
Hari ini matahari bersinar cerah dengan awan tipis menghiasi angkasa. Burung-burung berkicau dengan riangnya hinggap di pepohonan. Nampak seorang pemuda dengan penuh percaya memasuki lobby perusahaan raksasa di negeri.
Adrian nampak begitu senang saat memasuki lobby perusahaan. Dia yakin saat semua petinggi perusahaan tahu kalau Kendra meninggal, maka mereka akan mendesak Tuan Dirga untuk mencari penerus secepatnya. Dia pun sudah melobi pengacara Kakeknya agar tidak mengeluarkan surat wasiat yang terakhir dibuat kakeknya sehingga merugikan dirinya.
"Aurel!" panggil Adrian.
"Ya, Tuan?" sahut Aurel, sekretaris Adrian.
"Kamu sudah siapkan bahan meeting untuk pagi ini." tanya Adrian.
"Sudah, Tuan!" sahut Aurel.
"Kamu bawa ke ruanganku, aku akan memeriksanya sebelum dibawa meeting!" suruh Adrian.
"Baik, Tuan!" sahut Aurel.
Aurel pun segera menyiapkan berkas yang akan dibawa ke ruang meeting pagi ini. Kemudian dia membawanya ke dalam ruangan Adrian. Namun saat ia akan keluar tanpa sengaja tangan Adrian menyentuh bokong Aurel. Sehingga membuat sekretarisnya itu menjadi berbalik lagi menghadap pada Adrian
"Tuan apa yang anda lakukan? Kenapa menyentuh bokong aku?" tanya Aurel.
"Sorry Aurel! Aku tidak sengaja, tapi rasanya empuk sekali"
"Tuan, Anda jangan macam-macam!"
"Tidak! Aku tidak akan macam-macam. Aku hanya akan satu macam sama kamu, itu pun kalau kamu mau."
"Maksud, Tuan?"
"Aku akan menjadikan kamu simpanan aku kalau kamu mau, tapi kamu tidak boleh membocorkannya pada Monica."
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku Jadi simpanan Anda?"
"Kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan."
"Tuan serius?" tanya Aurel kaget.
"Tentu saja aku serius. Kapan aku bercanda?"
Iya sih. Tuan Adrian orangnya serius. Kalau aku jadi simpanannya, aku bisa beli barang-barang branded dong. Ah ... Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagipula kalau aku hamil, nanti anakku keturunan konglomerat, batin Aurel.
"Baiklah, Tuan! Aku mau menjadi simpanan Anda, tapi Anda harus menuruti keinginanku. Bagaimana? Apa Tuan setuju?" tanya Aurel memastikan.
"Oke, deal! Tapi kamu harus memuaskan aku di atas tempat tidur dan jika aku tidak merasa puas maka kompensasinya pun berkurang," ucap Adrian dengan seringai di bibirnya
"Baiklah, Tuan! Aku pastikan, Tuan tidak akan berkutik di bawah kendaliku," bisik Aurel.
Mata Adrian sudah dipenuhi oleh kabut gairah, dia pun langsung menyerang bibir merah itu dengan bringas. Saat mereka saling bertukar saliva, tangan Adrian sudah berkelana ke dalam kemeja Aurel dan memainkan squisy kembar yang setiap hari menantangnya seolah ingin disentuh.
Saat keduanya sedang asyik saling menyesap dan saling membelit lidah, tiba-tiba pintu ruangan ada yang mengetuk dari luar. Adrian pun segera melepaskan pagutannya. Setelah Aurel merapikan bajunya kembali, dia pun mempersilakannya untuk masuk.
"Masuk!"
Nampak seorang office boy memasuki ruangannya. Dia datang ke ruangan Adrian karena disuruh oleh Tuan Dirga untuk segera datang ke ruangan meeting. Adrian pun segera membereskan berkas. Kemudian dia bergegas menuju ke ruang meeting, karena sudah ditunggu oleh kakek dan semua petinggi di perusahaan.
"Maaf, lama menunggu!" ujar Adrian dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Kamu telat dua puluh menit anak muda!" seru salah satu pemegang saham.
"Sudahlah! Ayo kita mulai meeting-nya!" ajak Tuan Dirga yang sudah sehat seperti sedia kala.
"Baik, Kek!" sahut Adrian.
Adrian mempresentasikan dengan baik laporan pembangunan proyek yang sedang digarapnya. Hal itu membuat semua peserta meeting terkagum-kagum dengan kepiawaian Adrian dalam menangani sebuah proyek. Setelah Adrian selesai mempresentasikan laporannya, dia pun meminta waktu sebentar pada semua peserta meeting.
"Maaf, Tuan dan Nyonya! Saya minta waktunya sebentar. Sebenarnya, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu tentang Kendra, penerus Argantara Group." Adrian berhenti sebentar sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Dengan sangat menyesal, saya harus mengatakan kalau Kendra sudah tiada. Dia jatuh dari tebing yang curam saat sedang mabuk bersama dengan teman lelakinya. Sebenarnya saya sudah mencari dan meminta tim SAR, tetapi jasadnya tidak bisa ditemukan," ucap Adrian dengan menundukkan kepalanya sendu.
"Tentu saja tidak akan ditemukan, karena aku masih hidup." Tiba-tiba Kendra datang dengan penuh percaya diri.
Dia datang bersama dengan Abimanyu di belakangnya. Kini perhatian seluruh peserta meeting berpusat pada Kendra yang tampil sangat memukau. Kendra hanya tersenyum miring saat melihat Adrian yang diam melongo.
"Lagipula, aku tidak mabuk. Aku telah diberi racun, kemudian kamu membuangnya ke dalam laut bersama dengan mobilku. Beruntung ada orang yang menyelamatkan aku, sehingga aku bisa berdiri di sini," lanjutnya.
"Pintar sekali kamu membuat cerita karangan. Mana mungkin aku meracuni kamu dan membuang kamu ke laut. Aku ini sepupu kamu, Ken. Mana mungkin aku tega padamu," kilah Adrian.
"Cih! Kamu sepupu hanya di hadapan Kakek, tetapi di belakangnya, kamu musuh dalam selimut." Kendra pun mendesis mendengar apa yang sepupunya katakan.
"Jangan bicara sembarangan, Ken! Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu. Kamu jangan asal menuduh kalau tidak punya bukti kongkrit!" seru Adrian.
Sialan! Kenapa dia masih hidup? Gagal total usahaku untuk mendapatkan warisan Kendra. Tunggu saja, Ken! Aku pasti akan mencari cara lain untuk melenyapkan kamu.
"Baik kalau itu keinginan kamu. Saat aku sudah memiliki bukti lengkap, maka akan aku pastikan kamu mendekap dalam penjara."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...