
Cukup lama Kendra berada di kampus, sampai matahari sudah condong ke barat, barulah dia berpamitan pada dosen pembimbingnya dan temannya Denis. Sebenarnya dia sudah selesai mengurus skripsinya. Kendra sudah mendapatkan semua tanda tangan dari dosen pembimbingnya.
Namun, dia mengobrol dulu dengan beberapa dosen yang dulu pernah mengajar di kelasnya. Hampir semua dosen di kampusnya merasa heran sekaligus senang. Karena Kendra yang dikenalnya, sekarang menjadi pribadi yang ramah dan murah senyum.
Kendra memacu motornya dengan kecepatan sedang. Rencananya, dia mau mampir ke rumah sakit untuk menemui Allana. Hingga saat dia melihat ada yang menjual rujak, Kendra pun menepikan motornya.
"Bang, dua dibungkus ya!" pesan Kendra.
"Siap, Mas! Bumbunya mau digabung apa dipisah?" tanya penjual rujak.
"Di pisah, Bang!" Kendra pun duduk di bangku yang sudah disediakan oleh penjual rujak.
Tidak berapa lama kemudian, rujak pesanan Kendra pun sudah siap. Dia pun langsung memberikan uang lima puluh ribuan untuk membayar rujak.
"Bang, kembaliannya buat Abang saja ya!" Kendra langsung bergegas naik ke motornya dan langsung menancap gas.
Penjual rujak yang sedang menghitung uang kembalian untuk Kendra hanya bisa melongo melihat pembelinya yang kabur saat mau diberi uang kembalian.
"Belum juga bilang terima kasih, sudah keburu pergi," gumam penjual rujak.
Sementara Kendra langsung menuju ke rumah sakit, tempat Allana bekerja. Dia merasa kangen karena sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan kekasih hatinya.
Sesampainya di sana, Kendra pun menuju ke ruangan Allana. Namun, Kendra dibuat terkejut, saat mendapati kekasih hatinya sedang muntah terus menerus.
"Lana, kamu tidak apa-apa?" tanya Kendra cemas.
Bukannya menjawab, Allana hanya melambaikan tangannya menyuruh Kendra keluar dari ruangannya. Akan tetapi, Kendra tidak mau menggubrisnya. Dia mencari kotak obat dan mengambil minyak kayu putih. Kendra pun langsung mengoleskannya ke bagian leher Allana dan tengkuknya.
Entah karena sentuhan Kendra, entah karena minyak kayu putih. Rasa mual Allana semakin berkurang. Kendra pun langsung memapah Allana menuju tempat istirahat pribadi dokter cantik itu.
"Makasih, Ken!" ucap Allana.
"Duduklah! Aku akan mengambil air hangat dulu," suruh Kendra.
Allana hanya menuruti apa yang Kendra katakan, karena badannya terasa sangat lemas sedari siang dia muntah terus. Apalagi saat datang seorang ibu yang memeriksakan anaknya dengan memakai parfum yang menusuk ke indera penciumannya. Membuat ibu hamil itu tidak bisa menahan rasa ingin muntahnya.
Kendra pun datang kembali dengan segelas air hangat di tangannya. Dia langsung memberikan gelas itu pada Allana, kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Sudah berapa lama kamu muntah?" tanya Kendra.
"Dari siang," jawab Allana setelah dia menghabiskan setengah gelas.
"Kenapa tidak memanggil orang untuk menjagamu? Apa pengawal kamu tidak ada yang tahu kalau kamu sedang muntah?" tanya Kendra dengan menahan degup jantungnya.
Dia merasa kesal karena membiarkan Allana muntah terus tanpa ada yang tahu. Kendra pun kembali bertanya pada Allana.
"Lana, sudah berapa bulan anak yang ada dalam kandungan kamu?" tanya Kendra.
Kenapa Kendra tahu banyak tentang aku. Dia bahkan tidak merasa sungkan saat berada di villa, seolah dia sudah tahu banyak tentang keluarga Wiratama, batin Kendra.
"Ken, sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu tahu banyak tentang aku?" tanya Allana.
"Aku hanya lelaki yang mencintai kamu dengan tulus dan ingin selalu hidup bersama denganmu. Kenapa aku tahu banyak? Karena hubungan kita sedekat darah dengan nadinya." Kendra tersenyum sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Oh iya, aku bawa rujak. Apa kamu mau mencobanya? Sebentar aku siapkan dulu." Kendra langsung membuka kantong plastik yang dibawanya dan menyimpan rujak ke dalam piring.
Setelah menyimpan bumbunya ke mangkuk kecil, Kendra pun langsung membawanya pada Allana. Melihat rujak yang nampak segar, mata Allana langsung berbinar. Dia lupa kalau orang yang membawanya Kendra. Seseorang yang tidak dia sukai.
"Wah, enak sekali!" Allana terus mencolek bumbu dengan buah yang sudah di-iris tipis. Wajah yang tadi nampak pucat kini kembali berseri.
"Makasih, Ken! Aku habiskan ya rujaknya," ucap Allana.
"Habiskan saja, kalau kamu suka, besok aku belikan lagi."
"Tidak usah, Ken. Biar aku suruh pengawal yang membelinya," tolak Allana.
"Pasti rasanya beda. Tidak akan seenak dengan rujak yang aku bawa," kilah Kendra.
"Benarkah? Memang, kamu beli di mana?" tanya Allana.
"Rahasia. Aku tidak mau memberitahu kamu," ucap Kendra.
"Kenapa kamu pelit? Aku kan hanya menanyakan tempat penjualnya," tanya Allana
Tentu saja aku tidak akan memberi tahu kamu,agar kamu selalu mengandalkan aku untuk mendapatkan rujak seperti yang kamu inginkan.
Kendra terus memperhatikan Allana yang sedang menikmati rujak yang dibawanya. Sampai ibu hamil itu menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian lelaki yang duduk di tepi tempat tidur. Allana yang merasa risih karena terus dipandangi Kendra, dia pun langsung mencolek bumbu rujak dengan jambu dan memasukkan paksa ke mulut Kendra.
"Hu ... ha ... hu ... ha ...." Kendra terus mengipasi mulutnya karena merasa pedas di lidahnya. Dia pun langsung meminum air sisa Allana.
"Ken, kenapa di minum? Itu kan punya aku," tanya Allana.
"Kita sudah sering bertukar saliva, kenapa jadi masalah kalau aku minum satu gelas dengan kamu?"
"Kamu menyebalkan, Ken!"
"Tapi ngangenin. Iya, kan?"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik Like, comment, vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...