"Mas Bri"

"Mas Bri"
Kim



Pagi ini Kim sarapan seperti biasa dengan kedua orang tuanya. Dia tidak akan mengulangi lagi hal yang dia lakukan kemarin. Seharian Win marah - marah gara - gara Kim tidak makan di rumah. Jadinya dia kena semprot Mama nya seharian.


"Habiskan makanan kamu Kim!" Titah Mama nya.


"Iya Ma,"


Bright hanya melihat saja interaksi antara anak dan istrinya itu. Jika Win sudah menunjukkan taringnya, maka Bright tidak berani membantah setiap kata yang keluar dari mulut Win. Bisa - bisa dia di suruh tidur di luar nanti.


Mana mau Bright tidur di luar, terpisah sebentar saja sudah seperti cacing kepanasan. Kalau bukan karena pekerjaan, mana mau Bright pisah dengan Win. Bahkan saat bekerja saja Win juga harus ikut ke kantor. (Sungguh di luar BMKG Bright ini )


Setelah selesai Bright dan Kim berpamitan kepada Win. Seperti biasa drama Bright tak pernah berakhir jika berpisah dari Win. Kim sampai malas menyaksikannya.


"Kenapa Papa jadi budak cinta sih! Gak cocok sama nama nya!" ujar Kim.


"Biarin aja! Kamu nanti juga bakalan seperti Papa." Balas Bright.


"Idih... Amit - amit!"


"Sudah, jadi berangkat apa gak?!" ucap Win


"Jadi Ma!" ucap Bright dan Kim kompak.


 


Kim melajukan motornya menuju cafe yang dia datangi kemarin.


"1 roti coklat sama capucino!" Pinta Kim.


"Di tunggu kak," ucap pelayan sambil tersenyum.



(ini pelayan cafenya ya ges, anggap saja seperti ini. Selera mas Kim sama kayak Mama nya bule - bule gimana gitu)


"Ini kak pesanannya." Pelayan.


"Terima kasih."


"Sama - sama, apa ada tambahan lagi?"


"Boleh tau siapa nama kamu?" Tanya Kim.


"Selena,"


"Ok, terima kasih Selena." Ucap Kim sambil berlalu pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan Kim senyum - senyum sendiri. Dia kagum dengan gadis yang dia temui beberapa hari ini.


Sesampainya di sekolah, Kim dicecar teman - temannya soal makanan yang dia bawa.


"Kamu gak makan lagi di rumah?!"


"Makan."


"Lalu, roti sama capucino itu untuk siapa?"


"Ya aku lah!"


"Akhir - akhir ini kamu aneh Kim. Gak biasanya membawa bekal ke sekolah."


"Biarin aja!" balas Kim sewot.


"Ada yang kamu sembunyiin ya," Goda Dev.


"Gak ada!"


Kim terus melahap makanannya hingga habis tak bersisa. Sebenarnya dia sudah kenyang, tapi sayang kalau harus di berikan kepada Dev. Roti itu adalah buatan Selena. Si beruang kutub ini sepertinya mulai tertarik dengan lawan jenis.


<---->


"Seli kamu kok bengong aja sih?! Nanti kalau ketahuan guru kamu di suruh maju kedepan lo," Ujar teman satu kelas Seli.


"Siapa yang bengong, gak kok!" Elaknya.


Semenjak dia bertemu dengan Kim yang kedua kalinya, Sei tak pernah bisa lupa wajah tampan Kim. Meski Seli masih kelas 2 sekolah menengah pertama, dia cukup populer di kalangan teman sekolahnya. Tak kalah cantinya dari Selena.


Tapi siapa yang tahu hati setiap manusia. Begitu juga dengan Kim yang mulai jatuh hati kepada Selena.


<---->


Kantor Krist sudah hampir selesai di renovasi. Dua hari lagi akan ada peresmian pembukaan kantor barunya itu. Krist berencana mengadakan pesta kecil - kecilan untuk pegawainya dan para investor, termasuk Bright yang sudah mau membantunya.


"Lusa ajak semua keluarga kamu datang ke pesta syukuran pembukaan cabang baru. Ya, hitung - hitung sebagai tanda terima kasih karena sudah mau membantu ku." Ucap Krist.


"Aku usahakan," Balas Bright.


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, sampaikan salam ku pada Win."


"Ok!" Balas Bright, dan mengikuti Krist untuk keluar menuju parkiran mobil.


Sesampainya di rumah Krist memberitahu Namtan tentang acara pembukaan cabang barunya.


"Ma, lusa akan ada pesta syukuran kecil - kecilan untuk pembukaan cabang baru. Aku harap Mama bisa ikut menghadirinya juga. Seagai perkenalan kalau kamu istri ku." Uja Krist.


