"Mas Bri"

"Mas Bri"
Memikirkannya



" Entahlah, aku sendiri juga kurang tahu. Kita tunggu saja,tadi sudah aku chat dia agar dia mengetahui kondisi Win. Kamu jaga disini dulu, aku kemasi barang - barangnya untuk beberapa hari disini" perintah P'Singto


" baik phi, aku akan menjaganya sebaik mungkin"


" trimakasih Krish" sambil pergi meninggalkan P'Krish


" kenapa dia tidak bisa dihubungi disaat seerti ini,kalau tau kamu akan disia -siakan lebih baik aku pertahan kamu Win. Awas saja kalau sampai dia menyia- nyiakan kamu, tak akan aku biarkan kamu terluka" batin Krist


<-> Win


Sudah ada 1minggu lebih mas Bri tak bisa di hubungi, sekalinya bisa dia hanya membalas chat saja dan itu pun singkat. Aku gak mau curiga yang berlebihan, aku yakin dia juga bisa menjaga hatinya. Mungkin memang dia sibuk jadi tidak ada waktu mengabariku seperti biasanya. Sebelumnya aku juga memdapatkan pernyataan cinta dari P'Krist sesaat setelah aku bersama mas Bri, aku menolaknya dengan halus dan aku juga menjelaskan kalau aku menjalin hubungan dengan Mas Bri. Kecewa..jelas kecewa selama ini dia begitu perhatian dengan ku, dia yang selalu menghiburku. Apalagi setelah kepergian mas Bri ke London dia juga yang menjaga ku, perhatian dan penuh kasih sayang. Tapi aku gak mau memberinya harapan, aku selalu menghindarinya aku takut dia terluka lebih dalam.


2bulan sudah aku menanti mas Bri, tapi lama kema kelamaan kami semakin jauh. Aku setiap hari memberinya kabar,bertanya hal apa saja yang dia lakukan disana dan sebaliknya. Tapi dia menjawab seperlunya saja tanpa bertanya kabarku disini. Aku ingin menyusulnya kesana,tapi aku juga bingung kemana arah tujuanku disana nanti,sedangkan aku tak pernah sekalipun keluar negeri. Bekerja dikota saja itu sudah hal luar biasa bagi ku. Aku hanya ingin kejelasan hubungan ini, jika memang sudah tidak bisa di harapkan lagi lebih baik aku mundur.


Aku akan pergi dari hidupnya, aku akan menjauh sejauh jauhnya. Dan meneta hidupku kemabali dengan ibu ku. Aku tersiksa jika seperti ini, doa ku tak pernah putus untuknya, tapi jika takdir berkata lain aku ikhlas menjalaninya.


<-> rumah sakit


"Aku bingung sekarang aku ada dimana, setauku tadi ada di kantor. Kenapa tiba - tiba aku tidur di ranjang" gumamku


Bersamaan dengan itu P'Krist masuk setelah dari kantin membeli beberapa makanan


" Win kamu sudah sadar" sambil berlari kecil


" memangnya aku kenapa mas?" tanya ku


" kamu tadi pingsan, aku dan phi Singto yang membawamu kesini" sambil duduk dan menaruh makanan dimeja samping


" oohhh..begitu" sambil memegang kepala yang pusing


" apa kau tak ingat? apa masih sakit Win? " tanya nya


" aahhh,,,aku tak ingat sama sekali phi,yang aku ingat kepalaku tiba - tiba pusing dan perutku sakit. Ya masih sedikit pusing" jawabku


" Win jawab phi dengan jujur ya, apa kamu ada masalah?" tanyanya


" masalah apa phi, aku gak ada masalah dengan siapa - siapa" bohong ku


" kamu yakin Win? kalau kamu butuh teman untuk bercerita aku siap win, aku akan menemani kamu kapan pun kamu membutuhkan" sambil memegang tanganku


Aku tarik tangan ku perlahan, aku gak nyaman dengan perlakuannya. Bukan aku tidak suka tapi aku gak mau menyakiti mas Bri,dan gak mau memberi harapan kepadanya


