
Sepulang dari kantor polisi, Kendra terus saja tersenyum. Dia senang, karena akhirnya polisi melanjutkan kasus video itu. Setelah mereka mendapatkan beberapa bukti yang memberatkan Monika dan Adrian, akhirnya polisi memutuskan untuk menjadikan Adrian dan Monika sebagai tahanan rumah sampai kasusnya selesai.
Kendra terus melajukan mobilnya menuju rumah Keluarga Wiratama. Dia begitu terburu-buru karena teringat janjinya untuk makan malam di sana. Saat sampai di sana, ternyata semua orang baru selesai makan malam.
"Maaf, saya datang terlambat!" ujar Kendra.
"Tidak apa, Saya kira kamu tidak akan datang sehingga kami makan mendahului," ucap Andrea. "Lana, temani Nak Kendra dulu. Papa dan yang lain menunggu di ruang tengah."
"Nak Kendra jangan sungkan ya! Ini semua Tante yang masak," ucap Mitha.
"Makasih, Tan!"
"Kami ke sana dulu ya! Nikmati makanannya," ujar Elvano seraya berlalu pergi meninggalkan Kendra dan Allana
Andrea sengaja mengajak anak dan istrinya untuk meninggalkan Kendra dan Allana di ruang makan. Dia ingin memberi ruang pada mereka agar lebih dekat. Syukur-syukur kalau putrinya bisa membuka hati untuk laki-laki muda yang menurutnya cukup kompeten.
Setelah kepergian Andrea dan yang lain, Kendra pun langsung duduk di samping Allana. Tangan terulur mengelus perut buncit Allana. Dia pun sedikit membungkuk lalu mencium perut buncit itu.
"Papi kangen, apa kamu kangen dengan papi?" tanya Kendra.
Duk
Terlihat ada yang menyembul di perut Allana. Sepertinya bayi mereka merespon dengan baik apa yang dikatakan oleh papinya. Allana yang merasakan gerakan bayinya, begitu senang karena bayinya aktif.
"Dia bergerak, Ken. Anakku bergerak," kata Allana begitu heboh.
"Kamu tahu Lana, kenapa dia bergerak? Karena dia sangat merindukan aku. Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Kendra dengan menatap lekat wajah Allana.
Ehm ehm
Allana hanya berdehem untuk menetralkan kegugupannya atas pertanyaan Kendra. Dia pun langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk yang biasa almarhum suaminya makan. Kemudian menyimpannya di depan Kendra.
"Makanlah! Aku temani," ucap Allana.
"Terima kasih Mommy Lana." Kendra pun mulai menyantap makanannya dalam diam. Dia memang tidak biasa saat makan sambil berbincang.
Allana terus saja memperhatikan cara Kendra makan yang mengingatkannya pada Dika. Dika yang selalu makan dari pinggir dulu dan menyisihkan makanan yang sekiranya tidak bisa dia makan. Dia tidak pernah protes saat di piringnya ada makanan yang tidak dia sukai. Dika hanya meminta maaf karena tidak bisa memakannya.
"Apa aku sangat tampan?" tanya Kendra saat menyadari Allana terus saja memperhatikan cara dia makan.
"Kamu narsis sekali. Kalau sudah, ayo menemui papa. Semuanya pasti sedang menunggu kita," ajak Allana yang langsung mengalihkan pembicaraan.
Kendra hanya tersenyum melihat Allana yang menghindar karena kepergok. Dia pun mengikuti Allana dari belakang. Saat sampai di ruang tengah, benar saja keluarganya Allana sedang berkumpul. Kendra dan Allana pun langsung bergabung bersama dengan mereka.
"Bagaimana dengan video yang beredar, Ken? Apa sudah diatasi?" tanya Andrea saat Kendra sudah duduk bersama dengan Allana.
"Sedang diusut polisi, Om. Maaf Om, apa rekamannya sudah ada?" tanya Kendra.
"Sekarang sedang diusut oleh polisi, Om. Semoga rekaman yang Om berikan bisa membuat mereka mendekam di balik jeruji besi," ucap Kendra.