"Iya Pa, Mama selalu bisa buat Papa," Balas Namtan.


Di lain tempat, Bright yang baru saja sampai sudah disambut oleh istri tercinta nya.


"Kamu pulang malam mas?" Sambil mencium tangan suaminya.


"Iya, tadi menyelesaikan pekerjaan denang Krist." Balas nya.


Bright meraih pinggang Win dan berjalan memasuki rumahnya.


"Tunggu sebentar mas, aku ambikan kopinya dulu!" Win berjalan menuju dapur untuk mengambil kopi yang sudah dia siapkan untuk Bright.


"Terima kasih ya," Ucap Bright sambil meraih kopi nya.


"Mas mau mandi apa makan dulu?" Tanya Win.


"Sepertinya aku makan dulu, nanti mandinya sama kamu. Sudah lama kita tidak mandi bersama." Goda Bright.


"Mulai deh, mesumnya keluar!" Balas Win sambil berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan suaminya.


"Sayang, dimana Kim?" Tanya Bright.


"Ada di kamarnya mas, baru saja naik. Tadi disini menemani ku."


Bright berjalan menuju kamar Kim.


"Kim, ini Papa!"


"Masuk saja Pa, gak aku kunci kok!"


Bright langsung masuk ke kamarnya.


"Ada apa Pa?" Tanya Kim.


"Lusa, ikut ke pesta teman Papa ya?"


"Sama Mama?"


"Iya, mau sama siapa lagi!"


"Aku kira sama Papa aja. Kalau berdua sama Papa, aku gak mau. Tapi kalau Mama ikut aku mau." Ujar Kim.


"Kamu ini, sukanya nempel Mama kamu melulu!" Ucap Bright dengan sedik kesal.


"Ya kan emang aku dekat sama Mama Pa," jawab Kim.


"Terus, Papa dimana kalau kamu nempel Mama? Papa kan juga pengen sama Mama kamu," ucap Bright.


Bright pun akhirnya keluar kamar Kim dengan wajah mengsedih.


Kim hanya mengedipkan matanya melihat ekspresi Papa nya. Bisa - bisa nya Papa yang garang, bisa lembek jika menyangkut soal Mama nya.


"Papa ini sudah terkena virus Mama deh!" gumam Kim.


Bright turun dan memakan makanan yang sudah disiapka oleh Win.


"Kenapa Mas?" tanya Win.


"Kim mau ikut kalau kamu juga ikut," ujar Bright.


"Ya kan memang anak Mama," balas Win.


Bright hanya diam tak ingin melanjutkan obrolan mereka. Setelah selesai makan Win menemani Bright mandi seperti permintaan nya tadi.


Win melepas bajunya satu persatu. Dia mulai masuk terlebih dahulu ke buthtub. Sementara Bright masih di luar.


"Mas, kamu gak jadi mandi? Airnya sudah siap!" Bright tidak tau kalau Win juga ikut mandi. Dia pikir win hanya menyiapkan air untuk nya saja.


Bright masuk kamar mandi dengan lesu. Win hanya tersenyum melihat ekspresi Bright yang tidak bersemangat.


"Mas mau aku gosok punggungnya?" ucap Win.


Bright yang mendengar suara Win langsung mendongakkan kepalanya. Tersungging senyum lebarnya. Saking semangatnya dia langsung masuk ke buthtub masih berpkaian lengkap.


"Bajunya dilepas dulu dong mas,"


"Iya, lupa!"


Win mulai menggosok punggung Bright dengan tangannya. Menimbulkan gelenyar aneh pada suaminya. Lama kelamaan tangan nakal Win mulai meraba cocho chip yang jadi favoritnya.


"Sssssttthhh..." terdengar ******* Bright.


Win memulai aksinya dengan mengurut juniornya. Dia tau apa yang dimau suaminya itu. Karena sudah dua hari ini Bright sibuk dengan pekerjaanya. Dan itu membuatnya menunda acara membuat Kim kecil.


Mereka terus bergelut di dalam air. Bunyi ******* dan ciuman terdengar diseluruh ruangan kamar mandi. Bright memposisikan Win di gendongannya, dengan kaki Win melingkar di pinggul Bright.


Posisi ini begitu pas untuk juniornya masuk sepenuhnya.


Blluuusssshhh....


"Uuggghhh.... Milikmu terlalu besar Mas," ujar Win.


"Bukan milikku sayang, tapi milikmu yang terlalu sempit," balas Bright.


Bright terus menghujami rahim Win dengan cairan hangat nya. Mandi yang hanya sebentar malah menjadi berjam - jam karena ulah Bright.