri, begitupun dengan semua orang yang ada di sana. Dia memasangkan cincin berlian di jari manis Allana. Kemudian Kendra menciumnya dengan penuh perasaan.
"Terima kasih Lana," lirih Kendra.
"Saya senang karena sekarang kita besanan. Untuk mempercepat hubungan ini resmi, bagaimana kalau bulan depan kita resmikan menjadi sepasang suami istri," usul Tuan Dirga.
"Kenapa harus menunggu besok? Bagaimana kalau menikahnya lusa saja. Biar tidak jadi fitnah," usul Kendra.
"Om setuju, Ken! Lebih cepat lebih baik," sahut Andrea.
"Apa tidak terlalu mendadak Tuan Andrea?" tanya Tuan Dirga.
"Niat baik harus disegerakan Tuan Dirga,' jawab Andrea.
"Baiklah, Tuan Andrea. Saya mengikuti saja rencana Tuan Andrea. Yang terpenting bagi saya, pernikahan mereka berjalan dengan baik dan dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah.
Arga, papa sudah menepati janji. Lusa Kendra aan menikah denagn wanita baik-baik. Meskipun pilihan Kendra seorang janda, tetapi aku yakin Kendra akan bahagia bersamanya. Semoga kamu tenang berada di alam sana, batin Tuan Dirga.
Setelah cukup benbincang, Tuan Dirga pun undur diri. Dia merasa tidak enak jika bertamu sampai larut malam. Lagipula semua acara dan segala macam yang dibutuhkan untuk pesta pernikahan nanti, sudah diatur dengan matang.
...~Bersambung~...
...Dukung terus author ya kawan. Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Yuk kepoin juga karya keren yang satu ini