"El, apa sudah disiapkan?" tanya Andrea.
"Sudah, Pah! Sebentar aku ambil dulu," sahut Elvano.
Elvano pun langsung beranjak pergi menuju ke ruang kerja papanya. Dia mengambil sebuah flashdisk yang berupa rekaman video saat kejadian di tebing waktu itu bahkan sampai Kendra diselamatkan oleh Allana, rekamannya ada di sana.
"Kamu simpan baik-baik. Jangan sampai orang yang berpura-pura kawan tapi ternyata lawan melihatnya," pesan Elvano.
"Baik, Bang!" sahut Kendra dengan tersenyum manis.
Setelah cukup berbincang-bincang dengan Keluarga Allana, Kendra pun berpamitan pulang karena hari sudah larut. Meskipun sebenarnya dia sangat ingin menginap di rumah Allana, tapi semua itu dia tahan karena mereka secara hukum mereka belum sah sebagai suami istri.
"Lana, aku pulang dulu. Mau kan besok memberikan kesaksian untukku? Bagaimana keadaan aku saat kamu menemukannya di tengah lautan?" tanya Kendra dengan mata uang penuh pengharapan.
"Kata papa kalau menolong orang gak boleh setengah-setengah. Karena secara langsung aku sudah ikut terlibat, baiklah untuk kali ini aku mau. Asal kamu tahu, aku tidak suka berhubungan dengan kantor polisi ataupun pengadilan."
"Terima kasih, Lana!" Kendra langsung memeluk Allana. Membuat wanita hamil itu hanya diam mematung karena kaget mendapat pelukan mendadak dari Kendra.
"Papi pulang dulu ya, Sayang!" pamit Kendra dengan mencium perut Allana.
...***...
Kebahagiaan Kendra berbanding terbalik dengan seorang pria paruh baya yang sedang mengamuk di kamarnya. Dia tidak terima Adrian di jadikan tahanan rumah, sehingga dia pun bertekad untuk membantu Adrian tanpa sepengetahuan Tuan Dirga.
"Bodoh, bodoh sekali! Kenapa harus bertengkar di perusahaan sehingga kasus yang besar menjadi terungkap. Aku tidak boleh tinggal diam. Bagaimanapun caranya, aku harus menjadikan Adrian sebagai pewaris Argantara Group." Handoko terus saja melampiaskan kekesalannya dengan melemparkan busur kecil pada target yang terpasang di dinding
Dia begitu kesal karena rencananya yang sudah tersusun rapi harus berantakan. Padahal demi menjadikan Adrian sebagai pewaris Argantara Group, dia rela melajang dan mengabdikan hidupnya pada Tuan Dirga dengan menjadi asisten pribadinya.
"Miranda, aku sudah menepati janjiku untuk menjaga putra kita. Meskipun kamu selalu menyangkalnya, tapi aku selalu yakin kalau Adrian adalah benihku. Karena suami kamu itu tidak bisa memiliki anak," gumam Handoko.
"Kalau sampai Adrian tidak bisa menjadi pewaris, maka aku harus membuat rencana lain. Aku yang selama ini membangun perusahaan Argantara sampai bisa sebesar sekarang. Kenapa Kendra yang harus menikmati hasilnya?"
Handoko terus saja bicara sendiri di kamarnya. Dia terus meluapkan kekesalannya dengan membidik target. Tanpa dia sadari, ada seseorang yang bisa mendengar apa yang dia katakan di dalam kamar.
"Aku sudah curiga kalau Sagara bukanlah ayah kandung Adrian. Tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Setelah Sagara dan Arga pergi untuk selama-lamanya. Ternyata, selama ini aku sudah memelihara seekor ular yang siap mematuk aku kapan saja dia mau. Kendra, satu-satunya harapan aku untuk menjadi penerus Keluarga Argantara. Semoga saja dia tidak mengecewakan aku," gumam Tuan Dirga di kamarnya dengan earphone yang menempel di telinga.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya Kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....