
Hari-hari Kendra lalui dengan semangat. Dia begitu senang karena akhirnya dia tidak terbukti plagiat. Bahkan diberi kesempatan untuk membuat rancangan baru yang berbeda. Meskipun hanya diberi waktu satu minggu, terpaksa dia pun menyanggupinya. Kendra dan Abimanyu bekerja keras untuk membuktikan pada orang-orang kalau mereka bukan seorang plagiat
"Abi, aku akan meminta pada AP Technology untuk membuat pengaman pada pintu ruanganku. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam ruangan aku tanpa akses yang aku berikan," ucap Kendra saat keduanya sedang berada di ruangan Kendra.
"Bagus itu, kapan akan dikerjakan?" tanya Abimanyu.
"Mungkin besok. Aku akan bertemu dengan orang AP Technology hari ini. Apa kamu mau ikut?" tanya Kendra.
"Boleh! Oh iya Ken, kenapa mereka begitu lelet menemukan siapa orang yang telah mencuri design kamu? Bahkan tidak terekam CCTV," tanya Abimanyu.
"Jawabannya hanya satu, dia orang yang sudah tahu tentang seluk beluk perusahaan ini. Aku salut, karena dia melakukan kejahatannya dengan rapi."
"Aku merasa, dia hanya menarget kamu, Ken. Apa jangan-jangan Adrian pelakunya?" tanya Abimanyu.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia sangat tahu dengan apa yang kita lakukan di sini. Apa jangan-jangan, dia menyimpan ...." Kendra menghentikan ucapannya, lalu menempelkan bibirnya di telinga Abimanyu
"Orang itu menyimpan penyadap," bisik Kendra.
Abimanyu hanya mengangguk menanggapi ucapan sahabatnya. Kini dia mengerti, kalau ada orang yang mengawasi mereka diam-diam dan mengharapkan Kendra tiada di dunia ini.
"Mungkinkah semua ini ulah Adrian? Sepertinya dia belum puas membuat masalah padaku," gumam Kendra.
...***...
Kini keduanya sudah berada di perusahaan AP Technology dan bertemu dengan Elvano. Karena Andrea sedang ke luar negeri jadi Elvano putranya yang menerima kedatangan Kendra dan Abimanyu. Elvano sempat tercengang saat melihat Kendra. Dia merasa melihat sosok Dika yang sedang berdiri di depannya. Sampai Elvano pun mengucek matanya untuk memastikan apa yang dia lihat.
"Maaf, Tuan Elvano! Apa ada yang salah?" tanya Kendra.
"Tidak! Aku hanya merasa melihat sahabatku, silakan duduk Tuan Kendra!" Elvano pun mempersilahkan Kendra untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Terima kasih, Tuan!" sahut Kendra.
Setelah Kendra dan Abimanyu duduk bersama dengan Elvano, Tuan rumah pun memulai percakapan. "Maaf Tuan Kendra, ada yang bisa kami bantu? Sehingga Anda meluangkan waktu untuk datang ke sini."
"Saya punya sedikit masalah di perusahaan. Saya ingin memasang pemindai di ruangan saya dan ruangan penting lainnya. Soalnya kemarin terjadi pencurian dan pelakunya begitu lihai sehingga kami belum bisa mengungkapnya," beber Kendra.
"Oh, begitu. Bukan hal yang sulit untuk kami." Elvano tersenyum ramah pada Kendra. "Apa ada hal lain? Allana mengatakan, Anda butuh bantuan."
"Tentu saja! Sepertinya Anda memiliki hubungan dekat dengan Allana. Apa Anda tahu, kalau dia sedang hamil?" tanya Elvano.
"Tentu saja, Tuan! Saya senang menemani Lana melewati masa ngidamnya," ucap Kendra.
"Terima kasih sudah menjadi teman Allana. Adik saya itu, termasuk orang yang tidak mudah bergaul. Dia selalu menghabian waktunya di rumah," tutur Elvano. "Oh Iya, Anda ingin minta tolong apa?"
"Saya ingin meminta tolong untuk melihat rekaman satelit sekitar tanggal tiga puluh November lalu," ucap Kendra.
Apa, tiga puluh November? Itukan waktu Dika meninggal. Apa dia Dika yang terjebak di tubuh orang lain seperti dalam cerita fiksi? tanya Elvano dalam hati.
Melihat Elvano yang terdiam, akhirnya Kendra pun bertanya lagi. "Bagaimana, Tuan? Apakah Anda bisa membantu?"
"Saya usahakan. Apakah Anda membutuhkannya dalam waktu yang dekat?" tanya Elvano.
"Kalau bisa secepatnya," ucap Kendra.
"Anda tenang saja. Saya pasti bisa mendapatkan rekaman itu secepatnya," ucap Elvano.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya permisi. Tolong kabari jika Anda sudah mendapatkannya," pinta Kendra
Setelah cukup berbincang, Kendra pun langsung pulang. Dia tidak kembali ke perusahaan, karena akan membuat rancangannya itu di apartemen. Dia tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya.
...***...
Sementara itu, di sebuah ruangan yang luas, Tuan Dirga sedang menerima tamu yang berpakaian santai tidak seperti dirinya yang selalu memakai baju resmi setiap kali ke kantor. Detektif yang dia kirimkan untuk menyelidiki kejadian Kendra jatuh ke laut, kini sudah mendapatkan hasil.
"Tuan, semua hasil penyelidikan sana ada di map coklat ini. Silakan Tuan periksa!" ucap Bagus, seorang detektif swasta.
Bagas pun segera memberikan amplop coklat pada Tuan Dirga. Dengan tangan gemetar, Tuan Dirga pun mengambil hasil penyelidikan Bagas. Dia khawatir apa yang dikatakan Kendra benar adanya. Kalau Adrian berusaha untuk melenyapkan Kendra
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...