
Hari ini tiba saatnya yang ditunggu - tunggu oleh Namtan. Kedatangan orang tua Krist adalah penentuan nasib nya dan anak yang ia kandung.
"Sayang kamu sudah siap?" tanya mama
"Sudah ma." balas Namtan
Sementara Krist dan orang tuanya di perjalanan menuju rumah Namtan.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman Namtan dan disambut oleh kedua orang tuanya.
"Mari silahkan masuk." mama Namtan mempersilahkan mereka masuk. Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Ada kegugupan di wajah Namtan. Meski ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan orang tua Krist, tapi tetap saja dia grogi.
"Sebelumnya saya minta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat anak saya. Karena perbuatannya sekarang Namtan hamil." ujar Papa Krist
"Namanya juga anak muda. Kadang kita sudah memperingati nya tapi masih saja dilakukan." balas papa Namtan
"Saya kemari mau menentukan tanggal pernikahan mereka. Maaf kalau langsung ke intinya."
"Ah tidak masalah, lebih cepat lebih baik. Karena kalau terlalu lama perut Namtan akan semakin membesar. Kalau begitu kapan?"
"Bagaimana kalau dua hari lagi? Untuk persiapan biar kami saja yang mengaturnya. Kalian hanya perlu fokus pada kehamilan menantu kami. Kasian kalau nanti kelelahan." jelas papa Krist
"Dua hari lagi? Apa tidak terlalu mendadak?" ujar mama Namtan
"Lebih cepat lebih baik ma." jelas papa Namtan
"Baiklah kalau begitu, saya setuju" ujar papa Namtan
"Akhirnya setelah ini kita semua bisa menimang cucu." jawab papa Krist
"Ya benar, kami juga tidak sabar menunggu itu. Biar rumah ini bisa rame lagi." mama Namtan
"Mari kita makan dulu, ini sudah siap semua." ajak mama Namtan
Setelah mereka semua selesai makan bersama, keluarga Krist pamit pulang untuk segera mengatur persiapan pernikahannya.
Sepulang Krist Namtan duduk di balkon kamarnya
"Seharusnya aku senang bisa menikah dengan laki - laki yang ku cintai. Tapi kenapa rasanya hati ini sepi? Apakah dia benar - benar mencintaiku?"
Namtan merasa hampa dalam hatinya. Seharusnya dia bersemangat membantu persiapan pernikahannya, tapi dia merasa biasa saja. Entah apa yang Namtan pikirkan.
<--->
Tibalah hari pernikahannya. Begitu meriah dan mewah acaranya. Belum ada yang tahu kalau Namtan sudah hamil duluan ( karena itu rahasia keluarga ya ). Acara berlangsung hanya beberapa jam saja mengingat Namtan mengandung jadi dia tidak bisa berlama - lama berdiri.
Setelah acara selesai Namtan langsung menuju hotel yang sudah disiapkan Krist. Untuk keluarga lainnya juga sudah mendapat kamar masing - masing.
"Sini aku bantu." ucap Krist yang melihat Namtan ingin melepas gaun pengantinya.
Namtan berjalan mendekati Krist "Kamu gak mandi dulu?" tanya Namtan
"Nanti saja, setelah kamu beres semua gantian aku. Aku bantu kamu dulu biar gak kelelahan." jawab Krist sambil membuka satu persatu kancing baju Namtan
Sebenarnya Namtan merasa malu dibantu membuka gaunnya. Tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa melepas sendiri kancing bajunya.
"Eemm,,, Krist aku bisa sendiri yang ini. Kamu bisa mandi dulu." ucap Namtan
"Sekarang aku suami kamu, masak panggilnya Krist sih." goda Krist sambil menoel dagu Namtan.
"Mulai sekarang panggilnya sayang. Pokoknya harus sayang gak boleh yang lain."
Namtan merasa geli dengan permintaan Krist. Mungkin di hatinya masih ada nama Win tapi Krist sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik untuknya. Namtan tak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Krist, siapa tau perlahan - lahan Krist bisa sepenuhnya melupakan Win.
"Iya iya suami ku sayang." balas Namtan tak kalah menggelikan. Mereka tergelak dan tertawa lepas.
