
Saat mengetahui cucu bos besarnya terperangkap di lift, tim mekanik pun langsung bergerak cepat. Mereka panik dengan apa yang terjadi. Mereka bingung kenapa lift mendadak bermasalah. Padahal sebelumnya selalu lancar tidak ada kendala apapun.
Abimanyu yang tahu kalau Kendra terjebak di dalam lift, dia pun secepatnya datang ke perusahaan. Dia segera mengarahkan mekanik terlatih dan menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki penyebab kemacetan itu.
Setelah mekanik berusaha sekuat tenaganya selama kurang lebih satu jam, akhirnya lift pun bisa sampai ke lantai terdekat dan dibuka pintunya. Nampak Kendra yang sudah pucat pasi dengan tangan yang memegang dadanya.
Abimanyu pun segera menghampiri Kendra dan langsung memapahnya. "Ken, maaf aku terlambat menjemputmu!"
Tak ada jawaban dari Kendra karena pemuda tampan itu langsung terkulai lemas tak sadarkan diri. Melihat Kendra yang sudah tidak sadarkan diri, tim medis pun segera membawanya dengan tandu dan melarikan ke rumah sakit terdekat.
"Kalian cari tahu penyebabnya, jika karena kesengajaan. Cepat bawa orangnya ke hadapan aku 2x24 jam!" suruh Abimanyu pada semua mekanik setelah Kendra dibawa oleh tim medis.
"Baik Tuan!" kompak tim mekanik.
Abimanyu pun segera menyusul Kendra dengan mobilnya. Saat sampai di rumah sakit, Kendra sedang mendapatkan tindakan dari dokter di ruang IGD. Abimanyu pun segera memberitahu Kakek Dirga dengan apa yang terjadi pada Kendra.
"Hallo, Kakek! Kendra di rawat di rumah sakit, asmanya kambuh," ucap Abimanyu saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Kakek akan segera ke sana," ucap Kakek Dirga di seberang sana.
"Baik, Kek!"
Siapa yang melakukannya ya? Apa mungkin Adrian? Bukankah dia juga masih dirawat? Kalau bukan dia, siapa orang yang berani sekali ingin mencelakakan Kendra?
...***...
Keesokan harinya, Kendra sudah berada di ruang rawat inap. Abimanyu dan Kakek Dirga, semalaman menginap di rumah sakit. Namun, karena mereka ada meeting penting, akhirnya mereka berdua berpamitan untuk pulang terlebih dahulu.
"Ken, Kakek tinggal dulu ya, nanti Kakek suruh Sania untuk datang kemari menemani kamu," ucap Kakek Dirga.
"Iya Kek, makasih udah nemenin aku di sini," ucap Kendra.
"Aku juga pulang dulu ya, Ken. Habis meeting, aku balik ke sini lagi," pamit Abimanyu.
"Iya, gak apa Aby. Nanti aku minta Allana untuk datang ke sini," ucap Kendra.
"Biar nanti aku minta tolong Allana kamu itu, untuk sementara jaga di sini. Beri tahu saja di mana ruangannya!"
"Dia di ruang direktur. Biasanya jam segini, Allana baru datang."
"Baiklah, aku ke sana dulu. Kakek aku mau ke ruangan calon menantu dulu, biar Kendra cepat sembuh," pamit Abimanyu pada Tuan Dirga.
"Ken, kapan akan kamu kenalkan pada Kakek? Aku senang kalau kamu berencana menikah secepatnya," ucap Tuan Dirga penuh harap.
"Nanti, Kek kalau aku sudah mendapatkan harinya, sekarang dia masih belum membuka hati untuk laki-laki," ucap Kendra.
"Maksud kamu? Dia suka sesama jenis?" tanya Tuan Dirga kaget.
"Bukan Kakek! Suaminya belum ada satu tahun meninggal. Kakek pasti kenal dengan Tuan Andrea Wiratama, dia putrinya." Abimanyu langsung menjawab pertanyaan Tuan Dirga.
"Syukurlah! Tentu saja Kakek kenal. Sudah beberapa kali perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan Tuan Andrea," jawab Tuan Dirga. "Kalau begitu, Kakek pulang duluan!"
