
Meskipun Allana selalu bersikap dingin dan judes pada Kendra. Tapi dia tidak tega menurunkan Kendra di tengah jalan, sehingga Allana pun mengantar Kendra sampai ke depan apartemennya. Kendra yang sedari tadi melamun mengingat pertemuannya dengan kedua orang tuanya, jadi terkejut saat mobil Allana sudah sampai di apartemennya.
"Bukankah ini apartemen kamu?" tanya Allana.
"Iya, kamu benar. Terima kasih tumpangannya, aku turun," pamit Kendra kemudian segera turun dari mobil Allana.
Tanpa menyahut ucapan Kendra, Allana pun segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat dia bekerja. Sedangkan Kendra terlihat berjalan gontai menuju unit apartemen yang dia tempati bersama dengan Abimanyu. Setelah memasukkan password, Kendra 0un langsung masuk ke apartemennya.
Nampak Abimanyu sedang menonton televisi dengan laptop di pangkuannya. Rupanya dia sedang meningkat berita mencari tahu jika Kendra mengalami hal yang tidak diinginkan saat kemarin keluar dari restoran.
"Ken, kamu tidak apa-apa? Apa yang Adrian lakukan padamu? Apa dia menyakitimu? Apa dia mengenali kamu? Kamu di bawa ke mana sama dia? Kenapa semalam tidak pulang?" berondong Abimanyu saat dia melihat Kendra masuk ke dalam apartemen.
"Abi, bisa tidak bicaranya satu-satu. Aku lelah ingin tidur," ucap Kendra dengan berjalan lesu ke kamarnya.
"Hey! Jawab dulu pertanyaan aku!" teriak Abimanyu.
"Nanti saja, aku ingin tidur." Kendra langsung menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Dia sedang ingin sendiri memikirkan apa yang harus dilakukannya agar kehidupannya kembali seperti dulu saat dia menjadi Aldrich Marchdika.
...***...
Saat sinar mentari sudah berwarna jingga, Kendra pun bangun dari tidurnya. Pikirannya kini sudah fresh untuk menjemput hari esok yang lebih baik. Setelah Kendra berpikir berulang kali, dia pun memutuskan untuk tetap menjalankan rencana semua. Mengusut semua kejahatan Adrian setelah itu, dia baru akan kembali pada keluarganya.
"Ken, Kendra makan dulu!" teriak Abimanyu di depan pintu kamar Kendra seraya mengetuk pintu.
Kendra yang baru selesai mandi sore dengan handuk yang melilit di pinggangnya, dia pun langsung membukakan pintu untuk Abimanyu. Hal itu membuat Abimanyu hanya menggelengkan kepalanya melihat penampilan Kendra.
"Makan sama apa?" tanya Kendra.
"Astaga, Ken. Pake baju dulu sana! Aku menunggu di meja makan," ucap Abimanyu.
Merasa sudah terlihat rapi, Kendra pun langsung menemui Abimanyu di meja makan. "Abi, apa kamu sudah bicara dengan kakek?" tanyanya.
"Sudah, tapi kakek perlu bukti akurat karena dia tidak ingin dikira memfitnah Adrian," ucap Abimanyu.
"Maksud kamu? Kakek tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku? Apa aku harus membawa Allana ke hadapan kakek, agar dia percaya kalau Adrian telah tega membunuh sepupunya sendiri?" tanya Kendra heran dengan jalan pikiran kakeknya.
"Bukan seperti itu, Kendra! Kakek percaya dengan apa yang aku katakan, tapi kita juga tidak bisa langsung menunjuk Adrian kalau tidak memiliki bukti." Abimanyu menghela napas sejenak.
"Kakek akan membantu kamu, tapi kamu harus segera menyelesaikan kuliahmu. Agar kakek punya alasan untuk membela kamu. Kamu tahu, Adrian akan meminta para pemegang saham untuk mendukungnya menggantikan Kakek. Dia juga meminta kakek untuk mendukungnya dan menjadikan dia sebagai pengganti kakek."
"Tidak masalah, tinggal skripsi kan? Aku pasti akan menyelesaikannya dengan cepat. Kamu jangan kaget jika nanti aku mendapatkan cumlaude."
"Aku menantikannya, Ken. Aku yakin kamu bisa menjadi sarjana tehnik. Bukankah kamu sangat mahir merakit senjata dan merancangnya?"
"Tentu saja aku bisa, kemarin aku memang terlalu banyak main dengan Monika sehingga melupakan studi aku. Tapi sekarang tidak akan seperti itu. Aku akan serius menyelesaikan kuliahku," ucap Kendra dengan mata yang berbinar.
"Baguslah, aku akan memberi tahu kakek kabar baik ini. Sebaiknya, kamu juga berhenti bekerja sebagai office boy agar bisa lebih fokus dengan kuliah kamu."
"Oke tidak masalah!"
Setelah menyelesaikan makanannya, Kendra pun kembali ke kamarnya. Dia langsung membuka file-file Kendra asli yang dulu ditinggalkan di kamarnya. Dia langsung menautkan kedua alisnya saat melihat rancangan senapan berlaras panjang dan beberapa pistoll yang yang dilengkapi dengan alat pelacak target sehingga tiap bidikan langsung tepat sasaran
Kendra sebenarnya pintar, tapi dia jadi bodoh karena cinta. Benar-benar pria malang, dia harus tewas di tangan wanita yang sangat dia cintai, batin Kendra.
...~Bersambung~...