
"Maaf," ucap Krist tiba - tiba.
Namtan diam tak menjawab, dia masih menunggu kelanjutan dari ucapan Krist.
"Maafkan aku, aku memang salah. Aku memang menyukai Win sejak lama. Kepergian ku ke Amerika karena aku ingin menghilangkan bayang - bayang Win. Sampai aku bertemu dengan mu, akhirnya aku memutuskan untuk lebih mengenal mu lebih jauh. Sampai insiden itu terjadi dan aku memantapkan hatiku untuk menikahi mu, mungkin dengan aku menikahi mu bisa menghilangkan Win dari hati ku. Tapi kenyataanya tidak semudah itu. Jujur, aku sangat menyayangi mu dan mencintai mu. Tapi aku sendiri juga tidak tau di lain hati ku masih ada nama nya. Maafkan aku," jelas Krist.
"Apakah kamu sungguh mencintai ku?" tanya Namtan.
"Sangat, aku sangat mencintai mu. Aku berharap kamu bisa membantu ku keluar dari masalah ini," balas Krist sambil bersimpuh di kaki Namtan. Dia sangat menyayangi Namtan lebih dari apapun, tapi hatinya juga masih menyimpan nama Win.
"Aku akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan ku," ucap Krist lagi.
"Apa kamu yakin, akan melakukan apapun agar aku bisa memafkan mu?"
"Iya sayang,"
"Kalau kita bercerai bagaimana? Aku tidak mau berhubungan dengan laki - laki yang belum selesai dengan masa lalu nya."
"Enggak! Sampai kapan pun kita tidak akan bercerai! Aku janji ini adalah terakhir kalinya!" balas Krist.
"Aku pegang janji kamu!" ujar Namtan.
Krist yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya.
"Kamu memaafkan ku?!" tanya Krist.
"Asal kamu tidak mengingkari janji, aku akan terus berada di sampingmu!" balas Namtan.
Krist langsung berdiri dan memeluk Namtan.
"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku akan berubah, aku janji. Terima kasih kamu memberiku kesempatan."
Namtan bukan tidak sakit hati tapi dia tidak ingin rumah tangganya hancur. Dia sudah bertekat akan merubah isi hati Krist dengan namanya. Dia percaya bahwa dia bisa meluruskan hati Krist lagi. Dia akan mengubur rasa sakit itu. Namtan percaya bahwa hanya ada nama nya di hati Krist setelah ini.
Krist sudah berjanji pada diri sendiri dan juga istrinya bahwa dia akan menghilangkan nama Win dari hatinya. Dia pasti bisa melupakan itu semua. Dia akan menjaga rumah tangganya tetap utuh, dan tidak lagi membuat kesalahan seperti sebelumnya. Dia beruntung memiliki istri sebaik Namtan. Hanya Krist saja yang kurang bersyukur.
***
Setelah kejadian itu Krist lebih perhatian dengan Namtan. Dia juga sering mengajak Namtan ikut bekerja di kantornya. Bahkan dia lebih romantis dari sebelumnya.
"Sayang, nanti jangan lupa makan siang ku!" ucap Krist.
"Iya Pa, nanti sekalian Mama belanja pulangnya."
Krist pamit akan berangkat bekerja. Jika sebelumnya dia tidak pernah mencium kening Namtan, berbeda dengan sekarang. Kris mulai menjadi budak cinta nya Namtan.
"Sudah Pa, nanti kesiangan," ucap Namtan yang geli terus di ciumi oleh Krist.
"Kalau begitu lanjut nanti siang ya?!" balas Krist.
Namtan hanya menganggukkan kepala. Dia merasa senang, suaminya sekarang menjadi lebih penyayang. Bahkan Krist berencana menambah momongan meski terpaut usia cukup jauh dengan kakaknya nanti.
***
Berbeda dengan Bright, Bright ikut kesakitan mengingat saat Win akan melahirkan. Dia juga ingin memiliki anak lebih dari satu. Tetapi dia urungkan kalau teringat Win bertaruh nyawa saat melahirka anaknya.
Dia bersyukur memiliki anak sebaik dan setampan Kim. Kim saja sudah cukup bagi nya. Dia tidak akan memaksa Win untuk memiliki momongan lagi. Bright sudah bahagia dengan apa yang dia miliki saat ini.
***
"Kim kamu jadi ambil jurusan apa nak?" tanya Win.
