
Spil Bab 1
Lumayan lama Ayla sembunyi di sana. Sampai akhirnya, karena rasa lelah yang mendera, gadis itu tidak kuasa menahan kantuknya. Perlahan dia pun memejamkan mata dan melupakan kalau dia sedang bersembunyi di dalam mobil orang lain.
Tidak berapa lama kemudian, datang seorang pemuda tampan dengan jas mahal yang melekat di tubuhnya. King Elgar Wiratama, seorang CEO muda perusahaan AP Technologi, dia terus saja menggerutu seraya masuk ke dalam mobilnya.
"Gila aja! Minta duit gak tanggung-tanggung. Memangnya dia pikir, dia siapa? Barang second kayak gitu minta bayaran mahal. Masih untung aku kasih uang, dia malah minta tambah."
"Memang benar kata opa, kita tidak boleh meninggikan diri kita karena akan dianggap rendah oleh orang lain. Tetapi kita harus merendahkan diri agar orang lain tidak merendahkan kita."
"Sudahlah lupakan Nike! Cuma pegang-pegang saja, permintaan dia banyak banget. Bagaimana kalau aku celup-celup, sudah pasti dia ngelunjak. Tapi jijik banget kalau harus celap-celup sama cewek yang sudah dicicipi orang lain. Kecuali kalau benar-benar dapat yang ori dan menggemaskan, mungkin aku baru rela melepas keperjakaanku."
Elgar terus saja bicara sendiri seraya menjalankan mobilnya. Dia baru saja menemui artis pendatang baru yang menjadi mainannya. Namun, sepertinya Elgar dibuat kesal oleh gadis itu karena banyak maunya.
"Kesel sama cewek itu, aku sampai lupa buat minum."
Elgar berniat mengambil minuman yang dia beli di minimarket. Namun, tangannya justru memegang yang lain. Sesuatu yang terasa kenyal tersentuh oleh tangannya.
"Apa yang tadi aku pegang?"
Dadanya bergedup lebih kencang dari biasanya. Dia mengarahkan kaca mobil ke kursi belakang. Matanya melotot sempurna, saat melihat seorang gadis berseragam sekolah sedang tertidur pulas di kursi belakang.
"What the hell, siapa gadis itu?"
Elgar segera menepikan mobilnya, agar dia bisa memastikan siapa penumpang gelap, yang sudah berani masuk ke dalam mobilnya. Elgar mendekatkan jari telunjuknya ke lubang hidung gadis itu. Terasa hangat hembusan napas gadis itu.
Dia ingin membangunkan penumpang gelap di mobilnya. Namun setan di dirinya membisikkan sesuatu yang di luar kebiasaannya.
Tetapi sisi baik di dirinya berkata lain, jangan lakukan itu! Kasian orang tuanya pasti akan mencari dia. Lebih baik cepat kamu bangunkan! Lalu antar dia pulang.
Bodoh sekali kamu Elgar kalau menyia-nyiakan kesempatan emas di depan mata. Sudah! Bawa saja dia ke villa Kenangan dan ajak bersenang-senang di sana. Kalau takut ketahuan opa, sembunyikan saja di ruang bawah tanah.
Jangan Elgar! Lebih baik suruh pulang saja gadis itu. Kamu jangan macam-macam! Ingat, opa kamu kalau kasih hukuman tidak tanggung-tanggung.
Terus saja Elgar berperang dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya, sisi devil dia yang memenangkan pertarungan hati itu. Elgar mengurungkan niat untuk membangunkannya. Dia justru membawa gadis itu ke villa Kenangan yang jauh dari keramaian ibu kota.
"Malam Den Elgar!" sapa Satpam villa. "Datang dengan siapa, Den?" tanya Satpam itu lagi dengan celingukan melihat ke arah dalam mobil.
"Malam, Pak! Bukain pintu basemen ya, Pak. Aku mau langsung ke sana," pinta Elgar dengan memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna pink. "Jangan bilang siapa pun kalau aku ke sini tidak sendiri. Dia adik sepupu aku yang kabur dari rumah. Sudah cepat buka, Pak!"
"Siap, Den!" ujar Satpam itu dengan membukakan pintu pagar villa dan pintu basemen-nya.
Elgar pun langsung membawa mobilnya ke dalam basemen. Dia tidak mau kalau sampai pengurus villa itu mengetahui kalau dia membawa seorang gadis. Bisa-bisa dia mendapatkan amukan dari opa dan papanya.
"Gila tuh bocah! Dari Jakarta ke sini kan lumayan jauh, tapi dia gak bangun-bangun. Mobil sudah berhenti juga, masih saja molor. Oke, bocil! Aku akan buat kamu terkejut dan menganggap kalau kamu sudah ada di surga."
Elgar terkekeh pelan dengan segudang rencana di otaknya. Perlahan dia mengangkat gadis itu dan langsung membawanya ke lift khusus menuju ke ruang bawah tanah yang ada di basemen villa.
"Sial! Berat juga nih bocil. Ya ampun tidur udah kaya orang koma, diapa-apain juga pasti tidak akan bangun. Hahaha ... Aku jadi penasaran, kalau aku kerjain bagaimana ya!"
Elgar tersenyum devil saat terlintas sebuah rencana brilian menurutnya. Rasa berat yang dia rasakan saat pertama kali menggendong gadis kecil itu, mendadak menguap begitu saja.