"Bu Dokter, tunggu sebentar!" teriak Abimanyu seraya mempercepat jalannya.
"Ada apa? Anda ada perlu apa?" tanya Allana datar.
"Sebentar, Bu Dokter. Aku hanya mau minta tolong, tolong temani Kendra di ruang VVIP nomor tiga. Dia sedang sakit, asmanya kambuh. Di sana dia sendiri tidak ada yang menemaninya karena kedua orang tuanya sudah meninggal," cerocos Abimanyu dengan wajah melas.
"Kenapa minta tolong pada saya? Coba Anda kordinasi pada dokternya, agar dia mengirim perawat untuk menjaganya. Maaf saya permisi!" pamit Allana langsung masuk ke dalam ruangannya.
Abimanyu hanya bengong melihat kepergian Allana. Dia tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dari dokter cantik itu. Meski kecewa, Abimanyu mencoba memahami sikap Allana.
Iya juga sih, dia kan direktur. Pasti kerjaannya banyak. Mana mungkin mau jagain pasien yang belum lama dikenalnya, batin Abimanyu.
Sementara Allana, setelah dia masuk ke ruangannya, entah kenapa hatinya menjadi gelisah. Dia terus teringat perkataan pria yang tadi meminta tolong padanya. Sampai akhirnya, logikanya kalah dengan perasaan dia yang kuat ingin melihat keadaan Kendra.
Setelah Allana mengecek data pasien, dia pun langsung menuju ke ruang perawatan Kendra. Nampak Kendra yang sedang tertidur pulas. Sepertinya lelaki itu sudah sarapan dan meminum obatnya. Sehingga efek obat tidur kini mempengaruhinya.
Allana pun duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Kendra. Matanya menatap lekat pemuda tampan yang sudah mengusik hari-harinya belakang ini. Entah kenapa ada perasaan yang tidak asing dia rasakan saat melihat Kendra yang sedang tidur terlelap.
Dika memang masih memenuhi ruang hatiku. Tapi entah kenapa, saat bersamanya aku merasakan kenyamanan yang sama seperti saat bersama dengan Dika, batin Allana.
Saat Allana larut dalam pikirannya, Kendra pun perlahan membuka matanya. Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat Allana duduk di kursi samping tempat tidurnya. Dia tidak langsung menyapa Allana tetapi membiarkan ibu hamil itu menyadari sendiri kalau orang sakit yang ditunggunya sudah bangun dari tidurnya.
"Loh, kamu kapan bangunnya?" tanya Allana kaget saat melihat Kendra yang sedang tersenyum melihat ke arahnya.
"Dari tadi, sampai aku puas melihat wajah cantik istriku." Lagi-lagi Kendra tersenyum manis membuat Allana jadi terpaku melihat senyum manis yang sangat dia rindukan.
"Dika," lirihnya.
"Aku mau menjadi Dika kamu, jika itu yang bisa membuat aku selalu dekat dengan kamu. Lana, kamu memang berhak untuk terus mengenang almarhum suami kamu. Tapi kamu tidak boleh menutup diri untuk lelaki lain yang mencintai kamu dengan tulus," ucap Kendra dengan menatap lekat wajah cantik Allana.
"Ken, aku ...."
"Aku mengerti dengan perasaan kamu. Aku hanya minta kesempatan untuk menjadi bagian dari hidup kamu lagi. Ayo kita besarkan anak kita bersama-sama!" potong Kendra
"Maksud kamu?"
"Aku akan menganggap bayi yang kamu kandung sekarang sebagai anak kandung aku. Aku akan menyayanginya dengan setulus hatiku," jawab Kendra.
"Kendra, apa tidak terlalu cepat kamu bicara begitu? Aku belum bisa memutuskan dengan siapa aku akan membesarkan anakku," jawab Allana.
Aku akan menunggumu, sampai kapan pun aku akan menunggumu. Perasaan aku tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang dan mungkin sampai nanti. Bahkan saat jiwa dan ragaku sudah terpisah. Hatiku tetap memilih kamu.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...