"Arsitek Ma, aku ingin seperti Papa bisa dalam segala hal."
"Kenapa gak ambil jurusan hukum atau yang lain saja?"
"Gak suka Ma, suatu hari nanti aku ingin mendesain rumah ku sendiri seperti Papa!" balas Kim. Saat ini Kim sudah lulus Sekolah Menengah Atas, dan dia akan melanjutkan ke perguruan tinggi seperti Papa nya.
"Kamu memang anak Papa yang terbaik Kim!" ujar Bright yang tiba - tiba muncul di balik pintu.
"Lo, mas sudah pulang? Katanya tadi mau lebur!" tanya Win.
"Papa pengen cepet pulang karena, pengen katemu Mama kan?!" ucap Kim.
"Kalau itu pasti dong, Papa kan gak bisa lama - lama pisah sama Mama kamu!" balas Bright.
"Halah gombal!" balas Win. Sambil berjalan menyiapkan makan untuk anak dan suaminya.
"Cepet mandi Mas, habis itu kita makan!" perintah Win.
"Mandiin ya," balas Bright sambil berbisik ditelingan Win.
"Mas, ada Kim. Jangan mulai ya!"
"Aku tunggu di atas ya, makannya nantj saja dulu!" ucap Bright dan berlari naik keatas untuk menunggu Win.
"Kim kamu mau makan sekarang apa nanti nunggu Papa?"
"Memang Papa mau kemana?" tanya Kim.
"Masih mau mandi, itu tadi ada panggilan dari client nya. Sepertinya masih lama video callnya." balas Win bohong. Tidak mungkin dong dia bilang kalau mau itu itu sama Kim. Kan gak lucu.
"Ya sudah Kim makan dulu saja. Soalnya Kim mau pergi sama teman - teman habis ini Ma," jawab Kim.
Win akhirnya menemani anaknya makan terlebih dahulu sebelum membantu suaminya mandi. Setelah selesai Kim pamit untuk pergi bersama temannya.
"Kim pergi dulu ya Ma," pamit Kim.
"Hati - hati, jangan pulang malam - malam. Papa kamu nanti bisa marah - marah gak jelas!" ucap Win.
"Iya Ma,"
Setelah kepergian Kim, Win langsung naik keatas menyusul suaminya.
"Mas, kamu di dalam?" panggil Win.
"Iya."
Win langsung masuk sambil membawakan handuk Bright.
"Bantu aku gosok punggungku ya?" ucap Bright.
Dengan telaten Win menggosok punggung suaminya sambil bercengkrama. Mereka menikmati momen - momen saat berdua saja.
"Kalau saja Kim masih kecil, pasti rumah ini ramai seperti dulu lagi mas," ucap Win.
"Iya, sekarang Kim sudah besar dan lebih sering pergi dengan teman - temannya rumah jadi sepi. Emm... Apa mau bikin adik Kim lagi hem?" tanya Bright.
"Bikinnya sudah, setipa malahan tapi kan belum jadi juga!" balas Win.
"Ya mau gimana lagi sayang, aku gak mau kamu kesakitan seperti dulu lagi. Kim saja sudah cukup bagiku. Yang terpenting kamu tetap sehat dan selalu disamping ku, itu sudah anugrah terindah dari Tuhan."
"Eeum,"
Sedetik kemudian Bright mencium bibir ranum istrinya yang menggoda. Dia sudah menahannya sejak tadi, hanya saja menunggu waktu yang pas untuk melancarkan aksinya.
Win pun membalas ciuman lembut suaminya. Dia begitu terbuai dengan sentuhan Bright. Setiap apa yang dia lakukan selalu membuat Win jatuh cinta setiap harinya.
Mereka melanjutkan kegiatan panas itu di kamar mandi. Suara - suara erot** memenuhi ruangan bersamaan dengan percikan air yang menambah suasana menjadi tak terkendali.
"Pelan - pelan mas," ucap Win disela - sela kegiatannya.
Bright semakin mempercepat temponya saat akan mecapai Klim***.
"uuuunggghhhh..." terdengan lenguhan mereka berdua saat mendapatkan klim*** nya. Kegiatan itu mereka lanjutkan ke dalam tempat tidur king size nya hingga malam.
Mereka semua sudah menemukan kebahagiaan masing - masing. Krist dan Bright bisa berbahagia dengan pasangan masing - masing.
... TAMAT...