Again My Life

Again My Life
Bab 39 Penangkapan Handoko



Mendengar suara yang sangat dikenalnya, Kendra sempat terkaget tetapi hanya sesaat. Dia langsung waspada dengan apa yang akan terjadi. Apalagi, Kendra melihat pistol di tangan Handoko.


Dor!


Handoko langsung menarik pelatuknya dengan sasaran kepala Kendra. Namun, Kendra dengan gesit menghindar hingga peluru itu hanya melewati samping kepalanya. Dia pun langsung berlari ke arah Handoko dan menyerang pria yang seusia papanya itu.


Handoko yang belum sempat memasang kuda-kuda, dia langsung terhuyung mendapatkan serangan dadakan dari cucu tuannya. Tanpa membuang waktu lagi, Kendra kembali mendaratkan pukulannya di titik fatal organ tubuh Handoko, sehingga pria itu langsung tidak bisa berkutik mendapatkan serangan dari Kendra.


Tuan Dirga yang sedang sembunyi di dalam toilet, dia langsung keluar dari persembunyiannya. Dia takut, Kendra akan melakukan hal yang menyebabkan kematian. Meskipun dia tahu kalau tindakan Handoko tidak bisa dimaafkan, tetapi Tuan Kendra tidak mau cucunya menjadi seorang pembunuh.


"Ken, hentikan! Sebentar lagi Juna datang. Biar dia dimasukkan ke dalam penjara saja. Jangan sampai dia mati ditangan kamu." Cegah Tuan Kendra.


"Cih! Hanya segitu kemampuan kamu. Kalau kamu berani, ayo bunuh aku! Aku ingin tahu seberapa besar kekuatan dari seorang Kendra," pancing Handoko.


Kalau sampai aku mati, setidaknya dia akan masuk penjara. Sudah pasti Adrian yang akan menggantikan posisi Tuan Dirga, batin Handoko.


"Oh, kamu ingin cepat mati? Baiklah, akan aku kabulkan. Tapi nanti setelah kamu merasakan dinginnya dinding rumah tahanan. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan bedebah sepertimu."


Beruntung jiwa Dika mampu menahan gejolak amarah Kendra, sehingga dia mau mendengarkan apa yang Tuan dirga katakan. Raga Kendra yang memiliki kekuatan yang tidak diketahui oleh orang lain, kini dalam pengaruh jiwa Dika.


"Aku heran sama kamu, kenapa selalu lolos dari kematian? Padahal secara logika, seharusnya kamu sudah mati karena racun yang diberikan oleh Adrian itu racun yang sangat mematikan. Tapi kamu terlihat baik-baik saja." Handoko tanpa sadar sudah mengakui kalau Adrian memang sudah berusaha untuk melenyapkan Kendra.


Apa Adrian tahu jika Kendra memiliki kekuatan yg kadang tidak bisa dikendalikan? Sehingga dia memakai cara halus untuk melumpuhkannya, dengan memberinya racun. Seperti saat Uncle Philips menyuruh Emily untuk meracuniku, karena dia tahu kalau menyerang langsung tidak mungkin karena Om Andrea mengirim pengawal bayangan untuk aku, batin Kendra,


Handoko yang sudah babak belur hanya meringkuk di lantai. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena Kendra sudah menotok dia. Sampai akhirnya Komandan Arjuna datang, barulah Kendra membuka kembali totokan dia.


"Juna, terima kasih sudah datang. Tolong diurus penjahat ini. Dia sudah berusaha utuk membunuh Kendra ditambah dia berniat mengambil berkas penting milik Om," tutur Tuan Dirga.


"Sama-sama, Om. Sudah menjadi tugas dan kewajiban aku untuk menangkap seorang penjahat. Kalau ada apa-apa, Om bisa langsung menghubungi aku," ucap Komandan Arjuna.


Arjuna membawa anak buahnya saat menuju ke rumah Tuan Dirga, sehingga Handoko langsung diringkus oleh anak buah Arjuna. Sementara Kendra dan Tuan Dirga ikut ke kantor polisi untuk membuat pengaduan dan diperiksa sebagai saksi.


Setelah Kendra membuat laporan , dia pun kembali menghampiri Arjuna yang baru saja selesai menginterogasi Handoko. "Om, sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Semoga kasusnya cepat selesai."


"Sama-sama. Ken, sebenarnya apa hubungan Handoko dengan Adrian. Om merasa, dalam kasus kamu, Handoko juga ikut andil." Kening Arjuna nampak berkerut. sepertinya dia begitu keras berpikir.


"Adrian, putra kandung Handoko. Kejahatan mereka pun dengan motif yang sama, ingin menguasai harta warisan Kendra dan hartaku," timpal Tuan Dirga.


"Apa Kek, bukan cucu Kakek? Bagaimana bisa?" tanya Kendra kaget


"Apa Kakek sudah tes DNA?" tanya Kendra lagi.


"Belum."


"Lebih baik Kakek melakukan tes DNA dulu. Agar lebih meyakinkan," saran Kendra.


"Kamu benar, kakek akan secepatnya mengurus tes DNA."


...***...


Setelah kejadian penyusupan itu, Kendra akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kakeknya. Dia khawatir, akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Apalagi, kejadian waktu itu di rumah sakit belum terungkap. Siapa yng ingin menghabisi nyawa kakeknya.


"Ken, hari ini pengumuman hasil tender. Semoga saja perusahaan kita yang memenangkannya. Tapi kalaupun kalah, tidak jadi masalah buat kakek. Karena sekarang kamu sudah jadi presiden direktur." Tuan Dirga menghea napas dalam sebelum dia melanjutkan kata-katanya.


"Tolong jaga perusahaan dan karyawan. Jangan sampai ada karyawan kita yang kekurangan makan karena gajinya tidak cukup. Jangan hentikan juga, aliran dana yang khusus untuk panti sosial. Setelah kasus Handoko dan Adrian selesai, sepertinya kakek ingin liburan ke timur tengah."


"Kakek tenang saja, aku pasti akan menjalankan amanah Kakek."


"Oh iya, bagiamana dengan Allana? Kapan Kakek melamarnya untuk kamu?" tanya Tuan Dirga.


"Nanti Kek, saat Allana sudah siap untuk menerima aku."


"Maksud kamu? Apa kamu belum resmi berhubungan dengannya?" Tuan Dirga sangat terkejut dengan penuturan cucunya.


"Belum, hubunganku masih dipending karena Allana belum bisa menjalin hubungan yang baru dengan lawan jenis. Untuk saat ini, aku mih dianggap temannya. Tapi nanti, dia pasti akan menganggap aku teman hidupnya sekaligus teman tidurnya."


"Astaga, Ken! Kamu masih saja seperti itu. Apa kamu tidak bisa mencari perempuan yang bisa menerima kamu dengan tulus dan ikhlas?"


"Allana bisa Kek. Hanya saja, dia masih belum bisa melupakan suaminya yang telah tiada."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....


...Terima kasih....