
Allana langsung disambut baik oleh Tuan Dirga dan lainnya hanya Handoko yang merasa tidak senang dengan kehadiran wanita itu. Dia merasa benar-benar tidak ada harapan untuk menjadikan Adrian sebagai pewaris. Padahal Handoko sudah memikirkan matang-matang agar Adrian bisa menggantikan posisi Kendra.
Sial! Sepertinya aku harus membuat rencana baru agar bisa melenyapkan Kendra. Apa aku harus mengancam Tuan Dirga? Kenapa rencana aku selalu gagal setelah Kendra kembali dari liburan itu, batin Handoko.
"Non Allana, apa sudah lama mengenal Kendra?" tanya Tuan Dirga.
"Tuan, panggil Allana saja. Baru beberapa bulan terakhir saya kenal Kendra," jawab Allana.
"Kakek, Allana ini yang sudah menolong aku saat dulu terapung di laut karena di dorong oleh Adrian," timpal Kendra.
"Benarkah begitu?" tanya Tuan Dirga antusias.
Begitupun dengan para pemegang saham yang hadir di sana. Mereka langsung memasang telinga lebar-lebar agar tidak ketinggalan informasi penting tentang desas-desus yang terjadi pada kedua cucu Tuan Dirga.
"Kebetulan waktu itu saya sedang berlayar ke pulau Dewata, tapi di tengah laut salah satu awak kapal melihat ada yang terapung sehingga kami memutuskan untuk menolongnya," jelas Allana.
"Bagaimana keadaan Tuan Kendra waktu itu, Nona?" tanya Seno.
"Sangat menyedihkan, sepertinya sudah berhari-hari dia terombang-ambing di lautan. Makanya saya menyuruh salah satu awak kapal agar membawanya ke rumah sakit."
"Berarti benar apa yang dikatakan oleh Tuan Kendra kalau Tuan Adrian berusaha untuk menghabisi Tuan Kendra," celetuk salah seorang pemegang saham.
"Kalian percaya kan kalau aku tidak berbohong?" tanya Kendra.
"Iya Tuan. Maafkan kami karena sudah meragukan apa yang Tuan Kendra katakan," ucap Seno.
"Maafkan kami, Tuan." Kompak para pemegang saham yang lainnya.
Ternyata pengaruh Om Andrea sangat kuat, mereka bisa dengan mudah berubah haluan, hanya karena melihat aku bersama dengan Allana. Kenapa tidak dari dulu aku publish kedekatan aku dengan Lana? Mungkin jalanku akan lebih mudah untuk mengungkapkan kejahatan Adrian dan Monika, batin Kendra.
Sial, aku harus cari cara agar bisa menyingkirkan Kendra sehingga Adrian bisa jadi pewaris, geram hati Handoko.
...***...
Malam ini, hujan rintik-rintik membasahi ibu kota. Nampak seorang kakek yang sudah memasuki usia tujuh puluh tahun, sedang tiduran dengan pikirannya yang menerawang entah ke mana. Tidak biasanya dia merasa gelisah seperti ini.
Dahinya sedikit mengerut saat tanpa sengaja melihat seseorang yang menyelinap ke rumahnya dengan memakai penutup wajah seperti seorang ninja. Tuan Dirga pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan segera menghubungi Arjuna yang merupakan putra sahabat baiknya.
"Hallo, Jun! Ini Om Dirga," ucap Tuan Dirga saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Iya, Om kenapa?" tanya Arjuna di seberang sana.
"Juna, rumah Om dimasuki penyusup. Bisa minta tolong untuk mengamankan rumah Om?" pinta Tuan Dirga.
"Bisa, Om. Juna segera ke sana," ucap Arjuna.
"Baiklah, Om tunggu! Om tutup ya." Tuan Dirga pun segera menutup panggilan teleponnya.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Tuan Dirga langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin tahu, siapa yang menyusup ke dalam rumahnya. Sampai akhirnya terdengar suara pintu kamar yang dibuka dari luar, dia pun semakin ketar ketir.
Siapa dia? Bahkan wajahnya ditutup seperti ninja. Tapi kenapa aku merasa tidak asing dengan tubuh tegapnya. Apa mungkin dia Handoko? Tapi mau apa dia menyusup ke kamarku? tanya Tuan Dirga dalam hati.
Seseorang yang seperti ninja itu langsung menuju ke brangkas rahasia Tuan Dirga, yang kakek tua itu simpan di balik tempat tidurnya. Dia sangat terkejut saat ninja itu mengetahui di mana dia menyimpan barang-barang pentingnya.
Dari mana dia tahu kalau aku menyimpan brangkas di sana? Sepertinya ada hal yang ingin diambilnya, batin Tuan Dirga.
Dia terus saja mengintip dari balik pintu kamar mandi. Sampai akhirnya Kendra datang ke kamar kakeknya. Cucu kesayangannya itu sangat kaget saat melihat ada seseorang yang berpakaian aneh menurutnya sedang mencoba membuka brangkas.
"HEI, SIAPA KAMU?" teriak Kendra.
Penjahat itu langsung berbalik menghadap ke arah Kendra. Tanpa ragu dia langsung mengarahkan pistol ke arah Kendra. Membuat pemuda taman itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak pernah menyangka akan ditodong di kamar kakeknya.
"Baguslah, kamu mengantarkan nyawamu sendiri ke hadapanku. Aku tidak perlu menyusun rencana agar bisa menghabisi kamu."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Autor ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....