Namtan membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar yang sudah di hiasi berbagai macam bunga. Hatinya menghangat ketika Krist meminta mengganti nama panghilannya.
"Semoga kamu bisa melupakan seutuhnya dan hanya aku satu - satunya wanita yang ada dihati mu." batinya.
"Sayang kamu belum tidur?" tanya Krist saat keluar kamar mandi dan melihat Namtan melamun.
"Masih nunggu kamu mas." balasnya
Krist yang merasa senang di panggil mas langsung mencium pipi Namtan tanpa permisi.
"Mas kamu mengagetkan ku!" seru Namtan
"Hei,, aku hanya menciummu bukan mengagetkan mu. Aku seneng aja kamu mau panggil aku mas."
Ya sesederhana itu candaan suami istri yang baru saja mengesahkan hubungannya. Begitu saja sudah bisa membuat mereka senang dan tertawa. ( beda lagi dengan dunia nyata ya ges ya hehehee )
"Aku gak akan meminta hak ku malam ini. Aku tau kamu pasti lelah. Jadi istirahat saja." ujar Krist.
"Iya makasih ya mas, sudah mau mengerti aku."
"iya,, Sini mas peluk." ujar Krist.
Tak bisa dipungkiri bahwa Krist juga laki - laki normal yang membutuhkan pelepasan hasratnya. Meski bukan Win yang selalu ia bayangkan selama ini, setidaknya sekarang dia telah menjadi seorang suami sekaligus calon ayah. Dia harus bisa berubah untuk Namtan. Dia sudah memberi kepercayaan kepada Krist untuk menata hatinya, maka Krist tidak akan menyia - nyiakan kesempatan itu.
Mereka berdua telelap sambil memeluk satu sama lain. Menyalurkan kasih sayangnya selayaknya pasangan suami istri.
Namtan merasa nyaman berada didalam dekapan Krist. Sejak awal dia sudah mencintai Krist. Jadi setiap apapun yang ada pada diri Krist mencadi candu untuknya.
Dia akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Krist. Dia harus bisa menjaga nama baik suaminya. Terlebih Krist adalah pewaris perusahaan besar ayahnya. Dia sudah bertekat akan menjadi ibu rumah tangga yang merawat anak dan suami sebaik mungkin.
Krist menyarankan Namtan untuk melanjutkan kuliah online saja. Tapi Namtan menolaknya karena kurang beberapa bulan saja dia akan lulus. Dia tak mau menjadi beban Krist juga. Namtan juga ingin mandiri dan memiliki gelar agar dia juga sepadan dengan suaminya meski hanya seorang ibu rumah tangga.
<--->
Beberapa bulan telah berlalu kini perut Namtan sudah semakin membesar. ssbentar lagi dia akan melahirkan. Namtan sengaja tak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Biarkan itu menjadi kejutan untuk keluarganya. Yang terpenting anakny sehat itu sudah cukup baginya.
Krist yang dibuat repot dengan ngidam Namtan kadang sampai pusing nyarinya kemana. Dia rela bangun tengah malam hanya untuk membuatkan Namtan mi instan tapi tak dimakan oleh istrinya. Namtan hanya mencium baunya saja sudah bisa tidur. Jadilah Krist yang memakannya.
Krist cukup menikmati setiap momen ngidam Namtan. Baginya itu adalah tantangan tersendiri.
"Mas sepertinya aku mau melahirkan." seru Namtan pada suaminya. Kebetulan hari ini jadwal Krist libur kerja. Dia menemani Namtan seharian di rumah.
"Benarkah? Apakah sakit? Aku harus bagaimana ini?" tanya Krist mulai panik
"Tenanglah aku bisa mengatasinya. Tapi sepertinya ini tanda - tanda akan melahirkan mas. Jangan panik ya."
"Huufffhhh,,,, aku harus apa dulu ini?"
Namtan jadi tertawa sendiri melihat kebodohan suaminya ketika panik. "Padahal dia seorang CEO kenapa lelet sekali pikirannya soal beginian." ujar Namtan sambil terkekeh