" kalau gitu sekarang kamu makan dulu ya, setelah ini dokter mau kesini cek keadaan kamu" sambil menyiapkan makan


" iya phi" sebenarnya aku agak canggung hanya berdua denganya karena janji ku sama mas Bri kalau aku tidak boleh terlalu dekat dengan nya. Tapi mau gimana lagi gak mungkin aku menolak bantuannya. Sedangkan dia sudah menjagaku begitu baik


Setiap hari aku selalu memikirnya, aku gak mau orang - orang tau tentang apa yang aku alami saat ini. Aku menyimpannya sendiri. Ingin rasanya aku pulang dan memeluk ibu,bercerita sebanyak - banyaknya dan menangis dipangkuannya. Sunggu dadaku terasa sesak dan tersiksa. Lebih baik aku merasakan sakit di tikam dari pada harus jauh darinya dan tanpa kabar.


Mungkin setelah aku sembuh aku akan cuti dan pulang ke ibuku, atau akau akan menyusulnya kesana. Akan aku pikirkan nanti setelah aku lebih baik lagi. Uang,,,soal uang sudah aku pikirkan matang - matang aku tidak akan menggunakan black card yang diberikan mas Bri, itu hanya aku gunakan untuk kebutuhan rumahnya saja. Aku akan menggunakan tabunganku, pasti cukup untuk kesana. Akan aku cari tau dimana tinggalnya sekarang.


" tapi kalau nanti aku kesana dan ketemu dangannya apa dia akan marah ya? Atau malah ketemu hal yang tak terduga" ahh aku jadi bingung sekarang. Lebih baik aku tanya ibu saja dulu nanti pas aku sudah diperbolehkan pulang.


setelah makan ku selesai P'Krist keluar sebentar karena ada telpon dari sesorang, dan beberapa saat setelah itu dokter datang memeriksa ku


" kondisi kamu sudah mulai membaik, tapi tetap harus jaga pola makannya jangan suka telat dan jangan stres itu bisa mempengaruhi kesehaganmu Met" kata dokter


" baik dok, trimkasih. Kapan saya boleh pulang?" tanyaku


" besok kamu sudah bisa pulang"


" benarkah, trimakasih dokter" sambil menjabat gangan dokter


setelah selesai memeriksaku dokter keluar, dan bersamaan dengan P'Krist masuk


" apa kata dokter ?" tanya nya


" besok aku sudah boleh pulang phi" jawabku


" baiklah nanti biar aku yang urus administrasinya. O ya win aku ada perlu sebentar , aku tinggal sendiri gak papa kan?" tanya P'Krist


" iya phi gak papa kok, aku sudah lebih baik" jawabku


" ok kalau gitu, aku permisi sebentar ya" sambil belalu pergi


Haaaahhh...helaan nafas ku yang terasa sesak. Sepi..sepi lagi aku disini tidak ada yang menemani, biasanya ada yang selalu menggodaku tapi kali ini tidak ada. Mas adakah kamu memikirkan aku ? adakah kamu merindukan aku?


kamu tau mas jangankan aku berpegangan dengan laki - laki lain bicara berdua saja aku takut mas. Aku takut menyakiti kamu, aku sudah berjanji setia untukmu, jika disana kamu sudah bosan denganku maka relakanlah aku mas. Aku akan pergi dengan senang jika kamu bisa bahagia dengan yang lain.


Sejujurnya setiap malam Win selalu bermimpi buruk, bermimpi Bright pergi meninggalkannya dengan wanita lain. Tapi dia selalu berfikiran positif dia gak mau menyesal nantinya jika menuduh yang tidak - tidak sebelum dia melihatnya sendiri. Makanya dia sering melamun, telat makan, hingga dia depresi berat. Tidak adanya teman yang bisa di ajak bercerita membuatnya memendam masalahanya sendiri. Hanya ada ibu nya yang selalu memberi nasihat,tapi jauh di kampung halamannya.